Ikatan Cinta William

Ikatan Cinta William
Bab 10 Wisuda


__ADS_3

Hari yang ditunggu Luna tiba. Akhirnya Luna menyelesaikan pendidikannya dan saat ini tengah Wisuda. William dengan senang hati hadir untuk mendampingi Luna.


Luna bahagia melihat kedatangan William, walau ia tahu tatapan Adrian dan Paula begitu sinis terhadapnya.


"Kau memang tidak punya malu ya Lun, mengundang Om-om untuk datang ke acara penting kampus. Kamu ingin semua orang tahu kalau kami itu cuma simpanannya. Apa perlu aku memberitahi semua teman-teman disini.


Luna hanya tersenyum tipis lalu mengangkat wajahnya di depan Paula dan Adrian. “ Apa kau juga mau aku memberitahu kalau kamu tidur dengan mantan pacarku saat aku masih menjadi pacar kamu sekarang!” Luna tersenyum sinis lalu meninggalkan mereka berdua dan menghampiri William.


"Mas!” Luna memeluk William begitu erat.


“Selamat sayang, Kamu peringkat terbaik dengan nilai terbaik.”


"Terima kasih ya, Mas. Usahaku selama ini tidak sia-sia."


“Sudah selesai acara foto-fotonya sama temen-temen kamu!”


“Sudah! Sudah selesai semua. Foto sama Mas yang belum!”


"Ya sudah sini! Mark tolong kau foto kami berdua!” William meminta asistennya untuk mengambil gambar melalui ponsel milik William.


"Baik tuan!” Mark mengambil ponsel William lalu memotret mereka berdua.


“Sudah tuan!” Mark mengembalikan ponselnya.


“Ya sudah, Kita pulang!” ajak William menggandeng tangan Luna.


"Mas, gak foto sama Adrian?”


"Tidak perlu! Sudah pasti dia tidak mau! Sudah ayo pulang!” William menarik lembut Luna menuju parkiran diikuti Mark.


Mark yang mengemudi hanya bisa melihat dari kaca mobil. Mereka begitu mesra dan sangat serasi. Tapi Mark heran kenapa William tidak menikahi Luna saja.


“Mark, apa saja jadwalku hari ini?” tanya William saat William selesai berciuman dengan Luna.


"Jadwal Anda hari ini kosong tuan. Saya mengosongkan jadwal Anda hari ini.”


"Ok baiklah, Kalau begitu kita makan di restoran di ujung jalan sana!”


"Baik tuan!” Mark kemudian menambah laju mobilnya menuju restoran yang di maksud.

__ADS_1


Mereka bertiga makan di restoran ternama dengan menu yang di sukai masing-masing. Mark hanya menahan kesal melihat betapa mesranya pasangan di depannya itu. Andai sajania juga memiliki kekasih.


"Tuan Mark, Kenapa makanannya cuma di lihat saja?” tanya Luna melihat Mark hanya melihat dan mengaduk-aduk makannya.


"Oh, Iya Nona. Ini mau di makan.” Mark kemudian memakan makannya dengan canggung.


“Oh ya Mas, habis ini kita pulang ke apartemen ya." Luna tersenyum nakal pada William. William tahu apa yang dimaksud Luna.


"Ok, baiklah.”


Luna tersenyum penuh arti sambil tangannya mengusap nakal bagian inti William.


"Em ... hentikan sayang. Jangan disini,” bisik William sambil memegang tangan Luna. Luna hanya tertawa kecil.


Setelah mereka selesai makan, Mark pulang menggunakan taksi dan William sendiri mengemudi mobilnya. William menuju apartemen.


Sesampainya di apartemen, Luna dengan nakal membuka semua yang menempel di tubuhnya dan menarik William ke kamar. William hanya pasrah dengan perlakuan Luna di atas tempat tidur. Luna kali ini membuat William begitu puas tanpa ampun.


"Dalam rangka apa kamu melakukan ini lebih dulu?” tanya William pelan menatap wajah Luna.


"Berterima kasih untuk hari ini. Mas sudah meluangkan waktu untukku dan aku juga meminta liburan Minggu depan. Aku ingin ke bali.”


William tersenyum sedikit menjambak rambut Luna dan mengambil alih kendali. William juga tidak memberi ampun Luna. kali ini mereka bermain sedikit kasar. Suara rintihan nikmat Luna membuat William semakin bersemangat begitu juga Luna, permainan William membuat Luna menjerit nikmat.


" Sungguh Kamu ingin kembali?” tanya William memastikan.


"Iya, Sudah lama aku tidak berlibur. Terakhir saat sekolah SMA.”


"Ok baiklah. Tapi kau harus mencarikan wanita untuk Mark.”


"Hah? Memangnya tuan Mark belum mempunyai istri?” tanya Luna heran, kenapa pria seumuran Mark yang notabene usianya lebih tua dari William belum beristri.


“Belum. Dia itu sedikit grogi jika ada wanita yang mendekatinya. Dia butuh wanita yang agresif agar tidak kaku.”


"Ok, Baiklah aku tahu siapa orangnya.” Luna terpikirkan satu nama yaitu teman SD nya saat di kampung. Tidak mungkin ia mengajak teman masa SMA nya. Bisa-bisa identitasnya terbongkar.


Pagi harinya, Luna bersiap untuk menemui seseorang yang di minta William untuk Mark. Sebelum pergi ia menyiapkan baju dan sarapan untuk William yang masih tertidur dan tak lupa ia meninggalkan pesan bernada cinta di secarik kertas dan ia letakkan di atas meja nakas.


Luna pergi ke rumah teman lamanya itu dengan sedikit ragu ia turun dari taksi. Luna memasuki sebuah rumah sederhana.

__ADS_1


“Permisi! salam Luna. Beberapa kali Luna mengetuk pintu. Tak lama terdengar suara pintu terbuka.


"Cari siapa?” tanya tuan rumah melihat Luna dari atas sampai bawah.


“Priska, ini gue, Luna!”


“Luna? Aluna! Temen SD gue?” tebak Priska.


"Iya, Teman SD kamu Waktu di kampung!”


“Astaga apa kabar? Kamu tau alamat rumahku disisi dari siapa?” tanya Priska sambil memeluk Luna.


“Aku masih menyimpan alamat dari Ibu kamu. Dulu ... waktu kalian pindah Ibu kamu kasih aku alamat di jakarta.”


"Ya udah, Masuk yuk!” ajak Priska. Mereka masuk dan duduk di sofa.


"Oh iya. Bagaimana kabar Ibu kamu, dimana dia?” tanya Luna.


"Ibuku sudah lama meninggal. Bapakku nikah dan tinggal sama istri barunya!”


"Dan Kamu?”


"Aku begini jadi kasir di sebuah swalayan. usaha Bapak ku bangkrut semenjak Ibu meninggal. Sekarang aku sendiri dı sini. Karena aku gak cocok sama Ibu tiriku. Eh, Ngomong-ngomong Kamu pasti jadi orang sukses dong sekarang?” tanya balik Priska melihat Luna yang tampak modis tetapi sederhana.


"Biasa aja sih. Keluargaku masih sama yang dulu!” bohong Luna. Luna sengaja menutupi jati dirinya agar statusnya menjadi wanita kontrak William aman dan tidak di ketahui keluarganya.


"Bohong!”


"Aku jadi simpanan om-om!”


Priska terdiam sejenak, mana mungkin Luna yang di kenal cerdas bisa menjadi simpanan Om-om.”


"Serius? Ngaco kamu. Gila!”


“Beneran, aku gak bohong. Kalau kamu mau aku ada Om-om satu lagi. Lumayan bayarannya!”


"Gila! Kamu datang kemari ngajak aku sesat!”, Priska memukul Luna sambil tertawa begitu juga Luna.


"Kalau kamu mau! Aku gak maksa. Soalnya Om ini asisten Omku! kalau kamu mau Minggu depan kita ke bali.”

__ADS_1


"Wah...! Gila parah. Aku pikir-pikir dulu deh! Tapi kerjanya ngapain aja?” Priska juga penasaran apa pekerjaan jika ia kencan bersama Om-om.


“Nanti kamu juga tahu Kalau kamu mau! Ya sudah, Ini No hapeku. Kalau kamu mau. hubungi aku!” Luna meeraih ponsel Priska dan menyimpan nomornya di ponsel Priska.


__ADS_2