Ikatan Cinta William

Ikatan Cinta William
Bab 7 Kenapa Menyakitkan


__ADS_3

Luna datang ke kantor William. Ia datang sendirian sambil membawa jus dingin. Ia yakin William akan menyukainya, sebab siang hari lebih nikmat minum yang segar-segar.


Luna melangkahkan kakinya masuk kedalam kantor dan menuju meja resepsionis.


“Selamat siang, Mbak!”


“Siang, Nona! Bisa saya bantu?"


“Saya ada janji dengan tuan William. Apa tuan William ada di ruangannya? saya Aluna." Sang resepsionis mengerutkan dahinya melihat wanita yang berdiri di depannya itu begitu cantik, lemah lembut dan manis. Sudah pasti ini pasti kekasih bosnya yang baru.


“Ada Mbak! Tunggu sebentar, saya tanyakan pada beliau lebih dulu.” Luna mengangguk.


Resepsionis menghubungi William. Mengatakan bahwa ada gadis bernama Aluna mencarinya.


“Baik, tuan saya akan mengantarkan kekasih Anda.” ucap Resepsionis sebelum menutup sambungan teleponnya.


“Mari, Nona! Saya antar ke ruangan tuan William.” Luna tersenyum lalu mengikuti langkah resepsionis menuju lift.


Luna tersenyum rupanya karyawan tuanya itu begitu ramah dan sopan. Biasanya jika di cerita buku novel yang ia baca. Pasti sang resepsionis sedikit ketus dan tidak mengizinkan siapapun masuk untuk menemui bos besarnya, walau sudah membuat janji.


“Permisi, tuan!” ucap sang resepsionis ketika membuka pintu ruangan William.


“Masuk!” balas William tanpa melihat ke arah pintu.


“Maaf tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda!”


“Sia…,” ucapan terpusat saat melihat Luna masuk kedalam dengan senyum manis nan lembut.


“Sayang! Akhirnya kamu datang!” William bangkit lalu menghampiri Luna.


“Kalau begitu, saya permisi tuan!” William mengangguk. Namun matanya terus tertuju pada sosok wanita di depan


Setelah karyawannya keluar William memeluk erat Luna dan mengecup keningnya beberapa kali. Bahasa tubuh mereka tidak bisa dibohongi jika mereka jatuh cinta satu sama lain, akan tetapi mereka sadar dengan statusnya yang hanya pasangan kontrak. Mereka berdua belum berani mengungkapkan isi hati masing-masing.


“Tuan, ini saya bawakan jus jeruk.” Luna memberikan botol minumannya.


“Terima kasih ya!” William menerimanya lalu mengajak Luna duduk disofa.


“Tuan, jadi makan siangnya?”


William tersenyum melihat wajah cantik Luna dan tidak memperhatikan pertanyaan Luna. Paras cantik Luna sukses membuat William terpesona.


“Tuan.”

__ADS_1


“Iya, sebentar lagi. Aku ingin memandangi wajah manismu, Sayang.” William mengusap lembut pipi Luna. Luna hanya tersenyum malu mendengar pujian dari William.


“Terima kasih, tuan."


“Sssttt! Jangan panggil tuan. Panggil aku Mas!”


“Tapi tuan.”


“Jangan membantah!” Lagi-lagi Luna hanya bisa tersenyum malu. Apa lagi wajah William begitu dekat dengan wajahnya.


“Mas,” lirih Luna


“Sekali lagi.”


“Mas.” William tersenyum lalu mencium bibirnya.


‘Brakk!’ Suara pintu dibuka secara kasar membuat Luna dan William terkejut. Keduanya melihat ke arah pintu.


“Mama!” seru William melihat sang Mama masuk bersama seorang wanita. Luna dan William berdiri menyambut kedatangan Mamaya.


“Kenapa? Kamu terkejut?” balas Mamanya.


Ratna melihat Luna dari atas sampai bawah. Tatapan begitu sinis dan sama sekali tidak menyukai Luna.


“Terus! Kalau wanita kontrakmu ini boleh datang kemari?” ketusnya dan terus melihat Luna tidak suka.


Luna berusaha tersenyum ramah, kemudian mengulurkan tangannya sambil sedikit menunduk. Namun dengan kasar Ratna menepis tangan Luna.


“Mama! Maksud Mama apa?” Luna sedikit kecewa, tetapi memaklumi sikap Ratna yang mungkin tidak menyukai kebersamaan dirinya dengan sang putra.


“Kamu tau gak. Adrian sudah cerita banyak tentang kamu dan pasangan kontrak kamu itu! Bisa-bisanya Adrian jatuh cinta sama wanita murahan kayak dia. Dan kamu! Kamu itu sudah berumur, ngapain masih menyewa wanita buat senang-senang. Kamu itu pantasnya berumah tangga!” cerocos Ratna pada William.


“Ma! Ini jalan hidupku! ,Terserah aku mau berbuat apa!” Nada tinggi William menggema di ruangannya.


“OH … jadi karena wanita simpanan kamu itu …! KAMU BERANI MEMBENTAK MAMA, IYA!”


“MA!” Luna memegang lengan William, agar tidak bernada tinggi pada sang Mama.


“Tuan. Jangan berbicara seperti itu. Hormati Mama Anda. Saya permisi. Maaf Nyonya!”


“Nah gitu dong! Sadar diri! Dasar wanita malam!” Luna hanya tersenyum menahan rasa sakit di dadanya. Kemudian ia mengambil tas dan menyalami William.


“Saya permisi tuan, Maafkan saya Nyonya." Luna sedikit menunduk kemudian melangkah pergi.

__ADS_1


“Luna! Sayang!” William mengejar Luna. Sedangkan Ratna dan wanita yang bersamanya hanya tersenyum penuh kemenangan.


“Luna! Jangan pergi sayang.” William meraih lengan Luna.


“Tidak tuan! Tapi Ibu Anda saat ini lebih penting. Tolong jangan membentak atau bernada tinggi pada Ibu Anda. Untuk hari ini saya tidak akan mengganggu Anda. Saya tunggu di apartemen.” Luna mengusap pipi William kemudian mencium pipinya.


Luna membalikkan badannya lalu pergi meninggalkan William. Biarlah William hari ini bersama orangtuanya. Namun ucapan Mama William begitu menyakitkan hatinya. Air matanya tidak bisa dibendung dan mengalir deras saat berada di dalam lift.


“Kenapa menyakitkan. Bukannya ini pilihanku.” lirih Luna mencoba berhenti menangis. Namun justru air matanya terus mengalir .


Disisi lain William masih bersama. Sang Mama, Ratna. Dan wanita yang bersama Mamanya. William duduk di sofa melihat Ratna dan wanita bawaannya secara bergantian.


“Mama kemari mau apa?” tanya William merendahkan suaranya dan mengingat pesan Luna agar tidak kasar pada Mamanya.


“Mama mau kenalin kamu sama wanita pilihan Mama, namanya sonya, anak teman Mama," balas Ratna sambil merangkul Sonya.


“Sonya ini wanita baik-baik. Gak kayak pacar kontrakmu itu. Paling isi otaknya uang dan barang mewah!”


William hanya diam dan melihat jengah pada Ibu dan Wanita yang bernama Sonya itu. Dimatanya Sonya sama saja seperti wanita pada umumnya sama seperti apa yang ibunya katakan. Senyumnya yang di buat-buat manis di depannya, membuat William semakin tidak menyukai.


“Kamu itu udah 35 tahun, jadi cocoklah sama Sonya yang 30 tahun. Dewasa, gampang memahami kamu, sabar.” jelas Ratna membanggakan Sonya.


“Aku tidak suka dijodohkan. Aku mau mencari pasanganku sendiri!”


“Mencari dengan mengontrak mereka. Kamu sadar gak? Mereka itu hanya mau dengan uang kamu!”


“Terserah Mama! Hari ini aku banyak kerjaan.” William bangkit dari duduknya lalu menyambar kunci mobilnya dan juga jasnya yang ia letakkan di kursinya.


“Kamu mau kemana? Mau menyusul wanita murahan itu?" Kesal Ratna saat William melangkah menuju pintu.


“Aku ada meeting dengan klien.”


'Brakk!’ William menutup pintu kamar dengan begitu keras.


William setengah berlari menuju lift sambil meraih ponselnya di kantung jasnya. Kemudian menghubungi Mark.


“Mark, tunda meeting hari ini. Aku ada urusan.”


“Tapi, tuan!”


“Aku tidak suka dibantah!” teriak William di sambungan ponselnya lalu masuk ke dalam lift.


William memutuskan untuk menyusul Luna ke Apartemen. Sepanjang perjalanan dirinya memikirkan Luna. William begitu takut Luna sakit hati dengan ucapan Mamanya.

__ADS_1


__ADS_2