Ikatan Cinta William

Ikatan Cinta William
BAB 12 Bukan menantu idaman


__ADS_3

“Luna aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi istriku!” ucap William melamar Luna di acara makan malam romantis.


"Iya, aku mau Mas. Aku mau!” Luna langsung memeluk William. William dan Luna begitu bahagia akhirnya keduanya tahu isi hati masing-masing.


“Pulang dari Bali nanti aku akan menikahimu!”


"Semoga Ibu kamu merestui kita, Mas.”


"Harus!” Mereka saling berpelukan kembali.


Priska dan Mark tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Mark dengan tersipu malu meraih jemari Priska. Walau mereka baru mengenal Priska dan Mark sepertinya saling jatuh hati.


"Aku juga akan melamarmu!” ujar Mark. Priska hanya tersenyum malu. Kemudian Mereka berdua menghampiri William dan Luna untuk mengucapkan selamat.


“Selamat ya Lun!” ucap Priska.


"Terima kasih, Priska.” Mereka berdua saling berpelukan.


“O...! Bagus kamu ya William! Sudah 4 hari kamu tidak ke kantor, rupanya berduaan sama wanita murahan ini!” suara yang tidak asing tiba-tiba terdengar begitu lantang.


"Mama!” pekikan William melihat sang Mama yang datang bersama sang adik Adrian dan Sonya yang akan di jodohkan dengannya.


"Untuk apa Mama menyusulku kemari?”


"Menyuruhmu pulang ke Jakarta dan menentukan tanggal pernikahanmu dengan sonya.”


“Ma!”


“Kali Mama tidak mau di bantah!”


“William punya pilihan sendiri, Ma!” William menarik Luna di sisinya.


"Pilihan? Kamu memilih wanita murahan ini? Mama tidak sudi memiliki menantu perempuan murahan sepertinya?” ucap lantang Ratna sambil menunjuk wajah Luna. Luna hanya bisa diam menahan sesak di dadanya.


"Cukup!” seru Luna. ” Cukup. Mas. Aku memang murahan dan tidak pantas untuk anak Ibu. Mas tolong turuti saja apa permintaan Mamamu. Permisi.” Luna pergi dari hadapan semunya dengan rasa malu pada Priska. Luna kembali ke hotel.

__ADS_1


"Luna!" Seru William mengejar Luna.


Ratna menatap tajam Ronald dan Priska yang sedang berpegang tangan dan mengira Priska juga sama saja seperti Luna.


"Kau juga murah. Kau tau pria yang kau kencani ini sudah berumur 38 tahun!” ujar Ratna pada Priska.


"Maaf Nyonya. Saya bukan wanita seperti yang anda tunduhkan. Kami memang pasangan kekasih dan Mark juga akan melamar saya. Untuk usia. Kami tidak mempermasalahkannya dan ini urusan kami buakan urusan Nyonya!” Tegas Priska dengan tatapan tak kalah tajam melihat Ratna.


Priska menarik Mark untuk keluar dari restoran menuju hotel. Sepanjang Priska menggandengnya Mark terus memandanginya dan tersenyum akhirnya ia menemukan wanita yang tepat. Tegas dan berani.


Sementara itu Mama William dan Sonya serta sang adik juga kembali ke hotel. Luna sendiri menangis di kamar hotel. Memang ia sudah salah mengambil keputusan menjadi pasangan kontrak William dan lebih salah lagi ia juga menggunakan hati. William menghampirinya dan memeluk Luna dari belakang.


"Semua akan baik-baik saja. Nanti kita bicarakan lagi di Jakarta. Aku pasti membicarakannya lagi dengan Mama.”


“Kalau Ibu tidak setujui. Jangan paksakan, Mas. Restu ibu lebih penting. Aku tidak mau menjadi anak durhaka.”


“Sudah istirahat. Tidurlah. Aku akan bicarakan lagi dengan Mama. Besok kita kembali ke jakarta.”


Luna hanya mengusap air matanya lalu menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya. Setelah itu ia berbaring bdi tempat tidur. Sedangkan William keluar kamar menemui Mamanya.


Luna hanya terdiam sesaat lalu menulis surat untuk William. perasaan Luna sudah tidak enak. Sudah pasti William akan menuruti sang Ibu. Tidak masalah bagi Luna dan memang seharusnya William patuh pada Ibunya. Pada akhirnya ia simpan rapat-rapat rahasia dan perasaannya terhadap William.


Tak lama pintu kamarnya di ketuk seseorang, siapa lagi kalau bukan Priska dan Mark. Luna berjalan begitu lesu untuk membuka pintu.


“Selamat pagi tuan putri!” sapa Priska.


"Pagi Priska! Ada apa?” tanya Luna sambil menggeser posisi ia berdiri agar Priska dan Mark masuk ke kamarnya.


“Ada apa? Ya pulang ke Jakarta. Sudah siap, kan barang-barang kamu!”


“Kalian berdua pulang saja dulu. Aku masih ingin di Bali. Aku masih mau liburan.” Luna duduk di tempat tidur dan menyambar gelas dimeja nakas lalu ia minum.


"Loh kenapa begitu. Kita kesini bareng ya pulang bareng dong!” protes Priska yang tidak mungkin meninggalkan Luna sendiri di Bali.


"Nyatanya aku di tinggal. Sudah! Tuan Mark. aku titip ini untuk tuanmu. mungkin dua atau tiga hari lagi aku masih disini.” Luna memberikan surat yang ia tulis pada Mark.

__ADS_1


"Akan saya sampaikan, Nona.”


"Terima kasih!”


“Sama-sama, Nona. Priska Ayo!” ajak Mark keluar dari kamar Luna.


"Tapi...!”


“Sudah sana, aku gak apa-apa.” Luna sedikit mendorong Priska agar ikut dengan Mark.


Setelah mereka berdua keluar Luna kembali duduk dan mengambil tespeck di laci nakas kemudian ia ke kamar mandi.


Luna harap-harap cemas menunggu hasil tespecknya. Betapa terkejutnya ia dugaannya selama satu minggu ini, rupanya ia tengah hamil. Antara senang dan sedih, tapi semua sudah terlanjur. Sudah terlanjur hamil dan William sepertinya tidak akan pernah jadi menikahinya.


“Mama akan bertanggung jawab sayang. Mama akan menyayangimu. Mama tahu perbuatan Mama salah, tapi kamu tidak berdosa dalam hal ini. Sehat-sehat sayang. kita akan pergi jauh dari kehidupan papa karena nenek kamu tidak ingin memiliki menantu seperti Mama, Mama bukan menantu idaman.”


Luna memutuskan untuk menetap di Bali. Ia lantas berkemas dan memutuskan tinggal di villa milik keluarganya. Sesampainya di villa ia sudah di sambut pengurus villanya.


“Selamat siang, Nona Shera!” sapa pengurus yang memanggil namanya dengan sebutan nama tengahnya. Nama Asli Luna Adalah Aluna Shera Gerrik. ia keturunan Jerman dari sang Kakek dari pihak Papanya.


“Siang, Biang!” balas Luna yang memanggil asisten di sana dengan sebutan Biang, dan sudah sedari Luna kecil.


"Mau berapa hari disini, Nona?” tanya Biang Ida.


“Saya disini mungkin akan lama Biang, tapi Dua hari nanti saya pulang dulu ke Jakarta. Setelah itu kembali lagi ke sini. Oh iya. Papa ada kemari tidak?” tanya Luna sambil berjalan masuk ke dalam villanya.


“Tidak pernah, Nona!”


“Baiklah. Apa kamarku sudah siap?”


“Sudah, Mari tiang antar, Nona!” Biang Ida pun mengantar Luna ke kamarnya."


"Biang, terima kasih ya,” ucap Luna saat sampai di kamarnya.


“Sama-sama, Nona.” Biang Ida pun keluar dari kamar Luna.

__ADS_1


Luna duduk di tempat tidur dan melihat sekelilingnya kamarnya. Kamar yang sudah banyak berubah semenjak Mama tiada. Di villa ini ia mempunyai banyak kenangan bersama sang, Mama dan Papanya serta sang Kakak. Tetapi saat Mamanya sudah tiada ia tidak pernah lagi merasa kehangatan keluarga dan perhatian dari papanya.


__ADS_2