I Love You, Pak Ceo!

I Love You, Pak Ceo!
Merancang


__ADS_3

Tanpa Ana sadari ternyata di belakang gadis itu sudah berdiri tegap Richard dengan raut wajahnya yang tidak senang. Hingga Ana mulai merasakan sesuatu yang tidak baik dalam dirinya sendiri. Gadis itu segera memalingkan wajahnya ke arah samping kanan untuk dapat melihat diri Richard. Ana langsung terkejut saat mengetahui Richard yang berdiri tegap tanpa berkata apa pun kepada Ana. Ana langsung memalingkan wajahnya dan menghindar, dia berjalan dengan langkah kaki cepat untuk bisa menghindari Richard.


Akan tetapi tiba-tiba saja Richard mengulurkan tangan kanannya dan segera menggenggam erat pergelangan tangan Ana. Terkejut Ana karena hal itu, gadis itu langsung memalingkan wajahnya dan menatap tegas diri Richard. "P... Pak?!" kata Ana dengan gugup.


Richard masih diam, dia tatap tajam wajah Ana dari jarak yang cukup dekat. "Apakah kamu sungguh tertarik dengan tukang kebun baru itu? Padahal kita baru saja menikah, Ana!" ucap Richard dengan kesal.


Mendengarnya Ana pun sungguh tidak percaya. "Maksud Bapak apa ya?" tanya Ana penasaran.


Richard hanya diam dan terus saja memperhatikan. Hal itu membuat Ana jadi gugup. "Kamu itu sekarang ini adalah istriku, aku tidak akan membiarkan kamu untuk dekat-dekat dengan pria manapun, apa kamu dengar?" tanya Richard dengan tegas. Sambil menggenggam erat pergelangan tangan Ana.


Ana tersentak mendengarnya. "Maksud Bapak apa? Apakah Bapak kira saya adalah perempuan murahan? Perempuan gampangan? Apakah itu adalah semua hal yang selalu Anda pikirkan tentang saya!" balas Ana yang kesal. "Jika memang Bapak beranggapan seperti itu mengapa Bapak setuju untuk menikahi saya?! Bapak cukup mengatakan semua asumsi itu kepada Bunda, dan masalah akan selesai!" balas Ana yang sangat kesal.


Richard terkejut mendengar perkataan Ana. Pria itu sebenarnya cemburu dan tidak bermaksud untuk merendahkan Ana. Richard yang merasa sudah keterlaluan akhirnya langsung memeluk erat tubuh Ana. "Apakah kamu kira aku menyetujui pernikahan ini benar-benar karena Bunda yang memintanya? Apakah kamu tidak memikirkan hal lain mengenai diriku? Apakah kamu yakin aku akan menerima pernikahan ini dengan keterpaksaan? Apakah kamu tidak bisa melihatnya sendiri?!" tanya Richard dengan tegas.


Ana langsung membulatkan sepasang matanya dengan tegas, dia sangat tidak menduga akan jawaban yang diberikan oleh Richard kepada dirinya. "Apakah Pak Richard menyukaiku? Jadi cintaku tidak bertepuk sebelah tangan?" dalam benak Ana yang merasa bingung.


**


Sementara itu di tempat lain, terlihat Bunda Lina yang sedang duduk di suatu tempat dengan menikmati secangkir teh hangat di pagi hari. "Jika bukan karena keluarga Ana yang pernah menyelamatkan suamiku, aku sungguh tidak akan tahu bagaimana nantinya kelangsungan hidup keluargaku, aku menikahkan Ana dan Richard berharap adalah keputusan yang terbaik, aku menyukai gadis itu dan aku rasa Richard pun demikian, semoga mereka dapat hidup bahagia selamanya." Bunda Lina bermonolog. Dia tatap langit biru yang begitu cerah.


Hingga Bunda Lina pun mendapatkan panggilan telepon dari seseorang, wanita itu segera mengangkatnya. Dia palingkan wajah dan meletakkan cangkir di atas meja, mengambil ponsel genggam dan melihat sebuah nama yang dia kenali. "Halo, bagaimana perkembangannya?" tanya Bunda Lina tegas.


"Mereka berpelukan di dalam kamar, saya rasa mereka memiliki hubungan yang sangat baik, Anda harus melihatnya sendiri," kata Aldi dengan tegas.

__ADS_1


"Hmm, itu bagus! Bukan sekarang, nanti aku akan mengetahuinya sendiri," balas Bunda Lina.


"Lantas kapan Anda akan mengatakan yang sebenarnya kepada mereka? Apakah Anda akan tetap menyimpannya untuk waktu yang lama?" tanya Aldi penasaran.


Bunda Lina terdiam dengan dingin, lalu wanita itu pun langsung tersenyum begitu manis. "Tentu saja tidak akan lama lagi, jangan khawatir Al," tambah Bunda Lina dengan tenang.


"Baik, Nyonya," kata Aldi dengan tegas.


Kemudian panggilan pun berakhir begitu saja.


Kembali pada diri Ana dan Richard. Mereka masih berpelukan dalam waktu yang lama. "Saya mencintai kamu, Ana," ucap Richard dengan suara yang lembut.


Ana hanya diam dengan perasaan yang tidak karuan. Dia terlihat malu untuk mendengar dan mengakuinya. Namun dia tidak mungkin terus menyimpannya begitu saja. "Saya juga, saya juga mencintai Anda Pak Richard," balas Ana dengan malu.


Ana hanya menganggukkan kepala dengan perlahan. Mereka pun jadi lebih dekat satu sama lain. Melakukan berbagai pekerjaan bersama-sama. Begitu harmonis ditambah dengan tawa canda yang menyertai mereka berdua.


Hingga malam pun tiba, saatnya bagi mereka untuk bersantai di ruang TV. Keduanya menikmati dengan tenang. Hingga mereka mendengar suara ketukan pintu dari seseorang. Ana memalingkan wajahnya dan langsung bicara, "Mungkin itu Bunda, aku akan pergi untuk membukakannya," kata Ana kepada Richard.


"Aku ikut denganmu," balas Richard yang menatap wajah Ana.


Ana hanya menganggukkan kepala, dia pun bangkit bersama dengan Richard. Mereka menghampiri pintu utama. Dan Ana membukakan pintu. "Bunda," kata Ana tegas.


"Halo sayang," balas Bunda. Mereka berpelukan.

__ADS_1


"Bunda sudah pulang ya?" kata Ana tenang.


"Iya, bagaimana kabar kalian berdua, setelah Bunda tinggal?" tanya Bunda Lina penasaran.


Mereka kemudian menuju ruang tamu, tidak lupa Richard menutup pintu. Dan membiarkan Ana pergi dengan Bunda Lina.


"Kami baik-baik saja, Bunda," balas Richard tegas.


"Baguslah," sahut Bunda Lina.


Kemudian mereka semua duduk di ruang tamu bertiga. "Bunda ingin mengatakan sesuatu kepada kalian, apakah boleh?" tanya Bunda Lina dengan tegas.


Awalnya mereka yang terdiam, langsung dibuat terkejut mendengar perkataan dari Bunda Lina. "Apa itu Bunda?" tanya Ana penasaran.


"Ana, sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu, dan kamu Richard... Aku pun juga ingin meminta maaf pada dirimu," ucap Bunda Lina dengan jujur.


Mendengar hal itu tentu saja membuat keduanya bingung sendiri.


"Aku sudah berbohong pada kalian, Aku yang telah merancang semuanya, aku selalu mengawasi kalian berdua, karena aku ingin kalian bersatu, aku menyukai Ana, dan aku lihat Richard pun demikian, lagi... Dahulu suamiku telah diselamatkan oleh keluarga Ana, aku merasa bersalah jika tidak membalaskan budi itu, namun aku begitu tulus untuk menyatukan kalian, maafkan aku, Ana... Richard...!" ucap Bunda Lina dengan perasaan yang sedih.


Mendengar semua itu tentu saja membuat Ana dan Richard terkejut. Mereka tidak menyangka, namun mereka tidak mungkin menyalahkan Bunda Lina atas segala hal yang terjadi. "Bunda... Mengapa Anda meminta maaf? Anda tidak melakukan kesalahan apa pun pada saya, saya kans merasa bersalah jika Anda terus dirundung perasaan itu, saya tidak mungkin memberikan maaf pada orang yang tidak melakukan kesalahan, itu lucu! Dan mengenai Ayah Richard, itu adalah takdir tidak perlu sungkan dalam hal tolong menolong," kata Ana lembut.


"Aku mencintai kalian, semoga kehidupan kalian langgeng hingga ajal memisahkan, terima kasih Ana." Bunda Lina memeluk tubuh Ana dan Richard.

__ADS_1


__ADS_2