I Am Not Crazy

I Am Not Crazy
CHAPTER 15


__ADS_3

Saat ini, kondisi Sana sudah sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Mahesa merasa kasihan, terhadap gadis yang sedang duduk melihat ke arah jendela. Mahesa bisa melihat tatapan kosong dari Sana. Ia belum siap untuk memberitahu apa yang dikatakan dokter. Mahesa takut jika ia memberitahu hal itu, Sana akan terguncang lagi. Hanya hembusan angin yang hilir berganti menerpa kulit mereka, semua larut dalam pikirin masing-masing. Hingga, ketokan dari pintu membuat mereka tersadar dari lamunan masing-masing. Ternyata, teman-teman Mahesa datang untuk melihat kondisi Sana.


"Gimana kondisi lo San?" tanya Satria


"Kata dokter gue baik-baik aja," jawab Sana sambil tersenyum


"Syukur deh, gue kira lo kenapa, tiba-tiba pingsan," ujar Adit dan Sana hanya tertawa mendengar perkataan Adit.


"Gila ye San, gue masih kesel banget sama pacar lo," kesal Deva


"Iya anjir, bisa-bisanya dia marah sama Arga pas gendong lo tadi pas pingsan," ujar Gio menimpali


"Aturannya nih ye, dia tuh khawatir eh malah marah," geram Ardian


"Tumben lu kaga nge game?" sindir Deva


"Ya kali njir, gue 24 jam game," ujar Adrian


"Lah? Ga salah denger gue?" ucap Deva


"Lo main game terus anjir," kesal Gio


Sana tertawa melihat tingkah mereka, tetapi tiba-tiba ia merasa sendiri di ruangan itu, perasaan hampa menghampiri dan berdiam diri di hatinya. Entahlah, Sana juga tidak mengerti apa yang sebenarnya ia alami.


...🌱🌱🌱🌱...


Sana perlu di rawat inap beberapa hari kedepan, karena keadaannya yang drop sejak lusa. Ia tak berselera makan, bahkan tak sering ia tiba-tiba menangis saat malam hari dan yang paling parah ia kerap menyakiti dirinya sendiri. Dokter dan suster terkejut atas apa dilihatnya. Saat suster ingin mengobati luka Sana, ternyata terdapat banyak sekali bekas luka yang sama di tangannya. Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa pelakunya adalah Sana sendiri.


"Lain kali kamu tidak boleh melukai diri kamu sendiri," ujar Dokter Aldi


"Kamu itu berharga Sana," sambungnya lagi


"Bego," ujar Mahesa dingin


Nyes..., kata-kata menusuk sekali ke hati Sana. Namun, ia tidak marah karena yang dikatakan Arga cukup benar. Menyakiti diri tidak membuat masalah selesai, tetapi, ada rasa lega tersendiri yang ia rasakan.


"Kamu juga harus makan, karena kondisi kamu buruk, maka kamu tidak diperbolehkan pulang beberapa hari kedepan," ujar Dokter Aldi


"Tapi dok-."


"Demi kebaikan kamu sebagai pasien saya," potong Dokter Aldi. Setelah itu ia keluar dari ruangan Sana.


Sana mengingat perkataan Dokter Aldi kemarin dan itu membuatnya menyesal. Kenapa ia harus lepas kontrol kemarin? Jika saja ia tak lepas kontrol, maka dirinya sudah diperbolehkan pulang.


Selama ia dirawat di Rumah Sakit hanya Mahesa dan teman-temannya yang menemani dan menghiburnya dikala rasa bosan menghampiri. Tetapi, ada kalanya rasa bosan menghampiri dan tidak ada yang menghibur, seperti saat ini.


Pagi ini, Sana bosan tetapi tidak ada yang harus ia ajak berbicara untuk mengusir rasa bosannya. Teman-teman Mahesa akan datang disiang hari dan pulang saat sore hari. Sedangkan Mahesa menemani Sana hingga malam, dan itu membuat Sana menjadi tidak enak.


Sana membuka sosial medianya untuk mengusir rasa bosannya, ia membuka aplikasi twitter dan melihat ada kejadian apa di SMA Neozone saat ia tidak berangkat sekolah. Ternyata, tidak ada yang menarik di aplikasi berlogo burung biru itu. Karena rasa bosannya tak kunjung hilang, Sana akhirnya memutuskan untuk memposting tweet.



Setelah memposting twett tersebut, ternyata banyak yang tidak mengetahui bahwa dirinya sedang sakit. Banyak yang me-reply, re-tweet, dan like tweet Sana. Namun, dari sekian banyak yang me-reply tweetnya, tidak ada satupun dari orang-orang yang Sana sayangi menunjukkan kepeduliannya. Sana masih berpikir positif, mungkin mereka sedang sibuk atau sedang tidak membuka aplikasi berlogo burung biru itu.

__ADS_1


"Apa gue chat mereka di grup aja ya?" gumam Sana


"Kira-kira balesan mereka apa ya?" sambungnya lagi


"Mereka khawatir ga ya?" tutur Sana pelan. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul diotak yang membuatnya overthinking. Akhirnya, Sana mengirimkan pesan di grup yang berisi ia dan kedua sahabatnya.



Selang beberapa menit, ponsel Sana berbunyi tanda ada sebuah notifikasi. Dan benar saja, sahabatnya membalas pesan Sana. Akan tetapi, ternyata keputusan Sana untuk mengirim pesan kepada sahabatnya ternyata hanya berbuah kekecewaan.




Sana terlalu berharap, hingga ia terjatuh dalam kecewa yang berat, ketika harapannya tidak sesuai dengan realita yang ada. Fakta bahwa kedua sahabatnya tidak tahu apa-apa mengenai dirinya, sangat menusuk ke hati Sana.


Jadi, selama ini sahabatnya menganggap dia apa? Hanya sebatas teman biasa atau dirinya dianggap penting? Dan sekarang ia tahu, bahwa dirinya tak sepenting apa yang ia pikirkan. Lagi dan lagi perasaan sedih, hampa, dan merasa sendiri datang menghampiri.


Sana membenci kondisi ini. Kondisi dimana ia merasa tak berdaya, dan berusaha untuk tidak menyakiti dirinya.


...🌱🌱🌱🌱...


Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, dan seharusnya siswa SMA Neozone sudah pulang. Sana mengusir rasa bosan dengan menonton Drama Korea kesukaannya.


Sejak ia mengakhiri percakapan dengan sahabatnya di ruang chat, ia memutuskan untuk menonton Drama Korea saja. Ia tidak peduli, dengan fakta bahwa Erlangga akan marah terhadap dirinya. Erlangga saja tidak tahu, jadi, bagaimana bisa marah terhadap Sana.


Saat sedang asik menonton, tiba-tiba pintu ruang inap Sana terbuka. Terlihat enam orang cowo berseragam SMA memasuki ruangan itu. Mereka masuk sambil membawa beberapa kantong plastik berisi makanan ringan. Ke enam cowo itu sudah pasti, tak lain dan tak bukan adalah Mahesa dan teman-temannya.


"Akhirnya bisa ngadem," celetuk Gio


"Dasar pacar game," ejek Deva


"Buaya, gosah banyak bacot," balas Adrian.


"Yeh, siapa yang buaya," ujar Deva sambil memamerkan muka tampannya.


"Ya lo lah anjir, kan cuman lo yang punya cewe segudang," ujar Adit sambil membuka salah satu bungkus snack yang mereka bawa.


Ya begitulah mereka, terkadang kejam saat menghadapi musuh, dan bisa soft serta random saat mereka sedang berkumpul bersama. Sana cukup terhibur dengan tingkah konyol beberapa dari mereka. Tetapi, jika mereka diajak julid, jiwa tukang gosip mereka langsung keluar. Hanya Mahesa dan Satria, yang menurut Sana susah ditebak. Disatu sisi mereka bisa menjadi hangat, dan disisi lain bisa menjadi dingin seperti es.


Sana mengirim pesan ke Erlangga untuk sekedar memberi kabar. Namun, justru respon yang diberikan Erlangga cukup menyakitkan. Lagi dan lagi Sana kecewa, yang disebabkan oleh harapan yang berlebih.




"San, lo kenapa? Kok sedih gitu," tanya Satria. Sana terkejut, bagaimana Satria bisa tahu? apakah mukanya terlalu kelihatan bahwa ia sedang bersedih?


"Gue tau nih," ujar Deva sok menerawang


"Sok-sok an lo," cibir Adit


"Kayak lo cenayang aja," timpal Gio

__ADS_1


"Yeh, gue emang tau ya," balas Deva dengan percaya diri yang tinggi


"Pasti ini, gegara pacar ribet lo lagi kan, San?" sambungnya lagi. Sana dibuat lagi dan lagi terkejut. Bagaimana Deva bisa tahu? pikirnya.


"Dilihat dari muka lo sih, tebakan gue bener," ujar Deva


"See? Gue emang tahu, bukan sok-sok an," narsis Deva


"Geli gue liat lo dev," ledek Gio


"Kalo bener pacar ribet, wah minta di julid-in tuh anak," geram Adit


"Wah bener banget tuh," sambung Gio


"Ngikut aja anak satu ini," kesal Adit


"Suka-suka gue lah," balas Gio tak mau kalah.


Mereka hanya menggeleng kepala jika melihat dua orang itu adu mulut. Yang aneh, jika mereka saling menjauh, itu baru dipertanyakan dan sudah dipastikan ada masalah diantara mereka.


"Eh, lo tau ga sih," ujar Deva


"Ghibah dimulai, tok... tok.... tok....," ujar Gio sambil memperagakan ketok palu. Seketika semua merapat menuju Deva, kecuali Mahesa yang lebih memilih diam dan mendengarkan dari jauh.


"Tadi gue ada pelajaran pak kumis," ujar Deva


"Pak kumis saha njir?" tanya Adrian yang notabene nya sekelas sama Deva.


"Guru Biologi, gua ga tau namanya, karena punya kumis jadi gue panggil pak kumis aja," jelas Deva


"Njir, Pak kumis kek tukang mie ayam deket rumah gue aja," timpal Adit.


"Dia tuh kalo ngomong kan bikin ngantuk tuh, akhirnya karena gue kesel gue lempar dia pake bola kertas," ujar Deva sambil memperagakan kejadiannya.


"Dan lo tau apa, lemparan gue ga meleset," sambungnya lagi dengan sikap bangga


"lo ngelempar guru malah bangga," ujar Satria tak habis pikir dengan tingkah temannya.


"Terus, pak kumis marah ga ke lo?" kepo Gio


"Jelaslah marah, tapi gue seneng, gue bisa keluar kelas dia," ujar Deva


"Gue juga ikut keluar," kesal Adrian


"Kok bisa?" tanya Adit


"Tuh Buaya, cepu bilang gue maen game," jawab Adit sambil menunjuk Deva dan yang ditunjuk hanya tersenyum dan menampakkan wajah tanpa dosa.


"Akhirnya kita dikeluarin dari kelas," kesal Adrian


"Halah, lo seneng aja," ledek Gio


"Engga njir, maen game di kelas lebih enak," elak Adrian.

__ADS_1


Lalu mereka semua tertawa, tak habis disitu, mereka juga membahas tentang Erlangga yang sok banget menurut mereka hingga kucing oren dekat rumah Adit yang bunting. Mahesa hanya ikut tertawa jika menurutnya hal yang temannya bahas lucu. Tidak hanya Mahesa, Sana juga cukup terhibur dengan kehadiran mereka beberapa hari ini.


- To Be Continued -


__ADS_2