
Hari minggu yang cerah secerah hati aku yang siap menghadapi permasalahan ini dengan baik tanpa harus saling menyakiti.
Pagi sekali aku langsung SMS kak Ari.
"kak nanti gue pengen ketemu lu, mungkin sama Rio juga bisa gak? "
"Bisa mau jam berapa?? Lu udah menentukan pilihan rin??? " Tanyanya
"Nanti pukul 10.00 di dapur kita cilincing aja yang dekat" Jawabku
"Oke"
Dia hanya membalas seperti itu, aku tahu semua ini pasti berat untuk dia dan kami. Tapi memang harus diobrolin, kalau tidak semuanya akan terluka.
Rio datang dengan gaya dia yang seperti cowok cool yang keren idaman wanita.
Aku menyambut dia masih dengan kaos oblong, celana pendek rambut di kuncir.
"Iihh yank kok belum siap sih??" Tanyanya
"Belum, mager banget hari ini" Sahut ku
"Ya udah yank sana mandi, ampun punya pacar begini banget. Tapi kok aku cinta banget sih sama kamu, jangan-jangan aku di guna-guna sama kamu" Candaan dia
"Aku mah ngeselin, ya udah sok cari cewek yang cantik rapih sana... " Gerutu ku
"Haha.. Ngambek mulu nih si cantik" Ucapnya
Aku langsung meninggalkan dia yang lagi merayu.
Setelah rapih, aku langsung menghampiri dia.
"nah gitu kan tambah cantik, gak sia-sia aku dari Surabaya ke sini nyusul kamu" ujarnya
Aku tak perduli kan omongan dia, aku lagi memikirkan bagaimana ya nanti????
"mau ketemu dimana nanti Ari yank? " ucapnya dengan santai
" di dapur kita "
"deket banget, lah aku udah rapih gini masa deket banget"
"ssstt... berisik" jawabku
"Kita ke rumah orang tua aku aja di kelapa gading, mamah aku kangen tuh sama kamu" sambil mengecek HP ku
"ya udah terserah kamu aja" dengan pasang muka cemberut depan dia
"Yank aku lapar" ucapnya
"mau sarapan apa yank? nasi uduk? apa mau yang lain?" tanya ku
" mau makan pipi kamu yang gemes, hahaha... becanda sayang" candaan dia
Kita pun bergegas untuk menemui Ari, kita langsung berangkat takut Ari menunggu lama.
Di perjalanan aku peluk Rio, dan ketika mau sampai lokasi aku melepaskan pelukannya. Dia langsung menarik tanganku agar tetap memeluknya. Aku niat nya menjaga hati Ari, tapi Rio memaksa seperti itu.
Ari melihat kita sampai masih dalam berpelukan, aku tertunduk malu.
Kami menghampiri Ari, Ari langsung berdiri.
"gue Rio " ucap Rio dengan menjulurkan tangan
"gue Ari, kita pernah ketemu kan sebelumnya"
Aku hanya diam saja, bingung apa yang harus aku ucap.
Rio sepertinya tidak mau terlihat emosi hanya saja dia seperti tak rela kalau Ari kadang mencuri pandangan ke arah aku.
"Oh ya mau minum apa? ucapku agar mencairkan suasana
__ADS_1
" jus alpukat " ucap Rio dan Ari bareng sontak aku terkejut
"udah janjian ya??? hehehehe... " candaku
Mereka hanya diam dan Rio melihat ke arah aku.
"Bagaimana gue mau merelakan cewek kaya gini bro, dia selalu jadi pelangi di hidup gue. Dalam keadaan begini aja dia masih bisa becanda coba" ucap Rio
Ari berkata " bagaimana gue mau melepaskan cewek unik kaya dia langka bro" balas Ari
Ya Tuhan aku harus apa ini, Rio pun terlihat sedikit kesal dengan ucapan Ari.
Mereka saling sindir-menyindir, akhirnya memutuskan untuk yang berbicara.
"aku juga udah pusing dengar kalian begini, sekarang aku minta maaf ke kalian, aku udah mempermainkan perasaan kalian"
"Bukan maksud aku begitu, karena kalian tau kan aku punya trauma yang begitu dalam di bohongi orang terdekat pacar dan sahabatku sendiri. Ketika Rio hadir untuk menghiburku dan menghidupkan aku kembali. Disaat itu aku menyayanginya, tapi dia tiba-tiba harus pergi jauh saat itu dan hadir sosok yang berbeda yaitu Ari sosok yang aku butuhkan saat itu"
Kalian tahu tidak, kalian sama-sama berarti nya dalam hidup kemarin. Aku sudah memutuskan kalau aku tidak mau melanjutkan hubungan dengan siapa-siapa lagi. Aku merasa itu lebih adil untuk kita bertiga, wajah mereka terlihat kecewa.
"Kenapa gitu Rin? ucap Rio
" kok gitu? tanya Ari
Karena aku tidak mau menyakiti siapapun, agar tidak ada yang patah hati lagi.
"lu kan bisa pilih salah satu antara kita rin" gerutu Ari.
"maaf aku tidak bisa, seperti yang tadi aku bilang lagi pengen sendiri saja" ucapku dengan meminum jus yang aku pesan.
"kenapa sih rin??? Aku sudah yakin kamu bertahan sama aku" ucap Rio
"Kita bisa jadi teman kan kak" sahut ku
Ari berkata " kayanya lebih baik kalian bertahan gue yang mundur, gue rasa Ari ni bicara seperti itu karena tidak mau menyakiti salah satu kita berdua"
"Lu berhak bahagia Rin, ada Rio bersama lu" ucap Ari
Rio hanya terdiam tak mau meyakinkan ku, Ari terus-menerus berusaha agar aku tetap bertahan dengan Rio.
Rio berkata " Udah bro jangan di paksa kalau dia udah gak mau bertahan sama gue atau lu"
Aku hanya bisa bilang "maaf"
Rio langsung berdiri "ya udah ya gue mau ada kerjaan nanti siang jadi gak bisa lama-lama".
" oke bro hati-hati" ucap Ari
"ya udah gue balik sendiri aja" ujarku
"berani banget lu nyakitin kita, setelah itu pergi begitu saja tanggung jawab dong" celetuk Rio dengan kesal
"ya udah balik sama gue aja bro" celetuk Ari
"jangan biar balik sama gue" ucap Rio dengan menarik tanganku ke parkiran.
Ketika pakai helm dia langsung menyalahkan motornya, aku langsung naikin motor Rio.
"kak aku pamit pulang ya" ucap ku ke Ari
Rio langsung ngegas motor hingga aku kaget karena tak berpegangan. Arah perjalanan kami bukan ke rumah aku, tetapi sepertinya ke arah rumah orang tuanya. Dan ternyata salah, aku dibawa olehnya ke Taman mini.
"ngapain ke sini kak???"ucapku dengan menepuk bahu dia dari belakang.
" biar lu ngaku" celetuk dia
"ngaku apaan kan tadi udah jujur"
"kak ini jauh banget loh dari rumah aku" ucapku
Kami berhenti di parkiran dekat wahana gondola. Dia langsung menggandeng ku dan membeli tiket.
__ADS_1
"kak aku kan takut naik ginian, kenapa harus naik gini sih? " dengan tampang kesal ku bertanya.
Dia tak menghiraukannya, masih menyuruh ku berjalan sampai tempat naik gondola.
Giliran kami gondola nya sudah datang, aku langsung di suruh masuk olehnya.
Aku langsung ketakutan tak mau melihat bawah, aku juga merem dan tak mau membuka mata. Dengan tanganku memegang erat tangan dia yang sebelah kanan.
"ini balasannya kamu mau ninggalin aku" ucapnya dengan santai
"Ya Allah si kaka parah banget" sahut ku dengan mencubit dia.
Dia pun langsung bertanya "kamu masih sayang gak sih sama aku?"
Aku dalam keadaan ketakutan dia membuka mata aku dan aku dipaksa jawab.
"gak sayang"
"ya udah kamu ga usah pegangan aku, kalau ga sayang" dia bicara begitu dengan mendorong aku agar lepas pegangan dari dia.
"ihh parah banget sih kak"
Aku tetap memaksa minta berpegangan dengan dia.
Wajah aku pun disuruh menghadap dia,
"lihat aku Rin"
Aku membuka mata pelan-pelan.
"kamu beneran ga sayang sama aku???" dia berbicara seperti itu depan wajah aku.
"gak" ucapku
Dia semakin mendekati wajahnya.
"Kamu yakin gak sayang sama aku"
Aku terdiam,dia memajukan lagi wajahnya ke depan wajahku sampai tidak ada sela diantara kami.
"kamu gak sayang sama aku? "
Aku menggelengkan kepala.
"oke biar aku tau kamu masih sayang apa gak sama aku"
Saat dia berbicara seperti itu nafas dia pun di wajahku dan tak lama dia mulai menempelkan bibirnya di wajahku.
"kamu sayang ga sama aku?" ucap nya
Aku terdiam lagi, dia langsung mencium bibirku dengan perasaan. Dan setengah perjalanan gondola kami berciuman.
Setelah mau sampai aku melepaskan bibirku darinya, aku jadi salah tingkah didepannya.
"Jadi tahu kan jawabannya" celetuk dia dengan tersenyum
"jawabannya masih sama kaya tadi" ucapku
"oh gitu ya, oke kita ga usah turun sampai kamu berkata jujur"
"ih... apaan sih kak ngeselin"
"hahahaha... aku tuh sayang sama kamu. Aku tahu kamu tadi pas kita bertiga bicara seperti itu karena tak enak dengan Ari kan?"
"gak tuh biasa aja" gerutu ku
"oh ya udah kita lanjut lagi biar kamu jujur, apa kamu sengaja ya gak jujur biar nambah lagi naik gondola nya karena tadi kurang lama. hahaha... " ujarnya dengan mencubit pipi aku.
Ketika turun dia langsung merangkul ku, dan berbisik.
"kalau kangen mau di kiss bilang jangan sok mau putusin aku" meledek nya dia ke aku
__ADS_1
Aku langsung membalas dengan mencubit perut dia.