Ikatan Cinta William

Ikatan Cinta William
Bab 18 Habisi Dia


__ADS_3

"Ini Surat gugatann perceraian kita. Tanda tangan dan kamu bebas,” ucap William sambil meletakkan surat gugatan di atas meja makan dan di saksikan sang Mama.


"Kamu gila ya Will! Kalau kamu gugat cerai, Pak Sanusi akan menarik semua sahamnya dan kau tahu itu! dan kamu juga tidak lagi melihat Mama” balas Ratna dengan lantang.


"Aku tidak peduli, Ma. Aku tidak pernah mencintai Sonya.”


“Cinta itu bisa tumbuh dengan sendirinya, Willi!”


"Terserah, Mama! Aku mau berpisah dengan wanita ini!” William pergi begitu saja dan meninggalkan meja makan.


"William!” panggil Ratna.


"Sonya! Kamu kenapa malah diam saja! kejar itu suami kamu!”


“Sudahlah, Ma! Tenang saja. Mas William tidak akan pernah menceraikanku. Akuvsudah memegang kartu As, Mas Willi. Saat ini biarkan saja. Lagian dia belum berucap talak, kan. Sudah Mama tenang saja.”


Dengan bingung Ratna duduk kembali dan mencerna apa yang di maksud kartu As oleh menantunya itu. Sonya bangkit dari duduknya.


"Ma, aku pergi dulu ya. Hari ini Sonya ada urusan sama Papa.”


"Kamu tidak akan menceritakan ini dengan Papa kamu, kan?” tanya Ratna takut jika Sonya menceritakan jika William menggugat cerai Sonya.


"Tidak, Ma. Tapi tergantung. Jika aku itu terjadi ya siap-siap perusahaan Mas Willi jatuh.”


"Da, Mama.” Sonya kemudian pergi menemui sang Papa.


Sementara itu William sudah merencanakan sesuatu jika Pak Sanusi atau Ayah Sonya menarik semua sahamnya, William akan mengajukan kerja sama dengan Daniel,vPapa dari Luna.


Sesampainya di kantor William menghubungi Mark sang Asisten untuk menemuinya di ruangan kerjanya.


“Pemisi tuan, tuan memanggil saya?” tanya Mark saat sudah diruangan William.


“Hem. Kau sudah menyelesaikan proposal pengajuan kerja sama di perusahaan tuan Daniel Gerrik?”


"Sudah tuan, Ini.” Mark memberikan Map yang berisikan dokumen proposal yang ia minta.


William melihat dan membacanya isi proposalnya dengan teliti. “ Ok. Kalau begitu tolong atur jadwal pertemuanku dengan tuan Daniel!”


“Baik, tuan. Segera saya hubungi sekertarisnya.”


"Hem!”


Mark kemudian keluar dari ruangannya, lalu ia pun mengerjakan pekerjaannya. Sementara itu Sonya menemui seseorang yang menjadi kaki tangannya.


"Kalian pasti tahu, kenapa aku menemuimu.”


“Katakan, tugas baru apa yang harus kami kerjakan, Nona?” tanya orang tersebut


Sonya memberikan sebuh foto pada orang tersebut." habisi orang yang ada di dalam foto itu, beserta calon bayinya. Dia ada di Bali. Nanti aku kirim alamatnya.”

__ADS_1


“Gampang! Asal bayaran, Nona sesuai.”


"Ok, Ini uang mukanya. Jika tugasmu sudah selesai, Nanti aku berikan dua kali lipat.” Sonya memberikan uang muka 20 juta untuk menghabisi Luna di Bali. Ia melakukan itu karena Lunalah William sampai saat ini tidak meliriknya.


"Ok. Aku pergi.” Sonya pun pergi Ndari markas orang kepercayaan itu.


Disisi lain Luna tengah asyik bersantai di pantai bersama sang kakak serta kekasih sang kakak, ada juga biang keributan, Bara.


Semenjak Mengetahui Luna hamil, Martin begitu perhatian dengan adiknya dan berjanji untuk menjaganya serta calon ponakannya. Martin sudah berulang kali bertanya, siapa orang yang menghamili, akan tetapi Luna tetap bungkam dan menyuruh Martin agar tidak ikut campur dengan masalah tersebut. Martin hanya bisa pasrah bdan menghormati keputusan sang adik.


"Kak, mau kelapa muda itu!” Luna menujuk pedagang kelapa muda yang vada di dekat pantai.


"Tunggu sini, Kakak belikan. Hei! Kau ikut aku!” ajak Martin pada Bara yang sedang bermain pasir dengan anak kekasih Martin. Rupanya kekasih Martin seorang single parent.


"Kenzo, mau ikut om tidak?” tanya Martin pada anak kekasihnya.


"Kemana, om?“


"Jajan, yuk!”


"Asyik!“ Kenzo berlari menghampiri Martin di ikuti Bara. Sedangkan Luna dan kekasih sang kakak berbincang.


“Luna,” panggil Dera kekasih Martın.


"Ya kak.”


"Tidak usah menanyakan itu lagi, Kak. Kalau sudah waktunya semua orang pasti tahu siapa Ayah dari anak ini. Biarkan Ayah bayi ini menyelesaikan urusannya lebih dulu.”


"Ok, baiklah.” Dera tersenyum tipis.


"Lun, Ini.” Bara datang dengan membawakan kelapa muda. Bara juga sangat perhatian dengan Luna, membuat Dera curiga jika Bara menaruh hati pada Luna. Karena sikapnya selama ini begitu manis dengan Luna walau terkadang mereka tampak konyol.


"Sayang, ini buat kamu.“ Martin memberikan kelapa muda untuk Dera.


"Terima kasih, Martin.”


"Mama, Zero minum ini.”


Dera tersenyum dan mengangguk. Luna juga tersenyum melihat tingkah zero, ia membayangkan jika anaknya lahir nanti pasti menggemaskan seperti Zero.


"Bara, Besok temani aku ya, ke toko perlengkapan bayi!” ujar Luna pada Bara yang duduk di sampingnya.


"Jam berapa. pulang praktek ya.”


"Sesempat kamu aja. Yang temani ya.”


"Tidak janji, soalnya besok aku ada jadwal operasi Caesar.”


"Kamu lahiran Cesar?” tanya Luna membuat gelak tawa yang mendengarnya.

__ADS_1


"Ya, gak aku juga Oneng! Semenjak hamil gak nyambung di ajak ngomong. Pasienku yang Cesar. Nyebelin lo!”


"Hehe, Maaf. Lupa!”


"Dasar!” Bara bangkit lalu bermain kembali bersama Zero.


"Luna,” panggil Martın.


"Kenapa kami gak sama Bara saja.”


"Maksud kakak.”


"Kalian menikah!”


Luna menghela nafas panjang lalu tertawa." Gila saja aku nikah sama Bara. Yang ada berantem tiap hari. Lagian aku sama dia gak saling tertarik, kakak. Kita hanya sebantas teman dan sahabat.”


"Tapi banyak kok. Sahabat lama-lama jatuh cinta.”


Luma tersenyum dan menganggap ucapan Kakaknya itu hanya angin lalu. Mana mungkin Bara menyukai wanita lanjang tetapi hamil.


Luna tidak mengetahui jika Bara menaruh hati padanya. Bara juga tidak berani mengungkapkan isi hatinya. Ia hanya bisa diam-diam mencintai Luna.


“Sudah kak. Aku tidak mau membahas itu. Aku ingin menikmati hari-hari dengan anakku saja.,jadi aku tidak kesepian lagi.”


"Luna ... luna!” Pekik Martin.


"Sudah, hormati keputusan adikmu,“ sela Dera.


Pandangan Luna menerawang melihat deburan ombak. Ia sedang memikirkan William,ventah kapan janji itu di penuhi pujaan hatinya. Ia hanya bisa menunggu entah sampai kapan.


"Mas, aku akan menunggu hari itu. Hari dimana kamu menjemputku,“ batin Luna tersenyum dalam hati.


"Haduh! capek ...!” seru Bara yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Luna.


"Om payah!” ujar Kenzo mengejek Bara lalu duduk di pangkuan Martin.


"Om, Capek Kenzo, besok lagi ya.”


"Jangan percaya, Kenzo. Om Bara memang payah!” saut Bella sedikit mendorong Bara.


“Biarin payah, Wek! Asal hak payah nanti sama anak kita, Ya dek!” canda Bara sambil mengusap perut Luna.


"He ... siapa yang mau main sama, Om. tendang dek!”


Bara pun merasakan tendangan bayi dalam perut Luna. Bara pun terkejut reflek menarik tangannya.“ Hai. kamu ngajak berantem, hah!”


"Iya, Om berani sama saya!” balas Luna menirukan suara anak kecil.


Semua tertawa dan bergantian mengusap perut Luna. Martin tersenyum melihat tawa sang adik, ealia tahu ada beban di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2