I Love You, Pak Ceo!

I Love You, Pak Ceo!
Aku Pulang!


__ADS_3

"Ibu. Aku pulang!" seru Ana seraya membuka pintu rumahnya yang memang tidak dikunci itu.


Seketika semua rasa penat dan lemas yang dirasanya sirna begitu saja. Ketika dengan jelas, tertangkap oleh matanya bagaimana sang Ibu yang menyambut dirinya dengan penuh semangat.


Tidak ada lagi raut kesedihan karena terus mendapatkan hinaan dan celaan dari para tetangga seperti biasanya. Kini, yang tertinggal hanyalah wajah yang dipenuhi raut ceria dan bahagia.


Semua seolah diraup hilang mungkin terbawa oleh angin lalu.


"Ana sudah datang, Nak? Sini-sini Nak. Ibu sudah masakan makanan buat kamu. Uang yang tadi kamu kasih sudah habis, Nak. Ibu belikan buat bahan-bahan bikin rendang ini," tutur Bu Sri takut jika sang anak merasa terkejut nantinya kalau dirinya tidak mengatakan uang yang telah diberikannya sudah habis.


Ana pun tersenyum, mengecup singkat pipi sang Ibu. Ia merangkul sang Ibu sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Uang itu sudah aku kasihkan ke Ibu. Jadi, Ibu bebas mau beli apa aja dan habisin untuk apa aja uang itu. Uangnya cukup aja kan, Bu? Atau justru kurang? Biar besok aku kasih uangnya agak lebih kalau memang tadi uangnya kurang," balas Ana membuat sang Ibu buru-buru menggelengkan kepalanya cepat.


Baru pertama kali ini, Bu Sri bisa membeli apa saja yang ingin dibelinya saat di pasar.


Bu Sri sangat senang bahkan tadi ada lebihannya. Mana mungkin, sekarang Bu Sri malah mengatakan jika uang belanja itu kurang kepada sang anak.


"Cukup kok, Nak. Besok-besok uangnya mending kamu tabung aja. Tadi, Ibu juga sudah beli telur dan tempe tahu. Kasihan kamu Nak kerja keras tapi uangnya malah dihabisin sama Ibu dan Riko. Mending sekarang untuk beberapa hari ke depan, uang yang kamu punya di simpan aja dulu ya. Buat tabungan kamu aja. Riko juga pasti sudah sangat senang kalau tau makannya pakai telur," ucap Bu Sri merasa tak enak hati karena telah merepotkan sang anak.


Mendengar hal itu, Ana sontak menggelengkan kepalanya cepat. Ia benar-benar tidak setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ibunya itu.


"Ibu ngomong apa sih? Aku kerjakan juga buat bahagia in Ibu sama Riko. Tujuan aku kerja keras kayak begini setiap harinya itu biar bisa bahagia in kalian berdua. Lalu, bagaimana mungkin aku bisa simpan uang itu aja. Pokoknya Ibu tenang aja. Ibu gak perlu mikirin soal uang apapun. Setiap hari, aku bakalan kasih uang belanja ke Ibu. Bos aku kebetulan kasih uang lebih ke aku. Jadi, Ibu gak perlu khawatir soal uang. Yang penting Ibu sama Riko harus makan dengan layak!" balas Ana seraya mengembangkan senyuman di wajahnya.


Ia lalu mendekap erat tubuh sang Ibu selama beberapa saat. Bu Sri pun membalas pelukan itu dengan senang hati.


"Selamat siang everybody! Riko si cowok paling ganteng si antero sekolah Permana ini sudah pulang! Duh! Sweet banget sih Ibu dan anak yang satu ini. Jadi pengen ikutan juga. Peluk Riko juga dong!" ucap Riko yang kala itu berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Kedua tangannya tampak direntangkan. Dalam hitungan detik setelahnya, ia pun langsung saja berlari kecil ikut berpelukan dengan Ibu dan anaknya itu.


"Ya udah, malu ih dilihat sama tetangga. Ayo sekarang kalian berdua duduk. Ibu akan sajikan makan siang untuk kalian berdua. Mengerti?" ucap Bu Sri memerintahkan kedua anaknya itu.


Bu Sri pun tampak memasang wajah sok galaknya seakan mengancam kedua anaknya agar harus menuruti dirinya.


Baik Ana maupun Riko dengan cepat langsung bergegas mengambil posisi duduknya.


Seperti biasa akan ada pertengkaran kecil setiap kali mereka akan makan siang.


"Gak! Aku duluan yang ambil tempat ini. Ini tempat duduk aku pokoknya titik!" tegas Riko sampai-sampai memeluk kursi yang katanya sudah di pilih olehnya itu.


Ana pun memasang raut wajah memberenggutnya. Seolah tak ingin mengalah, ia lalu ikut menarik balik kursi itu dari pelukan sang adik.


"Gak boleh! Ini punya aku. Kakak lebih tua, jadi kakak duluan yang harus pilih kursi dan ambil keputusannya," tutur Ana tak ingin mengalah.


"Udah-udah. Kalau patokannya adalah siapa yang lebih tua maka dia yang bisa mengambil keputusan di rumah ini. Maka dengan tegas Ibu katakan kalo Ibu yang akan ambil keputusan. Ana kamu duduk di sebelah kanan. Lalu Riko duduk di hadapan kursi Ana. Kursi yang kalian rebutkan ini, jadi kursi Ibu. Tidak boleh ada protes lagi karena ini sudah diputuskan. Paham?" tutur Bu Sri membuat keduanya tak mampu berkutik apapun.


Mereka pun mulai berpisah menuju ke tempat yang sudah ditentukan untuk masing-masing.


Bu Sri pun mengembangkan senyumannya. Ia merasa begitu bersyukur dan bahagia untuk semua anugerah yang didapat oleh keluarganya saat ini.


Meski rasanya seperti mimpi saja karena semua terjadi begitu cepat. Namun, Bu Sri tidak bisa menampikkan satu hal jika dia sangat bahagia untuk semua ini.


"Ayo, sekarang kalian berdua makan masakan Ibu ini. Jangan bilang ada yang bakalan minta tambah setelah ini. Makan yang lahap ya kalian berdua. Inget harus akur. Gak boleh berdebat dan bertengkar lagi. Kalian berdua itu saudara harus saling menjaga dan menghargai satu sama lain," nasihat Bu Sri yang membuat kedua anaknya mengangguk mengiyakan.


Ana dan Riko pun tampak saling berjabat tangan meminta maaf setelahnya membuat hati sang Ibu terasa menghangat.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya mulai makan siang bersama. Sesekali celetukkan berisikan candaan itu keluar dari mulut penghuni meja makan itu.


Tampaknya mereka semua sangat menikmati makan siang mereka yang sudah beberapa hari ini berbeda.


Tidak pernah ada di dalam bayangan Riko maupun Bu Sri jika mereka akan makan enak seperti sekarang. Semuanya berkat gadis bernama Ana itu.


Mereka sangat bersyukur memiliki anggota keluarga yang begitu perhatian pada mereka itu.


"Kak Ana. Makasih ya udah bikin aku sama Ibu ngerasa seneng banget. Berkat Kak Ana kita bisa hidup enak seperti sekarang. Makasih banyak ya kak Ana. Riko janji bakalan ngikutin jejak Kak Ana. Riko akan bersungguh-sungguh dalam belajar biar bisa bahagia Ibu sama kak Ana juga. Makasih banyak kak Ana," ucap Riko terdengar sangat tulus.


Ana pun menggeleng tak setuju dengan ucapan dari adiknya itu.


"Di dalam keluarga, gak ada yang namanya terima kasih atau maaf, Riko. Hanya boleh kalimat berisi doa saja yang terucap oleh Ibu dan juga adik tersayangku, Riko. Janji ya mulai hari ini gak boleh nangis lagi. Cuman boleh ada senyum dan tawa bahagia karena kita sudah melewati semua sedih itu. Mengerti Riko?"


Kehangatan pun begitu terasa menyelimuti suasana di meja makan itu. Hingga tak lama setelah itu, sebuah suara terdengar dari balik pintu depan rumahnya.


Setelah saling pandang, Ana pun mengatakan jika biar dia saja yang membuka pintu itu.


"Iya, sebentar. Siapa ya?"


Ana pun membuka pintu itu sebelum akhirnya matanya membelalak kala itu.


"Sekarang udah sukses jadinya lupa ya sama temen. Untung aja, ada tetangga yang tau kamu pindah kemana Ana. Jadi aku bisa kesini deh. Jahat banget ih kamu!" tutur seorang gadis berkepang dua membuat Ana langsung memeluknya erat.


"Keyla!" pekiknya histeris.


***

__ADS_1


__ADS_2