
Tak berselang lama, Richard pun akhirnya sampai di rumahnya. Dengan raut wajah khawatir-nya, Richard pun bergegas menuju kamar sang Bunda.
Ia merasa sangat yakin jika sang Bunda pasti sedang berada di kamarnya sekarang.
"Bunda! Maafin Richard Bunda, semua salah Richard karena lebih memilih pergi meninggalkan Bunda tadi. Richard benar-benar minta maaf. Richard akan telponkan dokter sekarang juga. Biar Bunda segera diperiksa," ucap Richard terlihat cemas.
Tanpa menghiraukan Ana, Richard pun langsung saja menemui Bundanya.
Bunda Lina pun terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Menandakan jika dirinya tidak menyetujui perkataan dari sang anak.
"Bunda sudah tidak apa-apa kok, Nak. Bunda mungkin cuman butuh istirahat dan minum obat yang dulu pernah diberikan sama dokter aja. Di laci sana, ada bekas bungkus obatnya. Kamu bisa lihat dan tolong belikan saja untuk Bunda. Gak perlu sampai hubungin dokter segala," balas Bunda Lina tak ingin masalahnya dibesar-besarkan.
Memang saat itu Bunda Lina merasa jika kesehatan tubuhnya sudah lumayan baik. Ia memang hanya perlu beristirahat dengan meminum obat yang sering ia minum setiap kali dirinya jatuh sakit.
Tampak dari raut wajah Richard yang sempat ingin menolak mengiyakan perkataan sang Bunda. Namun, setelah dibujuk beberapa kali oleh sang Bunda.
Pada akhirnya, Richard pun hanya bisa pasrah dan mengikuti saja apapun yang dikatakan oleh sang Bunda.
"Ya udah kalau begitu Richard beli obat untuk Bunda dulu, ya. Bunda di sini jaga kesehatan baik-baik. Kalau butuh apa-apa Bunda panggil aja Bibi. Nanti Richard akan suruh Bi Ina kemari untuk menjaga Bunda," ucap Richard seakan tidak menyadari keberadaan Ana yang sudah menjaga Bunda Lina itu.
Kembali, Bunda Lina pun menggelengkan kepalanya kuat.
"Gak perlu, Nak. Gak perlu panggil Bi Ina untuk kesini. Bunda di sini sudah ditemani sama asisten kamu. Ana, kemarilah Nak. Duduk di sini sama Bunda dan berbincanglah bersama Bunda," tutur Bunda Lina seraya mengisyaratkan lewat tangannya untuk Ana mendekat dengan dirinya.
Ana yang semula bergeming merasa belum ada persetujuan dari sang atasan akhirnya menyerah juga ketika Bunda Lina terus memaksanya.
"Tapi, Bunda. Ana gak bisa di sini terus. Dia harus kerja bareng aku. Jadi, Bunda biar dijaga in sama Bi Ina aja ya. Jangan Ana. Soalnya Ana harus kembali kerja," balas Richard sekedar beralibi saja.
__ADS_1
Bunda Lina dengan cepat menggelengkan kepalanya, menolak menyetujui.
Tangannya pun melingkar di pundak gadis yang telah duduk di sisinya itu.
"Sekarang Bunda tanya sama kamu. Memangnya yang punya perusahaan itu siapa? Apa kamu yang mendirikan perusahaan itu? Bunda adalah pemilik awal perusahaan tempat Ana kerja. Jadi, keputusan Bunda sudah bulat dan tidak bisa dibantah siapapun. Ana yang akan tetap di sini dan ngerawat Bunda sampai sembuh. Kamu gak ada hak apapun untuk ngelarang Ana tetap di sini. Bunda yang punya keputusan dan hak buat menentukan keputusan. Sana, kamu pergi beli obat untuk Bunda. Bunda gak mau dengar protes apapun lagi yang keluar dari mulut kamu," ucap Bunda Lina terdengar seakan mengusir.
Richard pun hanya bisa menghela nafasnya panjang. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain hanya mengiyakan keputusan sang Bunda tanpa berani memberikan protes lagi.
Setelah pria itu pergi dengan raut wajah datarnya ketika menatap ke arah Ana. Gadis itu pun merasa Richard pasti sangat kesal dengan dirinya saat ini.
"Bunda. Sepertinya apa yang Pak Richard bilang tadi memang benar adanya. Saya masih harus bekerja untuk Ibu sama adik saya bisa makan. Saya mohon, izinin saya buat pergi ke kantor lagi ya, Bunda. Nanti Ana janji bakalan jenguk Bunda pas Ana udah selesai kerja," tutur Ana mencoba memberikan penerangan pada Bunda Lina.
Namun, sama seperti sebelumnya. Dengan tegas, Bunda Lina menggelengkan kepalanya cepat.
"Udah! Kamu gak perlu mikirin apapun. Nanti Bunda bakalan minta buat bendahara kantor kasih bonus buat kamu hari ini. Jadi, kamu gak punya alasan buat mau tetap pergi ke kantor lagi. Kamu di sini aja. Temenin Bunda. Bunda ngerasa bosan kalo cuman sama Bibi. Kamu gak perlu khawatir in soal Richard. Biar Bunda yang bakalan urus dia. Dia gak akan berani macam-macam sama kamu, dia gak akan bisa menentang keputusan dari Bunda."
Sama seperti Richard. Ana pun kini hanya bisa pasrah dan memilih untuk memijat Bunda Lina demi menghapus keheningan serta kegabutan dirinya di kamar yang sangat besar itu.
Sampai ketika Richard baru berada di ambang pintu kamar sang Bunda. Tiba-tiba saja sebuah kalimat terlontarkan dari mulut Bunda Lina dan berhasil membuatnya terpaku.
"Ana. Kamu gak usah pulang ya. Kamu nginap di sini sehari aja. Bunda butuh kamu buat nemenin Bunda malam ini. Bunda takut kalo tiba-tiba sakitnya kambuh nanti malam. Kalo ada kamu kan, Bunda yakin akan ada yang jaga. Bunda gak mau dengerin penolakan apapun dari kamu. Satu hal yang harus kamu ingat, sekarang Bunda cuman ngasih pernyataan ke kamu bukan pertanyaan."
***
"Mau ngapain?!"
Suara Richard yang tiba-tiba saja mengejutkan Ana pun sontak hampir saja membuat nampan yang dibawanya terjatuh.
__ADS_1
Untunglah kala itu dengan sigap, Richard bangun dari tempat tidurnya dan ikut menahan nampan itu.
Jantung Ana pun seketika berdegup begitu kencang. Matanya dan mata Richard pun kini bertemu dan saling bertaut selama beberapa saat.
"Saya tau, saya ganteng. Apalagi masih pagi kayak gini. Tapi, bukan berarti kamu seenaknya bisa lancang natap saya kayak gitu ya," ucap Richard kembali membuat ikatan mata keduanya terputus.
Buru-buru Ana pun bergegas meletakkan nampan yang dibawa olehnya itu tepat di atas nakas.
"Bunda Lina minta saya untuk mengantarkan sarapan pagi ini buat anda, Pak. Kata beliau, Pak Richard udah terbiasa selalu dihidangkan sarapan begini setiap pagi. Jadi, saya buat sarapan ini dengan dibantu Bi Ina. Baru setelah itu saya bawa sarapannya ke sini buat kasih ke Bapak," jelas Ana dengan sedetail mungkin.
Bahkan sepertinya tidak ada satu pun yang tertinggal dari penjelasan gadis itu.
Dari ujung matanya, Ana bisa melihat jelas bagaimana kerutan terpatri jelas di kening Richard kala itu.
Dengan langkah yang ditekadkan untuk melangkah secepat kilat, Ana pun berbalik dan bergegas ingin keluar dari dalam kamar sang atasan.
Namun belum sempat Ana melangkah lebih jauh. Tepat ketika ia melewati sang atasan, dengan cepat Richard pun menghentikan langkahnya.
Terlihat Richard yang langsung mencekal lengan Ana, seakan tidak ingin membiarkan gadis itu keluar dari dalam kamarnya.
"Pak, lepasin saya! Saya pengen keluar aja Pak," ucap Ana buru-buru ingin keluar.
Ia bahkan sampai berusaha keras melepaskan cekalan tangan itu.
Saat sibuk melakukan tarik-menarik itu, tiba-tiba saja Richard hampir terjatuh. Dengan kuat, ia menarik tangan Ana sampai-sampai membuat gadis itu jatuh tepat di atas tubuhnya.
Jalinan kontak mata pun seketika tak bisa ditampikkan oleh keduanya. Hingga tak lama setelah itu, terdengar suara pintu yang dibuka.
__ADS_1
"Richard! Ana! Apa yang kalian lakukan?!"
***