
"Ana ... Aku sangat membutuhkan gadis seperti kamu, aku tidak ingin kehilangan kamu di sisiku untuk menuntun Richard menjadi pria yang lebih baik lagi, aku sangat percaya bahwa kalian berdua adalah jodoh yang paling cocok satu sama lain, Ana... Mohon kami jangan menolak apa yang ingin aku lakukan untuk dirimu," dalam benak Bunda Lina.
Dia sudah sangat menyukai Ana, dia merasa bahwa Richard memang paling pantas bersanding dengan Ana. Bunda Lina tidak bisa memisahkan mereka maka dari itu Bunda Lina menginginkan keduanya untuk bersatu.
Bunda Lina masih memperhatikan keduanya dari kejauhan. Dia menghela napasnya dengan perasaan hangat yang datang. Bunda Lina kembali meneguk air dalam gelas hingga habis, kemudian wanita itu pun langsung meninggalkan gelas di dalam dapur untuk kembali ke kamarnya sendiri.
"Pah... Sekarang ini aku melihat seorang anak perempuan yang begitu baik dan cantik, aku ingin kamu juga menerima gadis itu seperti diriku, dia telah banyak berjasa untuk kehidupan kita, Pah... Aku menginginkan kebahagiaan yang luar biasa untuk Richard, kini anakmu telah dewasa, maaf karena aku yang mungkin saja belum bisa menjadi ibu yang baik untuk putra kita ini, tapi aku akan tetap berusaha, Pah! Aku sangat mendambakan kebahagiaan untuk dia, selama ini anak kita susah merasakan deritanya sendiri," dalam benak Bunda Lina. Wanita itu langsung membuka pintu kamar dan memasukinya. Wanita itu mengamati suasana di dalam tempat sepi bisu yang menjadi berbagai saksi bisu untuk dirinya di setiap waktu.
Bunda Lina segera menatap ke arah ranjang besar yang begitu nyaman, wanita itu langsung mendekati tempat tersebut, dan duduk di atas sana dengan tenang, tanpa kata yang terucap dari mulutnya. Bunda Lina menghela napasnya, kemudian dia malah meneteskan air mata yang cukup deras. Wanita itu merasa sedih dengan tiba-tiba. "Pah.... Aku merindukan kamu, dan kini aku sungguh berharap Richard akan mendapatkan kebahagiaannya yang paling dia tunggu dan inginkan," dalam benak Bunda Lina. Wanita itu selalu mengharap kebaikan selalu mengalir pada diri Richard.
Hingga malam hari pun tiba, saat itu Ana sedang berada di dalam dapur, dia hendak menyajikan sebuah hidangan untuk dimakan oleh Bunda Lina. Gadis itu terlihat sangat fokus dalam apa yang dia lakukan. Hingga dari kejauhan terlihat batang hidung Richard. Pria itu juga sepertinya hendak pergi menuju dapur.
__ADS_1
Dia melihat Ana yang begitu sibuk. Kemudian Richard bertanya, "Apakah kamu ingin memasak?" tanya Richard dengan tegas. Pria itu mendekati pintu kulkas dia pintu yang dia miliki. Sambil terus menatap diri Ana.
Ana yang sebelumnya sedang begitu fokus tiba-tiba saja menjadi terkejut karena mendengar suara yang begitu khas di telinga gadis itu. Ana langsung memalingkan wajahnya dengan cukup cepat. "Ah... Hehe, iya Pak, saya ingin membuat sup ikan untuk Bunda Lina, apalagi cuaca malam ini cukup dingin, saya rasa beliau membutuhkannya untuk menjaga stamina," balas Ana dengan terlihat agak gugup. Gadis itu langsung kembali memalingkan wajahnya dengan sangat cepat. Sungguh terlihat jelas dia saat itu sedang menghindari Richard.
Richard cukup mengerti akan perasaan yang saat ini di alami oleh Ana. Pria itu tidak ingin membuat Ana semakin terbebani oleh apa pun. "Ana...," kata Richard dengan suara pelan.
Ana kembali terkejut lagi. Dia sempat memejamkan matanya, lalu kembali memalingkan wajah sambil tersenyum. "Iya, ada apa, Pak?" tanya Ana yang mencoba untuk tidak gugup.
Ana terdiam dengan perasaan yang bercampur aduk. Gadis itu yang masih menatap diri Richard dengan tersenyum, langsung gugup karena melihat dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh Ana. "Baiklah, Pak! Saya akan segera menyelesaikannya, Bapak dapat menunggu di meja makan, setelah hidangan sudah siap saya akan mendatangi Anda," kata Ana dengan perasaan yang masih gugup.
"Oh, baiklah! Terima kasih, An," balas Richard. Pria itu langsung membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol minuman lalu pergi meninggalkan dapur.
__ADS_1
Ana yang mengetahui hal tersebut, dia langsung melirik ke arah samping kanan. Setelah mengetahui Richard telah tidak ada, gadis itu segera menghela napasnya cukup dalam. "Fiuh, aku ini kenapa sih? Setelah kejadian di taman, aku malah berlaku aneh di hadapan Pak Richard, tidak seharusnya aku melakukan ini, lho!" dalam benak Ana yang merasa sangat bingung sendiri. Merasa bersalah dengan perlakuannya terhadap Richard.
Sementara itu di dalam meja makan, terlihat Richard yang sedang duduk dan seperti melamunkan sesuatu. "Ana... Ck! Mengapa aku jadi memikirkan gadis itu sih? Mungkin karena aku yang terlalu lapar, lagipula perkataan Bunda juga mungkin cukup mengusik diriku, ya... Mungkin saja," dalam benak Richard. Dia mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan mengambil ponsel genggam yang berada di dalam saku celana hitam panjang yang pria itu gunakan.
Richard mencoba untuk fokus dengan ponsel genggamnya, akan tetapi pria itu malah terus melihat bayangan dari Ana. Dan suara dari gadis itu. Pria itu merasa cukup terganggu dengan semua itu.
Sampai pada akhirnya. Muncul Ana dari dalam dapur, sambil membawa nampan berisikan makanan. Dia meletakkan mangkuk di atas meja. "Pak, hidangannya sudah siap, saya akan memanggil Bunda terlebih dahulu," kata Ana tegas.
Akan tetapi Richard masih saja fokus dengan ponsel genggamnya. Hal itu membuat Ana tidak berani untuk bicara. Hingga gadis itu memutuskan untuk langsung memanggil Bunda Lina. Ana kembali berjalan menuju kamar Bunda Lina akan tetapi entah mengapa tiba-tiba saja Ana terpeleset sam akan jatuh, hal itu membuat dia sangat terkejut. Ana yang takut, dengan spontan menggerakkan tangannya dan menarik tubuh Richard. Pria itu yang sebelumnya sedang melamun tentu saja segera tersadar dan ikut terkejut. Dia memalingkan wajah dan melihat ke arah Ana yang akan jatuh bersama dengan dirinya. "Ana?!" teriak Richard dengan khawatir.
Hingga terdengar suara kerasa yang cukup ngilu. Ana memejamkan sepasang matanya tapi dia merasa tidak kesakitan. Gadis itu juga merasa ada yang aneh dengan beberapa bagian tubuhnya. Ana langsung membuka matanya dengan cepat. Ternyata saat itu bibirnya dan bibir Pak Richard saling bersentuhan. Sementara telapak tangan Richard yang melindungi kepala Ana agar terhindar dari benturan.
__ADS_1
Richard tatap mata Ana dengan sangat dalam. Mereka mematung beberapa saat. Lalu Ana langsung mendorong tubuh Richard dengan tangannya sendiri. Membuat Richard jadi tersadar dan dia langsung menghindar. "Maaf, apakah kamu tidak apa?" tanya Richard terlihat peduli.