I Love You, Pak Ceo!

I Love You, Pak Ceo!
Sahabat Ana


__ADS_3

"Jadi, gimana novel gue? Berhasil 'kan jurusnya?"


Gadis yang tadi baru saja datang untuk bertamu di rumah Ana kini sudah dibawa masuk ke dalam kamar oleh gadis itu.


Dia adalah Keyla, gadis yang sudah lama menjalin hubungan persahabatan dengan Ana. Hidup di pendesaan dengan ekonomi yang juga tergolong kelas bawah membuat keduanya lantas menjalin hubungan persahabatan.


Jika ada yang masih ingat di mana Ana mengirimkan pesan pada suatu malam itu. Keyla lah yang menjadi penerima dari pesan itu.


Ana dan Keyla kala itu masih terus berhubungan sampai ketika Ana pindah ke rumah baru. Keyla tiba-tiba saja tidak bisa dihubungi oleh Ana membuat gadis itu jadinya lost kontak. Ditambah Ana yang sudah berganti ponsel membuatnya tidak bisa menghubungi sang sahabat lagi.


"Dibeliin ponsel baru sama Ceo ganteng itu?" tanya Keyla menebak.


Ana pun sontak mengangkat wajahnya terlihat tersentak saat mendengar penuturan Keyla yang tepat sasaran sekali.


"Kok bisa tau? Aku kan belum cerita apa-apa," jawab Ana mengerucutkan bibirnya kesal.


Sementara Keyla justru hanya memecahkan tawanya puas. Keyla sudah menduga jika tebakan dari dirinya itu tidak akan pernah salah.


"Udah ketebak tau gak dari ekspresi wajah kamu itu. Ya udah sekarang cerita dong. Gimana? Sesuai sama yang aku rekomendasi in waktu itu gak?" tanya Keyla bertubi-tubi.


Gadis itu tampak tak sabar menunggu penjelasan detail dari sang sahabat.

__ADS_1


Sejurus kemudian Ana tampak meluruskan pandangannya. Mengingat semua kejadian yang beberapa hari ini sudah terjadi.


"Awalnya aku takut banget sih Key pas pertama kali datang ke kantor Pak Richard itu. Kalau bukan karena desakan dari kamu dan novel yang kamu kasih waktu itu, mungkin aku gak akan berani. Novel itu seakan menjadi seperti obat penenang buat aku. Aku juga gak nyangka kalo kejadian yang di novel itu terjadi juga di kehidupan aku waktu itu. Setelah aku ngamuk-ngamuk akhirnya Pak Richard setuju dan buat surat perjanjian kayak gitu. Sayangnya aku yang terlalu semangat karena tau keluarga aku gak akan hidup susah lagi. Aku langsung setuju dan tanda tangan begitu aja. Aku gak sempat baca isi dari surat itu. Ternyata di sana tertulis kalau aku sampai berani menolak perintah dari Pak Richard maka aku bakalan suruh bayar denda sebesar 1 milyar. Dia tipikal cowok yang kayak gak punya hati nurani. Hatinya batu tapi ada satu saat di mana aku ngerasa dia punya sisi baik. Cuman semua perintahnya pada gak masuk akal. Hari senin waktu itu, aku disuruh gantiin kerja OB. Aku bersihin satu kantor yang besar itu sendirian aja. 6 jam baru selesai. Belum lagi setelah itu aku disuruh sikat wc. Rasanya aku pengen pingsan waktu itu," ceritakan Ana begitu detail.


Keyla pun terkesiap mendengarnya namun meski dijadikan budak seperti itu. Dari raut wajahnya terpancar tetap kebahagiaan karena sekarang keluarganya hidup sangat berkecukupan.


"Capek sih memang tapi aku rasa sesuai aja sama bayarannya. Kalau bukan karena Pak Richard mungkin sekarang aku dan keluarga masih bakalan makan singkong rebus terus. Aku tetap senang untuk semuanya meski kadang aku suka ngeluh pas dikasih kerjaan kayak gitu. Aku cuman bilang bakal lakuin segalanya untuk Pak Richard tapi bukan berarti itu artinya aku menjadi budak untuk pria itu. Tapi, semua sudah terlanjur. Aku cuman bisa hadapin semuanya tanpa protes sekarang. Karena cuman itu yang bisa aku lakukan," tutur Ana tampak mengembangkan senyuman pahitnya.


Keyla pun mendekatkan tubuhnya pada sang sahabat. Membawa Ana masuk ke dalam pelukannya.


Tak terasa, semakin lama mereka mengobrol berdua. Waktu pun terus berlalu bahkan keduanya tanpa sadar sudah masuk ke dalam alam bawah sadar mereka.


"Hoam.. kapan ya aku ngantuknya? Tau-tau bangun udah sore menjelang malam kayak begini. Ana! Bangun yuk. Aku laper nih. Kayaknya orang rumah lagi pada gak ada deh. Kamu sekarang udah punya uang juga kan ya? Boleh traktir aku beli gorengan di dekat persimpangan di depan komplek sana gak? Aku laper banget nih," ucap Keyla yang ternyata bangun lebih dulu.


"Kamu tuh ya, ganggu orang tidur aja tau gak. Nyebelin banget. Ya udah deh ayo kita berangkat. Sebentar aku cuci muka dulu. Kamu juga cuci muka, takutnya nanti pedagangnya gak mau jualin dagangannya ke kita gara-gara bau jigong kamu yang menyengat gini," canda Ana mengejek sang sahabat.


Buru-buru Ana pun pergi dari hadapan sang sahabat. Berlari menjauh sebelum nanti ditangkap oleh Keyla itu.


Setelah cukup lama berberes diri, baik Ana maupun Keyla sontak keluar dari rumah baru berlantai dua itu.


Mereka pun berjalan kaki menyusuri setiap bangunan rumah yang juga tak kalah mewah dari milik Ana saat ini.

__ADS_1


"Gila, di sini rumahnya pada bagus-bagus semua ya, Ana. Jadi ke pengen deh suatu hari nanti tinggal barengan sama kamu gitu. Kita tetanggaan biar setiap hari aku punya temen deh. Duh, aku halu banget sih bisa satu komplek perumahan gitu. Kayaknya seru deh kalo nanti anak-anak kita main bareng. Lalu kita sebagai orang tuanya yang jaga dia. Sama-sama terus meski kita sudah saling berkeluarga. Aku mimpi in banget kejadian itu terjadi," tutur Keyla saat mereka melalui beberapa bangunan rumah yang dirasanya sangat bagus.


Ana pun tersenyum, tentu saja dirinya pu memiliki pemikiran yang sama seperti Keyla. Ia juga ingin terus berdekatan dengan sahabatnya itu.


"Semoga nanti kita bisa sama-sama terus ya, Key. Aku juga berharap bisa kayak gitu. Kalau bisa mungkin sekalian aja suami kita berdua itu nanti ceritanya sahabatan. Jadi, kita sahabatan mereka juga sahabatan. Pasti bakalan pas banget," balas Keyla membuat sang sahabat turut menganggukkan kepalanya menyetujui.


Tak jauh dari posisi mereka saat ini, Keyla dan Ana sudah melihat tempat pedagang yang akan dituju mereka itu.


Secara bergandengan seperti sebelumnya, keduanya berjalan menghampiri pedagang gorengan itu.


Mata Keyla tampak berbinar-binar. Ana tau, pasti gadis itu sudah sangat lama tidak makan makanan seperti sekarang.


"Bang! Pesan gorengannya 20 ribu ya. Terus sama pisang kejunya satu porsi dan es kelapanya 2. Dibungkus semua ya Bang," ucap Ana mengatakan pesanannya.


Belum dibungkus oleh sang pedagang, Keyla sudah lebih dulu mencomot tempe gorengan yang menjadi kesukaannya itu.


"Nanti kalo kamu butuh apa-apa langsung hubungin aku aja ya. Jangan sungkan untuk cerita apapun ke aku," sambung Ana kembali yang diangguki cepat oleh sang sahabat.


Tak lama setelah itu, terdengar sebuah suara yang tak asing di telinga Ana. Ia lalu berbalik dan mendapati dua sosok pria yang sangat dikenalinya.


"Pak Richard? Pak Aldi? Kalian di sini juga?"

__ADS_1


Dahinya pun berkerut dengan senyuman yang merekah sempurna di wajahnya.


***


__ADS_2