
Bulan berganti dengan Matahari, tandanya sudah waktunya memulai aktivitas. Tetapi, berbeda dengan Sana yang masih tertidur lelap padahal jam alarm sudah menyuruhnya bangun.
Sana yang merasa terganggu memutuskan untuk mematikan alarmnya dan melihat jam, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 06.30
“Gue terlambat,” gumam Sana
Ia bergegas untuk siap-siap berangkat ke sekolah karena ia tidak mau Erlangga melihat dirinya terlambat.
Ia segera berlari menuju halte bus karena ia sekarang berangkat menggunakan bus. Sana menunggu bus datang, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Sana memutuskan untuk berjalan kaki ke sekolah, karena ia sedang dilanda panik jadi ia tidak bisa berpikir jernih.
Saat ia sedang sedikit berlari tiba-tiba terdengar suara rombongan motor yang berhenti di dekatnya. Ia mengira itu adalah Raiden dan anggotanya, itu membuat Sana takut dan segera berjalan menjauh. Namun, langkahnya terhenti mendengar suara orang yang begitu familiar ditelinganya
“Sana,” panggil Mahesa
Sana berbalik dan merasa lega ternyata itu adalah Mahesa dan teman-temannya. Sana menghampiri Mahesa yang berdiri tak jauh darinya.
“Iya?” jawab Sana
"Sekolah? Bareng gue,” ajak Mahesa menawarkan tumpangan.
Namun, Sana tolak mengingat ia harus menjaga jarak dengan cowok. Apalagi jika nanti dilihat oleh Erlangga kalau ia diantar oleh seorang cowo, terlebih lagi Mahesa yang notabenenya adalah orang yang tidak Erlangga sukai.
“Ga usah Sa,” tolak Sana
“Lo yakin? Sekolah kita masih lumayan jauh bentar lagi juga mau bel masuk,” ujar Adit
“Tapi-,” ujar Sana
“Naik,” tegas Arga kepada Sana sambil memberikan sebuah helm.
Akhirnya Sana menerima ajakan dari Mahesa untuk berangkat bareng, lebih tepatnya ia terpaksa menerima. Tapi, daripada terlambat, lebih baik ia menerima ajakan Mahesa. Untuk urusan ketahuan atau tidak Sana bisa turun sebelum gerbang sekolah saja.
Sepanjang perjalanan tidak ada satupun dari Sana ataupun Arga yang memulai pembicaraan.
“Mahesa, nanti turunin gue sebelum gerbang ya,” ujar Sana sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh Mahesa
“Kenapa?” tanya Arga dibalik helmnya
“Takut ada salah paham dengan pacar gue,” ujar Sana
Lalu, tak ada lagi pembicaraan. Akhirnya mereka sampai di SMA Neozone. Mahesa mengabaikan perkataan Sana yang dari tadi meminta untuk diturunkan sebelum gerbang sekolah. Arga dan teman-temannya pakir di SMA Neozone dan itu membuat orang-orang yang disana sedikit heboh. Sana bersyukur hanya sedikit siswa yang berada disitu tetapi tak mengurangi kehebohan akibat Mahesa dan teman-temannya.
Sana bingung kenapa mereka memakirkan motor mereka di SMA Neozone. Dia lupa bahwa Mahesa dan teman-temannya satu sekolah dengan dirinya.
“Loh, kalian ga ke sekolah?” tanya Sana
“Ini kita sekolah San,” ujar Adrian
“Hah? Jangan bilang-,”
“Dari dulu, kita emang sekolah disini San, Arga aja yang baru pindah. Dulu, Arga juga sekolah disini," potong Adit
"Jangan bilang lo ga pernah tahu kalo kita sekolah disini” sambungnya lagi
__ADS_1
"Gue tahu kok, gue lupa tadi," ujar Sana sambil merutuki dirinya yang bodoh. Padahal ia sudah diberitahu Cindy beberapa hari yang lalu, mengapa ia bisa lupa.
“Trus kok kalian ga masuk?” tanya Sana
“Nunggu Satria sama Deva nganter cewe mereka,” ujar Gio
“Oh, gue masuk duluan ya,” pamit Sana
Sepanjang perjalanan menuju kelas, Sana banyak mendengar siswa dan siswi sedang membicarakan murid baru yaitu Mahesa dan teman-temannya.
“Ga nyesel gue tadi berangkat telat”
“Iya, bisa liat cogan sekolah,”
“Kak Mahesa ganteng banget,"
"Geng Devil cakep semua, apalagi ketuanya,"
“Anggota intinya juga ga kalah cakep”
"Satria ganteng, tapi sayang tadi ga ada,"
"Udah ada pawangnya,"
Begitulah gosip yang ia dengar sepanjang ia menuju kelasnya. Namun, tak hanya Mahesa dan teman-temannya, ia pun ikut terseret karena ia tadi berangkat dengan mereka.
“Tau ga, tadi Sana berangkat bareng Geng Devil itu,”
“Masa sih? Bukannya dia masih pacaran sama Erlangga,”
“Sok cantik banget,”
Sana sedikit sedih mendengar dan ia menjadi cemas, bagaimana kalo Erlangga nanti marah kepadanya? Sana memasuki kelas dan duduk di bangkunya sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Bel masuk berbunyi guru yang mengajar datang dan diikuti oleh dua anak yang bukan dari kelas XI IPA 3. Dua anak itu adalah Adit dan Gio. Memang dua anak yang tidak bisa dipisahkan namun selalu bertengkar jika bersama.
“Baik anak-anak kita kedatangan murid dari kelas XI IPA 1, mereka dipindahkan kesini karena membuat keributan,” kata Bu Sinta
“Baik, Adit dan Gio silahkan duduk dibangku kosong belakang Cindy dan Dilla,” Kata Bu Sinta
“Bu, boleh tidak jika Sana duduk di depan saya,” ujar Adit
“Betul Bu, Karena kami hanya kenal dengan Sana, jadi kami lebih nyaman jika Sana duduk didepan kami,” ujar Gio menimpali perkataan yang diucapkan Adit
“Kenapa coba sebut nama gue,” gumam Sana
“Banyak alasan kalian, baiklah, Cindy dan Dilla tukeran tempat dengan Sana,” perintah Bu Sinta
“Adit dan Gio silahkan duduk, mari kita mulai pelajarannya,” ucap Bu Sinta lagi.
Gio dan Adit duduk ditempat mereka begitu juga dengan Sana dan kedua temannya yang bertukar tempat duduk.
“Lo, kenapa sebut nama gue sih Dit,” kesal Sana
__ADS_1
"Kenapa?” tanya mereka berdua
“Gue takut salah paham sama pacar gue,” bisik Sana karena jam pelajaran sudah dimulai
“Pacar lo? Gila, lo sama Mahesa udah jadian aja nih,” ledek Adit
“Gercep juga si kutub es” ujar Gio menimpali
“Bukan gitu, pacar gue bukan Mahesa tapi Erlangga, dia ketos disini,” ujar Sana menjelaskan
"What Erlangga? Gila, ternyata itu pacar lo San, ga nyangka gue. Gegara tuh orang kita berdua dipindah kelasnya," kesal Gio
"Asli Njir, kesel gue, mentang-mentang anak emas ngadu terus ke guru," timpal Adit
“Kalo misalnya ada yang macem-macem sama lo, terlebih lagi di Erlangga, tenang aja, ada kita San,” ujar Gio
“Gue setuju sama Gio, lo bisa anggep kita temen lo San,” ujar Adit menyetujui apa yang dikatakan Gio
“Oh iya, yang lainnya dipindah juga kelasnya?” tanya Sana
“Iya, gegera kunyuk itu, Mahesa sam Satria tetap di IPA 1, Deva sama Ardian dipindah ke IPA 2,” ujar Adit
“Lagian kalian kok bisa-bisanya dipindah kelasnya,” ujar Sana heran
"Biasalah, kunyuk satu itu ngadu, kalo kita berenam ribut terus kalo disatuin, dan guru-guru pada setuju. Tapi, ga salah sih yang dibilang kunyuk itu. Tetep aja gue kesel sih dipindah kelasnya," kesal Adit
"Kunyuk?" tanya Sana
"Itu sih Ketos," jawab Gio. Sana hanya ber oh ria dan sedikit tertawa melihat kekesalan mereka berdua. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan diantara mereka bertiga dan mereka fokus kedepan untuk menyimak pelajaran.
...🌱🌱🌱🌱...
Jam istirahat berbunyi, seperti biasa siswa dan siswi pergi menuju kantin untuk mengisi perut mereka. Begitu juga dengan Sana, tetapi kali ini ia ke kantin bersama dengan Adit dan Gio dengan cara dipaksa. Sana pun berakhir di meja yang dipenuhi Mahesa dan teman-temannya.
“Adit lo tuh ya, maen tarik aja,” kesal Sana
“Maaf San,” ujar Adit
“Dah ah, gue mau ke meja sahabat gue aja,” ujar Sana sambil menunjuk meja yang baru saja diduduki Cindy dan Dilla tetapi disitu juga ada Laskar dan Rizky.
Tetapi, sebelum beranjak perut Sana berbunyi dan itu membuatnya malu.
“Bunyi apa tuh,” goda Deva
“Keknya di samping gue deh,” goda Adit
“Makan,” ujar Mahesa sambil memberikan sebuah roti, dengan ragu Sana duduk kembali dan makan roti yang diberikan Mahesa. Pasalnya ia belum makan sejak tadi malam. Sana makan dengan lahap, membuat orang di meja itu tertawa karena menurut mereka Sana itu lucu. Kecuali Mahesa yang hanya menunjukkan senyum tipisnya.
Lucu- batinnya
Namun, tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengambil foto mereka, lalu mengirimkan foto tersebut ke orang lain.
“Lo ga pantes buat dia,” gumam orang itu sambil menunjukkan senyum sinis.
__ADS_1
- To be continued -