I Love You, Pak Ceo!

I Love You, Pak Ceo!
Perlu Bantuan?


__ADS_3

Ana dengan perlahan mencoba untuk bangkit, dia terlihat sangat malu saat itu. Ana langsung memalingkan wajah untuk menghindari tatapan dari Richard. "Saya baik-baik saja, Pak!" kata gadis itu dengan gugup.


Mendengar hal tersebut Richard mengerti betul bagaimana perasaan dari Ana saat ini, pastilah gadis itu sangat malu dengan dirinya, apalagi mereka melakukan itu tanpa kesenjangan. Bukankah saat ini Richard akan terlihat seperti pria yang kurang ajar?


"Apakah kamu perlu aku bantu?" tanya Richard dengan gugup.


"Ti--tidak perlu, Pak, saya dapat bangkit sendiri, sebaiknya Anda segera memakan sup Anda, jika dingin nanti akan menjadi tidak enak lagi," tambah Ana. Gadis itu dengan perlahan bangkit dari tempatnya. Dan berjalan untuk bisa meninggalkan meja makan. Langsung kaki yang cukup cepat. Hingga gadis itu berlalu begitu saja.


Sementara Richard hanya terdiam, mereka sekarang sudah semakin canggung. Hingga pria itu kembali duduk di atas kursi dan memilih untuk makan. Ana yang masih berjalan, dia langsung menghentikannya dan memalingkan wajah ke arah samping kanan, dia tatap diri Richard, dan mulai memperhatikan punggung tangan Richard yang mungkin saja terluka. "Apakah dia akan baik-baik saja?" dalam benak Ana yang menyimpan keresahan dalam diri.


Dia melihat Richard yang kembali makan, menyantap dengan cukup lahap hidangan buatan Ana. "Hais, apa yang sedang aku lakukan?! Untuk apa juga aku memperhatikan Pak Richard sampai seperti ini? Sungguh membuat malu saja," dalam benak Ana. Gadis itu segera mengembalikan pandangannya pada arah sebelumnya. Ana kembali melangkahkan kaki panjang itu untuk segera menghampiri kamar besar milik Bunda Lina.


Bunda Lina saat itu sedang berada di dekat tangga kamarnya paling atas, dia sebenarnya telah melihat semua hal yang sebelumnya telah terjadi. Wanita itu hanya terdiam dengan memasang senyuman manis. Mengetahui Ana yang hendak mendatangi dirinya. Bunda Lina pun segera memalingkan tubuh dan kembali masuk ke dalam kamar, tidak lupa menutup pintu dengan perlahan agar tidak terdengar oleh Ana.

__ADS_1


Kemudian Bunda Lina berpura-pura untuk duduk dengan tenang di atas kasurnya sendiri. Dan memasang tatapan tegas seperti biasanya, padahal sebenarnya wanita itu merasa sangat senang dengan apa yang terjadi sebelumnya. "Syukurlah, mereka sudah jauh lebih dekat sekarang, sungguh pasangan yang manis, aku jadi teringat dengan masa mudaku, sungguh mengasyikkan," dalam benak Bunda Lina. Saat ini wanita itu sedang bernostalgia. Dia kembali teringat akan peristiwa di masa lalu mengenai hubungannya yang begitu indah dengan sang suami.


"Aaawww... Anak muda jaman sekarang memang sangat enerjik ya, semoga dengan adanya kejadian ini, aku dapat melihat mereka jauh lebih dekat dan semakin baik lagi," dalam benak Bunda Lina. Wanita itu menitipkan harapan yang cukup besar terhadap Ana dan Richard. Hingga dia memejamkan sepasang matanya untuk melakukan do'a di hatinya yang dalam.


Tidak lama kemudian, kini Ana sudah berada di depan pintu kamar Bunda Lina. Dia menghentikan langkah kakinya, berdiri dengan tegap melihat papan besar tersebut. Ana menghela napasnya dan mencoba untuk membiasakan diri. Agak tidak terus terpikirkan oleh kejadian sebelumnya saat itu bersama dengan Richard. "Tenang Ana, ayolah tenang!" dalam benak Ana yang berusaha mati-matian untuk terlihat biasa saja.


Dengan perlahan Ana langsung mengangkat tangan kanannya dan mengetik pintu kamar Bunda Lina secara perlahan. "Bunda... Ini saya Ana, makan malam sudah siap, Bunda ingin saya mengantarkannya kemari atau ikut dengan saya turun ke bawah?" kata Ana dengan suara yang begitu tenang dan lembut.


Bunda Lina yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung terkejut, wanita itu segera memalingkan wajahnya dan menatap pintu kamar yang tertutup dengan rapat. "Ana?! Astaga, membuat kaget saja," dalam benak wanita itu yang langsung tersenyum.


Mendengar jawaban tersebut, Ana tidak membantahnya sama sekali. "Baiklah saya akan menunggu," sahut Ana dengan nada bicara yang rendah.


Bunda Lina segera bangkit dari duduknya dan dengan perlahan berjalan untuk bisa menemui Ana. Wanita itu langsung mengulurkan tangan kanannya untuk bisa meraih daun pintu. Tidak lama kemudian Ana dapat melihat Bunda Lina yang sudah berdiri tepat di hadapan Ana. Menatap wajah Ana dengan tenang. "Mari kita turun," ucap Bunda Lina dengan suaranya yang menenangkan.

__ADS_1


Ana menganggukkan kepalanya, lalu dia pun segera memalingkan tubuh untuk kembali berjalan. "Ana," kata Bunda Lina lagi yang datang memanggil.


Ana yang mendengarnya dengan jelas, langsung memalingkan wajah. "Iya, Bunda?" tanya Ana penasaran.


Saat itu terlihat memang Bunda Lina sedang menutup pintu kamar dan masih sambil melihat diri Ana. "Apa yang terjadi dengan wajahmu? Mengapa sangat merah, apakah kamu demam?" tanya Bunda Lina dengan tenang.


Mendengar hal tersebut, Ana pun jadi salah tingkah sendiri, gadis itu awalnya bingung harus bagaimana memberikan balasan, lalu dia pun memilih untuk mengeles saja. "Hah? Demam? Tidak Bunda, mungkin karena cuaca yang dingin, jadinya wajah Ana kemerahan, tapi Ana tidak apa, Bunda! Oh ya, Ana tadi membuatkan Bunda Lina sup ikan lho, Bunda harus menghabiskannya ya?" balas Ana yang mencoba untuk menghindar.


Bunda Lina terdiam beberapa saat, ketika dia mendengar balasan dari Ana sendiri. "Hmmm, begitu ya, jangan dibiarkan, nanti khawatirnya malah menjadi parah, nanti Bunda akan bilang ke Richard untuk membelikan kami obat ya, apa perlu ke rumah sakit juga?" tanya Bunda Lina dengan penasaran.


Ana sangat terkejut mendengar hal tersebut. "Hah?! Ti--tidak perlu, Bunda! Sungguh tidak perlu, Ana baik-baik saja kok, jangan terlalu khawatir apalagi sampai melibatkan Pak Richard," sahut Ana dengan gugup.


Bunda Lina terlihat bingung sendiri. "Lho, mengapa memangnya? Apakah kamu masih kesal dengan perbuatan yang dilakukan oleh Richard tadi pagi kepada kamu? Oh, Ana... Janganlah kamu khawatir, aku pasti akan meminta Richard untuk segera bertanggungjawab atas dirimu, Bunda tidak akan membiarkan kami menderita, Sayang! Kalian akan Bunda nikahkan segera!" balas Bunda Lina dengan tegas.

__ADS_1


Ana sangat terkejut saat dia mendengar hal itu, karena sebenarnya dia tidak ada maksud untuk membahas masalah itu lagi. "Aaah, bukan seperti itu, Bunda! Mohon Anda jangan salah paham, saya tidak terlalu memikirkan hal tersebut, sungguh bukan karena itu... Saya hanya tidak ingin merepotkan siapapun, apalagi saya paham bagaimana diri Pak Richard, dia sudah disibukkan oleh banyak hal hari ini, dia seharusnya beristirahat dengan baik," tambah Ana yang mencoba untuk memberikan kejelasan.


Mendengar hal tersebut, Bunda Lina pun hanya menganggukkan kepala. Dan dia langsung menggandeng telapak tangan Ana dengan hangat. "Oh, Ana! Kamu memang anak yang baik, tidak salah aku memilih kamu untuk mendampingi putraku Richard, tolong jaga dia ya, Bunda mohon," ucap Bunda Lina dengan penuh harap.


__ADS_2