
Saat jam istirahat, Sana ingin pergi ke kantin. Namun, terhenti karena ada yang berteriak memanggil namanya.
"Sana, gawat san," teriak orang itu sambil terengah-engah, sebab ia habis berlari
"Kenapa Nad?" tanya Sana kepada siswi yang bernama Nadia itu
"Di kelas gue, Erlangga dan Mahesa berantem San, lo buruan deh ke kelas gue, ga ada yang mau ngelerai," ujar Nadia.
Setelah itu Sana segera pergi menuju kelas XI IPA 1. Sepanjang perjalanan ia mendengar bisik-bisik yang bersaut-sautan masuk ke telinganya.
"Sana secantik apa sih? Sampe bikin dua cowo terkenal di sekolah sampai bertengkar," cibir orang itu
"Gatel banget sumpah jadi cewek," sambung yang lain
"Ga bersyukur banget, udah punya pacar masih aja deketin cowok lain," sindir yang lainnya
"Bilang aja kalian iri sama Sana," ujar yang lainnya
Berbagai macam perkataan dari yang menyalahkan sampai membela masuk ke telinga Sana sepanjang ia berjalan menuju kelas XI IPA 1. Tetapi, saat di koridor, tiba-tiba ia merasa sedih dan sesak secara bersamaan.
Sana telah sampai di kelas XI IPA 1, dan benar saja tak satu pun dari mereka yang melihat pertengkaran itu berusaha untuk melerai. Dengan keberanian entah darimana Sana berteriak.
"Stop," teriaknya.
Seluruh pasang mata terarah kepadanya, namun, itu tak menghentikan perkelahian tersebut. Akhirnya, Sana berlari ke arah dua orang yang sedang bertengkar itu dan berusaha untuk melerai.
Tetapi, justru dialah yang terkena pukulan dari Erlangga tanpa disengaja dan itu membuatnya terjatuh. Tiba-tiba Sana merasakan pusing luar biasa, sesak didadanya dan bayangan masa lalu kembali terputar.
"Dasar anak tidak berguna," ujar pria paruh baya
Plak...
Tamparan dari pria itu mendarat mulus di pipi gadis berusia 7 tahun itu, sehingga meninggalkan bekas merah dipipi tersebut.
"Kamu bisa tidak, jangan memegang barang-barang saya," marah pria itu
Pria itu berjalan perlahan menuju gadis kecil yang ketakutan. Gadis itu ketakutan sambil memohon kepada pria itu untuk tidak memukulnya.
"Jangan pukul Sana pa," lirih gadis itu
__ADS_1
"Mama tolongin Sana," ujar gadis itu sambil berlari menuju mamanya. Namun, mamanya segera berlalu dari situ tanpa berniat membantunya. Pria itu terus bejalan menuju gadis kecil yang sedang ketakutan itu.
"Jangan pukul Sana, pa," lirih Sana dengan tubuh bergetar
"Pa, jangan pa," teriak Sana dan itu membuat perkelahian yang sedang terjadi menjadi terhenti. Mahesa segera menghampiri Sana.
"Lo gapapa?" ujar Mahesa khawatir
"Arghh," teriak Sana tanpa sadar lalu ia kehilangan kesadarannya.
Mahesa yang melihat Sana langsung menggendong Sana ala bridal Style menuju mobilnya. Untung Saja ia membawa mobil hari ini. SMA Neozone memang meperbolehkan siswa atau siwinya membawa kendaraan pribadi terutama mobil, karena sekolah Neozone merupakan sekolah yang rata-rata siswanya dari kalangan berdompet tebal.
"Jangan sentuh cewek gue," teriak Erlangga
"Lo bego atau gimana sih? mikir bro, cewek lo pingsan dan seharusnya lo khawatir bukan malah cemburu ga jelas," kesal Adit. Lalu mereka berlima menyusul Mahesa yang menggendong Sana.
Sesampainya di parkiran, Mahesa menyuruh teman-temannya untuk tidak ikut ke rumah sakit.
"Lo yakin bisa sendiri?" tanya Satria
"Iya, lo ga butuh bantuan dari kita?" sambung Adrian
"Ga usah, kalian nyusul pas sekolah udah kelar aja. Kasihan gue liat nilai kalian. terutama si Adit sana Gio," tutur Mahesa
Teman-temannya mengalah dan memilih untuk menuruti kata Mahesa. Mereka berlima kembali ke kelas masing-masing, dan Mahesa menjalankan kendaraan roda empat itu menuju rumah sakit.
...🌱🌱🌱🌱...
Saat ini, Mahesa sedang berada koridor Rumah Sakit menunggu Sana siuman. Mahesa bolak-balik didepan pintu ruangan tempat Sana diperiksa, menunggu dokter selesai memeriksa kondisi Sana. Beberapa waktu kemudian, pintu ruangan itu terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya mengenakan jas putih.
"Kerabat pasien ada disini?" tanya dokter itu
"Saya temannya dok," jawab Mahesa
"Bisa keruangan saya? Ada yang mau saya bicarakan mengenai kondisi pasien," ucap Dokter itu lalu segera berlalu dan menuju ke salah satu ruangan. Mahesa segera mengikuti dokter itu. Sesampainya di ruangan, Dokter mempersilahkan Mahesa duduk.
"Bisa jelaskan kronologi kenapa ia bisa pingsan?" tanya dokter Aldi
Mahesa pun menjelaskan dari awal hingga Sana pingsan tidak lupa ia juga memberitahu dokter kejadian yang sama sebelumnya.
__ADS_1
"Menurut saya, teman kamu shock oleh sebab itu dia pingsan," jelas dokter Aldi
"Setelah saya mendengar cerita kamu tadi, mungkin teman kamu psikisnya terganggu," sambungnya lagi.
"Saya belum bisa menyimpulkan, mungkin lebih baik kita lihat pasien sadar terlebih dahulu," ujar dokter Aldi.
Mahesa cukup terkejut atas apa yang dibicarakan dokter, ia masih tidak menyangka. Mahesa kembali ke ruangan tempat Sana dirawat. Saat ini, Sana belum sadarkan diri, Mahesa melihat wajah damai Sana yang sedang terpejam membuatnya tanpa sadar tersenyum.
Terlihat jari Sana bergerak sedikit, perlahan mata itu terbuka menampilkan netra yang indah. Netra tersebut masih menyesuaikan cahaya yang masuk, dan bingung dimana ia sebenarnya? Saat pencahayaan sudah rasa cukup dan kesadarannya mulai terkumpul, ia berusaha bangun dari ranjang tempatnya berbaring. Mahesa yang melihat itu, dengan segera membantu Sana untuk bangun.
"Mahesa, kita dimana?" tanya Sana
"Di rumah sakit San," jawab Mahesa
"Mahesa, kepala gue pusing, dada gue juga sesak," lirih Sana
"Sebentar, gue panggil dokter," ujar Mahesa. Lalu, ia keluar pintu untuk memanggil dokter dan setelah itu Dokter Aldi datang untuk mengecek kondisi Sana.
"Pasien baik-baik saja," ujar Dokter Aldi
"Tapi dok, kepala saya pusing banget," ujar Sana
"Tapi, kamu baik-baik saja," ujar Dokter Aldi lagi
"Ga, bilang ke dokternya kepala gue pusing, dada gue juga sesak ga," teriak Sana sambil mencengkram baju Mahesa. Tiba-tiba kejadian masa lalu bercampur ujaran kebencian yang Sana terima berputar di kepala Sana.
"Arghh" teriak Sana sambil memegangi kepalanya
"Please, stop," teriaknya lagi
Tubuh Sana gemetar dan ia memukuli kepalanya, Mahesa berusaha untuk menenangkan Sana.
"Sana, jangan pukul kepala lo," ujar Mahesa. Namun, Sana tak berhenti akhirnya Mahesa memeluk Sana menyalurkan ketenangan ke Sana.
"San, stop, jangan sakiti diri lo sendiri," ujar Mahesa menenangkan Sana
"Tapi, kejadian itu, kata-kata itu berputar di kepala gue," tangis Sana pecah saat itu juga.
Mahesa cukup kasian akan kondisi gadis didepannya sekarang. Namun, saat ini ia hanya bisa memberikan sebuah pelukan, karena menurutnya, saat ini yang Sana butuhkan adalah sebuah pelukan yang membuatnya lebih tenang.
__ADS_1
"San, tenangin diri lo, ada gue disini," tutur Mahesa pelan sambil memeluk Sana, pelukan yang Mahesa harap bisa membuat Sana jauh lebih tenang.
- To Be Continued -