
Keesokan harinya, tiba-tiba saja Ana yang baru bangun dari tidurnya, langsung dikejutkan dengan kebisingan dari ruangan besar yang tidak lain rumah megah Pak Richard. Ana langsung duduk setelah dia membuka sepasang matanya dengan perlahan. Gadis itu mulai melirik ke arah kanan dan kiri, dia merasa cukup bingung dengan keadaan yang terjadi. "Ada apa ya? Kok aku mendengar berisik sekali, seperti orang yang sedang berlalu lalang dan meletakkan sesuatu dengan berulang, apakah akan ada acara penting? Hmmm," dalam benak Ana hang sedang berpikir cukup dalam. Dia pun yang tidak ingin menerka semakin dalam akhirnya memutuskan untuk melihat kondisi yang terjadi saat ini.
Ana menurunkan kedua kakinya dan mulai menginjak lantai yang dingin, tanpa alas kaki gadis itu berjalan dengan perlahan untuk dapat menjumpai pintu kamarnya yang tertutup dengan rapat. Ana menggenggam erat daun pintu dan perlahan membukanya. Gadis itu memperlihatkan sedikit wajahnya untuk memantau keadaan di luar.
Hingga Ana dibuat kaget saat gadis itu melihat cukup banyak orang asing menggunakan seragam putih yang sangat sibuk berjalan ke segala arah membawa sesuatu. "Ah?! Apakah akan diadakan suatu acara? Astaga, mengapa aku begitu bodoh tidak mengetahuinya, bisa-biasanya aku kesiangan," dalam benak Ana yang merasa bersalah. Dia memang belum tahu, untuk apa keluarga Richard membuat pesta. Dia juga baru bangun tidur jadi segala pikiran negatif tidak berada pada dirinya.
Ana langsung keluar begitu saja, dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, dia tidak lupa menutup pintu kembali dengan rapat. Ana menuruni anak tangga perlahan, beberapa orang itu memperhatikan Ana dari tempat mereka berada. Namun mereka tidak bicara apa pun kepada Ana.
Ana tidak menggunakan alas, dia begitu berani turun dengan kaki kosong. Ana segera mengikat rambut panjangnya. Lalu menghampiri salah seorang wanita yang saat itu sedang menata tanaman. Ana langsung ikut menyentuhnya. "Nona, akan di bawa ke mana barang ini?" tanya Ana tanpa rasa bersalah, begitu polos di hadapan wanita itu.
Mendengar hal tersebut, wanita yang begitu sibuk langsung memalingkan wajah dan menatap diri Ana dengan tegas. Dia pun merasa bingung sendiri dengan apa yang dilakukan oleh Ana saat itu. Wanita itu awalnya hanya melihat wajah Ana, tidak lama dia memperhatikan dari ujung kepala sampai pada kakinya. "Gadis cantik ini.... Hah?! Jangan-jangan dia itu...!" dalam benak wanita itu yang asal menduga.
Wanita berpakaian putih tersebut, langsung meletakkan barang bawaannya kembali di atas meja, dia segera mengambil benda yang dipegang oleh Ana. "Oh, Anda tidak seharusnya melakukan ini, Nona, Anda duduk saja dengan baik, saya akan mengambilkan alas kaki untuk Anda kenakan," ucap wanita itu yang terlihat cemas.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Ana menjadi sangat bingung dengan apa yang dilakukan oleh wanita tersebut kepada dirinya. "Hah maksud Anda apa?" tanya Ana yang masih tidak mengerti juga.
Tidak lama setelah itu terlihat beberapa dari mereka melihat Ana, karena langsung mengerti, dua orang mengambilkan barang untuk digunakan oleh Ana, yaitu kursi dan sandal. Datang kepada Ana dua wanita cantik. Mereka membawakan sesuatu ubah dirinya. "Mohon Anda duduk dengan baik, dan jangan keluar kamar sembarangan tanpa menggunakan sandal, Anda tidak perlu melakukan apa pun, Nona," kata wanita itu dengan tegas. Mereka langsung sibuk lagi.
Meninggalkan Ana yang benar-benar tidak mengerti. Hingga Ana mengangkat tangan dan menggaruk kepalanya sendiri. Dia merasa kebingungan sendiri. Ana pun mulai mengamati sekitar ruangan itu. Dia awalnya terlihat masih biasa saja, hingga akhirnya gadis itu membaca sebuah tulisan. Richard dan Ana yang berbahagia, acara pernikahan yang penuh suka cita.
Ana langsung membulatkan sepasang matanya dengan perasaan yang tidak karuan. "Hah?!" Ana terkejut bukan main, suaranya cukup besar dan terdengar oleh beberapa orang di dalam sana. "Gila! Apakah aku tidak salah membaca? Suasana ini untuk acara pernikahanku dan Pak Richard?! Tidak mungkin!" dalam benak Ana yang masih belum percaya.
Dia sudah hampir jatuh, namun tetap berusaha menyeimbangkan diri. Ana mengucek matanya dengan jari tangan beberapa kali. Dia melongo untuk sesaat. "Tidak mungkin! Mengapa sangat cepat," dalam benak Ana yang sangat syok.
Segera Richard meninggalkan lawan bicaranya untuk bisa mendatangi Ana. "Hmm, saya permisi dulu," kata Richard dengan tergesa.
"Menikah?! Apakah ini hanya mimpi?! Mengapa begitu cepat, mengapa mereka tidak mengatakannya jika hari ini aku akan menikah, aku memang menyetujuinya, tapi siapa yang akan memberitahukan padaku jika pernikahan itu akan terjadi di hari ini," dalam benak Ana yang mulai merasa pusing sendiri.
__ADS_1
"Siapa yang dapat menjelaskan semua ini padaku? Aku tidak ingin menikah terlalu cepat, lho!" kembali benak Ana memberontak.
Ana yang terlihat sedih, dia langsung menundukkan kepalanya, hingga datang kepada diri Ana seseorang menggunakan sepatu kulit. "Ana," kata Richard dengan tenang. Dia tatap wajah Ana begitu dalam.
Ana terkejut, dia pun langsung mengangkat wajahnya, dan melihat diri Richard dengan tatapan tajam dan dalam. "Pak Richard, apakah Anda telah mengetahui semua rencana ini? Mengapa Anda tidak mengatakan apa pun kepada saya kemarin? Pak Richard mengapa Anda sangat egois?" kata Ana yang merasa tidak dihargai. Dia begitu sedih saat itu.
Hal tersebut membuat diri Richard pun merasa hal yang sama. "Dapatkah kamu ikut denganku? Aku akan mengatakan apa pun yang ingin kamu tanyakan," balas Richard. Pria itu langsung mengulurkan tangan kanannya untuk bisa digapai oleh Ana.
Sementara Ana hanya terdiam sambil terus memperhatikan diri Richard. Dia tidak memberikan reaksi apa pun selama beberapa saat. Sampai Richard memiringkan kepalanya. "Apakah kamu ingin mendengarkan aku?" tanya Richard penasaran.
Ana segera menutup matanya dan dia menghela napasnya cukup kasar. Ana kembali membukanya dan melihat diri Richard. Gadis itu pun cukup khawatir sebenarnya untuk menggapai tangan Richard. Akan tetapi pada akhirnya gadis itu tetap melakukannya. Dia menggenggam telapak tangan Richard, lalu bangkit dan berjalan keluar bersama dengan Richard. Entah mereka akan pergi kemana, namun yang jelas Ana tidak peduli lagi akan keadaan di dalam ruangan itu.
Dari kejauhan terlihat Bunda Lina yang mengetahui hal itu, dia hanya diam memperhatikan lalu tersenyum pelan.
__ADS_1
**
Setelah tiba di taman belakang, Ana tatap diri Richard dengan tegas. "Hal apa yang ingin Bapak katakan kepada saya?" tanya Ana penasaran.