I Am Not Crazy

I Am Not Crazy
CHAPTER 11


__ADS_3

Di ruang OSIS ada seseorang yang sedang berkutat dengan laptop yang ada didepannya menyusun program kerja selama masa jabatannya.


"Huft, sibuk banget gue," keluh orang itu


"Semenjak gue mencalonkan diri sampai jadi Ketos disini, hubungan gue sama Sana jadi renggang," sambungnya lagi


"Gue harap dia masih ingat kata-kata gue waktu itu. Tapi, gue ga yakin gue masih bisa mempertahankan hubungan ini. Orang tua gue pasti ga setuju," keluhnya


Orang itu ialah Erlangga, setelah itu ia melanjutkan aktivitas lagi. Saat sedang sibuk menyusun, ia tiba-tiba mendapat pesan anonim dari seseorang di dalam pesan itu terdapat sebuah foto


08XXXXXX0807


(Foto)


Rumah Sana


(Foto)


Kantin Sekolah


^^^Lo siapa?^^^


Setelah mengirim pesan itu tak ada lagi balasan yang diterima Erlangga. Erlangga membuka foto yang dikirim tidak tahu dari siapa. Setelah melihat foto itu, Erlangga marah dan langsung bergegas menuju Kantin.


...🌱🌱🌱🌱...


Di Kantin Sana sedang bercanda dengan Mahesa dan teman-temannya.


"San, lo kok bersinar gitu sih?" ucap Deva


"Masa sih?" tanya Sana


"Iya, wajahmu bersinar sampai membuat hati ku meleleh," gombal Deva


"Gombal lo," ujar Satria


"Dasar bapak buaya," ujar Gio


"Jangan kemakan omongan buaya San," kata Adit ke Sana


Sana hanya tertawa menurutnya mereka berenam sangat asik. Tiba-tiba mereka sengaja menggoda Mahesa, pasalnya cowo itu sejak tadi diam dan hanya sesekali menunjukkan senyum tipis.


"San, tuh kutub es diem-diem khawatir sama lo tau," ujar Deva

__ADS_1


"Iya anjir, dia tuh ga tidur semalaman," timpal Adit sedikit melebih-lebihkan


"Tatapan khawatir pangeran sang kutub es hanya ditujukan untuk pasangan pangeran tersebut," timpal Gio mendramatisir keadaan. Mahesa yang merasa tak terima segera melayangkan tatapan tajam ke teman-temannya.


"Gue ga ikutan," ujar Satria


"Fitnah lo," ujar Mahesa dingin sambil menatap tajam ketiga teman yang menggodanya tadi.


"Aduh, takut ada yang marah," ujar Deva membuat suara seperti anak kecil


"Bentar lagi tsunami guys, esnya udah cair soalnya," goda Adit


"Sialan lo pada," kesal Mahesa


Lalu, semua orang yang disana tertawa. Tetapi, tiba-tiba tangan Sana dicekal oleh seseorang dari belakang dan ditarik paksa.


"Erlangga?" bingung Sana.


Orang yang menarik Sana adalah Erlangga. Erlangga marah melihat Sana dekat-dekat dengan cowok lain terutama dengan Mahesa dan temannya. Erlangga menarik tangan Sana menjauh dari meja Mahesa berada menuju meja Cindy dan Dilla. Setelah mereka duduk, Erlangga melepaskan cekalannya dari tangan Sana dan ternyata menimbulkan bekas di tangan Sana.


"Sakit Ga," ringis Sana


"San, aku udah bilang sama kamu kan, kalo aku ga suka kamu deket-deket sama cowok, apalagi sama mereka," marah Erlangga


"Tapi mereka baik ke aku, aku juga udah anggep mereka teman Ga," ujar Sana


"San, sejak kapan lo deket sama mereka?" ujar Cindy


"Ga terlalu lama, panjang ceritanya," ujar San


Kalian aja waktu itu ga ngasih waktu buat gue cerita, Batin Sana.


Sana cukup sedih tetapi ia berusaha menutupi kesedihannya. Lagi dan lagi ia terpaksa mengalah supaya dirinya dan Erlangga tidak ribut.


"Aku minta maaf ya Ga," sesal Sana


"Aku maafin San, kamu masih inget kan kata-kata ku di cafe?" tanya Erlangga


"Iya Ga, aku masih inget kok," jawab Sana pelan namun tersirat kesedihan dan tekanan yang ia alami. Di meja Mahesa dan teman-temannya mereka nampak kesal dengan pacar Sana.


"Kasar banget sama cewe sendiri, gue aja kaga begitu sama cewe gue," ujar Satria


"Jadi itu pacar Sana," ujar Deva

__ADS_1


"Masih gantengan gue kali," sambungnya lagi


"Ketua OSIS aja belagu," kesal Adit


"Napa sih lo pada mukanya kesal gitu," ujar Adrian yang baru saja menghabiskan satu babak game


"Makanya jangan game mulu yang dipatengin," kesal Gio


"Sa, lo ga ada niatan deketin Sana?" pertanyaan random keluar dari mulut Satria


"Stres lo,"ucap Arga lalu beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi meninggalkan kantin yang kini sudah di penuhi siswa-siswi. Melihat kejadian tadi membuat Mahesa kesal dengan Erlangga dan sikap Sana yang mengalah begitu saja. Namun, ia tak mau anggap pusing, bukan urusannya juga.


...🌱🌱🌱🌱...


Bel tanda istirahat sudah usai berbunyi. Semua orang kembali menuju kelasnya masing-masing begitu juga dengan Sana. Sejak tadi Sana mendengar bisikan- bisikan jahat yang ditujukan untuk dirinya


"Ga nyangka Sana begitu,"


"Kok bisa ya Erlangga pacaran sama cewe begitu,"


"Gatel banget jadi cewe,"


"Bisa jelek tuh reputasi Erlangga gegara cewe gatel kayak Sana,"


"Ga bersyukur banget dapet cowo kayak Erlangga,"


"Lo liat ga tadi ekspresi ketawa dia sama anak geng Devil? Jijik gue liatnya,"


Dan masih banyak lagi ujaran-ujaran kebencian, tatapan sinis yang ditujukan terhadap dirinya. Jika didalam kisah novel yang dia baca, seorang sahabat akan membela sahabat yang disakiti orang lain. Tapi, dikisahnya, sahabatnya saja tidak membela, justru malah memberikan tatapan yang sulit diartikan oleh Sana. Ujaran-ujaran kebencian itu terus berdengung di telinga Sana saut menyaut dan itu membuat Sana menjadi frustasi, lalu menyalahkan diri sendiri. Ia berusaha sebisa mungkin menahan untuk tidak melakukan hal yang biasa dilakukannya ketika sendirian. Tanpa disadari, ada sesosok orang yang tersenyum puas dengan apa yang dialami Sana.


"Pertunjukan yang bagus, gue suka melihat semua orang berbisik-bisik yang buruk tentang lo, Sana," ujar orang itu sambil menunjukkan senyum smirk diwajah.


...🌱🌱🌱🌱...


Sana memasuki kelasnya, dia tidak melihat Adit dan Gio di kelas, mungkin mereka membolos pelajaran kali ini pikir Sana. Guru datang dan memulai pelajaran. Seperti biasa tidak semua anak menyimak pelajaran, ada yang tidur, mengobrol dengan teman sebangku, ada yang bermain ponsel, bahkan ada yang membolos seperti yang dilakukan Gio dan Adit. Sana juga tidak terkecuali, kali ini ia tidak menyimak pelajaran dan asik dengan pikirannya sendiri.


Sana menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Ia takut itu akan memengaruhi reputasi Erlangga. Sana larut dalam pikirannya sendiri hingga tanpa sadar bel pulang sekolah berbunyi. Sana segera membereskan barang-barangnya di meja, lalu segera keluar menuju halte bus. Sana sering kali menaiki Bus umum, sebab Erlangga tak lagi menjemputnya. Saat Sana sedang berjalan tiba-tiba terdengar suara sekelompok motor yang berhenti didekatnya


"Siapa lagi kali ini?" gumam Sana


"Please, jangan sial lagi," lirih Sana.


Sana hendak mengambil ancang-ancang untuk lari namun terlambat tangannya sudah dicekal oleh seseorang dari belakang dan itu membuatnya semakin cemas dan takut. Tanpa sadar ia berteriak

__ADS_1


"AAA," teriak Sana


- To Be Continued -


__ADS_2