I Love You, Pak Ceo!

I Love You, Pak Ceo!
Canggung


__ADS_3

Suasana kembali canggung, mereka menghabiskan makanan dengan perlahan. Hingga akhirnya Ana pun masuk kembali ke dalam dapur, sambil membawa beberapa mangkuk sisa bekas makan mereka tadi.


Ana hendak mencuci mangkuk tersebut seorang diri, sudah menjadi kebiasaannya memang selalu melakukan segala sesuatu dengan sendiri tampa disuruh atau terpaksa. Ana yang baru saja meletakkan mangkuk ke dalam wastafel. Ana terlihat seperti sedang terlamun saat itu. Gadis itu memikirkan sesuatu yang cukup membebani dirinya, ya! Perkara dengan sebuah pernikahan, bagaimana mungkin Ana dapat lepas begitu saja mengenai hal itu.


Ana mulai menggosokkan sabun pembersih pada satu mangkuk yang berada dalam genggamannya. "Bagaimana ini? Aku sungguh tidak tahu apakah keputusanku ini benar atau tidak? Apakah benar aku akan menikah dengan seseorang yang aku sendiri saja tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap diriku, tanpa cinta dan sayang, mungkinkah semua akan berjalan dengan lancar? Dan dapatkah aku melakukannya? Pernikahan itu bukanlah hal yang sepele, tapi sangat besar, begitu berat bebannya, haaah... Aku rasa aku mungkin sudah cukup stress dengan segala masalah yang terjadi hari ini, setelah ini aku akan langsung tidur saja," dalam benak Ana yang mulai menerima semuanya meski belum sepenuhnya. Dia ingin menghindari perasaan yang tidak benar, mungkin itu prasangka negatif terhadap dirinya sendiri atau dengan orang lain.


Ana perlahan meletakkan mangkuk bersih di samping kanannya. Hingga beberapa kali, namun saat dia sudah selesai dengan pekerjaannya dia baru memalingkan wajah dan melihat di sana sudah hilang 3 mangkuk yang sebelumnya gadis itu cuci. "Lah? Di mana mangkuknya? Apakah terjatuh? Oh astaga, teledor sekali aku ini! Kemana perginya benda itu, kembalilah ayo!" kata Ana yang memasang tatapan cemas. Ana melirik kanan dan kiri, sambil menggerakkan tangannya dengan perlahan, melihat atas dan bawah. Namun tidak menemukan apapun. "Oh, astaga! Matilah aku, mangkuk pun malah hilang, kok sial sekali sih malam ini!" Ana mengeluh dengan perasaan yang bercampur jadi satu.


Sampai akhirnya, Ana dikejutkan oleh suara dari seseorang. Yang tidak lain adalah Richard, pria itu menatap diri Ana dan berdiri tegap di samping kanan dari tubuhnya. "Ana? Kamu kenapa?" tanya Richard penasaran.


Ana yang terkejut, langsung memalingkan wajah. "Ah, sial! Bagaimana aku dapat bicara, kalau aku sudah menghilangkan mangkuk itu," dalam benak Ana merasa bersalah.


"Hehe, Bapak Richard, hmm... Saya minta maaf ya, Pak, Mangkuknya hilang sendiri lho, bukan salah saya, tadi saya meletakkannya di atas sini, tapi mereka malah lari dengan sendirinya, mungkin karena saya terlalu menyebalkan," balas Ana yang langsung berterus-terang. Dia juga mengangkat tangannya dan menyatukan seperti orang yang sedang memohon kepada Pak Richard. Dia menundukkan kepalanya dengan cepat, dan khawatir Richard akan marah.

__ADS_1


Richard terdiam dingin melihat hal itu, dia terus memperhatikan Ana dengan tegas. Sampai akhirnya Richard pun malah tertawa. Hal itu tentu saja membuat Ana bingung sendiri. "Hah? Apakah ada yang lucu?" dalam benak Ana yang merasa tidak mengerti.


"Ana angkat wajahmu, tidak perlu meminta maaf begitu kepada saya, karena kamu tidak melakukan kesalahan apa pun," ucap Richard dengan tegas.


Ana sungguh senang saat mendengarnya. "Hah? Serius, Pak? Memang dasar mangkuknya kan yang salah, hehe," balas Ana dengan tersenyum manis. Meskipun dia juga agak merasa bingung sendiri.


"Ana.... Ana... Kamu ini lucu juga ya, mana mungkin sih ada mangkuk yang dapat lari sendiri? Kan ia benda mati, Tuhan tidak memberikan nyawa untuk mereka, ingat ini bukan di negeri dongeng," tambah Richard yang cukup terhibur dengan keluguan dari Ana.


"Makanya kalau sedang melakukan apa pun itu jangan sambil melamun, jadi bingung sendiri kan?" ucap Richard yang langsung mendekatkan wajahnya pada diri Ana. Sambil menatap dalam wajah cantik Ana yang masih bingung.


Ana hanya terdiam, dan menatap sepasang mata Richard, dia tertawa kaku merasa bersalah dengan tiba-tiba. "Hehehehe, maaf ya, Pak!" balas Ana yang mengakui kesalahannya.


"Dasar aku ini! Sungguh ceroboh sekali," dalam benak Ana yang merasa malu sendiri.

__ADS_1


"Tidak apa, Ana! Aku dari tadi berada di sini, memperhatikan kamu, dan akulah yang menyimpan mangkuk itu ke dalam raknya sendiri, aku kemari karena memang ingin menemui kamu, Na," kata Richard dengan tenang.


Mendengar hal itu tentu saja Ana jadi terkejut, dia sungguh tidak menyangka jadi sejak tadi dia bersama dengan Richard di dalam dapur. "Hmm, memang ada masalah apa, Pak? Kok ingin menemui saya? Adakah hal yang ingin Anda katakan kepada saya?" tanya Ana dengan keraguan. Namun dia mencoba untuk tetap berani bicara.


"Aku ingin meminta maaf mengenai kejadian tadi di ruang makan, aku tidak bermaksud melakukannya, maaf," kata Richard. Pria itu merasa sangat bersalah.


Ana sangat tidak menyangka mengenai hal itu, dia tatap wajah Richard dengan pandangan yang dalam. "Eh?! Seharusnya Bapak tidak perlu meminta maaf untuk hal apa pun, itu hanya kecelakaan kan? Jangan terlalu dipikirkan, saya merasa Anda tidak melakukan kesalahan apa pun terhadap saya," balas Ana dengan canggung. Tidak mungkin dia memarahi Richard, sedang dia pun tahu sendiri kejadian itu seperti apa.


Richard yang sejak tadi memperhatikan Ana, hanya terdiam mendengarkan gadis itu bicara. "Ya, tapi tetap saja, aku ingin meminta maaf padamu, aku khawatir kamu akan berpikir buruk mengenai aku, dan jadi kesal padaku, aku tidak mau hal itu sampai terjadi, apalagi setelah melihat reaksi kamu begitu dingin denganku, aku semakin merasa bersalah padamu, dan hal itu membuat aku merasa tidak nyaman jika terus menyimpannya," sambut Richard dengan tulus di hadapan Ana.


Ana kembali terkejut, dia sungguh tidak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh Richard kepada dirinya. Pria itu rela meminta maaf padanya agar Ana tidak marah kepada lelaki itu. Meskipun Ana sendiri tidak mempermasalahkannya. "Saya sangat menghargai permintaan maaf, Bapak, tapi ini bukan kesalahan yang harus Bapak tanggung, semua hanya kecelakaan saja, saya diam tadi karena saya merasa gugup dan canggung. Karena sebelumnya saya belum pernah melakukan itu dengan pria manapun, jadi perasaan itu begitu mengkhawatirkan saya, maafkan saya juga karena sudah membuat Bapak merasa resah," kata Ana dengan tegas.


Richard menghela napasnya cukup dalam, saat pria itu itu masih melihat raut wajahnya Ana yang begitu manis dihadapan lelaki itu. "Baiklah, Ana," balas Richard tersenyum juga.

__ADS_1


__ADS_2