
William menyeret Adrian keluar dari mobilnya dalam keadaan masih mabuk. William membawa pulang Adrian pulang ke rumah utamanya.
‘Plakk’ William menampar Adrian di depan sang Mama dan di depan Luna. Pasalnya sudah berapa kali Adrian tertangkap polisi dengan Kasus Yang sama. William pun sudah merasa muak dengan kelakuan.
“Willi!” suara tinggi sang Mama terdengar. Sang Mama tidak terima jika anak bungsunya itu di hajar oleh kakaknya sendiri dalam keadaan mabuk.
“Bela saja terus ma! Orang-orang seumuran dia udah kerja, dia! Masih berkutat di kampus. Dan menghamburkan uang begitu saja. Kalau almarhum papa tahu, Papa juga akan melakukan hal yang sama!”
‘Bukk!’ Adrian memukul William tiba-tiba membuat William terhuyung.
“Bacot! Kau juga sama. Selalu ganti-ganti perempuan! Apa bedanya aku dengan dirimu.
“Brengsek!” William memukul Adrian lagi, emosinya begitu memuncak.
“Jangan kau urusi percintaanku. Setidaknya aku yang menanggung semua biaya kalian!” William memberi satu pukulan lagi pada Adrian membuat Ana dan sang Mama menjerit.
“Mas cukup!" seru Luna merengkuh William agar tidak lagi menyerang Adrian.
Ratna merengkuh Adrian yang masih mabuk dan sempoyongan lalu melihat tajam Luna.
“Ini semua gara-gara kamu. Kau tahu Adrian sangat mencintai kamu. Tapi kamu malah memilih menjadi pasangan kontrak William. Dasar wanita matre, mata duitan.”
“Cukup, Ma!” teriak William.
“Kau berani membentak Mama hanya gara-gara wanita sialan ini!”
“Mas … sudah!” lerai Luna mengusap punggung William agar emosinya mereda.
“Dengar Adrian! Sekali lagi kau buat onar di manapun. Aku tidak mau lagi menolong dan memberikan jaminan pada polisi. Ingat itu!”
William menarik Luna keluar rumah. Ia sudah muak berada di rumahnya sendiri. Luna berhenti di halaman rumah membuat William menolah.
“Masuk!” Bentak William tanpa sadar pada Luna. Luna menghela nafas panjang lalu menghampirinya.
Luna menatap William yang begitu gusar seperti ingin menghajar sesuatu. Luna mengusap lembut pipi William lalu berjinjit mencium bibirnya. Awalnya William hanya diam, namun lama-lama membalasnya. Mereka saling menyatukan kening dan tersenyum.
“Terima kasih, kamu memang pintar meredam emosiku.”
“Karena aku tidak ingin kehilangan kasih sayang darimu, tuanku.” William tersenyum kemudian memeluk Luna.
“Ya sudah, kita pulang ke apartemen!” ajak William sambil membukakan pintu mobil untuk Luna.
Luna masuk kemudian diikuti William masuk di bagian kemudi. Saat hendak menyalakan mobil tiba-tiba sang Mama menghampiri mereka dan berdiri di depan mobil.
“Keluar kalian!” teriak Ratna.
__ADS_1
“Mas, Ibu!” Luna melihat Ratna sambil memegang lengan William.
“Kamu tetap di mobil.” William turun dan menghampiri sang Mama.
“Apa lagi, Ma.” Nada William sudah kembali normal dan lembut pada sang Mama.
‘Plakk’ Ratna menampar William.
“Jangan kau pikir sudah membiayai kehidupanku dan Adikmu. Kau bisa seenaknya memperlakukan adikmu seperti tadi.”
“Bela terus saja, Ma! Adrian memang pantas mendapatkan pelajaran. Itu tidak sebanding. Kalau aku mau aku tidak akan membebaskan dia dari kantor polisi. Biar saja membusuk di penjara dan merasakan bagaimana pahit hidup di penjara, biar tahu dia tahu hidup susah!”
Luna begitu takut melihat William marah dengan ibunya, ia pun langsung turun dan menghampiri William.
“Mas! Sudah.”
“Kau lagi! Pasti kamu yang terus meracuni pikiran Willi agar membenci adiknya dan menjauhi keluarganya!” cecar Ratna pada Luna.
“Maaf, Bu! Saya …,"
“Halah! Pergi kau dari sini. Wanita matre!” Ratna mendorong Luna sampai Luna terhuyung beruntung William menangkapnya.
“Mama apa-apaan sih!”
“Oh …! Jadi kamu bela dia, hah!”
“Mas! Sudah Mas!” Luna menarik William agar menjauhi Mamanya. Kuba takut jika Ratna semakin murka pada William. Ratna begitu kesal dan langsung masuk ke dalam.
William mengusap kasar wajahnya Kemudian menggebrak kup mobilnya.
“Harrrqqq!!” teriak William.
Luna mencoba lagi menenangkan William. Ana dengan ragu memegang pundaknya. Ia begitu takut melihat emosi William.
“Mas…,” lirih Luna.
William menoleh dan melihat wajah ketakutan Luna, Ia pun langsung memeluknya.
“Maaf! Aku membuat dirimu takut.”
“Tidak apa-apa. Kita pulang!” ajak Luna di angguki William.
William dan Luna kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan Luna terus menggenggam tangan William agar William tenang dan tidak emosi lagi.
William melihat Luna lalu tersenyum. Ia senang ada wanita pertama kali yang bisa meredam emosinya. Beda dengan wanita sebelumnya, mereka memilih pergi saat William sedang emosi.
__ADS_1
“Aku tiba-tiba lapar!” seru William tiba-tiba.
“Nanti aku masak buat, Mas. Mau apa?”
“Gak usah! Kita makan di pinggir jalan saja. Mau?” Luna mengangguk kemudian tersenyum dan menyadarkan kepalanya di bahu William.
Mereka berhenti di depan warung lesehan. Mereka berdua memesan mie goreng dan segelas teh hangat. Karena cuaca sedikit gerimis.
Mereka sangat menikmati makannya sesekali William menyuapi Luna, begitu sebaliknya.
“Sayang!” ucap William.
“Ya Mas.”
“Aku sudah mengosongkan jadwal pekerjaanku untuk menghadiri wisudamu.”
“Serius Mas?"
“Iya Sayang! Aku sudah janji sama kamu!” Ana begitu bahagia dan langsung memeluknya, tidak peduli dilihat pengunjung lain.
“Terima kasih ya, Mas.” Luna kemudian mencium pipi William.
“Nanti aku kasih doble,” bisik Luna di telinga William.
“Boleh! Siapa takut.” William kemudian merangkul Luna.
Luna begitu bahagia, akhirnya ada yang mau mendampingi saat-saat hari berharga baginya. Dahulu ia tidak pernah didampingi oleh siapa pun saat menerima penghargaan atau saat hari-hari bahagianya. Setelah kepergian ibunya ia melakukannya semu sendiri, walau ada kakak dan Papanya.
Tak lama mereka berdua selesai makan, dan langsung pulang ke apartemen. Sesampainya di apartemen mereka mengganti baju dan duduk di sofa ruang tengah sambil memeriksa ponsel masing-masing. Ana berbaring di pangkuan William dan William mengusap-usap lembut rambutnya sambil melihat ponselnya.
Tidak terasa Luna justru terlelap di pangkuan William. William yang mendengar dengkuran halus Luna pun langsung meletakkan ponselnya di meja dan mengambil ponsel Luna di dadanya, sebelum meletakkannya di meja, William sekilas melihat layar ponsel Luna dan terlihat jelas foto dirinya sedang tertidur di jadikan tema wallpaper di ponselnya.
“Kau akan terus bersamaku, Luna. Tunggu waktu itu tiba. Aku akan membuat ikatan yang tidak pernah aku lepaskan darimu, aku akan menikahimu.” batin William yang semakin jatuh hati dengan Luna. Namun, masih ragu mengutarakan isi hatinya.
William terus memandangi wajah Luna dan mengusap lembut pipinya. Sesekali mengecup pipinya.
“Aluna.” batinnya lagi.
“Mas, ayo tidur," lirih Luna yang tiba-tiba bangun.
“Ya sudah. Pindah ke kamar!”
“Gendong!” Luna merentangkan tangannya lalu William menggendong Luna di belakang seperti anak kecil dan membawanya ke kamar.
“Kamu tidur dulu ya, aku masih ada sedikit pekerjaan,” ujar William menurunkan Luna.
__ADS_1
“Mau aku buatkan kopi?”
“Tidak perlu! Kamu tidur saja." William mengecup kening Luna lalu memeluknya, setelah itu baru ia keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya.