
Seseorang berpakaian seragam SMA yang tidak dikancing sehingga terlihat kaos putih yang dikenakan sedang membeli sebuah kue. Sehabis bel pulang sekolah berbunyi Mahesa langsung bergegas menuju ke toko kue. Ia langsung memesan sebuah cheese cake untuk Sana sesuai yang ia janjikan. Walaupun waktunya tidak pas dengan yang ia janjikan, ia terpaksa membeli karena rengekan Sana. Setelah pesanan siap, Mahesa langsung menuju Rumah Sakit tempat Sana dirawat. Mahesa cukup prihatin terhadap Sana, sebab sudah seminggu Sana berdiam diri di Rumah Sakit yang membosankan. Sesampai di Rumah Sakit, Mahesa langsung menuju ruang inap Sana.
“San, ini gue bawain cheese cake kesukaan lo.” Mahesa melihat ke ruangan, ternyata Sana tidak ada disana. Ia sempat panik kemana Sana pergi, lalu ia bertanya kepada salah satu suster.
“Sus, pasien cewek di ruangan itu kemana ya?” tanya Mahesa sambil menunjuk ruangan Sana.
“Oh, pasien tadi saya lihat sedang berada di taman Rumah Sakit,” jawab Suster.
Setelah suster mengatakan itu, Mahesa langsung berlalu dari hadapan suster. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih dan segera menuju taman Rumah Sakit. Di taman, Mahesa melihat sesosok Sana yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, ia melihat sesosok perempuan yang kesepian dan rapuh, namun, berusaha untuk kuat. Semuanya terlihat dari sorot mata Sana yang menatap kosong ke arah depan. Melihat bagaimana Sana berusaha kuat dengan menghapus air mata yang keluar.
“Bahkan sampai sekarang, gue masih ga paham dengan lo San,” gumam Mahesa. Lalu, ia segera menghampiri Sana.
...🌱🌱🌱🌱...
Saat ini, Sana sedang berusaha untuk menghapus air matanya agar tidak ada yang melihat. Tiba-tiba ada sebuah kantong plastik dihadapannya. Dia menoleh, melihat siapa yang memberikan? ternyata yang memberikan adalah Mahesa.
“Buat lo.” Arga menyodorkan kantong plastik itu ke Sana, membuat sang penerima menjadi bingung.
“Ini apa?” tanya Sana bingung. Tetapi, Mahesa tak kunjung memberi jawaban. Sana membuka kantong itu dengan perasaan kesal dan terkejut melihat isi kantong tersebut. Isi kantong itu adalah sebuah cheese cake kesukaan Sana.
“Ini beneran buat gue?” Sana masih tidak percaya Mahesa benar-benar membelikannya chesee cake.
“Hm,” balas Mahesa
“Makasih Mahesa.” Sana sangat ceria saat memakan chesee cake itu, tidak seperti Sana yang kesepian beberapa waktu yang lalu.
Sana terlalu pandai dalam memainkan topeng yang tidak terlihat itu. Mahesa memperhatikan Sana yang sedang memakan cheese cake dengan cream yang belepotan dipinggir mulut. Tanpa sadar, tangan Mahesa bergerak menuju pinggir mulut Sana untuk menghapus cream. Sana yang diperlakukan seperti itu terkejut, saat ada sebuah tangan yang berusaha mengusap cream di pinggir mulutnya. Sana seakan-akan terhipnotis dengan perlakuan Mahesa, ia merasakan bahwa pasokan oksigen disekitar menipis. Sana juga merasakan jetak jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Disatu sisi sang pelaku juga merasakan hal yang sama, Mahesa juga tidak sadar akan perlakuannya yang sangat bertentangan dengan sikapnya. Terlebih lagi ada sebuah debaran di hati yang belum ia rasakan.
“Sorry, sorry tadi ada cream.” Mahesa meminta maaf dan suasana canggung pun tercipta diantara mereka.
“Bego lo.” Mahesa merutuki dirinya sendiri.
“Sa, gue minta maaf ya.” Sana berusaha mencairkan suasana agar tidak canggung lagi.
“Buat?” tanya Mahesa
“Buat semuanya, gara-gara gue kita ga jadi ke taman Sabtu kemaren.” Sana meminta maaf kepada Mahesa
“Sans, kita bisa kesana sabtu ini, mau?” tanya Mahesa
“Boleh, tapi, gue takut pacar gue marah,” jawab Sana
__ADS_1
“Gampang itu.” Setelah itu tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Sana yang sibuk dengan makanannya, dan Mahesa yang sibuk dengan pikirannya. Namun, tiba-tiba Sana mengangkat suara
"Sa, Lo tau ga sih rasanya keluarga harmonis?"
"Menurut gue, keluarga harmonis itu dimana semua keluarga saling mengerti dan tidak ada kekerasan didalamnya," lirih Sana
"Kalo opini gue, keluarga harmonis adalah keluarga yang biasa bercanda, saling menyayangi, saling mengerti, dan peduli sesama anggota keluarga."
Arga menjawab sambil menatap lurus ke arah depan dan terlihat sebuah keluarga yang saling menyemangati dan bergembira di taman. Masing- masing dari mereka menatap sendu ke arah keluarga itu.
"Sa, kapan ya keluarga gue kayak gitu?" Sana menunjuk ke arah keluarga bahagia itu.
"Jujur, gue capek dengan kehidupan gue." Sana menahan supaya air matanya tidak turun.
Mahesa tahu saat ini, Sana sedang menahan air mata. Mahesa bisa melihat tatapan iri yang dipancarkan oleh mata Sana.
"Sebenarnya gue juga iri San, sama kayak Lo" batin Mahesa.
"Kalo lo mau nangis, nangis aja," ujar Mahesa
"Gue trauma nangis di depan orang, gue selalu dapat pukulan disaat gue menangis," lirih Sana.
Mahesa langsung memeluk Sana, berusaha memberikan kekuatan untuk gadis itu.
"Maaf gue peluk lo tiba-tiba, karena menurut gue, lo saat ini butuh pelukan hangat untuk diri lo yang kedinginan karena perasaan sepi," ujar Mahesa, dan membuat semua pertahanan yang dibangun Sana runtuh seketika.
Air mata yang ia tahan akhirnya meluncur bebas. Sana menangis sepuasnya dipelukan Mahesa. Sana melepaskan semua beban yang ia tanggung melalui tangisan itu. Mahesa dengan setia memeluk Sana, berusaha untuk menyalurkan kehangatan. Dia tahu gadis didepannya ini sesosok gadis yang kesepian. Mahesa sebenarnya tidak tahu, mengapa ia tiba-tiba merasa seperti ini? Hati Arga merasa seperti tersayat saat melihat Sana menangis di pelukannya.
"Hiks."
"Hiks."
"Gimana udah lega?" tanya Mahesa saat tangisan Sana sudah mereda.
"Lumayan, makasih ya." Sana berterimakasih kepada Mahesa
"Oh iya, lo ga kesambet kan?" tanya Sana tiba-tiba.
"Ya engga lah, napa?" Mahesa bingung dengan pertanyaan random yang keluar dari mulut Sana.
"Ya aneh aja, gue baru sadar tadi kayak bukan Mahesa." Sana baru tersadar bahwa perlakuan tadi, bukan seperti Mahesa yang dingin.
__ADS_1
"Emang selamanya orang dingin bakal dingin?" Pertanyaan Sana justru dibalas dengan pertanyaan oleh Arga, itu membuat Sana kesal.
"Au ah, gelep," kesal Sana. Mahesa terkekeh melihat raut wajah kesal Sana.
"Gue juga ga tau, kenapa diri gue tertarik dengan lo, hati gue juga ga bisa ngeliat lo nangis, menurut gue, lo gadis bertopeng yang susah gue pahami," gumam Arga
"Hah? Lo ngomong apa Ga? Gue tadi fokus makan kue." Sana bertanya kepada Mahesa dan hanya dibalas gelengan kepala dari Mahesa, Sana hanya ber-oh ria.
Lalu, Sana melanjutkan kegiatan makannya. Mahesa memperhatikan Sana yang sedang melahap chesee cake. Dia teringat akan perkataan dokter beberapa hari yang lalu.
“San, gue mau ngomong.” Arga memutuskan untuk jujur akan kondisi Sana. Namun, ia masih ragu, apakah keputusannya ini benar?
“Ngomong apa?” tanya Sana
Setelah berperang dengan pikiran sendiri, Mahesa memutuskan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak mau membuat gadis itu menjadi sedih.
“Mau jalan-jalan keliling taman ini? Kata dokter besok lo udah boleh pulang San,” ujar Mahesa
“Ayok, kita keliling taman ini, gue bahagia akhirnya gue bisa keluar dari sini.” Sana sangat gembira sekali. Setelah 1 minggu berlalu, akhirnya dia bisa keluar dari rumah sakit ini. Sepanjang mengelilingi taman Sana dan Mahesa banyak mengobrol. Lebih tepatnya Mahesa hanya merespon apa yang dibicarakan oleh Sana. Setelah berjalan-jalan di taman, mereka berdua masuk ke dalam kamar inap lagi.
...🌱🌱🌱🌱...
Dokter datang untuk memeriksa Sana. Setelah diperiksa, besok Sana sudah diperbolehkan pulang. Lalu, dokter pamit undur diri meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Keheningan melanda selama beberapa menit, hingga pintu kamar dibuka oleh seseorang. Ternyata mereka adalah teman-temannya Mahesa.
“Gimana San?” tanya Satria
“Gue udah boleh pulang besok, mungkin lusa gue baru masuk sekolah,” jawab Sana dan mereka hanya mengangguk. Lalu, Satria berbicara berdua saja dengan Mahesa. Sepertinya pembicaraan mereka berdua sangat penting, pikir Sana.
“San, lo kali ini sendiri lagi gapapa?” tanya Mahesa
“Gapapa, lo ada urusan kan? Udah pergi aja,” jawab Sana
“Iya san, Raiden berulah lagi.” Kali ini Adrian yang berbicara
“Kalau gitu, kita pamit ya San,” pamit Gio.
Mereka satu persatu mulai pergi dari kamar inap Sana. Hanya tersisa satu orang yang belum kunjung pergi, orang itu adalah Mahesa. Mahesa seakan ragu untuk meninggalkan Sana sendirian lagi.
“Gue pergi bentar, jangan bego lagi.”
Setelah itu, Mahesa langsung segera pergi menyusul teman-temannya. Meninggalkan Sana sendirian dengan perasaan yang kesal. Apa-apaan perkataan Mahesa tadi, membuat Sana badmood saja.
__ADS_1
Semua orang sudah pergi, kini hanya tersisa dirinya saja di ruangan itu. Sana memutuskan untuk mengalihkan pikirannya dengan menonton Drama Korea kesukaannya. Setelah menonton beberapa episode, Sana memutuskan untuk membuka aplikasi sosial media yang bernama Instagram. Sana berniat mencari tahu, ada berita terbaru apa di sekolahnya. Tapi, keputusan untuk membuka Instagram adalah keputusan yang salah, sebab yang didapatnya adalah sebuah perasaan sesak memenuhi dadanya setelah melihat sebuah postingan.
- To Be Continued -