I Love You, Pak Ceo!

I Love You, Pak Ceo!
Harapan Bunda


__ADS_3

Richard pergi meninggalkan ruangan itu, dia terlihat cukup tergesa-gesa dengan langsung kaki yang cepat, hingga tidak lama kemudian Richard pun menemukan Ana yang sedang berdiri tegap di dekat halaman rumahnya. Gadis cantik itu seperti sedang melamunkan sesuatu.


"Itu dia, apa yang sedang dia lakukan di sana? Hais gadis ini!" dalam benak Richard. Pria itu segera menghampiri tempat di mana Ana berada.


Sementara Ana yang masih menatap tenang langit yang indah berwarna biru. Dia segera menghela napas cukup dalam. Menghirup segar udara alam yang masuk ke dalam rongga hidungnya. "Haaaah, tenangnya," dalam benak Ana. Gadis itu memejamkan mata untuk waktu yang cukup lama.


Sampai akhirnya, muncul kepada dia Richard yang datang untuk mengagetkan. "Ana!" ucap pria itu dengan suara khasnya.


Ana yang terkejut segera memalingkan wajahnya dan menatap tegas diri Richard. Memasang tatapan tajam dan raut wajah tegang. "Iya?" balasnya, seperti sedang melihat hantu.


Richard hanya diam sambil terus memperhatikan diri Ana. Hingga Ana pun langsung memperbaiki ekspresi wajahnya. "Eh, Bapak, maaf Pak! Ada apa ya mencari saya?" tanya Ana yang langsung sadar. Dia cukup gugup dihadapan Richard.


Richard terdiam sesaat, dia tidak memedulikan sikap Ana sebelumnya kepada dirinya. "Saya ingin bicara serius dengan kamu, mengenai Bunda Lina, tapi aku tidak bisa menyatakannya di sini, mari ikut denganku ke taman belakang," tambah Richard dengan tegas. Dia sedang memerintah seseorang saat itu.


Ana yang tidak mengetahui apa pun, dia hanya menganggukkan kepala dan menerimanya dengan lapang dada. "Baiklah, Pak!" balas Ana. Yang sebenarnya juga merasa bingung.

__ADS_1


Saat itu memang Richard yang memimpin jalan, sementara Ana berada tepat di belakang pria gagah dan tampan tersebut. Gadis itu masih kebingungan dalam pikirannya sendiri. Dia memperhatikan diri Richard beberapa kali.


Hingga mereka pun tiba di dalam taman yang sebelumnya dikatakan oleh Richard. Ana melihat Richard yang duduk langsung di atas kursi taman berwarna putih. Sementara Ana berdiri tegap di samping kursi itu. Richard segera memalingkan wajah dan menatap tegas diri Ana. "Apa yang sedang kamu lakukan di situ? Cepat duduk di sini denganku," kata Richard begitu tegas.


Mendengarnya tentu saja membuat diri Ana terkejut, dan langsung menganggukkan kepala dengan patuh. "Oh, baik, Pak! Jadi ada hal apa yang ingin Anda sampaikan kepada saya?" tanya Ana penasaran.


Mereka saling memandang, sebelum pembicaraan yang dimaksud Richard pria itu keluarkan. "Hah... Bunda ingin kita menikah!" balas Richard tegas. Namun sebelumnya pria itu menghela napasnya.


Ana terkejut bukan main, dia membulatkan sepasang matang dengan sangat tajam. "Hah?! Apa?! Bunda Lina ingin kita, aku dan Bapak menikah?! Bagaimana mungkin? Apakah Bapak tidak menjelaskan kembali kalau kejadian di kamar itu sebelumnya hanya kesalahpahaman saja?" sahut Ana dengan perasaan yang sangat tidak tenang.


Ana yang terkejut, setelah dia berpikir cukup dalam. Segera tangan kanan Ana menggenggam erat lengan kanan Richard. "Pak, jangan, sebaiknya kita duduk kembali dan membicarakan lagi semua itu dengan tidak terburu-buru, saya membutuhkan pendapat dari Bapak, dan Anda juga pasti butuh pendapat saya sendiri, kan?" tanya Ana dengan tegas.


Richard menatap dengan dalam sepasang mata Ana. Dia hanya diam. Kemudian pria itu menganggukkan kepalanya. "Jadi bagaimana menurut kamu?" tanya Richard tegas.


Ana menggerakkan bola matanya dengan cukup cepat, dari kanan ke kiri. Hingga gadis itu menggigit bibir bawahnya, kembali menatap wajah Richard dengan cukup dalam. "Jika itu permintaan dari Bunda Lina, mungkin saya tidak akan mungkin memiliki pilihan lain selain menerima, kalau Bapak sendiri?" tanya Ana lagi. Yang agak gugup.

__ADS_1


"Tidak... Aku bukan sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan, bukan... Itu tidak benar," dalam benak Ana yang merasa bersalah awalnya. Hingga dia berpikir kembali mengenai pilihan itu.


"Ya, aku pun sama dengan kamu! Aku tidak mungkin membantah apa yang diinginkan oleh Bunda Lina, dia adalah ibuku sendiri, Aku wajib menuruti segala hal yang dia inginkan," sambut Richard yang sangat berani.


Ana hanya terdiam, meskipun itu adalah keputusan yang cukup sulit dia ambil, namun gadis itu seperti tidak ingin menghancurkan perasaan orang lain, apalagi dia adalah Bunda Lina. Ana yang merawatnya dahulu dan kini tidak bisa bagi gadis itu untuk membuat wanita itu menjadi kecewa.


"Namun aku akan berjanji padamu, setelah kamu menjadi istriku, aku akan tetap menjaga batas dengan kamu, aku tidak akan bersikap kurang ajar padamu," kata Richard dengan tegas.


Ana hanya terdiam sambil menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


"Ana, hubungan ini hanya sekadar kamu ingin membantu Bunda Lina saja, tidak ada alasan lainnya," dalam batin Ana yang mencoba untuk meyakinkan diri lagi. "Jadi kamu tidak perlu khawatir ya, kamu kan juga tahu siapa itu Pak Richard, jadi aku akan tenang." Kembali batin Ana bicara dengan tenang. Berusaha untuk tidak khawatir.


Kembali pada diri Bunda Lina, terlihat wanita itu yang masih berada di dalam ruangan kamarnya. Tidak lama kemudian dia hendak berjalan keluar untuk menuju dapur karena merasa haus. Ketika Bunda Lina mengambil air dan menuangkannya ke dalam gelas dia sempat bicara sendiri. "Haih... Semoga semua rencana yang telah aku buat ini berjalan dengan sangat lancar dan baik," ucap Bunda Lina yang sedang bermonolog.


Bunda Lina segera menggenggam erat gelas yang berada di atas meja. Kemudian wanita itu pun meneguk air dengan perlahan sambil menatap ke arah depan. Hingga tidak lama kemudian Bunda Lina dibuat terkejut dengan suatu hal yang sangat menghangatkan hati. "Ana dan Richard di taman?!" ucap Bunda Lina yang hampir tersedak oleh air. "Oh, ya ampun, sepertinya mereka sedang membicarakan suatu hal yang serius," tambah Bunda Lina yang terus saja mengamati dengan jeli. Wanita itu berhasil menemukan keberadaan dari Ana dan Richard dalam ketidaksengajaan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Bunda Lina malah memasang senyum yang paling indah dan memenangkan hatinya. "Aku harap mereka akan menjadi pasangan yang cocok untuk ke depannya, aku tahu Richard dan Ana bukan anak sembarangan, tidak mungkin mereka akan berani melakukan hal tidak senonoh, karena semua itu hanya akal-akalan diriku saja untuk dapat mempersatukan mereka," dalam benak Bunda Lina.


__ADS_2