
...Asing menjadi dekat, dan yang dekat menjadi asing bahkan tidak peduli...
Hari sudah menjelang malam, mentari sudah tak memancarkan cahaya lagi, berganti dengan rembulan yang memancarkan cahaya untuk menerangi malam yang gelap, dengan ditemani oleh bintang-bintang. Teman-teman Mahesa sudah pulang karena sudah diusir oleh Mahesa dan suster. Mengingat kejadian tadi, membuat Sana tertawa akibat tingkah konyol sahabat Mahesa.
"Lo pada pulang sana," ujar Mahesa membuka suara
"Akhirnya, kutub es kita membuka suara, mari kita beri tepuk tangan yang meriah," ledek Deva
"Berisik lo," ketus Mahesa
"Jangan ketus-ketus mas, nanti ga punya jodoh," ejek Adit
"Jodohnya kan, yang lagi di ranjang rumah sakit," goda Gio kali ini dan mereka semua tertawa.
"Bacot," ujar Mahesa dan tiba-tiba suster rumah sakit datang.
"Maaf, pasien harus istirahat dan hanya satu orang yang diperbolehkan untuk tetap tinggal dan yang lainnya diharapkan untuk pulang," kata suster itu, sambil mengganti infus Sana.
"Yah, udah disuruh pulang sama susternya," kecewa Deva
"Karena susternya cantik dan baik hati, yuk kita pulang bro," ujar Deva kepada teman-temannya mengajak mereka pulang.
"Dasar, kalo buaya ya emang buaya," ledek Adrian
"Pacar game, pacar game," balas Deva tak mau kalah.
"Kalau begitu saya permisi keluar dulu, jangan lupa pasien butuh istirahat, jadi diharapkan hanya satu orang yang menemani pasien," tutur suster itu halus lalu keluar dari ruang inap Sana.
"Kita pulang dulu ya San," ujar Adit
"Tuan putri jodoh kutub es, Pangeran Deva undur diri dulu," ujar Deva sambil memperagakan gaya pangeran.
"Deva lo nyari perkara aja, tuh liat mata Mahesa udah tajem banget natap lo," goda Satria
"Oh iya gue lupa, calon pawangnya nanti marah," ejek Deva dan mereka semua tertawa puas mengejek Mahesa. Sana juga ikut tertawa melihat tingkah mereka.
...🌱🌱🌱🌱...
Saat ini hanya ada mereka berdua di ruangan itu, seperti biasa hanya keheningan yang tercipta. Sana ingin memulai obrolan tetapi ia merasa canggung dengan situasi ini. Mereka akhirnya kembali larut dalam pikiran dan kegiatan masing-masing. Mahesa yang sibuk dengan kegiatan bermain ponselnya dan Sana yang sibuk dengan pikirannya. Sana tiba-tiba teringat akan percakapan Satria dengan Mahesa tadi yang tidak sengaja ia dengar. Sana tiba-tiba dihinggapi rasa bersalah dan merasa tidak enak dengan Arga.
"Sa, lo ga lupa kan," ujar Satria
"Apa?" tanya Mahesa bingung
"Yang dibilang Bu Nia tadi," jawab Satria
"Oh, seleksi Kimia."
"Gue ga lupa," ujar Mahesa
"Bagus deh, gue balik dulu," pamit Satria sambil menepuk bahu Mahesa.
Sana merasa tidak enak, karena dirinya yang sakit, seluruh kehidupan Mahesa menjadi terganggu. Tanpa sadar air mata turun begitu saja, membuat Mahesa panik.
"Hey, lo gapapa?" tanya Mahesa
__ADS_1
"Hiks," tangis Sana
"Gue ada salah?" tanya Mahesa
"San?" Mahesa mengusap mukanya kasar, ia merasa frustasi karena gadis didepannya menangis begitu saja.
"Gue minta maaf Sa, hiks," ujar Sana sesegukan
"Maaf, buat?" Tanya Mahesa bingung
"Karena lo nemenin gue, pasti hidup lo terganggu banget."
"Aturannya, lo belajar buat seleksi lomba Kimia," sambungnya lagi.
Mahesa langsung melongo mendengar ucapan Sana. Sebegitu kah rasa tidak enakan seseorang? Lagian Mahesa tidak serajin yang mereka pikirkan. Ia mengikuti seleksi itu dengan terpaksa, karena otaknya yang sedikit lebih pintar dari yang lainnya. Sebenarnya menjadi lebih pintar juga tidak selalu enak, tetapi kita harus bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, terlepas dari kelebihan maupun kekurangan kita.
"Sans aja, gue juga terpaksa ikut," ujar Mahesa santai
"Tapi-."
"Diem, gue beliin ice cream mau?" tawar Mahesa agar Sana tidak dirundung rasa bersalah yang tidak berguna menurutnya.
"Ehm," Sana sedang berpikir apakah ia akan menolak tawaran Mahesa. Namun, tawaran tersebut menggiurkan bagi Sana yang notabene nya pecinta ice cream.
"Mau, rasa Vanila ya, beli 2 lo yang bayarin tapi," ujar Sana sambil mengeluarkan jurus muka memohon andalannya, berharap Mahesa luluh dan mengiyakan. Mahesa yang melihat itu ada rasa senang sendiri didalam hatinya.
Lucu, batin Mahesa
"Hm," singkat Mahesa dengan wajah datar andalannya. Sebenarnya Mahesa ingin sekali tersenyum, namun, ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya.
"Gue denger." Lalu Mahesa segera berbalik meninggalkan Sana sendiri di ruangan itu dan menuju sebuah toko didekat Rumah Sakit untuk membeli ice cream. Namun, saat ia hendak kembali ke kamar Sana, tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk dari teleponnya
"Halo," sapa Mahesa.
Terdengar suara dari sebrang telepon yang merubah raut wajah Mahesa. Raut wajah yang semulanya tenang menjadi khawatir setelah menerima telepon itu. Mahesa segera bergegas menuju pakiran. Tidak lupa ice cream pesanan Sana ia titipkan kepada suster yang merawat Sana yang kebetulan sekali lewat.
...🌱🌱🌱🌱...
Pesan notifikasi masuk ke ponsel Sana, ia melihat siapakah yang mengirim pesan kepadanya?. Ternyata pesan itu dari Arga.
Sana cukup sedih melihat pesan yang dikirimkan Mahesa. Namun, ia sadar ia hanyalah orang asing yang tidak sengaja terlibat dalam kehidupan Mahesa. Mahesa mempunyai kehidupan sendiri dan apa hak Sana kecewa dengan perlakuan Mahesa?
"Apa sih lo san, inget lo cuman orang asing."
"Jangan baper, jangan nyaman, dia cuman kasihan sama lo."
"Inget lo juga punya pacar, jaga perasaan Erlangga San," ujar Sana kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan seorang suster yang membawa sesuatu.
"Sana, ini ada titipan pacar kamu tadi." Suster itu memberikan sebuah kantong plastik yang di pegangnya kepada Sana.
"Serius dari pacar saya sus?" tanya Sana bingung, pasalnya Erlangga tidak mengatakan apa-apa jika ia ingin mengirim sesuatu ke Sana dan mengapa ia tidak langsung memberikan langsung? Namun, perkataan suster selanjutnya membuat Sana lagi-lagi dikecewakan oleh harapannya sendiri.
"Iya, pacar kamu yang tadi nemenin kamu."
__ADS_1
"Oh, itu mah temen saya sus."
"Kalau begitu saya pamit undur diri, tetap jaga kesehatan Sana," ujar Suster itu, lalu keluar dari ruangan Sana. Ternyata itu adalah ice cream yang Mahesa belikan tadi, memang Mahesa tadi sempat mengirim pesan, bahwa ice creamnya dititipkan ke suster.
...🌱🌱🌱🌱...
Matahari di hari Rabu ini sangat pas untuk berjalan-jalan pagi. Hari ini, tepat seminggu Sana dirawat di Rumah Sakit. Dokter belum memperbolehkan Sana pulang, karena ia sempat lepas kontrol lagi. Pada hari Mahesa pergi karena ada urusan mendadak, pada hari itu juga Sana lepas kontrol dan berujung besoknya ia dimarahi.
"Bego." Mahesa marah terhadap gadis didepannya ini. Ia tak habis pikir, baru semalam ia tinggal dan gadis didepannya ini berulah. Mahesa paham apa yang dirasakan gadis didepannya ini, tetapi, ia tidak membenarkan perbuatan Sana yang melukai diri sendiri.
"Gue udah bilang jangan self harm lagi, masih aja dilakuin," marah Mahesa
"Ya abis candu, kayak senyum Song Kang," celetuk Sana
"Apa lo bilang? Gila ya lo." Lagi-lagi Mahesa menghabiskan banyak tenaga dan kata-kata untuk memberitahu gadis keras kepala yang ada didepannya.
"Gue juga ga mau, tapi cuman itu yang bikin gue lega," ungkap Sana.
Mahesa tiba-tiba dihinggapi rasa bersalah. Baru kali ini memiliki perasaan yang cukup aneh, perasaan yang mungkin saja akan membawa ke suatu dunia yang bernama cinta.
"Lo mau gue beliin apa?" ujar Arga mengalihkan pembicaraan.
"Gue mau cheese cake," ujar Sana dengan mata yang berbinar. Tanpa sadar senyum Mahesa terbit dan itu merupakan momen langka yang pernah Sana lihat.
"Ternyata senyum lo candu juga ya," celetuk Sana tanpa sadar dan membuat Mahesa sadar bahwa ia sempat tersenyum tadi, itu makin membuat tanda tanya dalam dirinya. Ada apa dengannya?
"Ada syaratnya." Mahesa memberikan syarat kepada Sana. Bukan Mahesa jika memberi tanpa sebuah syarat.
"Apa?" tanya Sana
"Gue beliin cheese cake lo, kalo lo udah sembuh."
Lalu Mahesa segera berlalu dari hadapan Sana. Ia bahkan tidak memberi Sana kesempatan buat protes dan itu membuat Sana kesal.
Saat ini, Sana sedang duduk dikursi roda yang didorong oleh suster. Ia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di taman rumah sakit, sebab ia bosan hanya duduk seharian di kamar inap pasien. Suasana saat ini sangat cocok buat Sana, angin sepoi-sepoi hilir mudik menyapa permukaan kulit, cahaya matahari yang tidak terlalu menyengat, dan hanya sedikit orang yang ada di taman ini menambah kesan tenang didalamnya.
"Sus, saya mau sendiri," ucap Sana kepada Suster yang menemaninya.
"Baik Sana, ingat jangan sampai kamu melukai diri kamu sendiri, kalau begitu saya pergi dahulu," pamit Suster itu.
Kini tinggal Sana seorang diri, ia melihat sekeliling taman yang sangat indah. Taman rumah sakit ini begitu tenang sehingga membuat Sana nyaman untuk duduk berdiam lama di taman itu. Tetapi, jangan terlena dengan ketenangan yang ada, terkadang yang tenang itulah yang membuat kita terhanyut dan akhirnya tenggelam. Seperti sekarang ini, Sana terhanyut dengan ketenangan yang ada hingga akhirnya ia tenggelam dengan rasa sedih yang mendalam. Rasa tenang yang membawanya kepada rasa sedih dan kesepian yang selama ini ia alami.
"Bahkan gue sakit pun, orang tua gue tetap ga peduli," lirih Sana dengan tatapan sendu mengarah kedepan.
"Gue kira sahabat dan pacar gue peduli, namun kenyataanya gue hanya orang biasa yang hadir dihidup mereka."
Tanpa sadar, air mata Sana turun tanpa persetujuan dari sang pemilik. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya keluar. Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan isak tangis. Dengan cepat mengusap air matanya.
"Yang asing menjadi dekat dan yang dekat menjadi asing."
Setelah mengatakan itu air mata Sana semakin banyak yang jatuh tanpa seijinnya. Rasa sedih, kecewa, dan berusaha menerima semuanya sangat sulit untuk Sana. Sana mengusap air matanya, supaya tidak ada orang lain yang melihatnya menangis. Ia paling tidak suka jika ada seseorang yang melihatnya menangis, ia memiliki pengalaman buruk jika ada seseorang yang melihatnya menangis.
"Bahkan sampai sekarang, gue masih ga paham dengan lo San," gumam orang itu yang menyaksikan semuanya dari kejauhan.
- To Be Continued -
__ADS_1