I Am Not Crazy

I Am Not Crazy
CHAPTER 22 BLM REVISI


__ADS_3

"Hm," singkat Arga dengan wajah datar andalannya. Sebenarnya Arga ingin sekali tersenyum, namun, ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya.


"Singkat banget, emang bener ya kata Deva, kutub es," gumam Sana


"Gue denger." Lalu Arga segera berbalik meninggalkan Sana sendiri di ruangan itu dan menuju sebuah toko didekat Rumah Sakit untuk membeli ice cream. Namun, saat ia hendak kembali ke kamar Sana, tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari teleponnya


"Halo," sapa Arga.


Terdengar suara dari sebrang telepon yang merubah raut wajah Arga. Raut wajah yang semulanya tenang menjadi khawatir setelah menerima telepon itu. Arga segera bergegas menuju pakiran, tidak lupa ice cream pesanan Sana ia titipkan kepada suster yang merawat Sana yang kebetulan sekali lewat.


🌱🌱🌱🌱


Pesan notifikasi masuk ke ponsel Sana, ia melihat siapakah yang mengirim pesan kepadanya?. Ternyata pesan itu dari Arga.



Sana cukup sedih melihat pesan yang dikirimkan Arga. Namun, ia sadar ia hanyalah orang asing yang tidak sengaja terlibat dalam kehidupan Arga. Arga mempunyai kehidupan sendiri dan apa hak Sana kecewa dengan perlakuan Arga?.


"Apa sih lo san, inget lo cuman orang asing."


"Jangan baper, jangan nyaman, dia cuman kasihan sama lo."


"Inget lo juga punya pacar, jaga perasaan Erlangga San," ujar Sana kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan seoarang suster yang membawa sesuatu.


"Sana, ini ada titipan pacar kamu tadi." Suster itu memberikan sebuah kantong plastik yang ia pegang kepada Sana.


"Serius dari pacar saya sus?" tanya Sana bingung pasalnya Erlangga tidak mengatakan apa-apa jika ia ingin mengirim sesuatu ke Sana dan mengapa ia tidak langsung memberikan langsung?. Namun, perkataan suster selanjutnya membuat Sana lagi-lagi dikecewakan oleh harapannya sendiri.


"Iya, pacar kamu yang tadi nemenin kamu."


"Oh, itu mah temen saya sus."


"Kalau begitu saya pamit undur diri, tetap jaga kesehatan Sana," ujar Suster itu, lalu keluar dari ruangan Sana. Ternyata itu adalah ice cream yang Arga belikan tadi, memang Arga tadi sempat mengirim pesan, bahwa ice creamnya dititipkan ke suster.


🌱🌱🌱🌱


Matahari di hari Rabu ini sangat pas untuk berjalan-jalan pagi. Hari ini tepat seminggu Sana dirawat di Rumah Sakit. Dokter belum memperbolehkan Sana pulang, karena ia sempat lepas kontrol lagi. Pada hari Arga pergi karena ada urusan mendadak, pada hari itu juga Sana lepas kontrol dan berujung besoknya ia dimarahi.


"Bego." Arga marah terhadap gadis didepannya ini. Ia tak habis pikir, baru semalam ia tinggal dan gadis didepannya ini berulah. Arga paham apa yang dirasakan gadis didepannya ini, tetapi, ia tidak membenarkan perbuatan Sana yang melukai diri sendiri.


"Kan gue udah bilang jangan self harm lagi, masih aja dilakuin," marah Arga


"Ya abis candu, kayak senyum song kang," celetuk Sana


"Apa lo bilang? Gila ya lo." Lagi-lagi Arga menghabiskan banyak tenaga dan kata-kata untuk meberitahu gadis keras kepala yang ada didepannya.


"Gue juga ga mau, tapi cuman itu yang bikin gue lega," ungkap Sana. Arga tiba-tiba dihinggapi rasa bersalah. Baru kali ini memiliki perasaan yang cukup aneh, perasaan yang mungkin saja akan membawa ke suatu dunia yang bernama cinta.


"Lo mau gue beliin apa?" ujar Arga mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Gue mau cheese cake," ujar Sana dengan mata yang berbinar. Tanpa sadar senyum Arga terbit dan itu merupakan momen langka yang pernah Sana lihat.


"Ternyata senyum lo candu juga ya," celetuk Sana tanpa sadar dan Arga sadar bahwa ia sempat tersenyum tadi, itu makin membuat tanda tanya dalam dirinya. Ada apa dengannya?


"Ada syaratnya." Arga memberikan syarat kepada Sana. Bukan Arga jika memberi tanpa sebuah syarat.


"Apa?" tanya Sana


"Gue beliin cheese cake lo, kalo lo udah sembuh." Lalu Arga segera berlalu dari hadapan Sana. Ia bahkan tidak memberi Sana kesempatan buat protes dan itu membuat Sana kesal.


Saat ini, Sana sedang duduk dikursi roda yang didorong oleh suster. Ia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di taman rumah sakit sebab ia bosan hanya duduk seharian di kamar inap pasien. Suasana saat ini sangat cocok buat Sana, angin sepoi-sepoi hilir mudik menyapa permukaan kulit, cahaya matahari yang tidak terlalu menyengat, dan hanya sedikit orang yang ada di taman ini menambah kesan tenang didalamnya.


"Sus, saya mau sendiri," ucap Sana kepada Suster yang menemaninya.


"Baik Sana, ingat jangan sampai kamu melukai diri kamu sendiri, kalau begitu saya pergi dahulu," pamit Suster itu.


Kini tinggal Sana seorang diri, ia melihat sekeliling taman yang sangat indah. Taman rumah sakit ini begitu tenang sehingga membuat Sana nyaman untuk duduk berdiam lama di taman itu. Tetapi, jangan terlena dengan ketenangan yang ada, terkadang yang tenang itulah yang membuat kita terhanyut dan akhirnya tenggelam. Seperti sekarang ini, Sana terhanyut dengan ketenangan yang ada hingga akhirnya ia tenggelam dengan rasa sedih yang mendalam. Rasa tenang yang membawanya kepada rasa sedih dan kesepian yang selama ini ia alami.


"Bahkan gue sakit pun, orang tua gue tetap ga peduli," lirih Sana dengan tatapan sendu mengarah kedepan.


"Gue kira sahabat dan pacar gue peduli, namun kenyataanya gue hanya orang biasa yang hadir dihidup mereka."


Tanpa sadar air mata Sana turun tanpa persetujuan dari sang pemilik. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya keluar. Ia berusaha untuk tidak mengelurkan isak tangis dan dengan cepat mengusap air matanya.


"Yang asing menjadi dekat dan yang dekat menjadi asing." Setelah mengatakan itu air mata Sana semakin banyak yang jatuh tanpa seijinnya. Rasa sedih, kecewa, dan berusaha menerima semuanya sangat sulit untuk Sana. Sana mengusap air matanya, supaya tidak ada orang lain yang melihatnya menangis. Ia paling tidak suka jika ada seseorang yang melihatnya menangis, ia memiliki pengalaman buruk jika ada seseorang yang melihatnya menangis.


"Singkat banget, emang bener ya kata Deva, kutub es," gumam Sana


"Gue denger." Lalu Arga segera berbalik meninggalkan Sana sendiri di ruangan itu dan menuju sebuah toko didekat Rumah Sakit untuk membeli ice cream. Namun, saat ia hendak kembali ke kamar Sana, tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari teleponnya


"Halo," sapa Arga.


Terdengar suara dari sebrang telepon yang merubah raut wajah Arga. Raut wajah yang semulanya tenang menjadi khawatir setelah menerima telepon itu. Arga segera bergegas menuju pakiran, tidak lupa ice cream pesanan Sana ia titipkan kepada suster yang merawat Sana yang kebetulan sekali lewat.


🌱🌱🌱🌱


Pesan notifikasi masuk ke ponsel Sana, ia melihat siapakah yang mengirim pesan kepadanya?. Ternyata pesan itu dari Arga.



Sana cukup sedih melihat pesan yang dikirimkan Arga. Namun, ia sadar ia hanyalah orang asing yang tidak sengaja terlibat dalam kehidupan Arga. Arga mempunyai kehidupan sendiri dan apa hak Sana kecewa dengan perlakuan Arga?.


"Apa sih lo san, inget lo cuman orang asing."


"Jangan baper, jangan nyaman, dia cuman kasihan sama lo."


"Inget lo juga punya pacar, jaga perasaan Erlangga San," ujar Sana kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan seoarang suster yang membawa sesuatu.


"Sana, ini ada titipan pacar kamu tadi." Suster itu memberikan sebuah kantong plastik yang ia pegang kepada Sana.

__ADS_1


"Serius dari pacar saya sus?" tanya Sana bingung pasalnya Erlangga tidak mengatakan apa-apa jika ia ingin mengirim sesuatu ke Sana dan mengapa ia tidak langsung memberikan langsung?. Namun, perkataan suster selanjutnya membuat Sana lagi-lagi dikecewakan oleh harapannya sendiri.


"Iya, pacar kamu yang tadi nemenin kamu."


"Oh, itu mah temen saya sus."


"Kalau begitu saya pamit undur diri, tetap jaga kesehatan Sana," ujar Suster itu, lalu keluar dari ruangan Sana. Ternyata itu adalah ice cream yang Arga belikan tadi, memang Arga tadi sempat mengirim pesan, bahwa ice creamnya dititipkan ke suster.


🌱🌱🌱🌱


Matahari di hari Rabu ini sangat pas untuk berjalan-jalan pagi. Hari ini tepat seminggu Sana dirawat di Rumah Sakit. Dokter belum memperbolehkan Sana pulang, karena ia sempat lepas kontrol lagi. Pada hari Arga pergi karena ada urusan mendadak, pada hari itu juga Sana lepas kontrol dan berujung besoknya ia dimarahi.


"Bego." Arga marah terhadap gadis didepannya ini. Ia tak habis pikir, baru semalam ia tinggal dan gadis didepannya ini berulah. Arga paham apa yang dirasakan gadis didepannya ini, tetapi, ia tidak membenarkan perbuatan Sana yang melukai diri sendiri.


"Kan gue udah bilang jangan self harm lagi, masih aja dilakuin," marah Arga


"Ya abis candu, kayak senyum song kang," celetuk Sana


"Apa lo bilang? Gila ya lo." Lagi-lagi Arga menghabiskan banyak tenaga dan kata-kata untuk meberitahu gadis keras kepala yang ada didepannya.


"Gue juga ga mau, tapi cuman itu yang bikin gue lega," ungkap Sana. Arga tiba-tiba dihinggapi rasa bersalah. Baru kali ini memiliki perasaan yang cukup aneh, perasaan yang mungkin saja akan membawa ke suatu dunia yang bernama cinta.


"Lo mau gue beliin apa?" ujar Arga mengalihkan pembicaraan.


"Gue mau cheese cake," ujar Sana dengan mata yang berbinar. Tanpa sadar senyum Arga terbit dan itu merupakan momen langka yang pernah Sana lihat.


"Ternyata senyum lo candu juga ya," celetuk Sana tanpa sadar dan Arga sadar bahwa ia sempat tersenyum tadi, itu makin membuat tanda tanya dalam dirinya. Ada apa dengannya?


"Ada syaratnya." Arga memberikan syarat kepada Sana. Bukan Arga jika memberi tanpa sebuah syarat.


"Apa?" tanya Sana


"Gue beliin cheese cake lo, kalo lo udah sembuh." Lalu Arga segera berlalu dari hadapan Sana. Ia bahkan tidak memberi Sana kesempatan buat protes dan itu membuat Sana kesal.


Saat ini, Sana sedang duduk dikursi roda yang didorong oleh suster. Ia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di taman rumah sakit sebab ia bosan hanya duduk seharian di kamar inap pasien. Suasana saat ini sangat cocok buat Sana, angin sepoi-sepoi hilir mudik menyapa permukaan kulit, cahaya matahari yang tidak terlalu menyengat, dan hanya sedikit orang yang ada di taman ini menambah kesan tenang didalamnya.


"Sus, saya mau sendiri," ucap Sana kepada Suster yang menemaninya.


"Baik Sana, ingat jangan sampai kamu melukai diri kamu sendiri, kalau begitu saya pergi dahulu," pamit Suster itu.


Kini tinggal Sana seorang diri, ia melihat sekeliling taman yang sangat indah. Taman rumah sakit ini begitu tenang sehingga membuat Sana nyaman untuk duduk berdiam lama di taman itu. Tetapi, jangan terlena dengan ketenangan yang ada, terkadang yang tenang itulah yang membuat kita terhanyut dan akhirnya tenggelam. Seperti sekarang ini, Sana terhanyut dengan ketenangan yang ada hingga akhirnya ia tenggelam dengan rasa sedih yang mendalam. Rasa tenang yang membawanya kepada rasa sedih dan kesepian yang selama ini ia alami.


"Bahkan gue sakit pun, orang tua gue tetap ga peduli," lirih Sana dengan tatapan sendu mengarah kedepan.


"Gue kira sahabat dan pacar gue peduli, namun kenyataanya gue hanya orang biasa yang hadir dihidup mereka."


Tanpa sadar air mata Sana turun tanpa persetujuan dari sang pemilik. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya keluar. Ia berusaha untuk tidak mengelurkan isak tangis dan dengan cepat mengusap air matanya.


"Yang asing menjadi dekat dan yang dekat menjadi asing." Setelah mengatakan itu air mata Sana semakin banyak yang jatuh tanpa seijinnya. Rasa sedih, kecewa, dan berusaha menerima

__ADS_1


__ADS_2