
Ana jadi salah tingkah saat itu, dia cukup gugup untuk bagaimana memberikan balasan kepada Bunda Lina. Ana hanya menganggukkan kepalanya saja, semoga dirasa bahwa dia mengindahkannya. Sebenarnya tidak juga.
Hingga Bunda Lina pun tersenyum manis di hadapan Ana. Dia merasa sangat senang terhadap diri Ana. Mereka pun menuruni anak tangga bersama-sama untuk dapat mendekati meja makan yang sudah duduk dengan tenang Richard seorang diri.
"Oh ya ampun, ternyata kamu sudah ada di sini, Nak," ucap Bunda Lina dengan tatapan tegas memperhatikan Richard.
Mendengar hal tersebut, Richard terkejut dan langsung mengangkat wajahnya untuk bisa melihat diri Bunda Lina yang sudah bicara sejak tadi kepada dirinya. "Bunda, hehe.. Iya, nih," sambut Richard dengan gugup. Karena sebelumnya pria itu seperti sedang melamunkan sesuatu.
Namun Bunda Lina berhasil untuk membuat dia sadar, dan kembali pada keadaan saat ini. Richard membalasnya juga dengan senyuman yang paling manis dia miliki.
Hingga tidak lama kemudian, Richard memalingkan wajah untuk dapat melihat diri Ana yang saat itu berdiri dengan tegap di samping kanan tubuh Bunda Lina. Pria itu langsung memalingkan wajah untuk menghindarinya dengan cepat. Begitu juga Ana. Gadis itu yang memulainya karena perasaan gugup dan takut. Ana tidak berani berkata apa pun kepada Richard.
Ana dan Bunda Lina pun segera duduk di atas kursi makan mereka. Bunda Lina terlihat sangat senang karena menatap sebuah hidangan makan makan yang begitu indah dan lezat. "Apakah ini kamu sendiri yang membuatnya, Ana?" tanya Bunda Lina dengan penasaran. Sambil memalingkan tatapan dan mengarahkan pandangan dengan tegas kepada Ana.
__ADS_1
Ana yang mendengar hal tersebut, dia langsung menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Benar, Bunda... Bunda harus mencicipinya ya, semoga Bunda dapat menyukainya," balas Ana dengan tutur kata dan nada bicara yang begitu lembut.
Bunda Lina tersenyum manis kepada Ana. Dia merasa sangat senang memiliki sosok wanita seperti Ana yang pengertian. "Pastinya Bunda akan suka, terima kasih ya, An, Bunda akan mencicipinya beberapa sendok terlebih dahulu," balas Bunda Lina. Dia memang sudah meletakkan harapan yang besar terhadap masakan yang dibuat oleh Ana.
Ana terus menatap wajah Bunda Lina dengan cukup serius, saat itu Ana sedang duduk di samping kanan Bunda Lina. Richard mulai menaikan bola matanya untuk bisa melihat Bunda Lina yang hendak makan. Sampai akhirnya Bunda Lina berhasil menyimpan makanan itu ke dalam mulutnya. "Waaaah, enak sekali ini, aku sungguh sangat menyukainya, menurut kamu bagaimana Richard?" tanya Bunda Lina, yang terlihat sangat terpukau dan senang, lalu wanita itu pun menatap dengan pandangan dalam kepada Richard.
Richard yang mendengar hal tersebut, dia dengan tiba-tiba langsung tersenyum. "Ya... Masakan yang dibuat Ana memang sangat nikmat, Bunda," balas Richard dengan tenang.
Ana jadi merasa tersanjung dengan hal tersebut, dia malu sendiri. Namun bibirnya langsung memperlihatkan garis lengkung tulus kebahagiaan. "Terima kasih, Bunda," kata Ana yang mencoba untuk tenang.
Ana cukup terkejut mendengar hal itu, dia pun mencoba untuk melihat diri Richard lagi dan membuka suara untuk bicara, "Terima kasih, Pak Richard," ucap Ana yang hanya bisa pasrah.
Richard agak terkejut saat mendengar suara Ana yang ingin bicara dengan dirinya. Dia tahu gadis itu masih sangat malu mengenai hal apa yang terjadi kepada mereka sebelumnya. "Sama-sama, Ana, tidak perlu sungkan begitu, sudah semestinya bagi kami memuji masakan kamu yang memang benar-benar enak, jadi jangan khawatir," sambut Richard. Begitu lembut kepada Ana.
__ADS_1
Ana hanya tersenyum dengan kaku, lalu memalingkan wajah begitu cepat. Richard masih mengerti betul bagaimana saat ini suasana hati yang dirasakan oleh Ana. Bunda Lina yang mengetahui mereka berdua masih terlihat sangat canggung, akhirnya wanita itu pun berpikir cukup dalam. "Hais, mereka ini mengapa masih saja belum terbiasa? Sungguh pasangan yang lucu, aku baru pertama kali melihat adegan langsung yang seperti ini, Ana anak yang benar terjaga, begitu juga dengan Richard, aku mengetahui mereka dengan baik, sekarang aku harus membuat cara agar keduanya sama-sama biasa," dalam benak Bunda Lina yang terlihat sangat memedulikan Ana dan juga Richard.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun menjadi lebih tenang, hanya terdengar suara angin malam, dan taman air di halaman depan. Bunda Lina sungguh tidak menyukai suasana tersebut, dia pun menghela napasnya dengan dalam lalu segera bicara, "Ana... Richard," kata Bunda Lina dengan tegas.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat keduanya langsung fokus pada diri Bunda Lina. "Iya, Bunda?" tanya mereka dengan perasaan bingung.
"Mengenai masalah yang terjadi tadi pagi, Bunda benar-benar serius ingin menikahkan kalian, jadi Bunda harap kalian berdua tidak bertengkar dan membuat aku menjadi sedih, apalagi kamu Richard, kamu adalah seorang anak lelaki satu-satunya yang Bunda miliki, Bunda ingin kamu belajar untuk bertangungjawab atas kesalahan yang kamu buat sendiri, apakah kamu paham?" tanya Bunda Lina debat tatapan tajam dan dalam pada diri Richard.
Mendengar hal tersebut, masih saja Ana gugup dan terkejut, padahal dia sudah mewanti-wanti sebelumnya bahwa mungil saja hal itu akan terjadi dan kembali dibahas. "Richard tahu, Bunda, Richard mengerti dengan baik, Richard akan bertangungjawab atas diri Ana, Bunda tidak perlu khawatir," balas Richard dengan tegas.
Sementara itu Ana yang masih terdiam, merasa sangat tersanjung dan malu saat mengetahui sendiri jawaban yang diberikan oleh Richard untuk dirinya. Akan tetapi tiba-tiba saja Ana jadi disadarkan oleh sesuatu. "Tidak, jangan seperti ini Ana, kamu dilarang untuk membawa perasaan pada diri Pak Richard, kamu kan juga tahu sendiri Pak Richard melakukannya hanya untuk menyenangkan perasaan Bunda Lina, dia tidak benar-benar mengharapkan kamu, jangan terlalu senang, kamu seharusnya sadar diri," dalam benak Ana yang kembali tersadar akan kenyataan tersebut.
Gadis itu terdiam seperti patung hidup, hingga Bunda Lina pun memalingkan wajahnya dengan segera ke arah Ana. "Lantas bagaimana dengan kamu, An? Apakah kamu bisa menerima Richard? Aku ingin dia bertangungjawab atas dirimu," tambah Bunda Lina yang penasaran.
__ADS_1
Ana memalingkan wajahnya dan menatap diri Bunda Lina dengan tegas. "Hmm, saya tentu saja juga bersedia menerima segala keputusan dari tangan Bunda dan Pak Richard," balas Ana dengan tersenyum manis.
"Karena aku tidak memiliki hak untuk melibatkan apa pun," dalam benak Ana yang sadar akan posisinya.