I Am Not Crazy

I Am Not Crazy
CHAPTER 07


__ADS_3

...Hanya penasaran bukan untuk peduli...


❗WARNING ❗


ADA ADEGAN YANG DISARANKAN TIDAK UNTUK DITIRU.


Bel pulang sekolah berbunyi, Sana mulai membereskan peralatan sekolah kedalam tas. Sejak jam pelajaran sehabis istirahat, ia tidak fokus sama sekali.Ia memikirkan, apakah ia akan bercerita kepada sahabatnya atau tidak. Setelah melalui perdebatan dengan diri sendiri, ia memutuskan untuk memberitahu sekarang. Tetapi, ia belum menemukan momen yang pas, sebab, keduanya sibuk bercengkrama dari tadi.


“Cindy, Dilla,” panggil Sana


“Aduh, bentar San,” ujar mereka berdua tanpa mengalihkan pandangan keduanya


“Oh,” gumam Sana tersirat nada kecewa dari kata ‘oh’ yang ia ucapkan.


Sana sudah memasuk peralatannya kedalam tas sekolah, ia berniat untuk meninggalkan kelas. Namun, terhenti karena ada orang yang memanggilnya


“Sana,” panggil Cindy


“Tadi mau ngomong apa?” Tanyanya lagi


Sana berbalik dan menjawab pertanyaan dari Cindy itu


“Ga jadi Cindy,” jawab Sana pasalnya ia sedang tidak mood bercerita lagi. Ia segera berbalik meninggalkan kelas, namun, sayup-sayup ia mendengarkan percakapan kedua sahabatnya.


“Ih itu Sana, dia mau ngomong apa?”


“Udah lah Cind, kalo ga jadi berarti ga penting,”


“Lagian lo napa ribet banget sih,”


“Ih, bukannya gitu, gue udah terlanjur kepo,”


“Bisa-bisanya kepo, kirain mau bantu,”


“Ya, gue juga mau bantu kali Dil, cuman kepo gue lebih besar heheh,”


“Aneh lo,”


“Dih, kek lo ga kepo juga,”


“Engga, sih, ya, sorry,”


“Dih,"


Setelah itu mereka tertawa, Sana menjadi sedih mendengar percakapan itu. Ia berusaha menahan air matanya untuk tidak turun dari mata nya, sebab, ia sedang berada di sekolah. Saat perjalanan menuju gerbang, tak sengaja Sana melihat Erlangga di parkiran.


“Erlangga,” panggil Sana


“Sana?” jawab Erlangga dan Sana segera berjalan menghampiri Erlangga di parkiran


“Ada apa San? Tanya Erlangga sambil sibuk memakai helm sepertinya ia sedang terburu-buru


“Aku mau cerita sesuatu Er, bisa ga kita ke cafe?” tanya Sana


“Aduh San, ga bisa aku lagi sibuk banget nih buat persiapan pemilihan OSIS dan juga ada sedikit masalah sama orang tua aku,” jawab Erlangga sambil mengeluarkan motornya


“Ga harus sekarang kok, nanti sore juga gapapa,” ujar Sana masih berharap


“Mau ngomong apa sih San? Penting ga? Kalo ga penting banget nanti aja ya,” ucap Erlangga menaiki motor Ninja merahnya dan menyalakan motornya


“Ga bisa ya? Emang kamu ada masalah apa sama orang tua kamu?” tanya Sana


“Ga bisa San, kamu ga perlu tau masalah aku, ngertiin aku dong San, ga liat apa aku lagi buru-buru,” ujar Erlangga

__ADS_1


“Aku pulang duluan ya San,” sambungnya lagi sambil melajukan kendaraan roda dua nya meninggalkan SMA Neozone.


Lagi dan lagi, Sana hanya mendapat kekecewaan, padahal ia ingin sekali mencurahkan semua kegiatan dan kejadian yang ia alami dengan orang-orang yang ia sayangi.


Namun, sepertinya mereka sedang sibuk semua, dan terkadang Sana berpikir, bahwa sebenarnya ia sedang sendiri. Dibalik senyum yang selalu Sana tampilkan, ada luka yang tersembunyi. Sana ingin sekali memberitahu luka itu, namun, tak ada yang benar-benar peduli kepadanya, terlebih lagi kedua orang tuanya.


...🌱🌱🌱🌱...


Saat ini, Sana sedang bersantai di kamarnya sehabis pulang sekolah tadi. Dia memutuskan untuk menonton Drama Korea yang berjudul “It's Okay to Not Be Okay” menurutnya dari Drama Korea banyak hal yang bisa di petik.


Saat ia sedang menonton, ia mendengar suara pintu dari bawah yang tandanya ada seseorang yang masuk. Sana keluar kamar untuk melihat siapa yang datang, ternyata sang mama pulang ke rumah. Walaupun hanya sekedar singgah,Sana bahagia sekali.


“Mama,” panggil Sana sambil berlari menuruni tangga untuk menemui mamanya di ruang tamu. Namun, mamanya tidak merespon panggilannya. Tetapi, Sana tidak menyerah begitu saja


“Mama kenapa kesini?”


“Ada perlu apa ma?”


“Ma, aku mau cerita loh tentang kegiatan ku,” ucap Sana beruntun, namun, nihil, hanya hebusan angin yang terdengar.


Namun, Sana tetap tak menyerah ia ingin bercerita yang ia alami beberapa hari ini.


“Ma, aku beberapa hari ini mengalami kejadian banyak, mama mau tahu ga?”


“Saya tidak tertarik dengan cerita kamu,” ujar Mamanya dingin. Harapan Sana musnah seketika


Sana memang sedikit membenci mamanya, karena tidak pernah membelanya dari amukan sang papa. Namun, dia tetap menyayangi mamanya, walau tak bisa dipungkiri luka itu tetap ada dan membekas. Alasan ia bertahan hingga sekarang, karena sesosok mama yang tidak peduli terhadapnya, ia berpikir mungkin suatu saat ia bisa mendapatkan kasih sayang dari sang mama. Lucu dan aneh bukan? berharap pada hal yang tidak pasti, itu sungguh menyakitkan. Tapi, berkat harapan itu, membuat seseorang menjadi kuat dan berusaha bertahan.


“Oh iya saya kesini cuman mau bilang sebentar lagi kamu mau kuliah, saya dan papa kamu sudah sepakat untuk menyuruh kamu masuk jurusan bisnis,” ujar Sella mamanya Sana


“Tapi, Sana ga mau masuk jurusan itu ma,” lirih Sana


“Saya ga terima penolakan dan kalo kamu mau nolak ya silahkan, namun, kamu juga bisa menanggung akibat dari kemarahan ‘dia’,” Tegas Sella


“Kenapa mama kayak gini ke aku?” lirih Sana


Namun, Sella tetap berjalan tanpa memperdulikan Sana. Sana menatap nanar punggung wanita yang sudah melahirkannya, yang kini berjalan menuju pintu tanpa mempedulikannya sama sekali. Mungkin, Sana seperti tak terlihat bagi wanita itu.


...🌱🌱🌱🌱...


Setelah mamanya pergi, Sana langsung mengurung dirinya di kamar. Jangan tanya lagi bagaimana kondisi dirinya dan kamarnya, karena itu sangat kacau. Barang ada di mana-mana, rambut yang berantakan, mata sembab dan juga setetes darah jatuh ke permukaan lantai dari tangan Sana. Sana sudah muak, makanya ia menyakiti dirinya sendiri. Akhir-akhir ini Sana selalu menyimpan sebuah cutter di kamar itu. Cutter itu di gunakan saat dia sudah capek dan lelah.


Srett...


Sebuah cutter mendarat dengan mulus di tangan mulus Sana. Darah segar muncul dari situ, dan bau anyir mulai memenuhi ruangan itu


“Salah gue apa? Sampai mereka begitu,” lirih Sana


“KENAPA? SESUSAH ITU KAH MEMBERIKAN KASIH SAYANG,” teriak Sana


“ARGHHH, GUE CAPEK,” teriak nya lagi sambil mengacak acak rambutnya


“Hiks,” tangis Sana pecah ia memukul kepalanya sendiri sebagai bentuk pelampiasan emosi yang dari tadi ia pendam.


“ARGHHH,” teriak Sana ia benar-benar frustasi, dan muak dengan kehidupan yang ia alami. Tak sesekali ia mencoba mengakhiri, namun, belum di izinkan oleh Sang Pencipta.


...🌱🌱🌱🌱...


Tangis Sana sudah reda, ia sudah kembali tenang. Tetapi, ia masih cukup merasa sesak untuk berada di rumah ini. Dia melihat kekacauan yang ada di kamarnya, serta melihat dirinya sendiri di pantulan cermin yang tak kalah kacau. Sana memutuskan untuk mandi dan pergi keluar untuk mencari udara segar.


Setelah mandi, Sana mengenakan celana jeans panjang, kaos putih polos serta cardigan rajut berwarna hitam, tak lupa tas selempang. Sana memutuskan untuk ke taman yang berada tak jauh dari rumahnya. Namun, kali ini ia tidak memakai jaket pemberian Mahesa. Karena taman itu tidak jauh dari rumahnya, sehingga ia merasa aman.


Sana sampai di taman, ia melihat sekeliling taman itu yang dipenuhi oleh beragam manusia. Rata-rata pengunjung taman itu, tidak ada yang sendirian. Sana berkeliling sambil mencari udara sega. Ketika ia sedang berkeliling, ia rasa hampa dan sepi menghampirinya. Padahal, saat ini, dia masih dikelilingi orang banyak yang ada di taman.

__ADS_1


Setelah berkeliling, Sana memutuskan untuk duduk disalah satu bangku di taman itu. Ia melamun, kenapa hidupnya serumit itu? ia juga sedih, kenapa dia selalu diabaikan oleh kedua orang tuanya? karena sedang melamun, ia tak sadar bahwa di sampingnya ada seseorang yang duduk sedari tadi. Hingga...


“Kak,” panggil orang itu, Sana yang tersadar dari lamunan pun, segera melihat ke arah orang yang memanggil dan ternyata itu adalah Risa.


“Eh Risa, Sendirian aja nih?” tanya Sana


“Iya kak, tadi sih dianter sama abang, kalo kakak?” tanya Risa balik


“Iya, sendirian aja, deket juga dari rumah,” jawab Sana


“Oh ya, kapan-kapan Risa main ke rumah kakak boleh?” ucap Risa antusias


“Boleh dong,” jawab Sana dan mengangap Risa lucu


“Oh iya, Risa waktu itu belum tahu nama kakak,”


“Nama aku Sana ris,”


“Oh gitu, kakak sekarang kelas berapa?” tanya Risa


“Aku SMA kelas 11, kalo Risa?” tanya Sana


“Aku masih SMP kak, kelas 9,” jawab Risa


“Oh iya, waktu itu Risa bilang lagi sakit kan? Sekarang gimana udah sembuh?” tanya Sana


“Belum kak, ini masih tahap pengobatan,” sedih Risa


Sana sebenarnya penasaran penyakit apa yang diderita Risa. Tetapi, ia urungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut, karena melihat wajah Risa yang tersirat kesedihan.


“Oh gitu, semangat ya Risa,” ucap Sana menyemangati Risa


“Aku seneng bisa ngobrol kayak gini,” lirih Sana


“Loh, emangnya kak Sana ga punya temen atau sahabat buat diajak ngobrol atau curhat?” tanya Risa


“Punya, tapi aku ngerasa kalau aku menganggap mereka penting, sedangkan mereka mungkin hanya sekedar teman biasa,” ucap Sana dengan wajah yang sedih


“Kalau gitu, Risa bisa kok jadi sahabat kakak, kalo kak Sana mau,” ucap Risa


Lalu mereka berdua tertawa karena tingkah Risa yang menurut Sana lucu dan menarik


“Boleh kok, jadi kita sahabatan nih,”


“Iya dong kak,”


“Oh iya kakak udah punya pacar belum nih?”


“Udah Ris, jalan 2 bulan kayaknya,”


“Wahh, Risa jadi kepo wajahnya kayak mana,” ucap Risa sambil menerka-nerka bagaimana wajah Erlangga


“Oh iya, sekarang pacar kakak mana?” tanya Risa


“Dia lagi sibuk,” jawab Sana


“Owh gitu,"


Mereka berdua banyak mengobrol tentang hobi, kejengkelan Risa terhadap teman sekelasnya,


yang selalu usil kepadanya dan masih banyak lagi yang mereka bahas.


Setelah mengobrol dengan Risa, Sana memutuskan untuk pulang. Saat sedang berjalan, dia tak sengaja bertemu dengan sekelompok orang, dan ia merasakan firasat yang aneh. Ia kembali merutuki dirinya yang memutuskan ke taman saat itu. Kenapa setiap dia keluar sendirian, ia selalu sial?

__ADS_1


- To be continued -


__ADS_2