Ikatan Cinta William

Ikatan Cinta William
Bab 20 Baik-baik Saja.


__ADS_3

“Halo, istriku! Apa kabar?” goda Bara saat visit di ruangan Luna membuat gelak tawa suster yang mendampingi Bara. Luna yang geram dengan sebutan istri dari Bara pun melepar kulit jeruk ke arah Bara. Kebetulan ia sedang memakan buah jeruk di bantu Biang Ida.


"Istriku, istriku! Kapan kita nikah?” kesal Luna.


"Besok, jangan marah-marah dong. Nanti anaknya galak.“


“Biarin!”


"Sudah, Sini aku periksa.” Bara mulai memeriksa Luna dengan serius. sedangkan Luna memperhatikan Bara begitu lekat.


Luna tidak menyangka mempunyai teman dan sahabat yang begitu perhatian Padanya serta tidak peduli masa lalunya.


"Ok, Dua jam lagi nanti aku jadwalkan USG ya. Jangan banyak pikiran. Kalau banyak pikiran bagi aja sama aku.” Bara mengerlingkan satu matanya.


"Hem. Baik Pak dokter, Pak dokter baik sekali.” balas Luna sambil menyuapi Bara jeruk.


“Oh, ya. Aku pengen bubur. Boleh?”


"Boleh. Nanti kalau aku selesai praktek. Aku bawakan.”


Luna tersenyum lalu meraih tangan Bara.“ Terima kasih ya.”


"Sama-sama."


Bara tersenyum lalu ia keluar di ikuti Suster yang mendampinginya. Sementara itu Luna melanjutkan memakan jeruknya.


"Biang, Kakak kapan datang kemari?” tanya Bella pada biang di sela makannya.


"Mungkin sebentar lagi, Nona. Sudah 5 hari ini tuan Martin masih bolak-balik ke kantor polisi untuk menangani kasus kemarin.”


"Tapi kira-kira itu siapa ya, Biang. Datang tidak mengambil apapun tapi langsung menyerang saya.”


“Memang Nona yang di incar. Makanya di depan ada polisi 24 jam jaga di depan kamar Nona.”


Luna terdiam dan mencerna semua kejadian akhir-akhir ini. Adanya teror pesan dan surat kaleng. Namun itu semua Luna sembunyikan dari Kakaknya.


“Apa ini ada hubungannya dengan surat kaleng itu ya?” batin Luna sambil minum air putih.


“Luna!” Panggil sang Papa yang tiba-tiba datang bersama orang yang sangat ia kenal. Siapa lagi kalau bukan William.


“Papa!” Luna dan Biang Ida saling pandang. Kenapa Daniel bisa mengetahui Luna ada di rumah sakit.


"Sayang, Maafkan papa.” Daniel mengusap lembut rambut Luna.

__ADS_1


"Papa.” Luna masih tidak percaya di hadapannya adalah sang Papa yang selama ini tidak pernah peduli dengannya.


“Bagaimana kondisimu dan calon bayimu?”


"Baik, Pa.”


“Papa sudah mengetahui semuanya dari William. Maaf selama ini Papa tidak memperhatikan dirimu sayang.” Daniel begitu menyesali perbuatannya sudah mengabaikan Luna.


Daniel mengetahui semuanya dari William, mulai dari Luna menjadi pasangan kontraknya dan semua alasannya, hingga ia hamil anak William.


"Memangnya Papa gak malu punya anak hamil di luar nikah?”


"Semua sudah terjadi, Kamu tidak menggugurkan kandunganmu saja, Papa senang. Itu artinya kamu bertanggung jawab dengan apabyg kamu perbuat. William juga akan bertanggung jawab.”


"Bertanggung jawab seperti apa, Maksud Papa?"


"Kalian akan menikah!”


"Gak! Pa. Mas Willi masih punya istri. Luna gak mau jadi penyebab perceraiannya. Gak mau!”


William tersenyum lalu mendekati Luna. William meraih tangan Luna.“ Aku sudah berpisah. Memang putusan pengadilan belum final. Sekarang Sonya ada di penjara karena ulahnya. Kakakmu yang menjebloskan ke penjara.”


"Apa Sonya di balik ini semua?” tanya Luna hati-hati. William hanya mengangguk.


"Terus, Papa tahu aku di sini dari siapa?”


Luna hanya menghela nafas panjang lalu menarik selimutnya. Daniel kemudian duduk di sofa, memberikan kesempatan William dan Luna untuk berbicara. William duduk di brankar sambil memegang tangan Luna.


“Maafkan aku sayang, aku baru bisa mengambil tindakan tegas pada Sonya. Aku pikir Sonya bisa berubah tetapi semakin parah.”


“Terus bagaimana dengan Ibu Ratna?”


"Mama Syok dan Sempat masuk rumah sakit. Tapi sekarang sudah pulang dan istirahat di rumah.”


"Terus, Kenapa Mas malah datang kesini, bukannya menemani Ibu?”


"Mas ada bisnis dengan Papamu. Ini tadi selesai meeting, lalu datang kemari.“ William memeluk Luna.


"Aku merindukanmu sayang,” ucap William pelan, Luna dengan ragu membalas pelukan hangat William.


"Aku juga, Mas. Aku tidak bisa melupakanmu karena ada ikatan diantara kita.” Luna melepaskan pelukannya lalu meletakkan tangan William di perutnya.


"Ini adalah ikatan cinta kita. Walau aku tahu prosesnya salah. Demi rasa cintaku padamu, aku mempertahankan bayi ini dan mengabaikan cacian orang banyak.”

__ADS_1


"Terima kasih, sayang.” William mengecup kening Luna lalu memeluknya kembali. William sangat bahagia Luna tidak melenyapkan calon bayinya sekaligus merasa bersalah sudah tidak mendampingi di hari-hari sulitnya.


Tak lama Martin datang dan terkejut melihat William memeluk Luna. Sebab ia tidak tahu jika sang papa datang bersama William. Martin dengan emosi menghampiri William lalu menarik kerah belakang kemejanya.


"Dasar laki-laki brengsek. Laki-laki tidak bertanggung jawab.” Martin langsung menghajar William tanpa ampun.


“Stop kak!” jerit Luna.


"Stop Martin!” Lerai Daniel.


Martin menghempaskan William ke lantai.“ Laki-laki brengsek, teganya kau mencampakkan adikku. Kau kenal aku, Kan?”


William berusaha bangkit dan memegangi pipinya.“ Luna tidak pernah cerita jika ia anak Om Daniel dan adik darimu. Wajar jika aku tidak tahu.” William berdiri melihat Martin.


"Laki-laki seperti ini yang kamu cintai, Lun. Kau tau dia ini sudah banyak gonta ganti pasangan!”


"Aku tahu kak. Tapi aku cinta sama dia. Dia yang ia menemaniku di saat aku kesepian dan butuh Sandaran. Lalu kalian kemana saat aku membutuhkan kalian! Aku tahu aku salah sudah datang padanya dan membuat perjanjian kontrak dengannya.”


"Sudah, cukup! Semua sudah jelas. William akan bertanggung jawab. Kamu Martin, hargai keputusan adikmu.”


Martin begitu kesal terlihat dari raut wajahnya.“ Kamu pintar, Luna. Tapi masalah percintaan kamu bego!” Martin lalu keluar begitu saja. Ia amat sangat membenci keberadaan William.


"Sudah. Kamu istirahat saja.” Daniel menghampiri Luna.


Luna mengangguk lalu berbaring dan Biang Ida membantu menurunkan brankarnya.


"William, kita keluar dulu. Obati luka di wajahmu!” Daniel mengajak William keluar agar luka di wajah William di obati lebih dulu.


Sementara itu Luna berusaha memejamkan matanya, Ia takut Martin akan mengamuk lagi.


"Biang, Aku takut Kakak mengamuk lagi.”


"Tidak, Nona! tuan Martin hanya meluapkan kekesalannya saja pada tuan William. Pasti sebentar lagi akan baik-baik saja. Sekarang Non istirahat ya. Apa mau menunggu bubur ayam dari dokter Bara?” ujar Biang Ida mencoba menenangkan Luna agar tidak terpikirkan lagi masalah William dan sang Kakak.


“Nunggu bubur, Biang. Aku lapar. Oh iya tolong ambilkan ponselku.” Luna meminta ponselnya untuk menghubungi Bara.


"Bara masih praktek gak, ya?” tanya Luna dalam hati sambil menekan tombol panggil si layar ponselnya.


"Halo, suami pura-puraku.” ucap Luna di sambungkan ponselnya.


"Eh, istri. Ada apa istri?” canda Bara menimpali.


"Mana buburku? Aku udah lapar!”

__ADS_1


"Iya, Nanti baru aku pesankan. Sebentar lagi sampai, Sudah ya. Aku masih ada praktek.”


Bara memutuskan sambungan Ponselnya begitu juga Luna, Luna tertea jikae mengingat tingkah konyol Bara.


__ADS_2