
Ana dan Richard sangat terkejut, mereka memalingkan wajah dengan bersamaan, menatap tegas wajah Bunda Lina yang sudah berdiri tegap dengan memasang tatapan dingin dan membawa perasaan tidak senang saat melihat keduanya.
"B-Bunda?!" ucap Richard dan Ana secara bersamaan. Mereka sangat gugup saat itu dan tidak tahu harus berbuat apalagi.
Tidak lama kemudian Richard pun langsung melepaskan genggaman tangannya yang cukup erat pada pergelangan tangan Ana. Mereka menjadi salah tingkah sendiri. "Bunda apakah sedang membutuhkan sesuatu?" tanya Ana dengan penasaran. Dia mencoba untuk mencairkan suasana dan meringankan keadaan. Ana sungguh khawatir jika Bunda Lina berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya.
Ana tersenyum dengan penuh kegugupan. Akan tetapi di sana Bunda Lina masih terdiam dingin. "Apakah Bunda sudah salah paham dengan kami berdua?" dalam benak Lina yang merasa khawatir.
"Apa yang sedang kalian lakukan di dalam kamar berduaan seperti ini? Richard! Katakan segera padaku!" kata Bunda Lina tegas. Menatap dengan tajam wajah putranya.
Richard langsung menghampiri tempat di mana Bunda Lina berada. Pria itu juga tidak melakukan apa pun, jadi dia tidak merasa cemas berlebihan. "Bun, semua yang kamu lihat hanyalah salah paham, jangan salah mengira ya? Bunda ada perlu apa datang kemari?" tanya Richard yang berjalan sambil mengulurkan tangan agar bisa menggenggam tangan ibunya.
Sementara itu di sana Ana hanya terdiam karena merasa tidak enak hati mengenai kejadian hari ini. "Salah paham apanya, Richard?! Kalian berdua bermesraan di dalam kamar, kalian bukan pasangan yang sah, mengapa kamu dapat dengan mudah melanggar norma! Apakah Bunda yang telah mengajarkannya?! Tidak kan?! Kamu harus menikahi Ana bagaimana caranya!" balas Bunda Lina dengan tegas. Dia tatap dengan dalam diri Richard.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, tentu saja Ana dan Richard sangat terkejut, mereka sangat tidak menyangka mengenai ucapan itu. "Apa?! Mengapa harus menikah? Kami tidak melakukan apa pun, Bun! Aku masih mengerti aturan," balas Richard dengan tegas.
"Setelah apa yang aku lihat? Kamu masih mengatakan tidak terjadi apa pun? Apakah ini anak yang aku lahirkan dan didik hingga sukses malah menjadi pria yang tidak bertangungjawab, apa kamu ingin membuat aku kecewa, Richard?!" tambah Bunda Lina yang semakin menjadi. Nada bicara dari wanita itu cukup tinggi.
Ana lagi-lagi hanya terdiam, karena dia merasa tidak memiliki hak apa pun untuk membela diri di hadapan orang yang memiliki kekuasaan. "Tidak, bukan seperti itu, Bund, tapi ini hanya kesalahpahaman saja! Bagaimana jika aku mengajak Bunda pergi ke taman untuk melihat pemandangan?" bujuk Richard. Sebenarnya tujuan dari pria itu agar Bunda Lina tidak lagi memikirkan tentang masalah itu.
"Aku tidak mau! Apakah kamu akan menolak perintah dari Bundamu ini, Richard?! Aku adalah perempuan yang mengandung dan melahirkan kamu, lho!" tambah Bunda Lina dengan tegas.
Richard hanya menganggukkan kepala, dia terlihat pasrah di hadapan ibunya. "Iya, aku tahu, tapi aku tidak melakukan apa pun dengan Ana, semua yang ibu lihat hanya kesalahpahaman saja, jika Bunda tidak percaya tanyakan sendiri kepada Ana! Benarkan, An?" kata Richard. Pria itu langsung memalingkan wajah dan melihat diri Ana.
Bunda Lina hanya terdiam, mendengarkan dengan baik setiap ucapan yang dilontarkan oleh Ana dihadapan wanita itu. Hingga Ana pun kembali terdiam. "Apakah kamu dipaksa oleh Richard untuk mengikuti keinginannya? Katakan saja An, dengan jujur, apa yang sebenarnya terjadi jangan takut dengan siapapun, aku akan melindungi kami, dari siapapun yang mencoba untuk menyakiti kamu!" balas Bunda Lina dengan tegas.
Ana menggelengkan kepalanya. "Tidak! Saya bicara dengan jujur, berdasarkan fakta yang terjadi dengan saya sendiri, Bunda jangan khawatir mengenai Pak Richard, saya yakin dia bukan pria yang seperti itu, Anda jangan pernah kecewa dengan dia, ya! Saya mohon! Anda baru saja bangun dari istirahat karena sakit terlalu lama, tolong tenangkan diri terlebih dahulu," tambah Ana yang mencoba untuk membela Richard agar terhindar dari fitnah yang disebabkan oleh dirinya juga di sana.
__ADS_1
Bunda Lina terdiam dan terus mendengarkan, begitu juga dengan Richard, pria itu terus memperhatikan wajah Ana dengan tegas. "Oh... Ana! Apakah kamu sangat ketakutan dengan Richard? Apakah dia sudah menekan kamu dengan sang dalam hingga kamu sangat tidak berani untuk mengatakan yang sejujurnya padaku?" tanya Bunda Lina yang langsung berjalan untuk bisa mendekati Ana.
Ana semakin bingung, karena melihat Bunda Lina yang tetap tidak bisa mempercayai mereka berdua. "Saya berkata jujur, Bunda! Bagaimana mungkin saya takut, Pak Richard bukan orang jahat kok, jadi mohon tolong Anda jangan memarahinya, mungkin ini adalah kesalahan saya juga yang terlalu lama berdiam diri di salam kamar Pak Richard, saya minta maaf," tambah Ana yang merasa bersalah.
"Oh, Ana, kamu memang anak yang baik, tapi aku tidak akan pernah membiarkan Richard bersenang-senang dengan kesalahannya, tanpa adanya tanggungjawab, dia tetap harus menikahi kamu, meskipun kalian bicara ini hanya salah paham, aku tidak bisa mempercayainya begitu saja, setiap wanita memiliki harga diri mereka sendiri, mereka wajib dihargai, dicintai dan dilindungi, Bunda mengerti betul bagaimana perasaan kamu, Sayang! Jangan khawatir Bunda ada di pihak kamu, sini peluk dulu," tambah Bunda Lina. Yang langsung mengangkat kedua tangannya untuk bisa memeluk tubuh Ana dengan hangat.
Ana kebingungan sendiri, dia tatap diri Richard yang hanya diam, keduanya tidak tahu harus berbuat apa terhadap Bunda Lina. Rasanya saat mereka bicara mengenai penolakan atau penjelasan Bunda Lina tetap tidak akan pernah mendengarkan mereka.
"Hais, bagaimana ini? Mengapa situasinya menjadi seperti ini sekarang? Aku jadi merasa tidak enak hati dengan Ana, Bunda sudah salah paham dengan kami, mungkin nanti aku akan bicara pelan-pelan dengan Bunda, setelah itu aku menemui Ana lagi, aku harap Bunda tidak serius dengan ucapannya, karena aku khawatir Ana menjadi tidak nyaman karena itu," dalam benak Richard dengan tegas.
Setelah beberapa saat, akhirnya Richard pun mendatangi kamar Bunda Lina, dia ketuk pintu dengan perlahan. "Bund," kata Richard.
Hingga pria itu pun mendengar suara Bunda Lina yang berbicara dengan seseorang. "Iya, aku akan mengadakan pesta pernikahan yang megah untuk putraku, tolong siapkan segala sesuatunya dengan baik dan benar."
__ADS_1
Richard terkejut dan hanya bisa terdiam. "Bunda ternyata sangat serius, aku harus menemui Ana kalau begitu," dalam benak Richard.