I Love You, Pak Ceo!

I Love You, Pak Ceo!
Takut


__ADS_3

"Lain kali kalau kamu memang sudah merasa tidak kuat lagi. Bilang ke saya bukan malah diam begitu saja."


Tepat ketika Ana baru saja membuka matanya, suara dengan nada penuh kesal yang bercampur padu dengan nada khawatir itu pun menyambut dirinya.


Dari garis wajah yang ditampilkan oleh Richard kala itu membuat Ana sudah dapat mengetahui jika pria itu sedang mencemaskan dirinya juga saat ini.


Bagaimana pun juga, Ana tau jika orang yang telah berjasa pada hidupnya itu juga memiliki hati yang lembut.


Hanya saja, kemungkinan besar ada suatu hal yang menjadikan hati itu terlihat keras.


"Maaf, Pak. Saya takut Pak Richard tidak akan percaya dengan yang saya katakan. Pak Richard bilang jika saya tidak boleh menolak setiap apa yang sudah Pak Richard perintahkan kepada saya. Karena jika menolak saya harus membayar uang denda itu. Saya juga sudah menyanggupi perjanjian kita waktu itu. Jadi, saya hanya diam dan melakukan apa yang seharusnya saya lakukan," balas Ana membuat Richard merasa tersinggung.


Namun, sebagai seorang atasan Richard tentu tidak akan membiarkan dirinya menjadi salah.


Jika ada kalimat yang mengatakan wanita selalu benar. Maka yang berlaku bagi Richard adalah kalimat seorang Bos selalu benar dan tidak pernah salah.


"Tetap saja. Itu salah kamu karena tidak mengatakannya kepada saya. Sudahlah. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Masih bisa berjalan kan?" tanya Richard bertubi-tubi.


Meski tubuhnya masih terasa sangat lemah namun Ana bisa merasakan ia lebih baik dari sebelumnya.


Ana juga tidak terbiasa dengan ruangan yang dipenuhi oleh obat-obatan itu. Baunya sangat menyengat dan Ana tidak suka dengan semua bau-bau itu.


Ana pun sontak dibantu oleh Richard untuk turun dari brankarnya.


"Pak, apakah dokter yang memeriksa saya ada mengatakan suatu hal kepada Bapak?" tanya Ana hati-hati.


Richard yang mendapatkan pertanyaan itu pun lantas mengerutkan keningnya kemudian.


"Tidak ada. Dia hanya mengatakan penyakit maag kamu kambuh. Kamu harus banyak istirahat dulu. Dia memberikan resep obat ini kepada kamu," tutur Richard seraya memberikan plastik obat milik gadis itu.


Ana pun mengangguk. Menatap kantung plastik itu seolah tak lagi asing.


"Syukurlah, dokter Angga tidak mengatakan apapun. Kebetulan sekali stok obatku sudah mulai menepis. Untunglah sekarang sudah diambil lebih dulu," gumam Ana pelan yang ternyata didengar oleh Richard.


"Kenapa?" tanya Richard meminta diulangi ucapan dari gadis itu.


Ana pun dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Gak kok, Pak. Gak kenapa-kenapa. Kita keluar aja ya Pak dari sini. Saya benar-benar gak nyaman kalo di sini terus. Kita lebih baik pergi dari sini," ajak Ana dengan bertutur jujur apa adanya.


Ana pun tersenyum tampak meyakinkan. Ia lalu memberanikan diri untuk memegang lengan dari Richard, menggoyang-goyangkannya membujuk pria itu agar segera membawanya pergi.

__ADS_1


"Baiklah! Cukup! Jangan lakukan itu lagi. Saya akan membawa kamu pergi dari sini. Dasar gadis aneh dan udik!" balas Richard terdengar sarkas.


Ia melepaskan tangan Ana dari lengannya dengan kasar. Melangkah lebih dulu sebelum akhirnya Ana pun mengekor di belakang tubuh pria itu.


Selama perjalanan menyusuri setiap koridor rumah sakit itu, baik Ana maupun Richard sama-sama bungkam. Tidak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka.


Sampai pada akhirnya, Ana seakan baru teringat satu hal membuat dirinya yang memutuskan keheningan yang terjadi di antara keduanya.


"Pak! Kalau saya gak salah ingat, tadi bukannya yang nolongin saya itu Pak Aldi, ya? Kok sekarang Pak Aldi-nya gak ada, Pak? Pak Aldi kemana? Saya belum sempat mengatakan terima kasih kepada Pak Aldi," tutur Ana membuat langkah kaki Richard terhenti.


Pria itu bergeming sebelum akhirnya ia mengatakan sepatah dua patah kata yang setelahnya membuat pria itu kembali melanjutkan langkahnya.


"Ke kantor. Ada kerjaan mendadak."


Langkah kaki Richard yang entah kenapa dirasa oleh Ana kini kian melebar membuatnya terlihat kesusahan untuk menyeimbangkannya.


"Apa saya boleh meminta nomor ponselnya Pak Aldi, Pak? Saya ingin berterima kasih padanya," tutur Ana seolah tidak ingin mengalihkan topik pembicaraan mereka kala itu.


Richard pun menarik nafasnya dalam-dalam.


"Apa tidak bisa di kantor nanti saja?" tanya Richard terlihat mulai kesal.


"Takutnya nanti saya gak ketemu Pak Aldi di kantor, Pak. Memangnya saya tidak boleh meminta nomor Pak Aldi ya, Pak? Saya sudah kenal dan pernah ngobrol banyak kok Pak sama Pak Aldi. Saya cuman mau bilang makasih doang, Pak. Itu aja," tutur Ana seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk kata 'peach'.


Namun, sebelum masuk ke dalam mobil. Richard pun menghentikan langkahnya. Ana mengangkat wajahnya menatap dalam ke arah pria itu.


"Mana ponsel kamu. Biar saya yang masukan nomor si Aldi," ucap Richard mengukir senyuman yang begitu lebar di wajah Ana.


Buru-buru Ana merogoh saku rok-nya mencari-cari hp yang dimaksud oleh pria itu.


"Nih, Pak! Makasih banyak ya Pak udah mau kasih nomornya Pak Aldi," balas Ana meletakkan ponsel jadulnya.


Kedua bola mata Richard pun membulat saat mendapat ponsel yang disodorkan oleh gadis itu.


"Ini yang namanya ponsel?" tanya Richard seakan memastikan.


Dengan semangat, Ana menganggukkan kepalanya cepat.


"Ini hp yang dibeli in sama almarhum Ayah saya, Pak. Memang sedikit kadang bermasalah karena udah lama banget. Tapi, masih bisa dipakai kok, Pak. Masih hidup kok," jawab Ana membuat raut wajah Richard berubah drastis kala itu.


"Ayo, sekarang masuk ke mobil," titah Richard memasukkan ponsel jadul Ana ke dalam sakunya.

__ADS_1


Ana tampak bingung namun ia mengikuti saja perintah dari atasannya itu.


Sekitar 15 menit lamanya, mata Ana pun membulat sempurna saat mendapati bangunan menjulang tinggi di hadapannya saat ini.


"Ini?" tanya Ana memandang ke arah Richard.


"Mall," jawab singkat Richard.


Pria itu pun keluar dari mobilnya dan berjalan tanpa menunggu Ana lebih dulu.


Ana dengan gerakan yang sedikit merasa kesusahan mengikuti saja kemana pria itu pergi.


Sudah dari beberapa waktu sebelumnya, Richard ingin membawa gadis itu ke Mall yang terkenal di kotanya itu.


Ia tidak mengajak Ana kemari untuk jalan-jalan dan sebagainya. Melainkan untuk mengubah penampilan dari gadis itu dan juga kehidupan gadis itu.


Beberapa hari ini meski jelas sudah diberikan fasilitas rumah yang mewah. Ana ternyata masih saja memakai pakaian yang kampungan.


Richard juga tidak mengerti mengapa gadis itu bisa seperti itu.


"Pak. Bapak ingin membeli hp lagi kah? Memangnya hp bapak biasanya di mana?" tanya Ana ambigu.


Richard bergeming. Ia lalu menyerahkan hp jadul itu kepada sang penjaga stan ponsel itu.


Menyuruhnya untuk memasukkan nomor di hp jadul itu ke hp baru.


"Nih! Sekarang pakai ponsel yang ini. Simpan saja ponsel jadul kamu itu," tutur Richard membuat Ana membelalakkan matanya setelah itu.


"Tapi, Pak. Ini,"


Ana tampak masih ingin menolak.


"Saya belikan dua. Jadi, tidak ada alasan lagi soal kamu yang harus mementingkan adik kamu!" balasnya tegas tak terbantahkan.


Bukan sekedar ponsel saja. Pria itu ternyata juga mengajak Ana makan dan memberikannya baju-baju yang mahal.


"Ingat. Setelah ini kamu pulang dan jangan lupa minum obatnya. Hari ini kamu tidak perlu ke kantor. Pak Beno akan mengantarkan kamu pulang. Saya ada urusan pekerjaan di area Mall ini," tutur Richard membuat Ana lagi-lagi ingin menolak.


Ia tak enak hati. Namun, namanya juga atasan. Tidak ada yang bisa menentang keputusan seorang atasan.


"Baik, Pak. Terima kasih banyak, Pak."

__ADS_1


***


__ADS_2