I Am Not Crazy

I Am Not Crazy
CHAPTER 12


__ADS_3

Sejak jam pelajaran tadi Sana tidak fokus, saat ini ia sedang berjalan menuju halte bus. Kejadian yang terjadi di kantin tadi, membuat ia merasa bersalah ke Erlangga. Tadi, di gerbang sekolah Sana bertemu dengan Adit dan Gio.


“Hai, San,” sapa Adit


“Pulang sama siapa San?” tanya Gio


“Naik bus,” cemas Sana. Sana melihat sekitar takut Erlangga melihat dan terjadi perkelahian lagi.


“Mau bareng San?” tanya Adit


“Ga usah dit, gue pulang naik bus aja,” tolak Sana


“Lo takut sama pacar lo San?” tanya Gio secara tiba-tiba


“Eh, engga kok,” jawab Sana sedikit kaget akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Gio


“Gila banget kunyuk satu itu, maen merintah aja. San, lo boleh tetep mempertahankan, tapi kalo dia nyampe ngatur kayak gitu tandanya hubungan lo ga sehat San,” ungkap Adit. Menurut dia Erlangga terlalu menekan dan mengatur Sana.


“Ehm, makasih ya Dit, kalo gitu gue duluan ya,” pamit Sana, lalu ia segera berlalu.


Sana memikirkan kata-kata Adit, mengapa ia bertahan hingga sekarang jika ia tertekan? Tapi Sana masih mencintai Erlangga, ia tidak rela untuk mengakhiri hubungan mereka. Seperti gadis remaja biasanya, Sana masih mempertahankan ini dan berharap sikap Erlangga akan berubah seiring berjalannya waktu. Munafik bukan?


Sana berjalan menuju halte bus. Saat-saat ini seharusnya Sana dan Erlangga lebih banyak menghabiskan waktu bersama, menciptakan sebuah kenangan yang akan dikenang. Sebagai bukti bahwa mereka pernah mempunyai kisah bersama. Namun, kenyataannya mereka hanya seperti orang yang saling kenal dan suka tapi tidak dekat, kalian paham kan?


Sudah 2 bulan mereka menjalin hubungan tetapi mereka tidak seperti pasangan umumnya. Seperti ada jurang besar yang tidak terlihat antara mereka berdua yang membuat mereka terpisah. Mungkin bukan sekarang, tetapi akan segera terjadi seiring berjalannya waktu. Tergantung dengan skenario yang dibuat oleh Sang Pencipta.


Saat berjalan Sana merasa lelah tetapi ia berusaha untuk tidak tumbang. Sana baru sadar bahwa sejak tadi hanya makan sepotong roti pemberian Mahesa di kantin tadi. Dia juga sadar bahwa akhir-akhir ini makannya sangat tidak teratur. Saat sedang berjalan tiba-tiba ada suara deru motor dari arah belakang Sana.


"Siapa lagi kali ini?" gumam Sana


"Please, jangan sial lagi," lirih Sana.


Sana hendak mengambil ancang-ancang untuk lari. Namun, terlambat tangannya sudah dicekal oleh seseorang dari belakang dan itu membuatnya semakin cemas dan takut. Tanpa sadar ia berteriak


“AAA,” teriak Sana


“San,” panggil orang itu.


Sana tampak tidak asing dengan suara itu, ia memutuskan untuk membalikkan badan. Ternyata orang itu adalah Mahesa, ada rasa lega dihati Sana.


“Mau pulang? Bareng gue,” tawar Arga


“Ga usah Sa, gue pulang naik bus aja,” tolak Sana, lalu ia membalikkan badan, lalu meninggalkan Mahesa.


Namun, tiba-tiba ia merasa pusing. Kakinya tiba-tiba merasa lemas dan tidak sanggup menanggung beban tubuhnya sehingga membuat tubuhnya jatuh ke tanah. Tetapi, ditangkap oleh Mahesa sehingga tubuh Sana tidak jadi menyentuh trotoar yang panas akibat sinar dari sang surya. Sana yang kaget tidak sengaja menatap bola mata hitam legam yang milik Mahesa. Tatapan itu berlangsung lama sang pelaku terlalu hanyut dalam tatapan masing-masing sehingga enggan untuk memutuskan tatapan mereka.


“Woy Mahesa” teriak Deva dari belakang.

__ADS_1


Seketika Sana langsung sadar. Lalu memutuskan kontak mata itu dan bangkit dari tangan Arga yang menangkap tubuhnya tadi.


“Makasih ya Sa,” gugup Sana


“Gue ga yakin lo bisa pulang sendiri, bareng gue pulangnya,” tegas Mahesa


“Tapi-,”


"Ga terima penolakan,” potong Mahesa.


Jika tidak begitu, Sana pasti akan menolak. Akhirnya Sana pun menerima ajakan dari Arga. Sana pergi mengekori Mahesa menuju motor Mahesa berada yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Mahesa memberikan Sana helm untuk dipakainya dan mengulurkan tangannya supaya Sana bisa naik ke motor ninja berwarna hitam itu. Motor itu melaju dengan pesat, membuat sebagian pengguna jalan membunyikan klaksonnya. Sana bingung kemana ia akan dibawa karena ini bukan jalan ke rumahnya.


“Mahesa, lo tau rumah gue kan?” tanya Sana sedikit berteriak agar suaranya bisa menang dari suara bising jalanan. Namun, ia tak kunjung mendapat balasan akhirnya ia memutuskan untuk bertanya lagi


“Mahesa, kita mau kemana? rumah gue bukan ke arah ini,” tanya Sana lagi.


Namun, balasan yang diharapkan tidak ada. Akhirnya ia hanya bisa pasrah kemana Arga membawanya. Sana menyesal menerima tawarannya, kalau ujungnya seperti ini. Namun, apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur. Setelah beberapa menit duduk di kendaraan beroda dua itu akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan. Bangunan ini nampak tidak asing di mata Sana, dia mencoba untuk mengingat-ingat ternyata bangunan ini adalah tempat perkumpulan Mahesa dan teman-temannya. Tempat yang pertama kali yang Sana datangi waktu itu, yang membuat Sana mengenal mereka semua. Sana sadar tak semua anggota geng itu buruk.


“Masuk,” singkat Mahesa, lalu berlalu meninggalkan Sana yang masih takjub melihat bangunan di depannya.


“Sana, ayo masuk,” ajak Satria dan menyadarkan Sana dari kekagumannya


“Oh iya, Sat,”  jawab Sana lalu ia mengikuti Satria masuk


Saat ini, mereka sedang ada di ruang tamu mereka berniat untuk memesan makanan melalui ojek online. Sana sangat bersyukur, kebetulan sekali ia sedang lapar karena hanya memakan sepotong roti. Mereka berdebat akan memesan apa saja, tentunya Adit dan Gio yang paling ribet akan memesan apa


“Gimana kalo kita makan pizza?” tanya Adit


“Apa kenyang makan pizza bego,” cibir Gio


“Kan gue nanya anjir,” balas Adit


“Udah, lo pada diem, gimana kalo nasi padang?” tanya Deva


“Yaelah, itu mah kesukaan lo aja Dev,” sindir Adrian


“Diem lo pacar game,” ejek Deva


“Mending pesan sesuai kesukaan kalian aja, daripada ribet begini,” ucap Satria menengahi mereka


“Makan aja ribet lo pada,” ketus Mahesa.


Akhirnya mereka memesan makanan sesuai dengan keinginan masing-masing. Setelah makanan datang mereka mulai memakannya. Saat semua sudah selesai makan, mereka bingung ingin melakukan apa. Istilahnya dalam bahasa gaul adalah ‘gabut’.


“Gabut gile, gimana kalo nonton aja?” tanya Adit

__ADS_1


"Gue setuju," ujar Gio


“Gue ngikut aja,” ujar Deva, Satria dan Adrian bersamaan


“Sana sama Mahesa, gimana?” tanya Gio


“Terserah,” ucap Sana dan Arga bersamaan


“Ciee, samaan,” ledek Deva


“Jodoh kali yaa,” timpal Gio menggoda Sana dan Mahesa


“Akhirnya kutub es menemukan jodohnya,” ucap Adit dramatis


“Serah lo pada,” ucap Mahesa malas meladeni teman-temannya


“Oke, kita nonton film ya kawan,” tanya Adit


“Iye anjir,” kesal Gio


“Tapi kawan, kita mau nonton apa?” tanya Adit yang mengundang kekesalan temannya


“Lah, si Adit minta di tabok,” Geram Deva


“Gue kira lo udah tahu mau nonton apa anjir,” seru Gio


“Hehehe, mari kita tanyakan kepada tuan putri Sana saja?” tanya Adit kepada Sana


“Eh? Gue ngikut aja deh,” bingung Sana


“Oke karena pada bingung mending kita nonton Drakor saja,” jawab Adit


“Kali ini kita akan menonton Drakor berjudul ‘The K2’,” sambungnya lagi


“Sana suka Drakor kan? pasti suka dong masa engga,” tebak Adit dengan bangga


“Ga terlalu Dit,” bohong Sana, ia terpaksa berbohong karena Erlangga tak suka jika ia menonton Drakor.


“Hahahaha, malu ga tuh,” ledek Gio sambil tertawa dan Adit merasa malu dengan kata-katanya. Namun, tanpa semua orang sadari Mahesa menatap Sana dengan tatapan yang sulit dimengerti.


Gue ga paham sama jalan pikiran lo San, batin Mahesa


Akhirnya mereka menonton drakor ‘The K2’. Drama itu tayang pada tahun 2016 bercerita tentang seorang mantan tentara yang menderita PTSD karena masa lalu yang dideritanya. Akhirnya ia bekerja di sebuah agen rahasia dan mendapatkan julukan K2. Disitu ia bertemu dengan seorang gadis, anak tiri dari pemilik agen rahasia yang juga menderita gangguan mental akibat trauma masa lalu. Mereka sangat menikmati Drama tersebut, mereka hanyut terbawa adegan yang diperankan oleh sang aktor. Hingga tiba-tiba Deva berteriak heboh membuat semua pasang mata tertuju kepadanya.


“Woy, ada berita terbaru,” teriak Deva


“San, lo harus liat ini,” sambungnya lagi.

__ADS_1


- To Be Continued -


__ADS_2