
Luna kembali ke Jakarta dan langsung ke apartemen William. Kebetulan William tidak ada di apartemen. Luna mengambil semua bajunya dan barang pribadinya serta mengambil satu kemeja putih milik William sebagai kenangan.
Kabar pernikahan William dengan Sonya pun sudah ia ketahui seminggu yang lalu. William juga sudah tidak bisa di hubungi. Ia bak di telan bumi. Akhirnya ia pasrah dengan kondisinya yang saat ini berbadan dua.
Luna juga sempat mandi dan masak serta membersihkan apartemen William yang sedikit berantakan. Setelah selesai ia pun makan sendirian dan kemudian ia mencuci piring yang setelah selesai makan.
“Luna?” suara tidak asing mengejutkannya. Luna menoleh ke belakang.
"Mas!” Luna berbalik melihat William berjalan menghampirinya.
"Em ... maaf aku datang tidak memberitahu dulu!” ucap Luna canggung.
Willam memeluknya dengan erat. “ Maafkan aku sayang.” William menakup kedua pipi Luna. Luna meraih kedua tangannya dan tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti, kedatanganku hanya mengambil barang-barang pribadiku dan semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu dengan sonya.”
"Pernikahanku hanya formalitas. Aku tetap mencintaimu.”
Luna duduk di kursi di ikuti William. Luna tersenyum melihat William. “Aku tidak mau menjadi orang ketiga di pernikahan seseorang, Mas. Kontrak kita sudah habis.” Luna mengambil dompet yang ia letakkan di meja lalu mengambil kredit card milik William yang di berikan padanya.
“Ini, aku kembalikan. Selamat atas pernikahannya dan ... ini cincin yang kemarin Mas berikan padaku!” ucap Bella sambil melepaskan cincinnya lalu ia memberikannya di telapak tangan William.
"Luna, Maafkan aku. Sejujurnya aku mencintaimu tapi aku tidak bisa melawan ucapan Mama kali ini.”
"Memang sudah seharusnya Mas menurut ucapan orang tua, terutama Ibu. Jadi ini pertemuan kita yang terakhir.” Bella tersenyum sambil menahan air matanya. Ingin sekali ia mengatakan jika saat ini ia tengah mengandung anak William tetapi, ia tidak ingin merusak rumah tangga seseorang.
Luna bangkit dari duduknya kemudian mengambil koper dari kamar William. Ia keluar dari kamar tersebut dengan membawa sejuta kenangan, kenangan saat bersama William.
“Tuan, tugasku sudah selesai. Saya pergi?” Luna mengulurkan tangannya akan tetapi William langsung memeluknya.
"Maafkan aku.”
“Tidak apa, tuan. Terima kasih, waktu dan perhatiannya selama ini. Saya cukup bahagia.” Luna melepaskan pelukannya lalu pergi dari apartemen William. William tidak bisa berbuat apapun karena janjinya pada sang Mama.
Sepanjang menuju lift Luna terus menangis. Ia sudah terlanjur cinta dengan William, Namun terhalang keadaan dan restu orang tua William.
"Selamat tinggal, Mas. Akan aku besarkan anakmu dengan penuh kasih sayang.” Luna mengusap air matanya tersenyum tipis sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
Akhirnya Luna memutuskan untuk kembali ke Bali. Namun sebelum ke bandara ia pulang lebih dulu ke rumahnya.
"Maria, aku pulang!” Seru Luna saat sampai di rumahnya.
“Darimana saja kamu, satu bulan tidak pulang ke rumah?” Ujar sang Papa melihat Luna.
"Memangnya Papa selama ini peduli denganku! Apa papa tahu aku sudah lulus kuliah dengan nilai terbaik? Tidak, Pa! Papa tidak pernah peduli denganku! Papa, hanya peduli dengan wanita-wanita Papa!”
'Plak!’ Daniel menampar Luna.
"Sudah berani kamu membantah, Papa! Papa itu hanya bertanya, kamu selama ini kemana?”
"Liburan ke Bali! Puas pa? Sudah menamparku! Papa jahat. Papa tidak pernah sayang denganku!” Luna keluar dari rumah dengan membawa kopernya lagi. Ia pun langsung menuju bandara dengan menggunakan taksi.
Sepanjang perjalanan Luna terus menangis di balik kaca mata hitamnya. Di dalam pesawat pun ia masih meneteskan air matanya. Sampai seseorang pria memperhatikan dirinya lalu memberikannya ia tisu.
"Aku tidak tahu apa yang kamu tangisi. Tapi menangislah jika itu membuatmu lega. Kau boleh bersadar di sini jika kau mau!” ucap pria di sebelahnya. Luna hanya mengambil tisu lalu mengusap air matanya.
"Terima kasih.” ujar Luna sekilas tersenyum ke arah pria tersebut.
"Sama-sama! Oh iya, perkenalkan saya Bara!” Bara mengulurkan tangannya. Dengan ragu Luna mengulurkan tangannya.
Bara hanya tersenyum sambil melihat Luna lalu ia pun membuang pandangannya.
"Maaf tuan, tolong kenakan sabuk pengaman Anda, karena sebentar lagi pesawat akan leading.” ucap pramugari pada Bara.
“Oh iya, Terima kasih.”
"Sama-sama, tuan!” pramugari tersebut pun berlalu.
Luna masih dalam lamunannya saat pesawat landing sampai-sampai ia tidak merasakan jika pesawat yang di tumpanginya sudah berhenti. Orang-orang berdiri dan mulai turun satu persatu. Namun Luna masih belum menyadari. Bara, pria yang di sampingnya pun juga menunggu semua penumpang turun sambil sesekali melihat Luna.
Saat semua sudah turun, Bara pun bergegas berdiri lalu mengambil barang di kabin. “Kamu masihau disini?” tutur Bara.
"Iya." Luna berdiri tetapi saat berdiri kepalanya terasa pusing, perutnya mual. Luna memegangi kepalanya, badannya bterasa lemas.
"Kamu baik-baik saja?” tanya bara khawatir.
__ADS_1
“Hem.” Luna berusaha keluar dari kursinya dengan tubuh lemas. Bara terus melihat Luma berjalan memegangi sandaran kursi. Tetapi saat melewati pramugari Luna jatuh pingsan.
"Eh ... Nona!” teriak pramugari sambil menangkap tubuh Luna.
"Astaga!” Bara segera mengenakan tas ranselnya dan berjalan menghampiri Luna di depan pintu keluar.
"Tuan, apa Anda pacar, suami atau kerabat ya?” tanya salah satu pramugari.
"Tidak! Saya bukan siapa-siapanya.“ Bara memeriksa kondisi Luna. Karena ia seorang dokter.
"Maaf, tolong panggilkan tenaga medis,” ujar Bara sambil memeriksa denyut nadi Luna dan perutnya. salah satu pramugari menghubungi pihak bandara agar segera mengirimkan tim medis dan ambulans.
"Apa tian tahu dia sakit apa?” tanya pramugari.
"Iya, saya dokter. Sepertinya dia sedang mengandung.”
"Tuan sebentar lagi ambulans dan tim medis datang!”
Bara mengangguk kemudian tak lama ambulans datang dan Langsung mengevakuasi Luna. Bara pun ikut ke ambulans dan Akhirnya Luna di bawa ke rumah sakit yang tidak jauh dari bandara Ngurah Rai Bali.
Sesampainya di rumah sakit, Bella di periksa di IGD sementara itu Bara menunggunya di luar.
“Maaf, keluarga Nona Aluna?” seru suster di ambang pintu.
"Ya sus!” jawab Bara lalu menghampiri suster.
"Bagaimana keadaannya.”
"Silahkan masuk tuan. biar dokter yang menjelaskan.”
Bara masuk dan bertemu dokter.“ Bagaimana dok, keadaannya?” tanya bara.
"Kondisinya baik, tapi harus di rawat beberapa hari di rumah sakit, tubuhnya kurang cairan dan asupan. untuk mengetahui perkembangan janinnya nanti saya jadwalkan ke dokter kandungan,” jelas dokter.
"Iya, dok. terima kasih.”
"Maaf tuan, tolong ke bagian administrasi untuk mengurus rawat inapnya.” Suster memberikan beberapa dokumen.
__ADS_1
"Baik, sus! Tolong temani dia sebentar.” Bara Kemudian mengambil tas Luna dan mencari identitas Luna untuk mengurusi administrasi.