
“Kenapa aku di rumah sakit,” batin Luna saat siuman lalu pandangannya mengikuti sumber suara yang sepertinya sedang menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan bara. Pria yang menolongnya.
"Iya, aku pulang terlambat, Masih di rumah sakit menunggu seseorang.” Bara lalu menutup sambungan ponselnya.
Bara melihat Luna yang berusaha bangun.“ Kamu mau ngapain?” tanya Bara sambil menghampiri Luna.
"Aku mau minum.” Luna duduk kemudian beraih gelas di meja nakas di dekat brankarnya.
"Kamu harus beberapa hari di rawat disini. tubuh mu lemah. Tapi bersyukur kandunganmu baik-baik saja. Oh iya, dimana suamimu? aku tadi mencoba mencari nomor kontak di ponselmu tapi aku tidak menemukannya.”
"Aku tidak mempunyai suami!” balas Luna datar. Bara mengerutkan keningnya lalu menghela nafas mencoba mengerti pergaulan jaman sekarang.
“Lalu di mana keluargamu?”
“Disini aku tidak mempunyai keluarga.” Luna mengambil tasnya lalu mencari Ponselnya.
"Teman?” tanya Bara, Luna juga menggeleng sambil meletakkan ponsel di telinganya.
“Halo biang Ida, ini Shera. Tolong datang ke rumah sakit di dekat bandara. Saya ada di rumah sakit.”
"Non, Shera! di rumah sakit. Kenapa, Non?” tanyanya cemas.
"Tidak apa-apa. Biang kesini saja ya. oh iya tolong bawakan saya jus apel.”
"Baik, Non.” Keduanya mematikan sambungan ponselnya.
Bara melihat Luna begitu intens sambil melipat kedua tangannya di dadanya.“ Mama kamu?” tanya Bara.
"Bukan. Asisten villaku disini. Mamaku sudah lama meninggal. Oh iya. terima kasih kamu sudah menolongku. Maaf Saya harus membalas dengan apa?”
"Tidak perlu. Sesama manusia harus saling menolong, kan?”
“Terima kasih. Kalau begitu, kamu boleh pergi. Bukankah keluargamu sudah menunggu di rumah.” Bella meletakkan ponselnya di tasnya kemudian mengembalikan di laci meja nakas.
“Aku akan pulang, kalau orang yang menjagamu sudah datang.”
"Terserah!” Luna kembali berbaring dan membelakangi Bara.
Bara kembali duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sesekali melihat Luna yang terlihat tidur. Tanpa sadar ia pun tertidur di sofa dengan posisi duduk.
Luna sebenarnya tidak tidur, ia memikirkan cintanya pada William. Kenapa ia menggunakan perasaan dalam hal ini. Seharusnya cukup menemani dan ia mendapat apa yang ia mau. Namun nasi sudah menjadi bubur, ia harus tetap menikmati apa yang menjadi pilihannya. Apalagi saat ini, ia sedang hamil anak William.
__ADS_1
“Mas, aku akan menjaga anakmu dan aku hanya berharap kamu merasakan ikatan dengan anakmu. Akan aku ceritakan semua tentangmu agar kelak nanti dia mengenalmu,” batin Luna lalu menghapus air matanya.
“Permisi,” salam seseorang. Luna menoleh dan melihat siapa yang datang.
"Biang Ida!”
"Non. apa yang terjadi, Kenapa bisaasuk rumah sakit.“ Biang Ida menghampiri Luna.
Luna tersenyum.“ Tidak apa-apa Biang. Cuma lemes aja.”
"Itu siapa?”tanya Biang Ida menujuk Bara. “Pacarnya?”
"Bukan Biang! Itu tadi orang yang menolong Saya.”
"Oh, begitu. Oh iya, Ini jus apelnya.“ Biang Ida memberikan jus jeruknya yang di taruh di gelas khusus.
“Biang, aku mau memberitahu biang sesuatu, tapi tolong Biang jangan memberitahu Papa, dan Kak Martin.” Luna duduk di brankar.
"Apa itu, Nona?”
"Aku hamil, Tapi pacarku tidak tahu hal ini. Dia sudah menikah dengan wanita pilihan Ibunya.”
"Astaga, Non. Lalu apa rencana, Non?”
"Syukurlah, kalau Non bertanggung jawab. Anak ini tidak berdosa, Non. Tapi saya tidak membenarkan prilaku Nona. Jadikan ini pelajaran ya, Non.”
"Iya, Biang."
“Biang, tolong bangunkan Pemuda itu. Suruh dia pulang. Mungkin keluarganya sudah menunggu di rumah.”
"Baik, Non.” Biang Ida menghampiri Bara.
"Permisi tuan, tuan!” Biang Ida sedikit mengguncang lengan Bara. Bara membuka mata sekilas melihat Biang Ida.
"Anda siapa?” tanya Bara.
“Saya ART Nona Shera!”
“Shera?” bara heran bukankah namanya Luna.
"Shera nama tengahku. Di sini saya di panggil Shere,” saut Luna.
__ADS_1
“Kamu boleh pulang dan terima kasih atas bantuannya,” ucap Luna lagi sambil minum Jus apelnya.
"Ok baiklah. Sekarang aku tidak lagi tanggung jawab atas dirimu. Semoga kamu dan calon bayimu baik-baik saja.“
"Terima kasih, Kamu tidak usah pikirkan itu.”
"Baiklah. Selamat tinggal.” balas Bara kemudian keluar dari ruangan Luna.
Biang dan Luna melihat Bara keluar dan akhirnya Luna bisa tenang tanpa orang berduaan dengan orang asing.
Disis lain William sedang di ruang kerjanya. Setelah menikah ia tinggal bersama orang Mamanya, karena Adrian melanjutkan kuliahnya di luar negri.
William bukan mengerjakan pekerjaannya di ruangannya, melainkan memikirkan Luna. Ia menyesal dan merasa bersalah sudah memberikan harapan palsu pada gadis yang ia cintai dan memberikan warna dalam hidupnya. Andai saja ia bisa menolak permintaan sang Mama, meminta dirinya menikahi Sonya. Tetapi ancaman sang Mama membuat dirinya mengalah. Andai saja sang Mama tidak mengancam bunuh diri, mungkin saat ini ia masih bersama Luna.
"Luna, kamu wanita yang bisa membuatkubjatuh cinta sampai sepe di ini, tapi mungkin aku yang pecundang,” batin William yang duduk santai di meja kerjanya.
"Mas...!” panggil Sonya tiba-tiba masuk kedalam ruangan kerjanya. William sekilas melihat Sonya.
“Apa?“ jawabnya datar.
"Makan malam sudah siap. Ayo makan malam! Mama sudah menunggu!” Sonya mendekati William.
"Kalian makan saja dulu, aku belum lapar!”
"Mas ...kasihan Mama lama menunggu! Mama mau makan bersama anak laki-lakinya.”
William menghela nafas lalu bangkit kemudian keluar begitu saja tanpa melihat Sonya yang berusaha meriah lengannya.
"Astaga! Gue nikah sama bongkahan es kalia ya. Untung baja kaya! kalau gak, mana mau aku nikah sama cowok kayak es gitu! Ya ...walau sampai sekarang gue belum di sentuh,“ grutu Sonya kesal lalu mengikuti langkah William keluar ruangan menuju ruang makan.
William duduk di ujung meja tempat biasa ia makan. Sang Mama begitu senang melihat Sonya yang sepertinya begitu perhatian dengan William. Caranya mengambilkan makan dan menuangkan air minum sungguh membuat Mama William senang dan mengira mengira mereka sudah mempunyai rasa cinta.
“Kalian kapan bulan madu, sudah satu Minggu loh kalian menikah!” ujar Ratna pada keduanya.
“Iya,nanti. aku masih ada pekerjaan.” William lalu mulai makan.
"Bagaimana masakanku, Mas?” tanya Sonya melihat William makan masakanya.
"Enak,” balasnya datar walau sebenarnya masakan Sonya kurang di lidahnya. Baginya masakan Luna yang paling lezat.
"Besok, aku masakin lagi menu lain ya," tawar Sonya.
__ADS_1
"Hm!”
William sekilas melihat Sonya, pandangannya begitu tidak menyukai sosok wanita yang setiap hari mencari muka di depannya juga di depan Mamanya. William sebenarnya sudah mengetahui siapa Sonya sebenarnya, Wanita yang suka berkencan dengan bos-bos besar, salah satunya rekan kerjanya. Dan itulah sebabnya ia tidak ingin menggaulinya.