
Sana terkejut melihat sebuah postingan, postingan yang di post oleh Dilla di akun Instagram pribadinya.
Postingan tersebut adalah foto Dilla yang sedang makan dengan Erlangga. Hati Sana sesak dan sakit saat melihatnya. Ia berusaha berpositif thinking wajar saja kalau Erlangga makan dengan sahabatnya Dilla. Tapi, setelah melihat komen-komen yang ada di postingan itu, Sana mulai overthinking tentang hubungan antara keduanya.
Sana akui memang hubungan mereka akhir-akhir ini semakin dekat karena mereka berdua adalah OSIS. Ya mau tidak mau pasti sering bertemu, mustahil tidak tercipta sebuah momen-momen di antara Erlangga dan Dilla.
Memikirkan itu semua membuat Sana pusing, Sana memutuskan untuk tidak berpikir negatif tentang hubungan antara pacar dan sahabatnya itu. Yang terpenting bagi dirinya sekarang adalah bisa keluar dari rumah sakit yang membosankan ini. Jika dia terus memikirkan, bisa-bisa dia lepas kontrol lagi dan berujung tinggal di rumah sakit ini lebih lama lagi. Memikirkan untuk tinggal lebih lama di tempat ini saja membuat Sana merinding.
...🌱🌱🌱🌱
...
Dilain tempat, beberapa motor terparkir rapi di sebuah jalan yang lumayan besar. Terlihat ada segerombol orang yang sedang mengobrol sambil menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.
“Bos, lo yakin Anak Devil dateng kesini?” ujar Dimas
“Menurut gue, anak Devil pasti Dateng,” ucap Aska dengan yakin
“Lo yakin banget.” Kali ini yang angkat bicara adalah Raiden sang ketua Demon.
Dia saja tidak yakin Mahesa akan datang kesini, bagaimana Aska seyakin itu? Pasalnya Raiden sering kali mengajak Mahesa untuk bertemu, tetapi selalu saja ditolak olehnya. Tapi, hari ini Mahesa menerima tawaran untuk bertemu.
Raiden sulit untuk mempercayai itu, tapi dia akan marah jika Mahesa sengaja ingin mempermainkannya dengan mengatakan akan datang padahal tidak datang.
“Kali ini gue yakin banget dia dateng, karena-.”
Pembicaraan mereka terpotong, karena yang ditunggu-tunggu sudah datang.
Terdengar suara deru motor yang semakin mendekat kearah mereka, dan akhirnya berhenti tepat didepan mereka. Pemilik suara itu adalah Mahesa dan teman-temannya. Mahesa melepas helm yang dipakainya lalu menghampiri Raiden.
“Mau lo apa?” ujar Mahesa dingin
“Santai bro, mundur dikit. Kalo sikap Lo kayak gini, bisa mancing emosi kita,” ujar Galih.
Mahesa pun segera menjauh dan kembali ke tempat teman-temannya berada. Mahesa kali ini sedikit tidak tenang, dan berusaha untuk mengakhiri pertemuannya dengan Raiden.
Di kepalanya saat ini terbayang tentang sesosok gadis yang dia temani selama seminggu ini. Sesosok gadis yang bisa mengacaukan pikiran dan suasana hatinya dalam beberapa hari terakhir. Sesosok gadis yang bisa membuat dirinya menjadi khawatir karena tingkah bodoh gadis itu.
“Mau gue? Gampang.” Raiden akhirnya bersuara
“Tujuan lo kali ini ngajak ketemu apa anjir, cepet, gosah banyak bacot,” teriak Deva yang tidak sabaran.
“Santai, tujuan gue cuman ngajak taruhan aja,” ujar Raiden santai
“Taruhan?” ujar Mahesa, dengan tatapan remeh dan senyum smirk andalannya.
“Mau kalah lagi? Ga malu?” ujar Adrian
“Maksud lo apa?” teriak Daniel yang tersulut emosi atas kata-kata yang barusan Adrian lontarkan.
Suasana di sana semakin tegang, permusuhan di antara keduanya sangat besar.
“Gue ngajak lo balapan motor, tapi taruhannya cewek lo gimana?” ucap Raiden memberikan penawaran kepada Mahesa.
“Kalau lo menang, cewek itu bakal jadi milik lo. Kalau gue yang menang, cewek itu bakal jadi milik gue,” sambungnya lagi
“Sial,” decak Mahesa.
Raiden sangat keterlaluan, kali ini dia membawa Sana ke dalam permusuhan mereka. Mahesa merasa menyesal menyelamatkan Sana waktu itu.
Tapi, jika Sana tidak dia selamatkan, mungkin hidup gadis itu sekarang akan menjadi lebih buruk dari sekarang. Mahesa bingung, kalau balapan Mahesa yakin bahwa dia yang akan menang. Namun, Mahesa merasa kali ini Raiden akan melakukan berbagai cara untuk membuat dirinya kalah.
“Gimana? Takut?” ujar Raiden sambil melayangkan tatapan meremehkan.
“Atau cewek itu orang spesial di hidup lo, jadi lo ga rela kalau dijadikan bahan taruhan,” sambungnya lagi.
“Takut? Mimpi lo,” ujar Mahesa dingin
“Jadi, deal?” tanya Raiden
“Deal.” Mahesa menjawab dengan tegas.
__ADS_1
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa takut akan keputusan yang dia ambil kali ini. Dia awalnya tidak mau melibatkan gadis itu. Tapi, apa yang dia lakukan sekarang? Gadis itu semakin terlibat lebih dalam.
“Oke, besok kita ketemu di sini jam 11 malam buat balapan, jangan lupa bawa bahan taruhannya,” ujar Raiden.
“Buat apa bawa cewek itu.” Satria yang selama ini tidak terlalu ikut campur, akhirnya bersuara.
“Bahan taruhan harus ada di tempat, pada saat taruhan itu berlangsung,” jawab Aska
“Oke, gue tunggu kekalahan lo besok malam,” ujar Mahesa. Lalu, dia menghidupkan motornya meninggalkan tempat itu disusul dengan teman-temannya di belakang.
...🌱🌱🌱🌱
...
Hari sudah pagi, hari ini Sana sangat senang pada akhirnya ia bis terbebas dari ruangan ini. Pagi, ini dia menyelesaikan sarapan yang dibawa suster tadi dengan cepat. Dokter tadi sudah memeriksa kondisi dirinya, ia bisa pulang siang nanti. Saat ini, rasa bosan sedang melandanya. Sana bosan, kenapa siang hari begitu lama. Di tengah-tengah kebosanan, pintu ruang inap terbuka tanda seseorang masuk. Ternyata orang itu adalah Mahesa.
“Kata dokter apa?” Mahesa bertanya sambil duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“Udah boleh pulang siang nanti,” jawab Sana. Mahesa hanya mengangguk tanda mengerti.
Lalu, tidak ada lagi obrolan yang terjadi. Situasi canggung seperti ini sudah banyak terjadi di antara mereka berdua. Sana ingin bertanya apa yang terjadi kemarin antara Mahesa dan Raiden. Namun, ia takut untuk menanyakan itu.
“Kalau mau ngomong, ngomong aja, jangan di simpan dalam hati,” ujar Mahesa
“Mahesa gue boleh tanya?” tanya Sana
“Hm.” Mahesa berdehem sebagai respon setuju.
“Kemarin, masalah sama Raiden gimana?” tanya Sana
Deg.
Pertanyaan ini yang sangat Mahesa hindari.Ia kira Sana tidak akan bertanya tentang apa yang terjadi kemarin. Namun, siapa sangka justru gadis di depannya ini justru bertanya dengan cepat.
Apa yang harus gue jawab? batin Mahesa
“Pertanyaan gue, pertanyaan yang seharusnya gak gue tanya ya?” tanya Sana. Ia merasa bersalah bertanya tentang itu. Seharusnya dia tidak bertanya tentang apa yang terjadi kemarin.
“Gue takut lo terluka dan sedih,” gumam Mahesa.
“Cerita aja, gue gapapa kok,” ujar Sana dengan senyum manisnya.
“Gue diajak balapan motor sama Raiden,” ujar Mahesa
“Tapi, bukan balapan motor kayak biasa, kali ini ada taruhannya,” sambungnya lagi
“Terus? lo takut kalah? Bukannya lo selalu menang dari Raiden? Jadi buat apa takut,” ucap Sana
“Gue yakin, lo pasti menang lagi kali ini,” ucap Sana yakin
“Bukan itu masalahnya,” jelas Mahesa
“Terus apa dong? masa—.”
“Lo yang jadi taruhannya. Kalo Raiden menang lo jadi ceweknya.” Mahesa memotong pembicaraan Sana dengan cepat. Sana kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Mahesa. Dirinya menjadi taruhan? Gak salah? Mengapa harus dia yang dijadikan taruhan?
“Kenapa harus gue?” tanya Sana dengan nada dingin.
“San, gue juga ga tau. Tiba-tiba Raiden bilang gitu,” ujar Mahesa masih tenang.
“Terus lo iya in? Kalo lo kalah gue gimana? Gue gak mau jadi cewek Raiden,” seru Sana
“San, tenang, gue jelasin dulu,” ujar Mahesa. Sana yang sempat tersulut emosi, perlahan-lahan menurunkan emosinya dan mendengarkan penjelasan dari Mahesa.
“Gue sebenarnya ga mau nerima itu. Tapi, gue ga ada pilihan lain. Nama Geng gue dipertaruhkan, gue sebagai ketua ga bisa bikin nama geng Devil jadi jelek karena keegoisan gue sendiri,” jelas Mahesa.
Mendengar itu Sana merasa bersalah sedikit kepada Mahesa. Apa yang dikatakan Mahesa benar. Mahesa tidak bisa egois pada saat itu untuk dirinya yang bukan siapa-siapa. Geng Devil kedudukannya lebih penting daripada Sana yang bukan siapa-siapa.
“Gue ga bakal kalah San, lo tenang aja. Gue ga bakal biarin lo jatuh ke tangan Raiden,” tegas Mahesa
“Jadi, lo tenang aja,” sambungnya lagi dengan senyum yang sangat tipis di wajahnya. Senyum yang bahkan hampir tidak terlihat. Mendengar itu Sana menjadi tenang, ia percaya Mahesa tidak akan mengingkari perkataanya.
“Gue percaya sama lo,” ujar Sana.
__ADS_1
...🌱🌱🌱🌱...
Tak terasa hari sudah siang, Sana sudah siap untuk pulang ke rumahnya. Di ruangan ini sudah ada Mahesa dan teman-temannya. Mereka baru saja datang, katanya mau membantu tapi kenyataannya malah merusuh di ruang inap Sana.
“Geser dikit napa, gue ga bisa duduk,” kesal Deva
“Lo berdiri aja, disini ga ada tempat buat buaya,” ejek Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone.
“Idih, daripada lo pacar game,” ejek Deva balik.
Kali ini Gio dan Adit tidak bertengkar seperti biasanya. Mereka dengan tenang makan cemilan sambil memutar drakor.
“Berisik lo pada,” decak Adit yang merasa terganggu.
“Pantes lo berdua akur, ternyata lagi nonton drakor,” cibir Deva
“Dev, daripada lo gangguin mereka bertiga, mending chat pacar lo yang banyak itu,” ujar Satria
“Lagi jomblo gue,” ujar Deva.
Seketika semua langsung berhenti dari aktivitas masing-masing, lalu beralih menatap Deva.
“Lo semua napa ngeliatin gue,” ujar Deva yang risih dengan tatapan teman-temannya.
“Lo serius lagi jomblo?” ujar Adit tak percaya
“Gue mimpi ga sih,” ujar Gio
“Masa udah pensiun jadi buaya,” sindir Adrian
“Lo ga kesambet kan?” tanya Satria yang sama kagetnya dengan teman-temannya.
Mahesa hanya melihat, dan seperti biasa dengan wajah datarnya. Dia tidak menunjukkan respon yang sama. Sedangkan Sana, dia hanya tertawa kecil melihat kejadian itu.
“Yaelah, pada ga percaya. Gue lagi jomblo, mau otw pensiun. Ada cewek yang gue incer,” ujar Deva
“Kirain beneran tobat, ternyata sama aja,” ujar mereka berempat bersamaan.
“Ayok San, gue anter pulang. Urusan rumah sakit ini udah gue urus,” ucap Mahesa tiba-tiba.
“Serius udah di urus? Makasih ya Mahesa.” Sana sangat berterima kasih kepada Mahesa.
Sudah berapa kali ia ditolong oleh Mahesa yang notabenenya hanyalah orang asing yang tidak sengaja bertemu. Sana berpikir, hidup yang ia jalani sangat lucu. Orang terdekatnya dan keluarganya tidak peduli terhadap dirinya. Tapi, kenapa yang peduli dengannya justru orang-orang asing yang tidak sengaja bertemu.
Dunia lucu dan kejam, batin Sana.
...🌱🌱🌱🌱...
Mahesa mengantar Sana menuju rumah Sana. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Setelah beberapa menit, sampailah mereka di depan rumah mewah dengan pekarangan yang cukup luas di bagian depan. Sana turun dari mobil Mahesa, sambil mengucapkan rasa terima kasih lagi
“Makasih ya Mahesa, buat semuanya. Kalau gitu gue masuk ke rumah ya,” pamit Sana
“Nanti malem gue jemput,” ujar Arga
“Kemana?” tanya Sana bingung.
“Temenin gue balapan motor,” bohong Mahesa
“Harus banget?” tanya Sana.
Jujur ia belum pernah ke tempat seperti itu. Sana juga merasa tidak nyaman, terlebih lagi ada Raiden di sana.
“Harus, gue ga terima penolakan.” Mahesa melajukan mobilnya meninggalkan rumah mewah itu. Mahesa memang baik terhadap Sana, cuman terkadang sifat dingin dan sedikit pemaksanya membuat Sana kesal.
“Dasar kutub es, udah kutub es, pemaksa lagi,” gerutu Sana
“Nyesel gue muji dia dan berterima kasih. Baik sih baik, dibanding yang lain. Tapi, sifat dinginnya itu bikin kesel.” Sana menggerutu sepanjang ia jalan menuju pintu depan rumahnya.
“Ga terima penolakan, nyenyenye. emang dia siapa? Kesel juga lama-lama,” gerutunya lagi.
Saat Sana ingin membuka pintu rumah, dia terkejut dengan sosok yang ada di dalamnya. Sosok yang sangat ia takuti dan ia benci. Sosok yang dia sayangi dan benci sekaligus. Sesosok yang membuat hidupnya menjadi seperti ini.
- To be Continued -
__ADS_1