I Am Not Crazy

I Am Not Crazy
CHAPTER 06


__ADS_3

Ketika ia keluar dari kamar bernuansa hitam dan abu-abu itu ia terkejut dan tanpa sadar ia berteriak


“AAAAAA...,” teriaknya


Sana terkejut melihat pandangan di depannya. Ya orang itu adalah Sana, ia terkejut karena di hadapannya ini ada 6 orang pria yang sedang tertidur. Tetapi, mereka akhirnya terbangun akibat teriakan Sana.


“Woy, siapa sih yang teriak,” kesal Deva


“Berisik tau, ga ganggu gue tidur,” sambung Adit


“Eh, gue minta maaf ya, udah bangunin kalian semua,” ujar Sana meminta maaf.


Seketika keenam pria itu langsung sadar dari alam mimpinya dan terkejut melihat Sana disana.


“Udah bangun?” tanya Mahesa


“Iya udah, gue mau berterima kasih buat pertolongan kalian semua,” ujar Sana berterima kasih kepada mereka.


Sana masih ingat semuanya sebelum ia pingsan. Itu membuatnya sedikit takut untuk keluar malam sendirian.


“Santai aja San, lagian kebetulan juga kita ada disana,” ujar Satria dan itu membuat temannya kaget, bagaimana Satria tau nama cewek didepannya ini.


“Kok lo bisa tau namanya Sat,” tanya Adit


“Bener tuh kata adit,” sambung Gio


“Yaelah, lo kok selalu ikut-ikutan kata-kata gue sih,” kesal Adit


“Yaelah, lo berdua bisa-bisanya berantem,” ujar Deva menengahi agar mereka tidak melanjutkan pertengkaran tidak penting itu.


“Gue sempet kenalan sama dia,” ujar Satria


“Oh iya, kita belum saling kenal, kenalin nama gue Sana,” ujar


“Gue Adit,”


“Gue Gio,”


“Ardian,” ujar Ardian singkat karena dia sedang bermain game. Sejak mereka bangun Ardian langsung mengambil handphone-nya dan langsung bermain game.


“Gue abang Deva, btw boleh minta nomor teleponnya?” ujar Deva dengan tingkah sok ganteng, yang membuat teman-temannya geleng kepala karena sifat buayanya muncul lagi.


“Yaelah lo, giliran liat cewek cakep aja langsung keluar tuh jurus andalannya,” ujar Adit


“Kek ganteng aja lu,” sindir Ardian tetapi matanya tetap terfokus pada gamenya


“Gue emang ganteng ya, daripada lu jomblo gegara main game mulu, nikahin aja sono gamenya,” ujar Deva dengan percaya diri.


Namun, sebenarnya diantara mereka bertujuh tidak ada satupun wajah mereka yang menunjukkan kejelekan. Mereka dianugrahi memiliki wajah yang tampan.


“Mahesa,” ujar Mahesa singkat

__ADS_1


“Singkat amat mas,” ujar Deva


“San, si kutub es ini dia ketuanya, jadi sabar-sabar aja deh kalo ngomong sama dia” sambungnya lagi


“Kutub es?” tanya Sana kebingungan


“Itu si Mahesa dia emang julukannya kutub es soalnya dingin banget tuh orang, apalagi sama orang asing,” ujar Satria menjelaskan.


Sana yang mendengar itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengingat nama-nama mereka


“Bicara, penting,” ujar Mahesa dingin


“Hah?” tanya Sana kebingungan


“Itu, si Arga mau ngomong sesuatu penting menyangkut lo juga,” ujar Adit menjelaskan.


"Astaga, lama-lama kita berlima jadi penterjemah maksud kutub es, makanya Sa, lo kalo ngomong panjang dikit napa," kesal Adit


"lo aja kali, Dit," timpal Gio dengan kekehan


...🌱🌱🌱🌱...


Di ruang tamu, mereka sudah berkumpul untuk membicarakan hal penting yang menyangkut tentang Sana juga. Setelah percakapan mereka berakhir tadi, mereka memutuskan untuk mecuci muka terlebih dahulu dan mengambil beberapa camilan untuk membicarakan hal penting yang dimaksud oleh Mahesa.


“Sana, gue akan ngasih tau kalo kehidupan lo bakal berubah total dan lebih terancam,” ujar Mahesa.


Mahesa bisa menjadi orang yang panjang bicara. Tetapi, juga bisa menjadi irit tergantung situasi dan orang yang ia temui.


Terancam?” tanya Sana yang masih bingung dengan ini semua


“Sat, jelasin,” ujar Mahesa kepada Satria


“Jadi, San, yang ga sengaja lo temuin itu adalah anggota geng Demon musuh bebuyutan Geng Devil,” ujar Satria menjelaskan


“Geng? jadi kalian anggota geng?” kaget Sana


“Iya kami anggota, lebih tepatnya kita berenam adalah orang-orang tinggi di dalam geng Devil, dan si Mahesa adalah ketua dari Geng Devil,” ucap Satria lagi. Sana hanya mendengerkan setiap perkataan yang diucapkan oleh Satria, walaupun ia kaget dengan beberapa kejadian yang terjadi di hidupnya.


“Maksud dari hidup lo bakal terancam, karena lo ceweknya Mahesa,” ujar Adit menimpali


“Tapi—,”


“Iya, kita semua tau lo bukan ceweknya, tapi Raiden ketua geng Demon berpikiran gitu, dan pasti itu sudah menyebar ke seluruh geng musuh, makanya keselamatan lo terancan Sana,” ujar Ardian memotong perkataan Sana sambil menyudahi bermain gamenya


“Tapi kenapa Raiden berpikiran gitu?” tanya Sana


“Karena, Mahesa ga sengaja nolong lo,” ujar Deva


“Mahesa di kenal sebagai seorang yang dingin dan tanpa ampun di dunia kita dan juga dia ga ada kelemahan yang bisa menjatuhkannya, lebih tepatnya kehidupan pribadi Mahesa terlalu tertutup dari orang-orang luar. Jadi, susah untuk nyari kelemahan, seperti orang-orang yang dianggap berharga” sambung Gio


“Tapi, gue ga sengaja nolong seseorang, dan itu cewek makanya mereka berpikir gue cewek lo, dan menjadi kelemahan gue secara ga langsung,” Ujar Mahesa

__ADS_1


“Karena gue sudah melibatkan lo ke dunia gue ini, maka gue akan bertanggung jawab akan keselamatan lo,” sambungnya lagi


“Tapi, gue bingung kenapa lo nolong gue?”


“Ada alasannya, lo ga perlu tau, dan ambil jaket. Pakai jaket ini khusus ke tempat umum aja,” ujar Mahesa sambil memberikan jaket bertuliskan ‘Devil’


“Ini upaya gue ngelindungin lo, karena anak-anak geng Devil pasti tau jaket itu, jadi kalo lo ada dalam bahaya mereka bisa langsung nolong,” ujarnya lagi


“Iya San, cewek gue juga pake itu, buat jaga-jaga dari musuh, terutama Raiden,” Ujar Satria


Sana yang mendengar itu semua terkejut karena ia tidak menyangka kehidupannya akan seperti ini. Geng? penuh dengan ancaman dan bahaya? Jaket? Jadi kelemahan seorang ketua geng? itu semua baru di kehidupan Sana. Lagi-lagi ia menyesali keputusannya untuk keluar malam, jika tidak hidupnya tidak akan serumit ini.


...🌱🌱🌱🌱...


Sana bersiap-siap untuk berangkat sekolah, karena jam sudah menunjukkan pukul 06.10 pagi. Hari ini, ia akan berangkat lebih pagi dari biasanya, sebab, Erlangga tidak mengabari bahwa ia bisa menjemput Sana. Sana sadar bahwa Erlangga sibuk mempersiapkan pemilihan ketua OSIS karena dia mencalonkan dirinya, oleh sebab itu ia memutuskan untuk berangkat sendiri, dengan menaiki bus.


Sana memoles tipis bedak di pipinya. Untuk berjaga-jaga ia membawa jaket bertuliskan 'Devil' tersebut. Ia tidak memakainya, sebab pasti akan menimbulkan keributan dan rumor di sekolah. Jadi, ia hanya ia pegang di tangan. Setelah sampai sekolah nanti, baru lah ia masukan ke dalam tas, Sana berpikir seperti itu. Sebenarnya dia cukup malas melakukan itu, namun, mau bagaimana lagi? keselamatannya lebih penting dari apapun. Sana baru tahu, rumah yang ia tempati kemarin adalah rumah perkumpulan Mahesa dan ke-lima temannya. Sana tadi diantar pulang oleh Mahesa naik mobilnya sekitar pukul 05.00 pagi. Mahesa tadi sempat memberikan nomor ponselnya kalau-kalau Sana dalam posisi bahaya.


Hari ini, Sana naik bus untuk berangkat ke sekolah. Tetapi, ia merasakan ada beberapa penumpang di bus yang bersekolah sama dengannya menatap ke arah dirinya. lebih tepatnya, menatap ke arah jaket yang ia pegang.


Saat itu juga ia paham dan tahu maksud dari perkataan Arga di rumah tadi dan tidak menyangka anggota geng Devil banyak dan tersebar luas bahkan di sekolahnya ada. Setelah beberapa menit dalam perjalanan, Sana sampai di sekolahnya. Ia pun langsung menuju kelasnya yang berada di kelas XI IPA 3. Di kelas, ia melihat kedua sahabatnya sudah datang dan sedang asik mengobrol.


“Ngomong apa sih? asik banget,” ujar Sana berusaha bergabung dengan sahabatnya, setelah menaruh tas di tempat duduk di depan Sahabatnya.


“Eh, San, ini kita ngomongin tentang make up,” jawab Cindy


“Oh ya, ngomongin tentang make up apa?” tanya Sana lagi


“Ahh, lo pasti ga paham San, soalnya lo kurang tertarik tentang make up,” ujar Dilla


“Oh iya juga sih,” kekeh Sana namun sebenernya ia cukup sedih.


Walaupun ia tidak terlalu paham, namun, ia berusaha untuk memahami apa yang dibahas dan disuka sahabatnya. Mungkin, dia sedang baperan saja kali ini dan ia tidak mau berpikiran aneh-aneh. Kedua sahabatnya asik mengobrol tanpa memperdulikannya, hingga bel masuk berbunyi menghentikan pembicaraan asik kedua sahabatnya itu.


...🌱🌱🌱🌱...


Bel istirahat berbunyi, kedua sahabatnya masih asik menikmati pembicaraan mereka, lagi-lagi Sana tidak diajak untuk bergabung.


“Cindy sama Dilla gue mau ngomong,” ujar Sana menyela pembicaraan kedua sahabatnya


“Mau ngomong apa San? Gue laper nih sama cindy,” ujar dilla


“Iya San, Gue laper kalo mau ngomong cepet San,” sambung Cindy


“Ga jadi deh,” ujar Sana


“Oke, kita ke kantin ya,” ujar Cindy


Sana merasa tidak enak tadi untuk menahan temannya, tadinya ia ingin bercerita tentang kejadian yang dia alami, namun ia urungkan karena sahabatnya sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Terkadang, Sana merasa bahwa dirinya sendiri dan kesepian. Namun, semuanya itu ia sangkal dan menganggap bahwa dirinya saja yang terlalu kebawa perasaan.


- To be continued -

__ADS_1


__ADS_2