I Love You, Pak Ceo!

I Love You, Pak Ceo!
Mendapatkan Informasi


__ADS_3

Seorang wanita yang tampak sudah berusia lanjut itu mulai berjalan memasuki sebuah ruangan yang didampingi oleh seorang bodyguard berotot.


Tidak ada yang berani memiliki niat buruk dengan wanita itu karena jika sampai ada yang berani macam-macam maka bersiaplah kemungkinan besar lehernya akan patah.


Sejurus kemudian ia disambut dengan seorang berpakaian pelayan memberikan kursi padanya untuk dirinya duduki.


"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan semua informasinya?" tanya wanita itu pada dua orang pasang laki-laki dan perempuan yang baru saja datang dan langsung menghadap ke arah dirinya.


Keduanya menunduk tak lama kepalanya mulai terlihat mengangguk dengan ritme yang cukup pelan.


"Semuanya sudah saya selidiki Nyonya besar. Anda tenang saja. Saya yakin kita tidak salah sasaran saat ini. Saya akan mengawasinya lebih intens lagi," sahut sang lelaki tak berani mengangkat wajahnya.


"Saya juga sudah menggali informasi tentangnya Nyonya. Saya yakin, data yang sudah saya kirimkan kepada Nyonya adalah data yang sebenarnya. Profil diri dan riwayat hidupnya saya yakin kalau orang itu adalah orang yang selama ini Nyonya cari."


Kini giliran gadis dengan rambut yang dikuncir itu yang menyahut.


Wanita itu pun sontak terdiam selama beberapa waktu. Perlahan, kepalanya mulai terlihat mengangguk dengan ritme yang teratur.


"Baiklah. Terima kasih untuk kerja keras kalian berdua. Saya ingin kalian segera lanjut pada point kedua. Jangan sampai kalian dicurigai. Hanya kalian yang bisa saya andalkan untuk misi selanjutnya ini," tutur wanita itu kembali yang langsung diangguki patuh oleh sepasang gadis dan pria di hadapannya saat ini.


Wajahnya pun kini tampak mengukirkan senyuman yang begitu mengembang sempurna.


Hari yang dari dulu sudah ditunggunya sejak lama, sebentar lagi ia rasa akan segera tiba.


Wanita yang sudah tidak muda lagi itu sangat berharap waktu cepat berlalu dan semuanya cepat-cepat terjadi. Sementara menunggu hari itu tiba, wanita itu kini mulai menyibukkan diri untuk mempersiapkan segalanya.


"Saya percaya, kalian berdua pasti tidak akan membuat saya kecewa. Jadi tolong jangan hancurkan kepercayaan yang sudah saya berikan kepada kalian berdua," tuturnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan yang tampak begitu privasi itu.


Bodyguard dengan tubuh kekarnya itu terlihat mengekor di belakang sang wanita paruh baya.


***


"Aduh! Siapa sih yang nelpon terus kayak gak tau orang lagi siap-siap aja pas pagi kayak gini. Awas aja kalo sampai nomor yang gak dikenal. Aku banting beneran ponsel berisik itu," gumam Ana pelan yang baru keluar dari kamar mandinya.

__ADS_1


Dengan mulut yang masih terus mengoceh, mencak-mencak marah.


Ana pun bergegas mengambil ponsel yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya itu.


Matanya membelalak sempurna saat nama yang tampil di layar itu ternyata sangat dikenali olehnya.


"Pak Richard?! Ya ampun! Habislah aku sekarang. Pak Richard pasti bakalan marah besar sekarang gara-gara aku abai in telponnya sampai berpuluh-puluh kali kayak begini," dialog Ana pada dirinya sendiri.


Tepat seperdetik setelah dialog itu, panggilan telpon dari orang yang sama pun muncul di layar ponselnya.


Berkat berguru dengan Pak Aldi beberapa hari belakangan ini akhirnya Ana sudah bisa menggunakan ponsel itu.


"Halo, Pak? Maaf banget Pak tadi saya di kamar mandi. Jadi, saya gak tau kalau Pak Richard nelpon saya. Ada apa ya, Pak?" tanya Ana begitu sambungan telpon itu telah terhubung.


Terdengar suara ocehan dari balik ponsel itu membuat Ana berulang kali menjauhkan sang ponsel dari telinganya.


Ia tidak ingin sampai jadi budek karena ulah pria itu.


Baru saja Ana akan membuka mulutnya kini langsung ditutup oleh gadis itu kembali. Seperti itulah untungnya menjadi seorang atasan.


Tanpa harus menunggu persetujuan dari lawan bicaranya dulu mereka langsung bisa mengambil kesimpulan begitu saja.


Dengan gerakan yang cepat dan terburu-buru tentunya, Ana pun bergegas mencari pakaian yang pantas untuk dikenakannya.


Meski ia hanya akan bertemu dengan orang asing yakni Ibu dari Richard itu. Namun, rasanya Ana harus tampil formal dan berkesan di hadapan wanita itu nantinya.


Ia tidak ingin, ada nilai buruk yang ditangkap oleh wanita itu kepadanya.


Sekitar 30 menit lamanya, Ana bersiap dan mengendarai motor maticnya. Begitu ia sampai, pagar pun langsung dibuka begitu saja oleh satpam.


Mungkin, Richard sudah menghubungi pria itu untuk menunggu dirinya yang pasti akan datang ke rumah.


"Langsung masuk aja, Non. Nyonya ada di dalam," ucap sang satpam memberitahukan.

__ADS_1


Setelah melepas helm-nya, Ana pun sontak mengangguk pelan sebelum akhirnya berjalan cepat menuju pintu besar rumah yang lebih tampak seperti istana itu.


"Permisi!"


Ana pun mengetuk pintu rumah itu beberapa kali. Ia tau ada bel yang bisa dipencet-nya. Namun entah kenapa, ia merasa lebih baik manual seperti itu saja.


Tak lama setelah itu terdengar suara seorang wanita mengalun di telinga Ana. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang.


Namun sebisa mungkin Ana menyembunyikan atau bahkan menghapus rasa deg-degan itu dari dalam dirinya.


Pintu itu pun sontak terbuka lebar beberapa saat setelahnya. Terlihat seorang wanita yang sudah tidak muda lagi itu berdiri menyambut dirinya.


Meski sudah berusia lanjut namun wajah cantik itu masih terlihat terurus. Tanpa harus bertanya lagi, Ana tentu sudah bisa menebak siapa wanita itu.


"Kamu Ana, ya? Tadi Richard udah nelpon Bunda, katanya bakalan ada asistennya yang datang buat ambil berkasnya yang ketinggalan. Ayo masuk dulu ke dalam. Biar Bunda antar kamu ke ruang kerjanya Richard," ucap ramah wanita itu.


Ana bergeming dalam beberapa waktu sebelum akhirnya ia menuruti perkataan wanita itu. Entah mengapa, Ana merasa ada yang aneh dari wanita itu.


"Anda tidak apa-apa? Saya lihat wajah anda sekarang tampak begitu pucat. Apakah anda sakit?" tanya Ana yang membuat wanita itu menggeleng.


"Saya Lina. Panggil saja Bunda Lina. Atau Bunda saja. Bunda baik-baik saja. Hanya rasanya kepala Bunda sakit sedikit sekarang," balas Bunda Lina tersenyum hangat.


Bunda Lina pun berjalan di depan Ana. Namun, seperti ada yang janggal dalam penglihatan Ana kala itu.


Benar saja, sekitar 5 langkah setelahnya. Tubuh Bunda Lina pun langsung ambruk begitu saja. Untunglah, Ana dengan sigap memegangi tubuh wanita itu.


"Bunda! Bunda? Apa Bunda baik-baik saja? Bunda, sadarlah! Ya ampun aku harus gimana sekarang?!" panik Ana merasa bingung.


Setelah cukup lama terus mencari akal, hanya nama Richard lah yang terbesit di benak Ana kala itu. Ia langsung saja mengambil ponselnya dan menelpon pria itu.


"Halo, Pak! Bapak cepat pulang sekarang juga. Bunda Lina pingsan, Pak. Wajah Bunda terlihat sangat pucat!" ucap Ana saat sambungan telpon itu terhubung.


***

__ADS_1


__ADS_2