
...Senyum itu hadir untuk menutupi luka yang ada...
Sana memutuskan untuk pulang ke rumah. Tetapi, dia merasakan firasat yang buruk dalam perjalanan menuju rumah . Benar saja, dari jarak yang lumayan dekat ia melihat sekelompok orang yang sama pada malam itu. Sekelompok orang itu adalah Geng Demon tak lupa dengan sang ketua Raiden.
Sana langsung merutuki dirinya sendiri, kenapa ia begitu sial hari ini? ia tambah menyesal karena tak memakai jaket yang diberikan oleh Mahesa.
“Sial banget gue hari ini,” decak Sana
“Aduh gimana ini, apa gue balik badan ya?” gumam Sana
Sana memutuskan untuk segera berbalik badan dan ingin pergi, namun, sepertinya ia telah dilihat oleh salah satu mereka
“Raiden, itu pacar Mahesa si kutub es,” Seru Daniel
“Wah, mangsa bagus,” kekeh Raiden
“Mampus, gue ketahuan,” gumam Sana
“Satu-satunya cuman lari,” lanjutnya lagi. Lalu, ia segera berlari menjauh dari mereka.
“WOY, DIA LARI, CEPAT KEJAR, MALAH DIAM AJA LO SEMUA,” bentak Raiden ke anggotanya
“Siap, bos,” jawab anggotanya
Lalu terjadilah kejar-kejaran, Sana berlari sekuat yang ia bisa ia panik, takut, cemas semuanya campur jadi satu dan itu sulit membuatnya berpikir saat itu.
Namun, tiba-tiba dia teringat bahwa Mahesa pernah memberinya nomor telepon. Sambil berlari, Sana menelpon Mahesa, namun, tidak diangkat langsung oleh sang empunya. Dering pertama berbunyi, masih belum. Dering kedua berbunyi, juga masih belum
“Angkat Sa,” lirih Sana sambil merapalkan doa-doa dalam hatinya, dan pada dering ke empat Mahesa menjawab nomor teleponnya
“Halo,” jawab orang di seberang telepon
“Halo, Mahesa tolongin gue,” ujar Sana dengan nafas tersenggal-senggal, ia kelelahan sat berlari
“WOY, BERHENTI LO,” seru orang dibelakang Sana
“San, lo kenapa? Lo dikejar siapa?” ujar Mahesa dengan nada khawatir
“Tolong gue Sa, gue di taman Melati deket rumah gue,” ucap Sana lalu sambungan telepon terputus karena Sana berhasil ditangkap oleh anggota Demon.
“Ternyata lagi nelpon pacarnya woy,” ujar Dimas yang mengambil handphone Sana
“Lepasin gue,” bentak Sana dan berusaha melepas cekalan yang ada ditangannya
“Udah cantik, ga usah galak-galak tinggal diam aja susah betul,” ujar Daniel
"Keras Kepala," decak Sean
“Bawa ke Raiden,” sambungnya lagi
Mereka membawa Sana ketempat Raiden, karena Raiden tidak ikut mengejar Sana. Ia masih tetap di tempat yang sama saat mereka bertemu dengan Sana.
...🌱🌱🌱🌱...
Mahesa yang baru saja selesai mandi langsung melihat siapa yang menelponnya dari tadi, ternyata itu adalah Sana. Mahesa sempat bingung kenapa cewek ini menghubunginya
“Halo,” Ucap Mahesa
“Halo, Mahesa tolongin gue,” jawab Sana, terdengar nafas tersenggal-senggal di seberang telepon. Mahesa juga mendengar suara teriakan orang disebrang telepon, membuat Mahesa menjadi khawatir
“San, lo kenapa? Lo dikejar siapa?” ujar Mahesa dengan nada khawatir
“Tolong gue Sa, gue di taman Melati deket rumah gue,” ucap Sana di sebrang telepon
“San?"
“Halo,” ujar Mahesa
__ADS_1
Tutt...tutt...tutt...
Sambungan telepon terputus. Mahesa segera mengambil jaket dan kunci motor yang ada di nakas, tak lupa ia mengabari teman-temannya untuk membantu. Mahesa mengemudikan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata, membuat pengguna jalan lainnya menjadi marah.
Sana berusaha untuk lepas dari genggaman mereka tapi, nihil, tenaga mereka lebih kuat darinya. Saat ini, ia berharap bahwa Mahesa datang tepat waktu.
“Santai aja, gue ga bakal ngelukain lo kok, nunggu pacar lo Mahesa dateng dulu kesini,” Bisik Raiden ditelinga Sana
“Btw bos, cakep juga pacarnya Mahesa, ya ga teman-teman,” ucap Sean
“Yoi,” timpal Galih dan Aska
Mereka yang ada disini adalah anggota inti Demon. Tak lama kemudian ada seseorang berteriak
“LEPASIN DIA,” pekik Mahesa yang baru saja tiba disitu
“Wah, pahlawannya datang juga,” ejek Raiden
“Sendiri aja? Yakin mau menang lawan kita?” ledek Daniel
“Udah, akuin aja kalo kali ini lo kalah,” sambung Aska
“Kata siapa sendiri,” seru Deva
Teman-teman Mahesa muncul. Kali ini, mereka seimbang enam lawan enam dan mungkin Demon kali ini akan menerima kekalahannya lagi.
“GOSAH BANYAK BACOT LO, LEPASIN TUH CEWE,” teriak Ardian
“Gimana? serang Sa?” tanya gio
“Serang,” jawab Mahesa
Setelah itu, perkelahian pun terjadi. Hanya satu orang yang memegangi Sana. Sana segera berusaha lepas dari cekalan Anak Demon. Saat sedang berusaha melepaskan, kepala Sana terbentur bangku taman.
“Aww,” Ringisnya
“Papa, jangan pukul Sana,” rengek anak yang masih kecil itu
“Diam, saya muak mendengar rengekan kamu,” ucap seorang pria paruh baya
“Pa, please pa, Mama tolong Sana,” ucap anak itu sambil menangis, memohon kepada wanita yang hanya memandangnya lalu segera berlalu tanpa berniat menolongnya.
“Pa, jangan pa...,” lirih Sana tanpa sadar yang masih terbawa dengan ingatan pahit itu
“San, lo gapapa,” ucap Mahesa memegang bahu Sana
“JANGAN PUKUL AKU PA,” teriak Sana dan ia tersadar bahwa didepannya ada Mahesa
“San?” tanya Arga
“Eh iya?” jawab Sana dengan suara dan tubuh yang gemetar
“Lo gapapa?” tanya Satria kali ini
“Gue gapapa” jawab Sana berusaha untuk tampak baik-baik saja
“Gapapa gimana, tubuh lo gemetar gitu,” kata adit
“Udah gue gapapa, gimana tadi siapa yang menang?” tanya Sana berusaha
mengalihkan pembicaraan. Ia memang paling tak suka orang lain khawatir tentang dirinya.
“Jelas dong kita yang menang,” jawab Gio
“Bagus deh, btw yang kayaknya ga baik-baik aja tuh kalian bukan gue,” ujar Sana
“Liat tuh luka sama lebam di muka kalian,” sambungnya lagi
__ADS_1
“Dah ah, gue mau pulang, kalian juga harus pulang, jangan lupa obatin lukanya. Gue juga mau berterima kasih karena udah nolong gue,” ujar Sana berusaha bangkit, namun, nihil, kepalanya sedikit pusing mungkin karena terkena benturan bangku taman tadi.
“Gue anter pulang,” ucap Mahesa
“Ga usah gue bisa sendiri,” ucap Sana menolak bantuan Arga
“Ga terima penolakan,” tegas Arga lalu segera berlalu meninggalkan Sana dan teman-temannya
“Sabar ya San, mengahadapi manusia satu itu,” ujar Deva
“Gue duluan ya, nanti ada yang marah, kalian hati-hati di jalan,” ucap Sana sambil menampilkan senyumnya yang manis, lalu mereka semua tertawa.
Bagi mereka, Sana adalah seorang gadis yang asik dan mereka nyaman mengobrol dengan Sana, begitupun sebaliknya.
...🌱🌱🌱🌱...
Mahesa mengantar Sana pulang, sepanjang perjalanan pulang hanya keheningan yang tercipta dan itu membuat Sana canggung. Setelah beberapa menit, mereka akhirnya sampai dirumah Sana.
“Makasih ya udah nolongin gue, ga mau mampir dulu? Sekalian gue obatin tuh luka,” tanya Sana
“Lain kali,” ujar Mahesa
“Mampir dulu yaa, gue obatin tuh luka sebagai bentuk terimakasih gue kepada lo,” mohon Sana.
Mahesa yang tidak enak melihat muka Sana yang memohon kepadanya, akhirnya ia luluh dan mampir sebentar dirumah Sana. Mahesa masuk ke rumah mewah itu, ia merasa bahwa rumah ini terlalu sepi, mungkin orang tua Sana belum pulang dari bekerja pikirnya.
“Silahkan duduk Sa, gue ambil kotak obatnya dulu ya,” ujar Sana lalu segera pergi meninggalkan Mahesa sendirian diruang tamu.
Sebelum itu, ia juga meminta Bi Imah asisten rumah tangga membuat minuman untuk Mahesa. Beberapa menit kemudian, Sana datang membawa kotak obat untuk mengobati luka di wajah Arga. Sana dengan berhati-hati mengoleskan obat merah ke luka Arga
“Aw,” ringis Mahesa
“Sakit ya?” ucap Sana dengan wajah yang serius dan itu membuat Arga sejenak menjadi canggung dan jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat.
“Lagian, lo tuh, emang ga bisa apa pakai barang yang gue kasih,” ujar Mahesa tiba-tiba memarahi Sana untuk menormalkan detak jantungnya saat itu.
“Gue minta maaf, gue ga nyangka kalo bakal gini kejadiannya,” sesal Sana
“Eh, maksud gue lain kali dipake biar ga keulang lagi,” ujar Arga menjadi tidak enak melihat ekspresi Sana yang terlihat sedih setelah ia memarahinya.
“Udah selesai San?” tanya Mahesa
“Udah kok ini,” jawab Sana sambil membereskan obat-obatan yang ia gunakan
“San, gue mau tanya boleh?” tanya Arga
“Boleh,” jawab Sana
“Lo tinggal sendirian?” tanya Arga pelan
“Ya gitu deh, ribet jelasinnya,” jawab Sana menunjukkan senyuman, senyuman yang hanya sebagian orang yang paham bahwa itu adalah senyuman untuk menutupi sebuah luka. Mahesa menyesal menanyakan hal seperti itu
“Lo suka nonton film ga San?” tanya Mahesa berusaha mengubah topik. Mahesa heran, mengapa ia tiba-tiba menjadi orang yang seperti ini.
“Gue lebih suka nonton Drama Korea,” jawab Sana
“Wah lo cocok tuh sama Gio dan Adit,” ujar Arga
“Adit sama Gio juga suka? Yang serius aja,” ucap Sana tak percaya
“Gue serius, kapan-kapan nanti gue ajak Lo ke tempat kumpul, biar ngedrakor bareng,” ucap Mahesa.
Mahesa dan Sana mengobrol hingga tanpa sadar langit sudah mulai menghitam. Matahari sudah berganti dengan rembulan. Mahesa pamit pulang karena hari sudah malam. Sana mengantar Mahesa menuju pintu halaman tempat motor Mahesa terparkir. Lalu,.Mahesa melajukan motor meninggalkan halaman rumah mewah itu. Dan tanpa mereka sadari ada yang sedang memfoto mereka saat mereka sedang bersama.
“Tunggu tanggal mainnya Sana, gue bakal bikin lo menderita,” ujar orang itu.
- To be continued -
__ADS_1