
Richard tatap tegas wajah Ana. Pria itu pun menghela napasnya dengan cukup dalam. "Ana aku bukannya ingin membohongi kamu, aku pun tidak mengetahuinya sebelumnya, Bunda tiba-tiba mengabari aku pagi buta tadi mengenai masalah ini, aku benar-benar bingung bagaimana harus bicara dengan kamu, aku minta maaf karena sudah membuat kami jadi tidak nyaman," balas Richard dengan tenang. Pria itu merasa bersalah mengenai hal tersebut.
Ana yang mendengar penjelasan dari mulut Richard sendiri, hanya bisa terdiam, dia benar-benar tidak menyangka akan semua hal yang tiba-tiba terjadi begitu cepat. Sangat membuat dirinya menjadi bingung sendiri. "Benarkah seperti itu? Haaah, apakah hari ini aku akan resmi menikah?" tanya Ana dengan perasaan yang tidak karuan. Dia di sini ingin rasanya marah kepada seseorang, tapi tak tahu siapa orang itu. Seolah semua yang ingin dia sampaikan rasanya percuma.
"Baiklah, saya akan menerima pernikahan ini dengan baik," tambah Ana tegas.
Richard terkejut saat mengetahui hal tersebut. Dia kira Ana akan marah kepada dirinya. "Ana, jika kamu tidak setuju, kamu boleh membatalkannya," kata Richard dengan tegas.
Ana hanya menganggukkan kepalanya. "Iya, jika aku tidak setuju, tapi aku sudah tidak bisa lagi melakukannya, karena di dalam hatiku sudah ada kamu, Richard," dalam benak Ana yang hanya mampu jujur pada hatinya.
"Aku tidak ingin kehilangan kamu, Ana, maka dari itu aku senang dapat menikah dengan kamu," dalam benak Richard yang terlihat agak gugup.
**
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian, Ana di salam ruangan yang benar-benar tertutup gadis itu didandani secantik mungkin. Dia masih belum menyangka dengan hal apa yang akan terjadi kepada dirinya. Dia akan menikah dengan Richard seorang lelaki pemilik segalanya. Ana kira hubungan yang tidak berlandaskan cinta, mungkin gadis itu sudah pasrah saja. Meski dalam hatinya dia merasa sangat menyukai Richard tapi tidak tahu debat lelaki itu.
Ana didandani dengan begitu cantik dan manis, gaun elegan yang membalut tubuhnya begitu indah. Sementara itu terlihat di ruangan yang besar Richard yang berdiri tegap sambil membelakangi panggung besar, menggunakan jas hitam terlihat sangat gagah dan tampan.
Hingga beberapa saat kemudian, munculah Ana sebagai pengantin wanita yang mendatangi panggung, untuk bisa berhadapan dengan Richard.
"Ya, hari ini, aku akan resmi menikah dengan seorang pria yang aku sendiri tidak tahu apakah dia mencintaiku atau tidak, hubungan yang begitu tidak jelas aku jalani ini, aku memang menyukainya namun tidak dengan dia, tapi kini aku malah akan mengarungi bahtera rumah tangga dengan pria itu. Aku benar-benar tidak menyangka mengenai semua hal yang terjadi sampai di hari ini, aku harap ini adalah awal dari kebahagiaanku yang diberikan oleh Tuhan untuk diriku," dalam benak Ana. Dia memohon yang terbaik dalam hidupnya. Ana menggunakan gaun putih yang cantik dan mahal, sambil menahan rasa gugupnya di hadapan banyak orang yang turut hadir.
Ana langsung berdiri tegap di belakang tubuh Richard. Sampai akhirnya tangan kanan gadis itu menepuk pelan bahu Richard. Awalnya Ana begitu gugup dan takut, namun setelah dia menghela napas yang dalam. Gadis itu membulatkan tekad untuk tetap berani. "Ya! Di sini, sebentar lagi dia akan menjadi milikku, cinta dapat dipupuk, tapi kita sama-sama ingin menikah karena tuntutan dari orang tua. Semua karena Bunda Lina yang telah salah paham, aku tidak tahu ini berkah atau malah musibah untuk kelangsungan hidupku nanti, namun saat ini, aku cukup merasa bahagia dapat bersanding dengan pria yang aku sukai," dalam benak Ana lagi yang kembali berbicara di dalam hati.
Mereka saling memandang dalam waktu yang cukup lama. Semua orang mengabaikan moment tersebut dengan mengambil fhoto atau mengambil video. Segera Richard mengulurkan tangannya dan menyentuh telapak tangan Ana. Mereka terlihat saling gugup.
"Hari ini, adalah hari yang paling bahagia, begitu banyak cerita yang belum terselesaikan, sekarang seperti ini entah bagaimana esok hari. Aku harap kebahagiaan selalu mendatangi kami, susah dan senang selalu bersama saling menolong dalam hal apa pun,"
__ADS_1
**
Hingga beberapa saat kemudian, setelah selesai acara, terlihat Ana yang sedang merenung, dia duduk di atas kursi putih seorang diri. Sambil menatap diam-diam jari manisnya sudah tersemat cincin pernikahan yang diberikan oleh Richard untuk dirinya. Mereka sudah resmi menjadi suami istri.
"Aku seperti sedang bermimpi, tidak disangka akan menikah dengan Pak Richard, kini kehidupan baru segera dimulai, perasaanku masih abu, aku masih bingung dengan segala sesuatu, aku tidak tahu mengenai pernikahan yang sakral ini, malah dilakukan dengan main-main, aku seperti orang bodoh saja," dalam benak Ana yang merasa sedih sendiri.
Dari kejauhan terlihat Richard yang saat itu sedang memandangi Ana, pria itu ingin rasanya segera mendatangi gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya. Namun apa daya, dia masih harus berbicara dengan beberapa tau besar.
Sampai malam pun tiba, Ana sudah mengganti pakaian dengan yang lebih simpel, tidak dengan Richard dan Bunda Lina. Mereka duduk di atas kursi di ruang tamu. Ana hanya diam karena tidak tahu apa yang ingin mereka katakan kepada dirinya. "Akhirnya kalian resmi menjadi pasangan ya, Bunda sangat senang, apakah kalian juga sama?" tanya Bunda Lina yang datang menggoda.
Ana dan Richard terkejut mendengar itu, mereka pun langsung mengangkat wajah masing-masing dan tiba-tiba saja saling bertatapan. Mengetahui hal itu, Ana begitu canggung dan langsung palingkan wajah. Sementara Richard hanya diam seperti biasanya. "Iya, Bunda, ada apa Bunda mengumpulkan kami di sini?" tanya Richard penasaran.
"Hmm, Bunda masih ada urusan lain, jadi untuk sementara waktu ini kalian akan Bunda tinggal, tapi tenang untuk siang hari akan ada pengurus kebun dia bernama Aldi, setiap pagi dan sore dia akan datang kemari untuk membersihkan halaman," kata Bunda Lina dengan tegas.
__ADS_1
Tentu saja Ana dan Richard menjadi bingung, kemana Bunda Lina sebenarnya akan meninggalkan mereka dan ada urusan apa? "Ah? Kok mendadak, Bunda?" tanya Richard tegas.
"Iya, urusan di kantor 'kan, Bunda ingin membahasnya. Dan lagi Bunda tidak ingin mengganggu kalian, karena sudah malam kalian lekaslah tidur, Bunda juga akan pergi untuk istirahat sungguh melelahkan acara hari ini," tambah Bunda Lina. Yang langsung bangkit dan pergi meninggalkan mereka.