
Luna menangis di dalam kamar apartemen William. Sebenarnya ia tahu menjadi pasangan kontrak sama saja seperti wanita tidak benar, dan memang faktanya. Akan tetapi hanya dengan itu ia bisa merasakan kasih sayang. Apa lagi di hatinya kini tumbuh rasa cinta untuk William.
Luna meringkuk di atas tempat tidur, dan air matanya terus mengalir. Ingatannya kembali saat Mamanya masih hidup. Rasanya ia ingin kembali teleportasi di waktu Mamanya masih ada di dunia.
William yang baru saja datang tersenyum tipis, melihat Luna meringkuk. Ia berjalan menghampiri Luna sambil melepas jasnya dan membuangnya sembarang lalu berbaring di sebelah Luna dan memeluk Luna dari belakang.
“Hai! I Miss You!” William beberapa kali mencium pucuk rambut Luna.
Luna mengusap air matanya, lalu membalikkan badannya menghadap William.
“Mas.” Luna masuk kedalam pelukannya dan memeluk erat William.
“Semua akan baik-baik saja. Aku akan tetap bersama kamu!”
“Terima kasih, Mas. Tapi mungkin sebaiknya Mas menuruti permintaan Ibu.”
“Sudah. Itu nanti saja. Saat ini aku ingin bersama kamu.” Luna tersenyum lalu mengecup bibir William kemudian mereka saling berpelukan.
Luna menyembunyikan wajahnya di leher William, menghirup aroma tubuhnya. Aroma yang membuat Luna begitu tenang dan nyaman. Ia selalu berharap akan terus bersama William dan melupakan status kontraknya.
“Mas aku lapar!” cicit Luna manja. William tertawa kecil lalu melihat Luna sekilas.
“Ya sudah, makan yuk!”
“Tapi, aku lagi gak mau masak!”
“Gak perlu. Tadi Mas sempat beli makanan sebelum pulang!”
Mereka berdua bangkit kemudian mereka berdua menuju ruang makan.
Luna mencuci tangannya lalu menyiapkan piring dan minum, sementara William duduk sambil membuka kotak makanannya.
“Mas … cuci tangannya dulu!” seru Luna saat melihat Willam hendak memakan makanannya.
“Oh iya, Lupa!” Luna tertawa kecil melihat Willam yang terkadang bertingkah seperti anak kecil.
Luna menaruh makanannya di piring dan menyiapkan untuk William lebih dulu, barulah sisanya untuk dirinya.
“Mas, tadi aku sudah belanja bahan dapur. Kebutuhan Kamar mandi buat Mas juga sudah aku belikan. Tinggal janji Mas, mau belikan aku panci kapan?” William tertawa rupanya kekasih kontraknya itu tidak lupa dengan janjinya.
“Kok tertawa sih, Mas!”
__ADS_1
“Ya udah. Nanti sore ya! Mas ajak pusatnya langsung!”
“Beneran?”
“Iya, sayang!" Luna begitu bahagia dan langsung memeluk William.
“Aku gak sabar pengen bikin masakan spesial buat kamu, Mas! Terima kasih, Terima kasih!” Luna menciumi pipi William beberapa kali dan tertawa senang.
William juga ikut merasakan kebahagiaan Luna. Namun ia heran, hanya menginginkan sebuah panci saja sudah membuat Luna begitu bahagia. Bagaimana bisa orang tuanya tidak memperdulikannya. Padahal yang ia minta hal sepele yaitu perhatian. Hanya untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang serta sedikit biaya hidup ia rela menerima tawaran menjadi pasangan kontraknya.
Terbukti Luna hanya menggunakan sedikit uang pemberian William. Terlihat jelas dari tagihan kartu kreditnya yang ia berikan pada Luna.
***
William menepati janjinya mengajak Luna ke pusat perabotan. Luna begitu bahagia saat matanya melihat semua yang terpajang di rak. William tersenyum melihat wajah sumringah Luna.
“Mas, mau yang ini!” William tersenyum dan mengangguk lalu melihat petugas yang sedari tadi mengikutinya.
“Mas, tambah yang ini boleh?”
“Boleh sayang! Tunjuk semua yang kamu mau. Hm!”
“Terima kasih ya, Mas!” Luna kemudian menunjuk tiga barang yang menurutnya berguna untuk di dapur. Setelah itu petugas mengambil semua yang diminta Luna dan dibawanya ke kasir setelah di lihat Luna.
Luna membuka dompetnya, namun William menahannya.
“Ini saja,” ujar William.
“Tapi, Mas! Uang dari Kamu masih banyak!”
“Gak apa-apa, buat Jajan kamu.” Luna tersenyum lalu meraih lengan William dan menyadarkan kepalanya.
Andai saja Papanya pengertian seperti William. Memberikan uang jajan dan kebutuhan sehari-hari. Selama ini Papanya tidak pernah memberikan uang padanya dengan alasan sudah mendapatkan uang dari hasil kafe. Papanya hanya membayar orang-orang yang bekerja di rumahnya. Mungkin sang papa berpikiran Luna sudah dewasa dan sudah menghasilkan uang dari usia 18 tahun. Tetapi tidak memikirkan bahwa anak juga butuh perhatian.
Terkadang Luna berpikir percuma menjadi anak orang kaya, tetapi semua kebutuhan ia penuhi sendiri dan merasa hidup sebatang kara.
William memberikan kartu kreditnya, membayar semua belanjaan Luna. Setelahnya mereka kembali pulang ke apartemen.
Sesampainya di apartemen, Luna dengan bahagia membongkar belanjaan dan menempatkannya di dapur. William hanya melihatnya dari ruang tengah dan diam-diam mengambil foto dari ponselnya.
“Mas! Sekarang dapur Mas sudah lengkap. Aku janji setiap pagi aku akan memasak masakan yang lezat untuk tuan ku tercinta!” seru Luna sambil melihat dapurnya.
__ADS_1
William tersenyum lalu menghampiri Luna dan memeluknya dari belakang.
“Belum lengkap, sayang! Belum ada istri di apartemenku,” batin William belum berani mengungkapkan brasa hatinya.
“Kau suka!” Hanya itu yang terdengar di bibir William.
“Iya!” Luna membalikkan badannya dan melihat wajah laki-laki yang sukses membuat dirinya jatuh hati.
William tersenyum kemudian mulai mencium bibir Luna. Luna yang paham pun langsung melayani William dan pada akhirnya berakhir di tempat tidur.
“Aku tidak akan segan memberikan apapun padamu, sayang. Tapi puaskan aku!” bisik William di tengah permainannya.
“Lakukan apa saja padaku tuan. Aku hanya meminta kasih sayang darimu.” desis Luna di bawah Kungkungan William.
Suara nikmat mereka berdua saling bersahutan entah sudah berapa durasi mereka bermain, hingga melupakan makan malam. William menyudahi permainannya saat Luna berbisik kelelahan.
“Tuan kenapa di dalam?” pekik Luna karena William mengeluarkannya di dalam, karena biasanya ia keluarkan di luar saat tidak menggunakan pengaman.
“Nikmat sayang! Aku lupa! Tidak usah khawatir, kalau memang nanti menghasilkan tauge, aku akan tanggung jawab semuanya.”
Luna terkekeh dalam dekapan William sambil menepuk punggungnya saat mendengar William mengatakan tauge. Memang bayi itu seperti kecambah, pikir Luna.
“Mas pikir kacang ijo jadi kecambah?”
William tersenyum sambil melihat lekat Luna lalu mencium bibirnya dengan lembut.
“Tetaplah bersamaku,” ujar pelan William.
“Tetaplah memanjakanku, Mas. Aku nyaman bersamamu.” Luna memeluk William dengan posisi William masih di atasnya.
Baru beberapa detik berpelukan Ponsel William berbunyi. William bangkit dari atas Luna lalu meraih ponselnya. Dilihatnya layar ponselnya tertera nomor yang tertera ia kenal, tetapi ia tetap menjawab panggilan tersebut.
“Halo! Siapa ini!” jawanya sambil duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.
“Maaf tuan kami dari kantor polisi.”
“Iya! Ada perlu apa Bapak menghubungi saya?”
“Maaf tuan, apa betul Adrian Abraham adik anda?”
“Iya betul!”
__ADS_1
“Mohon datang ke kantor polisi tuan adik Anda membuat keributan di club!”
“Keributan apa lagi, yang anak itu perbuat. Baiklah setengah jam saya akan ke sana!” William kemudian memutuskan sambungan ponselnya.