
“Hei cantik, mau kemana malem-malem,” goda lelaki bertubuh besar
“Mau kakak temenin?” ujar lelaki satunya
Sana yang gemetar ketakutan pun hanya bisa diam, untuk berbicara saja ia tidak bisa. Perlahan ia mundur, sambil mengucapkan doa kepada Sang Pencipta, meminta maaf akan dirinya yang tadi marah kepada-Nya.
“Mau kemana cantik,” ucap lelaki yang sedari tadi diam sambil mengulurkan tangannya ingin menyentuh tangan Sana. Sana perlahan mundur dan berniat kabur. Saat ia berniat melarikan diri, tangannya di cekal oleh lelaki yang tadi ingin menyentuh tangannya. Sana pikir lelaki itu adalah ketuanya.
“Mau kabur?” ucap lelaki yang mencekal tangannya
“Ga semudah itu lolos dari kita,” ucapnya lagi dengan seringaian. Tangannya tanpa izin menyentuh wajah Sana dari pipi hingga ke dagu. Dalam hati, Sana masih merutuki dirinya yang bodoh. Ia merasa jijik karena wajahnya dipegang sembarangan. Namun, ia tak mempunyai kekuatan untuk melawan. Sekarang ia hanya berharap ada seseorang yang membantu dirinya.
“KALO DITANYA, JAWAB,” teriak lelaki yang berbeda lagi. Disitu, Sana ke merasa pusing, kenangan saat ia dipukul papanya menghantui dirinya.
Namun, ia berusaha agar dirinya bertahan dengan merapalkan doa-doa. Ketakutan Sana semakin menjadi, melihat lelaki yang berteriak tadi mulai mendekatinya. Lelaki itu semakin mendekat dan mencengkram dagu Sana, membuat Sana kesakitan.
“Kalo ditanya itu dijawab, sebelum kesabaran kita habis cantik,” tekan lelaki itu dan semakin mencengkram lebih keras. Tetapi, sepertinya penolong Sana datang
“Bugh,”
Dari belakang, ada pukulan keras yang membuat lelaki yang mencengkram dagu Sana sedikit menjauh dan melepaskan cengkramannya. Lalu, seseorang melepas dengan kasar cekalan lelaki yang ada di tangan Sana, dan tubuhnya ditarik oleh orang itu, menyembunyikan dibalik tubuhnya yang besar.
“Masih ga berubah ya kalian,” ujar orang yang menolong Sana
“lo juga ga berubah, masih aja ikut campur urusan gue dan geng gue,” balas lelaki yang mencekal tangan Sana.
Benar ternyata dugaan Sana bahwa lelaki itu adalah ketuanya
“Gue bukannya ikut campur, tapi lo bikin cewek ini takut,”
Sana merasa keadaan semakin sengit, ia menjadi semakin takut.
“Emang tuh cewe siapa lo?” teriak lelaki yang dipukul tadi
“Bukan urusan lo,” ucap penolong Sana
“Wah main-main ini orang, cuy serang,” ucap lelaki yang tadi mencekal tangan.
Sekelompok orang itu udah mulai bersiap-siap untuk menyerang namun dihentikan oleh suara yang berasal dari belakang
“WOY BENER-BENER LU, ANAK DEMON MAINNYA KEROYOKAN,” ujar lelaki dari belakang
“KAN DIA TAKUT KALAH SAMA ANAK DEVIL KITA,” sindir lelaki lain
__ADS_1
Sana segera melihat kebelakang dan ternyata ada 5 orang anggota geng Devil yang menuju ke arah dia dan dia merasa bahwa yang menolongnya salah satu dari anggota Devil atau bahkan ketuanya? Geng Demon yang merasa tidak terima pun membalas
“Wah, seberapa penting ni cewe, Sampe anggota inti Devil dateng juga dan yang pertama kali muncul ketuanya,” sinis ketua geng Demon
“Bukan urusan lo,” ujar ketua geng Devil
“Udahlah Sa, hajar aja nih orang,” ujar salah satu anggota Devil
“Ayo, siapa takut?” remeh ketua geng Demon yang bernama Raiden
Seketika perkelahian terjadi, suara pukulan terdengar disana-sini. Mahesa–sang ketua geng Devil, memberitahu Sana untuk menjauh dari perkelahian
“Lo ngejauh, takutnya lu dijadiin sandera buat ngalahin gue,” ujar Mahesa setelah itu ia langsung menyerang pasukan lawan. Sana segera menjauh dan kini sedang bersama salah seorang dari geng Devil yang ia tidak tahu namanya.
“Hi, gue Satria, nama lo?” ujarnya memperkenalkan diri
“Nama gue Sana,” jawab Sana memperkenalkan diri balik. Setelah itu, tak terjadi percakapan diantara mereka.
Sana kembali menatap kedepan dimana perkelahian sedang terjadi. Ia melihat anggota Demon sudah ada yang tumbang, sedangkan anggota Devil hanya beberapa yang terdapat bekas bogeman di pipinya.
Dari mana ia tahu? Karena anggota geng Devil menggunakan jaket bertuliskan Devil dibelakangnya. Sana melihat perkelahian itu, tiba-tiba ia flashback dimana ia dipukuli habis- habisan oleh sang papa, karena tidak sengaja menumpahkan minuman di berkas kerjanya. Kepala Sana menjadi pusing, ia panik dan sedikit histeris akan kenangan buruk itu
“Tidak” ringis Sana
“Jangan saling memukul,” ringisnya lagi namun bisa di dengar oleh Satria
Sana menyadari bahwa satria menanyainya, tetapi ia tidak bisa membalas karena ia sedang takut dengan pikiran yang terbayang ia dipukuli habis-habisan. Hingga akhirnya
“JANGANN PAA” teriak Sana lalu kemudian tubuhnya jatuh ketanah, seketika pandangannya menjadi gelap. Satria yang panik melihat gadis disampingnya pingsan pun, segera berteriak memberitahu teman-temannya
“WOY, CEWEKNYA PINGSAN,” teriak Satria dan tepat setelah itu anggota geng Demon tumbang dan segera melarikan diri.
Dan anak-anak Devil segera menghampiri Satria.
“Kok bisa pingsan Sat?” tanya Mahesa
“Gue ga tau, tiba-tiba dia histeris liat kalian berantem abistu pingsan deh,” jawab Satria menjelaskan apa yang sedang terjadi
“Ehm, ya udah bawa dia ke tempat biasa aja,”ucap Mahesa, lalu, menggendong tubuh Sana dan memasukkannya kedalam mobil lalu melajukan mobilnya menuju markas mereka.
Mereka sudah sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Rumah ini adalah tempat Mahesa dan teman-temannya berkumpul. Rumah ini memiliki perlengkapan yang lengkap mulai dari makanan, obat, hingga kamar layaknya rumah biasa.
Mahesa membaringkan tubuh Sana di salah satu kamar. Ia meninggalkan Sana, dia berpikir gadis itu hanya shock melihat pertengkaran tadi. Namun, ia cukup ragu bahwa gadis yang sedang tertidur ini hanya shock mengingat kata Satria dia sempat histeris. Namun, Mahesa tak anggap pusing, toh juga bukan urusannya. Lalu, ia menuju ruang tengah tempat para temannya berkumpul.
__ADS_1
“Gimana kondisinya?” tanya Satria
“Kayaknya dia shock, makanya pingsan,” jawab Arga menyenderkan badannya ke sofa
“Bagus deh,” ujar Adit dan Gio berbarengan
“Apasih lo ngikut-ngikut,” kesal Adit
“Dih ge-er lu dit,” balas Gio barengan.
Memang dua anak itu ada aja topik buat diajak debat dan itu menambah suasana pertemanan mereka. Disatu sisi ada Ardian yang selalu bermain game jika mereka sedang berkumpul. Tetapi, ia juga menyimak pembicaraan. Disisi lain, ada Deva yang lagi membalas salah satu chat dari ceweknya, dasar buaya. Memang cuman Mahesa dan Satria yang paling wajar diantara mereka ber-enam.
“Tapi Sa, lo secara ga langsung bikin tuh cewe dalam bahaya,” ujar Ardian bersuara dan menyimpan handphone-nya ke dalam saku celana
“Bener tuh,” Deva menimpali ucapan Ardian
“Gue setuju yang dikatakan Ardian, lagian lo mana pernah segitu peduli dengan cewek,” ujar Satria
“Bener, lo juga tumben banget nolongin cewek,” ujar Adit
“Yeilah, lo bener-bener aja,” ejek Gio ke Adit
“Berisik lo,” kesal Adit
Teman-temannya yang lain hanya menggeleng kepala melihat kelakuan 2 orang itu.
“Ada alasan gue nolong tuh cewe,” ucap Mahesa dan teman-temannya paham bahwa mereka ga perlu tahu alasan mengapa dia menolong.
Sekarang, ia lagi memikirkan cara supaya cewe itu aman dari tangan musuh bebuyutannya, Raiden–ketua dari geng Demon. Devil dan Demon sudah bermusuhan sejak lama. Mereka terus mencari kelemahan dan saling menjatuhkan. Lebih tepatnya itu ambisi dari Raiden. Ia tak ada henti-hentinya mencari masalah dan keributan dengan para anggota Devil.
Raiden sangat membenci kekalahan. Tetapi, ia selalu mendapatkan kata itu saat berhubungan dengan Devil, terutama Mahesa sang ketua yang terkenal dingin dan tanpa ampun di dunia mereka. Bagi mereka yang sudah terjun lama di dunia ini, mereka tentu tahu betul permusuhan yang sengit antara Devil dan Demon.
Tak ada satu pun yang mengetahui kelemahan dari ketua Devil. Tapi, tadi tak sengaja, kesalahpahaman yang membawa nasib buruk bagi seorang perempuan tercipta. Hanya karena Mahesa menolong seorang perempuan, dipastikan hidup perempuan itu akan berubah 180 derajat.
Kehidupan perempuan itu, tidak sengaja menjadi kelemahan Mahesa dimata para musuhnya, terutama Raiden. Itu membuatnya frustasi, dan menyesal karena tak sengaja melibatkan gadis itu ke dalam dunia yang kejam, tempat dimana perkelahian sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Dia akan memikirkan caranya nanti, sekarang ia memutuskan istirahat karena jam sudah menunjuk pukul 23.00.
...🌱🌱🌱🌱...
Seseorang yang terbaring di ruangan, dengan nuansa hitam dan abu-abu nampak menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam netranya. Ketika cahaya yang masuk sudah cukup di netranya, dan penglihatannya sudah mulai terlihat jelas, satu hal yang telintas di pikirannya adalah ‘di mana ia sekarang?’
Tidak mungkin di kamarnya, sebab kamarnya tidak bernuansa hitam dan abu-abu melainkan nuansa biru, serta bau maskulin dari seorang pria membuatnya cemas. Ia melihat ke dalam selimut, ternyata pakaiannya masih lengkap, dia menjadi lega.
Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 03.00. Ia memutuskan untuk melihat keluar, siapa tahu dia mendapatkan jawaban dari kebinguannya. Ketika ia keluar dari kamar bernuansa hitam dan abu-abu itu, ia terkejut dan tanpa sadar ia berteriak
__ADS_1
“AAAAA,” teriaknya
- To be continued -