Ikatan Cinta William

Ikatan Cinta William
Bab 11 Priska Dan Mark


__ADS_3

“Sudah siap berangkat ke Bali?” tanya William saat Luna selesai mempersiapkan semuanya.


"Siap, tuan!” Luna kemudian menghambur ke pelukan William. Tidak peduli dengan tatapan Mark yang begitu iri.


“Maaf taun, Nona. Mari!” ujar Mark agar adegan romantis itu selesai. Luna hanya tersenyum begitu juga William.


William dan Luna mengikuti langkah Mark yang membawa koper keduanya menuju lift. Saat sampai bdi lobby rupanya Priska sudah menunggunya di sana.


"Luna!” panggil Priksa.


"Hai!” balas Luna melambaikan tangan ke arah Priska.


"Itu wanita yang kamu ceritakan kemarin?”


"Hem!” Luna menghampiri Priska dan mereka saling berpelukan.


“Itu om kamu?” bisik Priska sambil melihat William.


"Iya, gantengkan, gak kayak bayangan kamu!”


"Gila! Kalau kayak gitu aku juga mau!” Keduanya tertawa.


"Ya sudah ayo!" Luna mengajak Priska menuju mobil yang sudah menunggu mereka di depan.


"Tuan Mark, tolong koper teman saya masukin ke bagasi ya dan kenalin ini Priska, teman saya!” ujar Luna saat di dekat mobil dan melihat Mark sedang merapikan koper di bagasi mobil.


Priska tersenyum begitu juga Mark. Seketika pandangan mereka juga mengisyaratkan saling tertarik.


"Gila kalau omnya kayak gini sih aku mau!” batin Priska.


"Lumayan cantik!” batin Mark melihat senyum manis Priska.


Mark lalu memasukkan koper Priska kemudian membukakan pintu mobil untuk William dan Luna. kemudian membuka pintu depan untuk Priska.


"Priska kamu duduk di depan ya, Sama tuan Mark. Kami di belakang!”


"Oh, Iya! Duduk di hati tuan Mark juga boleh!” canda Priska membuat gelak tawa. Lalu semuanya masuk kedalam mobil.


Sepanjang perjalanan ke bandara Mark dan Priska saling melirik satu satu sama lain. Sedangkan William dan Luan asyik bermesraan sendiri. bahkan berciuman tanpa peduli Mark dan Priska melihatnya dari kaca mobil. Dan itu sukses membuat Mark dan Priska salah tingkah.


Sesampainya di bandara William menggandeng Luna masuk ke dalam bandara sedangkan Priska membantu Mark untuk cek in serta membawa koper sang Bos.


“Kamu sudah lama berteman dengan Nona Ana?” tanya Mark pada Priska.

__ADS_1


"Tidak, kami teman sewaktu SD dan kebetulan kemarin dia datang ke rumah mengajak saya liburan ke bali.”


"Oh!” Mark kemudian berjalan ke bordingpass di ikuti Priska menyusul William dan Luna yang sudah lebih dulu ke bordingpass.


"Tuan, Mari. Administrasinya semua sudah selesai!”


"Ok! Ayo sayang!” William merangkul pinggang Luna menuju pesawat di ikuti Mark berjalan di sisi Priska. Saat di dalam pesawat William dan Luna duduk bersebelahan begitu juga Priska dan Mark.


Sesampainya di Bali mereka menuju hotel milik William sendiri. Mereka menuju kamar masing-masing. Priska satu kamar dengan Mark dan itu semua sudah di atur oleh William dan Luna.


"Kamu keberatan satu kamar dengan saya, Nona?” tanya Mark. Priska tersenyum ragu. Ia canggung batu permata kali berdua di kamar dengan pria dewasa yang cukup matang. Sedangkan dirinya baru 24 tahun dan tidak begitu berpengalaman seperti Luna.


"Saya nurut saja, tuan. kan saya di ajak liburan. Gratis! jadi saya tidak bisa protes.” Priska tertawa menghilangkan rasa groginya.


"Kalau kamu risih, saya bisa pesan kamar lain!”


Priska menarik lengan Mark agar tidak keluar kamar.“ Em ... jangan tuan. Tidak apa-apa kita sekamar. Paling yang ketiga setan ruh halus,” balas Priska membuat Mark tertawa.


"Baiklah. Sepertinya kamu orang yang menyenangkan!”


"Terima kasih, tuan.”


“Jangan panggil aku tuan! Panggil saja Mark!


"Hah! itu tidak sopan tuan!”


"Em... ya! Sudah sangat jelas dari wajah Anda, kalau Anda bule!”


"Berapa ya usiamu?” tanya Mark sambil duduk di atas tempat tidur.


“Sama seperti Luna, 24 tahun. kalau tuan? em ... maksud saya Mark?”


“Saya 37 tahun!”


Priska hanya tersenyum tipis lalu ia duduk di sofa. Mereka saling mengobrol sampai merasa dekat. Mark dan Priska sepertinya sudah semakin akrab. Disisi lain William dan Luna menuntaskan apa yang sudah mereka mulai di mobil. keduanya sudah sangat puas satu sama lain.


"Mas, sudah siang. Makan yuk? Lapar!”


"Ya sudaha mandi dulu. Nanti kita makan siang bersama-sama lalu ke pantai.”


“Ok!” Luna bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya di susul William. Tak begitu lama mereka selesai mandi dan bersiap ke restoran.


“Mas, aku tunggu Priska sama tuan Mark!” ujar Luna saat mereka keluar kamar.

__ADS_1


"Iya!”


Luna dan William menunggu Mark dan Priska di depan pintu lift. Tak lama dua orang yang di tunggu pun keluar kamar.


"Luna!” panggil Priska lalu meraih tangan Mark tanpa sadar agar jalannya lebih cepat.


"Cie udah dekat ni?” ledek Luna. Priska refleks melepas tangannya.


"Apa sih! Udah Ah!” Priska tersipu malu melihat Mark.


“Ya sudah yuk!” ajak Luna masuk kedalam lift. Luna tetap berdiri di samping William dan William terus merangkul pinggangnya. sedangkan Mark dan Priska hanya melihat sambil saling pandang dan tersenyum.


Sesampainya di restoran mereka duduk di tempat yang sudah di pesan. Mereka memesan makanan yang menurut selera masing-masing.


"Ayo di makan Priska! Gak udah malu-malu, Nikmati liburannya. Tenang gak di suruh bayar sendiri kok. Ada mas Bos!” Ujar bela bergurau.


"Iya. Kebetulan emang udah laper.” Priska memulainya dengan minum jusnya lebih dulu. Baru mulai makan.


"Kalau kayak gini aku bisa gemuk!” batin Priska. Mark hanya tersenyum melihat Priska makan.


"Nanti malam kita ke klub!” ajak William.


"Baik tuan?” jawab Mark.


"klup?” batin Priska. Ia melihat Luna yang tampak biasa saja dan justru senang saat William mengajaknya ke klup.


"Sudah gak usah heran. Ini Bali Priska, kita senang-senang, Pokoknya aku ajak kamu ke sini buat senang-senang.”


"Baiklah. Aku ikut saja,” balas Priska.


“Sudah habiskan makannya.” Mark memberikan air mineral pada Priska.


"Terima kasih, Mark!”


Luna dan William ikut senang, mereka sudah saling akrab.


Mereka menghabiskan makanannya masing-masing sambil bercerita dan bercanda. Namun William sedikit gelisah setelah membaca pesan dari sang Mama yang terus menyuruh menjalin hubungan dengan Soraya.


"Mas kenapa? kok tiba-tiba murung?” tanya Luna.


“Tidak ada! Hanya ada sedikit pekerjaan.”


"Tapi tidak menggangu liburan kita, kan Mas?”

__ADS_1


"Tidak sayang! Masih ada Mark!”


Mark melihat William. ia heran perkejaan apa yang di maksud William. Padahal pekerjaan sudah di selesaikan sebelum liburan.


__ADS_2