Ikatan Cinta William

Ikatan Cinta William
Bab 19 Penyusup


__ADS_3

Luna sedang makan tengah malam sendirian. sayup-sayup, ia mendengar langkah kaki seseorang. Namun ia mengira langkah itu adalah langkah kaki sang Kakak yang terbangun untuk menemaninya.


"Kakak, mau ikut makan. Ini aku buat sosis goreng lumayan banyak,“ ucap Luna tanpa melihat ke arah belakangnya.


Tiba-tiba seseorang itu membekap mulutnya. Luna memberontak dan menjatuhkan piring. Luna berusaha melepaskan tangan bekapan orang tersebut, Namun ia kalah tenaga.


Martin yang mendengar keributan pin bangun dan bergegas menuju dapur. Martin melihat sang adik di bekap dan berusaha di tarik paksa keluar.


"Hoy ..., lepaskan!“ Teriak Martin. Tangan Martin tidak tinggal diam, ia mencari sesuatu untuk melawan orang yang sudah berani membekanb adiknya. Martin mengambil stik golf yang ada di pojokan.


"Lepaskan adikku.”


"Jangan mendekat atau adikmu ini aku habis.” penjahat itu menodong pisau di leher Luna.


"Berani kau sentuh adikku. Aku lenyapkan nyawamu.”


"Kakak, tolong aku!” ucap Luna yang begitu ketakutan.


'Bukk’ seseorang memukul penjahat dari belakang dan langsung tidak sadarkan diri.


"Kakak!” Luna kemudian menghambur ke pelukannya.


"Dia pingsan, tuan.”


“Syukurlah. Yang penting adik ku tidak apa-apa." Martin terus memeluk adiknya yang ketakutan.


"Ikat dia di gudang, Aji. Aku ingin tau apa motifnya menyelinap ke villa ini dan kenapa mengincar adikku.” Martin melihat penyusup itu tidak ada mengambil barang berharga di villanya. Sudah pasti ada motif lain, karena langsung menyerang sang adik di dapur.


"Baik tuan.” Aji meringkus pelaku dan membawanya ke gudang. Aji mengikatnyavdi kursi dan membiarkannya sampai pagi.


Sementara itu Luna masih gemetaran duduk di sofa. Martin mencoba menenangkannya.


"Ini minumannya, Non.” Biang Ida meletakkan minumannya di meja.


"Minum dulu.” Martin membantu Luna minum.


"Kakak perutku sakit,” lirih Luna sambil memegangi perutnya.


Martin melihat sang adik dan melihat darah yang mengalir di sela kakinya.


"Astaga, Biang!“ teriak Martin.


"Ya, tuan.”

__ADS_1


"Tolong bilang ke aji siapkan mobil. Luna pendarahan.”


"Ba-baik tuan.” Biang segera memberitahu aji untuk menyiapkan mobil. Martin bergegas kekamar untuk mengambil dompet dan ponselnya lalu bergegas menghampiri Sanga adik dan membopongnya lalu membawanya ke mobil.


Martin pun langsung bergegas menuju rumah sakit dan memerintahkan Ajindan Biang untuk mengawasi Penyusup tersebut dan melarangnya melapor ke polisi lebih dulu, sebab ia ingin tahu motifnya masuk kedalam villa dan mengincar Luna.


Sesampainya di rumah sakit, Luna di bawa ke UGD dan langsung mendapatkan penanganan Tak lama, Bara datang dan kebetulan praktek di rumah sakit yang di datangi Luna.


“Apa yang terjadi, Luna?” tanya Bara sedikit panik sambil memeriks Luna.


“Tadi ada orang yang membekap aku dan menarikku, perutku sempat kedorong pinggiram kitchen set saat memberontak.”


"Baiklah, Kami akan berusaha semampu kami. Suster berikan suntikan agar pendarahannya berhenti.”


“Bara selamatkan anakku,” lirih Luna.


"Iya, Kami akan usahakan. Suster terus pantau detak jantung bayinya.”


"Baik, dok!” Dokter dan suster bergantian menangani Luna hingga pendarahan berhenti.


Bara melepas jas dokter dan duduk di kursi saat selesai menangani Luna. Ia lega bayi dalam kandungan Luna selamat dan Luna sudah tidak begitu kesakitan. Akan tetapi terus ia harus memantau kondisi Luna dan calon bayinya sampai benar-benar membaik.


Martin yang sudah di perbolehkan masuk masuk pun langsung melihat sang adik yang saat ini tertidur lalu menemui Bara.


“Sudah tugas saya, kak. Kami pantau dulu. Jika semakin ada kemajuan, nanti kami akan pindahkan ke ruang perawatan.”


"Baiklah. Aku titip Luna dulu. Aku masih ada urusan dengan orang yang membuat Luna seperti ini.” Martin menepuk pundak Bara.


“Apa perlu saya bantu?”


"Kau punya bidang sendiri. Ini urusan Kakak untuk adiknya.” Martin kemudian bergegas pulang untuk mengintrogasi orang yang sudah membuat adiknya hampir kehilangan calon bayinya.


Sesampainya di rumah. Martin langsung menemui orang yang ia sekap di gudang villanya dan di temani Aji.


"Aji, bagaimana orang itu. Apa sudah siuman?”


“Sudah tuan. Tapi tadi sempat memberontak ingin melepaskan ikatannya. Tapi sepertinya ia tidak bisa. Mungkin sekarang ia tertidur.”


Martin melihat jam tangannya, dan menunjukkan pukul 3 pagi. Martin membuka pintu gudang dengan kasar membuat penyusup itu terkejut dari tidurnya. Martin menghidupkan lampu lalu membuka penutup kepala penyusup tersebut.


Martin seketika memberikan pukulan ke wajah Persia tersebut lalu menarik kerah jaketnya.


"Siapa yang menyuruhmu?” tanya Martin dengan emosi.

__ADS_1


pria tersebut tertawa. “Tidak penting siapa yang menyuruhku!”


“Oh ...! Jadi benar kau mengincar adikku? Kau datang bukan untuk mencuri tapi mengincar adikku. Benar? Siapa yang menyuruhmu!” teriak Martin lalu memberi bogem mentah ke wajah pria tersebut.


“Katakan! Atau kau ku habisi.” Martin mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya ke kening pria tersebut.


"Satu, dua, tiga.” Martin bersiap menarik pelatuk senjatanya.


"Nona Sonya!”


“Sonya siapa?”


“Sonya putri dari tuan Sanusi Dijaya.”


"Sonya? Sonya yang menikah dengan William Abraham?”


“Saya tidak tahu, saya hanya menjalankan printah atasan saya.”


"Sonya..!” teriak Martin.


“Wanita Murahan. Beraninya Kau mengganggu adikku dan hampir mencelakainya.” Martin begitu emosi ia mengebrak meja yang ada di sana.


“Aji, panggil polisi. Serahkan bandit tidak berguna ini pada polisi.”


"Tuan, jangan tuan. Saya hanya menjalankan perintah saja tuan. Saya mempunyai anak kecil dan istri saya sedang hamil anak kedua.”


"Itu urusanmu. Bukan urusanku! Aji urus dia.”


Martin keluar dari gudang lalu duduk di ruang makan. Biang Ida baru saja bangun dan menghampiri Martin.


"Maar tuan, apa ingin di buatkan sesuatu?”


"Tidak, Biang. Oh iya. Ini jangan di bersihkan dulu. Biar polisi olah TKP. Sementara Biang kalau mau masak di dapur belakang saja.”


"Iya, tuan. Tadi sempat mau saya bersihkan, Tapi melarang saya.”


"Hm, Bagus!”


Biang lalu ke belakang, ia masak dan menyiapkan sarapan untuk semuanya. Martin duduk dan membuka ponselnya. Ia mencari informasi tentang sang adik melalui sosial medianya . Ia melihat salah satu foto Luna dan William yang tampak begitu mesra. Kini ia paham bayi siapa yang di kandung Luna dan ini semua pasti berhubungan dengan bandit yang hendak mencelakai sang adik.


"Brengsek! Jadi ini biang keroknya. Tunggu pembalasanku Sonya.” Martin mengepalkan tangannya. Ia juga mengatakan mengingat usia kehamilan Luna dan usia pernikahan William dan saya Sonya. Akhirnya Martin menemukan jawabannya.


“Jadi, Kau lebih memilih Wanita murahan itu dari pada bertanggung jawab pada adikku. Akan ku buat kau menyesal William.”

__ADS_1


Hati Martin semakin panas mengingat William. Ia tidak tahu yang sebenarnya, wajar saja jika ia juga menyalahkan William.


__ADS_2