
Setiap aku belajar membenci dia karena ingat kelakuannya, tapi tetap saja aku tak bisa membohongi perasaan aku kepadanya kalau hati ini masih sayang.
Terlalu sempit pikirannya tentang arti cinta, yang mengutamakan fisik dari pada hati. Tapi hati ini mencoba tegar untuk belajar move on.
Hatiku hancur tubuh ku tak kuasa melangkah saat itu ketika melihat dia benar-benar depan mata dengan nya. Hari-hari ku lalui begitu dengan begitu terasa berat, karena aku baru sadar dia bener-bener ngaruh dalam kehidupan aku.
Hingga saatnya suatu malam telp pun berdering " Hei..... Galaunya jangan lama-lama, masa cantik-cantik galau" Ucap Wawan.
"Haha..haha..haha..... gak tuh biasa aja gue" aku menyeletuk dengan nada percaya diri.
"Mereka sudah jadian loh haha..haha..haha..." wawan sambil ketawa.
" Oh ya bagus dong, kan ceweknya idaman dia" padahal aku mengucapkan itu dengan nada berat dan sedikit kaget.
"Makanya si cantik jangan galau terus, lu jadi pembahasan di kelas kita tau" ucap Wawan
"Waduh kenapa????? " tanyaku padahal dalam hati wah gila sih gue galau mereka pada tau.
" Ya tentang itu kisah lu bertiga"
"Hahahaha.... " aku hanya bisa menjawab dengan ketawa.
Obrolan kami pun berakhir, disitu aku kaget dan syok mendengar mereka sudah jadian yang begitu dengan cepat. Dengan menarik nafas dalam-dalam aku mengucap "Allah bersama ku, aku pasti kuat".
Tapi setelah itu aku menangis dengan kesendirian ku, kesalahan ku adalah menyayanginya terlalu dalam. Hingga aku sulit bagun untuk move on dari kisah itu, bagaikan aku menggali lubang untuk harapan di hubungan setelah berlubang terlalu dalam hingga aku sulit untuk keluar di lubang itu sendiri.
Sahabat aku pun selalu menghiburku dengan menghubungi ku setiap hari, karena saat itu aku seperti sangat frustasi tak ada semangat sekali.
Pagi begitu cerah aku pun siap untuk berangkat sekolah, sesampai di sekolah. Sekolah pun begitu ramai tapi aku merasa sendiri. Dian menghampiri ku dan menggandeng ku dengan mengucap " Lu cantik rin, lu harus move on".
__ADS_1
Aku pun hanya bisa tersenyum, " Pasti bisa" Ucap Tri.
Berjalan dengan waktu kenaikan kelas pun tiba, ketika pembagian raport. Aku mengambil raport sendiri, karena orang tua aku berhalangan hadir. Di sekolah kau bertemu sahabat ku dan kami berjanjian setelah ini kita jalan ke salah satu mall di jakarta utara yaitu kelapa gading.
Setelah itu kita bersiap naik angkot untuk ke sana, dan setelah di angkot. Ternyata dia lewat di samping angkot kami, aku hanya bisa diam saja.
" Ya ampun kenapa sih harus ketemu lagi!!!" Kata Tri dengan rautan wajah kesal.
"Ya ga apa apa Tri, namanya juga jalanan umum" dengan santai aku menjawab seperti itu.
Mereka pun menatap dengan kekhawatiran kepadaku, aku hanya menampilkan wajah biasa aja karena aku tak mau membuat mereka cemas.
Kami pun melanjutkan obrolan yang mengalihkan agar pikiran aku tak fokus ke dia.
Setelah sampai di sana kami pun langsung berjalan ke arah bioskop karena saat itu kita niatkan buat nonton. Ketika teaternya di buka kami pun langsung masuk ke arah tempat duduk kami. Film pun segera di mulai dan kami menikmati film itu. Tapi selama film itu berlangsung pikiran ku tak disitu, pikiran ku hanya memikirkan dia dan kenapa aku sulit banget untuk move on sih.
Kami semua langsung diam, dan raut wajah aku pun berubah jadi murung.
"Kenapa sulit banget Ya Allah menghilangkan bayang-bayangan dari dia" ucap ku dalam hati.
Tri pun langsung menarik tangan kami " ehh kan kita mau makan, gue udah lapar banget nih".
Aku tau Tri hanya mengalihkan pembicaraan agar aku tidak terlalu terluka karena mengingat itu. Kami pun langsung pergi dan aku berpura-pura pasang wajah happy. Aku tau ini usaha sahabat ku untuk aku senang tidak mau murung lagi, jadi aku berusaha happy agar usaha mereka mengajak ku pergi tidak sia-sia.
Sampai di tempat makan, kami langsung memesan makanan. Pembicaraan kami pun berhenti di saat ada seorang cowok tiba-tiba menghampiri kami.
" elu Arini kan? apa kabar??" ucap dia
" oh iya, baik. Kok ada disini?? Bukannya lu ada beasiswa ke Jepang ".
__ADS_1
" Iya tapi ini kan liburan rin" dia sambil garuk-garuk kepala.
Dia bernama Adam, dia teman sepupu aku. Kita dahulu pernah dekat tapi dia harus berangkat ke Jepang. Sebelum ke Jepang dia sempat mengatakan kalau sayang ke aku, tapi aku ingin dia mendapatkan yang lebih dari pada aku jadi aku menolaknya. Karena dia itu terlalu perfect buat aku, secara fisik pun dia oke banget, tajir, pintar. Apalagi harus hubungan jarak jauh aku itu paling gak bisa.
Akhirnya kami pun menyuruh dia gabung dengan kita,obrolan kami pun jadi tambah seru ada dia.
Dan ketika kami hendak pulang, dia meminta no telp ku. Ya sudah aku kasih no telp ku ke dia, tanpa aku pikir tidak ada maksud tertentu.
Sahabat aku pun langsung meledek aku " cieee.... cie...bisa move on nih".
Aku hanya membalas dengan senyuman bingung. Kami pun pulang ke rumah masing-masing. Ketika sampai di rumah kasur pun jadi tempat favorit untuk tempat paling nyaman melampiaskan rasa lelah dengan menghadapi ini semua.
Tidak lama hp aku pun berdering, ketika aku liat no baru yang tidak aku kenal.
"Halo rin ini gue Adam" ucap dia
"nah iya oke Dan gue save ya no lu" jawabku
Dan obrolan kami terhenti di saat, dia menanya " udah punya pacar rin?"
Aku pun menjawab " belum "
" gue berharap lu masih punya perasaan yang sama kaya dulu ke gue, sebab gue masih sayang rin ke lu" dia mengatakan begitu dengan nada suara lembut.
"hmmm... kayanya kita jadi adik kaka aja kali ya biar seru agar gak ada yang kecewa diantara kita, gimana?" jawaban aku saat di tanya itu.
Kata dia " apa pun yang membuat ku nyaman gue lakuin rin".
Hati ku tidak bisa begitu karena aku saja masih mengobati luka yang begitu dalam sekarang, bagaimana bisa aku membuat orang baru hadir untuk terjun bersama luka ini. Bisa jadi yang tercipta hanya menambah orang untuk tersakiti. Obrolan kami pun begitu nyaman tanpa kami sadari kita terbawa suasana begitu nyaman dalam obrolan ini.
__ADS_1