I'M Not Perfect For You

I'M Not Perfect For You
Memperbaiki diri


__ADS_3

Hari senin aku telat bangun karena minggu ku yang lelah kemarin. Waktunya upacara di setiap hari senin jadi aku buru-buru naik angkot. Di angkot HP ku berdering, dan aku angkat ternyata kak Rio.


"Iya kak kenapa, aku kesiangan jadi telat kayanya nih kak" Ucapku


"Aku sudah di bandara, aku mau dengar suara kamu. Kamu semangat ya jalanin hari-harinya" katanya.


"Oke"


Memang kita seperti bukan pasangan yang lain selalu mesra atau manja gitu. Tapi kita saling tahu satu sama lain menyayangi. Aku sampai di sekolah tepat sekali, kalau terlambat sedikit saja bisa dihukum karena telat ikut upacara.


Saat upacara aku mengingat kejadian kemarin di taman mini jadi aku senyum-senyum sendiri.


Sampai teman sebelah aku pun meledek,


"Woiii malam minggunya udah kelar tapi masih senyum aja" Aku tertawa saja.


Selesai upacara kami langsung masuk kelas,dalam pelajaran tetap saja banyak yang ngobrol maklum saja namanya juga sekolah menengah kejuruan akuntansi jadi sebagian wanita semua.


Ada yang bercerita tentang pacarnya,ada yang di antar jemput setiap hari, ada yang pulang sekolah langsung nonton. Lagi-lagi aku hanya jadi pendengar yang baik bagi teman dan sahabatku.


Sepulang sekolah keluar gerbang yang lain di jemput dengan pacarnya aku gak rasanya itu gak enak banget. Apa lagi terkadang kita ingin ada yang mendengar kan keluh kesah kita.


Dalam hati berucap "percuma punya pacar tapi jauh". Kalau di pikir-pikir benar juga sih.


Di saat yang lain pada jalan-jalan keluar dengan kekasihnya, aku harus bingung cari ojek sampingan(alias teman cowok yang mau diajak jalan).


Sampai rumah rasanya jenuh juga, sudah capek dengan pelajaran. Harusnya kalau punya pacar kan bisa curhat-curhat begitu. Tapi dia saja sibuk bagaimana bisa mendengar cerita aku.


Semakin kesini Rio semakin banyak mengatur, ya aku tahu dia takut kejadian seperti yang lalu. Tapi tak seharusnya begitu, sekarang setiap sejam sekali aku harus SMS ngasih kabar seperti kaya laporan doang. Setiap aku ijin mau keluar bersama teman atau gimana pasti ga boleh. Ya Tuhan ini pacar apa sekuriti PT sih, yang apa-apa harus laporan. Semakin jenuh dengan kondisi hubungan ini.


Suatu hari lagi jenuh di rumah, aku main ke rumah Dian. Ketika lagi main dengan Dian di rumahnya, tiba-tiba ada yang mengetok pintu.


"Dian.. Dian" ucap suara perempuan


"ya sebentar " jawab Dian


Ketika di buka ternyata teman Dian yang bernama Cici.


"Dian keluar yuk makan es crema sama anak-anak" kata Cici


Dian menanyakan aku "Rin mau ga?"


Aku menjawab "boleh"


"Wah pas ada lu nih Rin" kata Cici


Aku tersenyum tanpa tahu arti dari ucapannya.


Pas kita keluar dari rumah Dian, ternyata ada Hendra dan teman-temannya.

__ADS_1


Ya Allah ujian apa lagi yang harus aku hadapi ini, sekarang harus berhadapan dengan dia.


Teman-teman nya pun langsung naik motor karena makan es cream nya lumayan jauh kalau jalan kaki. Yang tersisa gak ada teman bonceng nya tersisa Hendra dan Cici. Aku langsung reflek memilih Cici, temannya pun pada ketawa.


"Bukan sama Hendra saja, nostalgia" ucap seorang temannya


Hendra pun berboncengan dengan Dian.


"Hendra selalu nanyain tentang lu ke Dian tau" ucap Cici dijalan


"biarin aja lah kak Cici"


Kita berhenti di tempat nya, dan kami langsung memesan es cream itu. Tempat es cream nya itu di piring kecil jadi harus makan di situ kalau di bawa pulang tidak enak. Dan disitu ada kursi-kursinya jadi kita leluasa duduk.


Aku berusaha menjauhi Hendra, agar dia tak dekat dengan ku. Dengan sangat santainya dia duduk di sebelah aku.


"Gimana kabarnya Rin?" dengan melirik ku


"Alhamdulillah baik"


Aku berusaha menghindari dia, dengan mengajak ngobrol Cici.


Dia hanya melihat wajahku curi pandang gitu. Tak lama kita semua selesai.


"ayo Rin " ucap Hendra


"ya sudah Arini sama lu, gue sama Dian" ucap Cici


Dengan terpaksa aku bareng Hendra.


"cowok nya anak mana Rin? " tanya dia


"gak ada " jawabku


"Tambah cantik Rin sekarang" sahut dia


"tetap saja hitam aku" jawabku


"hahaha... " dia pun ketawa


"Kan dulu lu selingkuh karena gue kurang putih kan, dia lebih putih dari gue" dengan nada ketus ku


Dia hanya terdiam.


"pulang sama siapa Rin? tanyanya


" sendiri"


"mau di antar gak?" dia menawarkan diri

__ADS_1


"ga usah makasih" ucapku


Setelah sampai di rumah Dian semua pada becandain kita. Aku biasa saja, karena begitu sakit di selingkuhi dulu karena gak putih bagi dia. Sakitnya pun masih sampai sekarang, begitu terluka cuma karena fisik aku diselingkuhin.


Aku pun ijin pamit ke orang tua Dian, aku pulang sendiri. Di angkot aku jadi kesal sendiri punya pacar jarak jauh itu ga enak banget jadi begini kan. Sampai di rumah aku langsung telp Rio, kalau aku cerita kejadian tadi.


Rio pun menjawab "ya ini resiko punya pacar jarak jauh".Rio malah marah-marah karena aku keluar tanpa ijin dia. Ya ampun apa lagi ini, masa harus seribet ini punya pacar sih. Baru kemarin kita baikan sekarang seperti ini.


Aku berpikir kayanya memang harus putus dengan Rio, aku capek begini terus.


"Rio aku pengen putus, aku lebih baik sendiri daripada punya pacar jarak jauh begini" ucap ku


"Bagaimana nanti kalau kamu sudah mulai berlayar, aku tak bisa menunggu kak"


"ya udah kalau kamu mau seperti ini, ga apa apa aku terima. Daripada kamu tersiksa karena banyak larangan dari ku" ucapnya


"Semoga kamu akan segera mendapatkan laki-laki yang tepat ya Rin. Maaf kalau bikin kamu terkekang dengan semua larangan aku".


" Makasih ya kak, aku mungkin kalau tidak ada kakak saat itu aku sudah hancur" ucapku


"aku dari awal cuma ingin kamu bahagia Rin" ujarnya


"kakak tampan, tajir, super baik pasti kakak bisa dapatin wanita yang lebih baik daripada aku kak, aku tak sempurna buat kakak karena tak bisa menerima hubungan jarak jauh kita kak"


Aku langsung mematikan telp nya, aku tak mau banyak yang semakin terluka oleh ku. Yang di sebabkan luka yang aku punya.


Hari demi hari aku lalui tanpa seorang pacar, aku akhirnya terbiasa melakukan apa pun itu sendiri. Karena aku tak mau melukai orang lain dan tak mau tersakiti lagi, sampai aku menemukan orang yang tepat untuk menemani hidup ku.


Aku menghadapi ujian praktek akuntansi pun tanpa dukungan orang spesial, disaat yang lain mendapatkan dukungan dari org yang spesial aku hanya sendiri. Ujian nasional pun tiba, aku melewati dengan tenang. Aku fokus memperbaiki diri ku, untuk jadi lebih baik lagi. Dari pada aku harus mempunyai pacar cuma sebatas status saja agar kemana-mana ada yang menemani.


Pengumuman kelulusan tiba, aku hanya bisa merasakan kabar bahagia itu bersama keluarga ku. Tanpa seorang yang spesial, aku merasakan bahagia tanpa ada yang mengatur dan membatasi kita.


Saat kelulusan yang lain corat-coret baju, aku memilih untuk pulang naik angkot. Lagi-lagi aku melihat Hendra dengan Putri berboncengan melewati sekolahan ku. Aku hanya menarik nafas panjang mengucapkan "sabar" untuk diri sendiri.


Aku sampai gak mau ke sekolah, karena terlalu tak mau ketemu Hendra walaupun kita beda sekolah tapi aku lebih baik menjaga takut ketemu di jalan.


Acara wisuda di sekolah aku pun tak mau ikut, karena akan jadi ajang perlombaan cantik-cantikan. Sedangkan dahulu aku di bilang gak cantik oleh seseorang karena tidak putih.


Mental healthy aku saat itu sangat hancur, mungkin bagi orang itu sepele hal kecil. Tapi bagi yang mengalami itu bisa jadi titik rendahnya. Kelas satu SMK kejadian itu, dan sudah lulus pun ingatan itu begitu menyakitkannya.


Setelah kejadian itu setiap aku mempunyai pasangan jadi ada rasa ke khawatiran yang begitu berlebihan. Contohnya aku punya pacar, aku berlebihan curiga nya karena takut terjadi lagi di kecewa kan oleh orang terdekat yang di percaya.


Karena jadi semacam trauma, bagi aku yang merasakan.


Dimana kisah anak kelas satu SMK lagi senang dan ceria tentang kisahnya, aku malah mengalami hal seperti itu. Bertahun-tahun aku harus menstabilkan perasaan ku, dari situ aku tak pernah percaya seutuhnya dengan orang lain.


Dan untuk memulai dengan orang baru ada rasa takut, apa lagi kalau orang itu ganteng dll pasti awalnya ada rasa ketakutan. Takut tak di hargai sebagai pasangan, takut di bandingan dengan wanita lain. Yang melakukan itu saja padahal tak tampan, tak ganteng , tak putih tapi dia bisa memperlakukan aku seperti itu.


Kalau tak good looking, setidaknya good attitude.

__ADS_1


Jangan pernah membuat luka, kita tak pernah tahu orang itu seberapa lama mengobati lukanya agar sembuh.


__ADS_2