I Am Not Crazy

I Am Not Crazy
CHAPTER 09


__ADS_3

❗ WARNING ❗


DILARANG MENIRU ADEGAN YANG BERBAHAYA


Setelah kendaraan Mahesa menghilang dari pandangan, Sana masuk ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Setelah membersihkan diri, ia segera beranjak ke tempat tidur untuk berbaring. Hari ini, Sana belum makan dari siang karena tidak memiliki selera untuk makan. Waktu malam adalah waktu yang tepat untuk melepaskan topeng yang dipakai disiang hari.


“Huft,” Sana menghela nafas


“Kadang gue berpikir, kenapa hidup gue harus begini?”


“Memang benar, anak tidak bisa memilih siapa yang akan melahirkannya, namun, apa salah anak itu jika ia tidak seperti yang orang tuanya mau?”


“Tolong biarkan aku melepaskan topengku ini karena ketika matahari sudah terbit topeng itu akan kupakai kembali,” ucap Sana kepada dirinya sendiri.


Mungkin bagi orang lain ia gila, namun ia hanya bisa curhat kepada dirinya sendiri. Tidak menutup kemungkinan juga, akan ada yang mendengar curhatan itu, walaupun dia tak sedimensi dan tak sedunia dengan Sana. Sana memeluk dirinya sendiri seakan-akan itu bisa menyemangati dirinya sendiri.


Namun, kenyataannya, itu hanya bisa menghibur sedikit akan hidupnya yang malang. Sana butuh seseorang yang bisa menjadi pendengar yang baik. Ia melakukan metode buterfly untuk menenangkan dirinyai. Metode itu dilakukan dengan menyilangkan kedua tangan dan menaruhnya di bahu kanan dan kiri. Lalu, tepuk pundak dengan perlahan, itu bisa membantu Sana tenang dan menjadi terkendali, serta tidak menyakiti dirinya sendiri seperti yang ia lakukan siang tadi.


“Apa kamu tahu? Dulu aku takut sekali dengan gelap, namun sekarang bagiku gelap menjadi lebih tenang daripada terang,” lirihnya, bercerita seolah-olah ada orang didepannya.


“Di dalam gelap, aku bisa menangis tanpa orang tahu, bahwa aku sedang menangis,”


“Aku benci orang lain tahu tentang semua yang terjadi dalam hidupku,” ucapnya lagi seolah-olah ia sedang bercerita dengan orang lain


“Kenapa? Karena mereka hanya kepo bukan sepenuhnya peduli,” kali ini tangis Sana pecah.


Air mata dengan bebas turun dari pelupuk mata Sana. Namun, yang paling menyakitkan adalah menangis dalam diam ditengah kegelapan agar tidak ada yang mendengar tangisan itu. Malam itu, dilalui Sana seperti biasa, menangis hingga lelah, lalu tertidur.


...🌱🌱🌱🌱...


Bulan berganti dengan matahari, bagi sebagian orang, waktu itu adalah waktu yang tepat untuk mengenakan topeng tersenyum demi menyembunyikan sebuah luka yang tak terlihat, yang terasa perih dan membekas pada saat malam hari. Begitu juga dengan Sana, apakah Sana tidak lelah? Tentu saja ia lelah, namun, itu sudah menjadi jalan hidupnya mau bagaimana lagi?


Pagi ini, mata Sana kembali sembab. Sana berusaha untuk menutupi matanya yang sembab itu dengan memoles wajahnya dengan bedak. Setelah selesai, ia turun kebawah dan langsung berangkat ke sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu. Jam makan Sana cukup berantakan akhir-akhir ini, ia tidak berselera untuk makan sesuap nasi.


Hari ini Sana berangkat menggunakan Bus karena Erlangga tidak menjemputnya. Komunikasi Sana dan Erlangga cukup buruk karena tidak satupun dari mereka yang saling memberi kabar padahal mereka pacaran sudah berjalan 2 bulan. Sana sampai di sekolah, memulai aktivitasnya menjadi seorang pelajar.


Sesampainya di kelas, Sana langsung menuju ketempat duduk yang biasa ia tempati. Sana ingin bertanya ke Cindy perihal geng motor semacamnya.


"Cindy," panggil Sana


"Kenapa San?" jawab Cindy tanpa mengalihkan pandangan matanya ke sebuah ponsel ditangan.


"Lo tahu perihal tentang geng motor gitu ga?" tanya Sana


"Tahu, sekolah ini ada banyak yang jadi anggota geng motor," jawab Cindy


"Tapi, tumben lo nanya tentang begituan, lo kan ga pernah tertarik dengan hal-hal semacam itu?" tanya Cindy penuh selidik, kali ini perhatiannya fokus terhadap Sana


"Engga, gue tanya aja," jawab Sana berusaha terlihat biasa saja.


"Santai Cin, Sana cuman nanya aja elah, lo suudzon banget deh," ujar Dilla ikut bergabung dalam obrolan itu


"Hm, di sekolah ini rata-rata ikut geng motor Devil, setahu gue anggota inti sama ketua anak sekolah kita, Kelas XI IPA 1 kayaknya," jelas Cindy


"Sekelas sama Erlangga, dan setahu gue Erlangga rada ga suka gitu sama ketuanya," sambungnya lagi


"Oh, gitu ya ceritanya," ujar Sana sambil mengangguk- anggukan kepalanya


"Oh iya gue hampir lupa, ketuanya baru pindah ke sekolah kita beberapa hari yang lalu, dulu sempet sekolah disini pas kelas X, tapi karena suatu hal dia pindah, tapi akhirnya balik lagi sekolah disini," ujar Cindy sambil berusaha mengingat informasi yang sudah diterimanya. Tidak salah Sana bertanya kepada Cindy, sebab anak itu pasti tahu hampir seluruh berita di sekolah ini.


"DAN YANG PALING PENTING, MEREKA SEMUA GANTENG BANGET WOY," Teriak Cindy sambil membayangkan ketampanan ketua berserta teman-temannya.


"Giliran urusan cogan aja, lo semangat betul," cibir Dilla

__ADS_1


"Hahahaha, gue setuju," ujar Sana


"Terserah gue lah," kesal Cindy


Lalu, mereka tertawa melihat wajah kesal Cindy yang habis diejek oleh Dilla dan Sana. Setelah itu, bel masuk berbunyi menghentikan obrolan mereka bertiga.


...🌱🌱🌱🌱...


Hari demi hari berlalu, hubungan yang dulu manis dan memberi kabar sekarang perlahan mulai merenggang. Erlangga sibuk dengan pemilihan ketua OSIS di SMA Neozone. Erlangga yang mencalonkan diri sangat sibuk. Banyak hal yang perlu disiapkan, terlebih lagi ada beberapa masalah yang dihadapinya akhir-akhir ini dengan orang tuanya.


Sana tidak memiliki kesempatan untuk bertanya kabar. Melakukan itu, sama saja mengundang rasa marah Erlangga, karena Sana dianggap telah mengganggunya. Sana sempat mengirim pesan singkat ke Erlangga tetapi Sana menerima balasan yang sedikit mengecewakan.


Erlangga


^^^Er, kamu masih sibuk ya?^^^


Iya San, jadi tolong ngertiin aku jangan ganggu dulu please


...Aku bisa bantu apa Er? Kalo kamu butuh tempat...


...curhat aku bisa kok menjadi pendengar yang baik...


Ga ada masalah yang serius kok, udah ya San,


Jangan ganggu aku dulu, nanti kalo udah selesai


Aku pasti ngabarin kok


^^^Okey^^^


^^^Read^^^


Setelah itu, Sana tak berani untuk mengganggu Erlangga lagi. Sana merasa hubungan yang ia jalanin selama 2 bulan ini semakin merenggang. Memang awalnya semua berjalan dengan baik, mereka dekat menghabiskan waktu bersama saling bercerita, walaupun sebenarnya Sana hanya mendengarkan cerita dari Erlangga dan setiap kali ia ingin curhat ada saja halangannya.


...🌱🌱🌱🌱...


Kali ini, Sana sedang sendirian di kelasnya sebab sahabatnya sedang pergi keluar. Cindy tadi katanya mau menemui Laskar sang pacar dan Dilla yang mencalonkan diri sebagai pengurus OSIS.


Sana melihat sekeliling kelasnya entah kenapa ia merasa sedih dan hampa tiba-tiba. Dia sedang ada ditempat ramai, namun ia merasakan bahwa ia sedang sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk memakai earphone dan mendengarkan lagu agar menjadi lebih tenang. Saat sedang mendengarkan lagu tiba-tiba ponsel Sana berbunyi menandakan ada notifikasi. Sana membuka notifikasi itu dan ternyata itu adalah notifikasi pesan dari Erlangga


Erlangga


San, besok setelah pemilihan ke cafe yuk


Udah lama kita ga menghabiskan waktu bersama karena aku sibuk


^^^Oke^^^


^^^Read^^^


Sana senang sekali saat mendapatkan pesan dari Erlangga akhirnya hubungannya menjadi dekat lagi. Sana juga ingin memberitahukan apa yang ia alami belakangan ini.


...🌱🌱🌱🌱...


Hari ini adalah hari pemilihan ketua OSIS di SMA Neozone, semua siswa sibuk mempersiapkan dan memilih siapa yang akan menjadi ketua OSIS yang baru. Karena pemilihan ketua OSIS, kegiatan pembelajaran ditiadakan untuk hari ini. Setelah dilakukan pemungutan suara, Ternyata Erlangga terpilih menjadi Ketua OSIS dan Dilla menjadi Sekretaris.


Setelah usai pemilihan OSIS, seperti yang Erlangga bilang kemaren mereka akan ke cafe. Sana menaiki motor Erlangga untuk pergi ke cafe bersama. Sana kangen sekali suasana pergi bersama berdua saja dengan Erlangga.


Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang tercipta hingga akhirnya mereka sampai di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Mereka memasuki cafe tersebut dan memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela.


“Udah lama ya ga kayak gini Ga, aku kangen tau,” ujar Sana


“Iya, San,” ujar Erlangga

__ADS_1


“San, aku pesen dulu kamu mau apa?” tanya Erlangga


“Seperti waktu itu Ga,” jawab Sana


“Yang mana San?” tanya Erlangga kebingungan


“Cheese cake, itu kesukaan aku Ga, kamu ga tahu?” jawab Sana


“Sorry San, aku ga tau kesukaan kamu,” ujar Erlangga meminta maaf dan kecewa akan dirinya karena tidak tahu kesukaan pacarnya itu.


“Iya gapapa Ga, toh juga hubungan kita ga akan berakhir karena makanan kesukaan aku,” ucap Sana menghibur Erlangga walaupun dari lubuk hatinya ia sedikit kecewa namun ia tidak menunjukkan itu.


Erlangga memesan pesanan mereka dan kembali lagi menuju mejanya lagi. Hanya keheningan yang mendominasi diantara mereka berdua. Sana melihat keluar jendela untuk melihat suasana Kota yang jalanannya mulai padat. Setelah cukup larut dalam keheningan akhirnya Erlangga bersuara


“San, gue mau ngomong boleh?” tanya Erlannga


“Boleh," jawab Sana membenarkan posisi duduknya dan siap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Erlangga.


“Aku mau tanya San, Kamu suka nonton Drama Korea?” tanya Erlangga


“Suka, kenapa Ga?” tanya Sana balik


“Engga, cuman tanya aja San,” jawab Erlangga


“Ehm, itu aku-,”


“Silahkan dinimati pesanannya,” potong seorang pelayan yang membawakan pesanan mereka


“San, aku nanya pertanyaan tadi, karena aku ga suka cewe yang suka nonton Drama Korea apalagi pacar aku,” kata Erlangga


“Aku ga terlalu suka Ga, tenang aja” bohong Sana


“Bagus deh,”


“San, aku ga bisa jemput kamu lagi jadi aku harap kamu ga terlambat, karena aku ga suka pacar aku terlambat ke sekolah,”


“Eh? iya Ga,” ujar Sana yang sebenarnya merasa keberatan dengan perkataan-perkataan yang Erlangga lontarkan dari tadi.


Akhirnya mereka menyantap makanan yang mereka pesan. Sana merasa tertekan, mengetahui fakta bahwa Erlangga tidak suka kalau ia menonton Drama Korea dan itu berlawanan sekali dengan dirinya yang sangat suka dengan itu.


Namun, kali ini ia harus merelakan hobinya demi menyenangkan Erlangga. Saat mereka sedang makan, Sana ingin memberitahunya tentang kejadian yang ia alami belakangan ini


“Ga,”


“San,” ucap mereka bersamaan


“Kamu duluan aja Ga,” ucap Sana


“Aku juga mau ngasih tahu, kalau aku ga suka kamu dekat sama cowok lain,” ujar Erlangga dan itu seketika membuat Sana ragu untuk menceritakan yang ia alami takut Erlangga marah kepadanya.


“San, tadi mau ngomong apa?” tanya Erlangga


“Ga jadi,” jawab Sana mengurungkan apa yang ingin ia katakan


Mereka menyantap makanan mereka, namun disaat mereka sedang menyantap makanan, ponsel Erlangga berbunyi. Seketika Erlangga bangkit terburu-buru


“San, kayak aku ga bisa nganter kamu pulang ada sesuatu,” ujar Erlangga


“Okey,” ucap Sana


Lalu, Erlangga meninggalkan Sana sendirian. Sana penasaran apa yang membuat Erlangga begitu terburu-buru dan disatu sisi Sana lega karena Erlangga tidak menanyakan jaket yang ia bawa tadi. Jika Erlangga bertanya mungkin Sana akan kebingungan menjawabnya.


- To be continued -

__ADS_1


__ADS_2