
“Non, ini rujaknya. Biang buat sesuai permintaan, Non.”
Mata Luna begitu berbinar saat melihat rujak buatan Biang Ida. ia makan begitu lahap di teras balkon villanya.
"Pelan, Non. Tidak ada yang minta!” ujar Biang Ida tersenyum melihat Luna.
"Seger, bi. Akhirnya mual muntahku udah tidak begitu.
Kehamilan Luna kini sudah memasuki 4bulan, dan selama di Bali ia menjalani hari-harinya bersama Biang Ida dan dua penjaga villa miliknya. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dirinya mengandalkan pendapatan kafenya di Jakarta serta sisa tabungan uang yang di berikan William selama masih bersama dan itu cukup sampai ia melahirkan.
Disisi lain ia juga menyewakan bangunan villa di belakang villanya. Sebab di belakang villanya masih terdapat bangunan yang sebelumnya untuk ruang bersantai bersama keluarga, dan ia juga sedikit merenovasi dan menambahkan beberapa kamar lalu ia jadikan bangunan tersebut seperti home stay, tanpa menggangu villa yang ia tinggali.
“Permisi, Nona!” ucap salah satu penjaga villa.
"Ya!” jawab Luna.
"Itu ada yang mau sewa villa di belakang. Suami istri.”
"Oh, sudah isi buku administrasi?”
"Belum, Non. Saya kan gak tau yang begitu.”
Luna tertawa sambil berdiri. Luna menuju ruang depan sambil membawa piring yang masih ada rujaknya.
"Ya bisa saya bantu?” ucap Luna saat sampai di depan. Luna terkejut dan terdiam saat melihat orang yang akan menyewa Villanya, begitu juga orang yang akan menyewa villanya.
"Luna?”
"Iya, Maaf tuan, Silahkan.” Luna meletakkan piringnya. lalu melihat orang yang sangat ia kenal bahkan sangat ia cintai. Siapa lagi kalau bukan William yang datang bersama istrinya Sonya.
"Silahkan isi daftar tamunya. Ini daftar harga seharinya mengatakan menginap disini, untuk fasilitas semua lengkap. jika Anda menyewa dalam satu minggu, kami akan memberikan diskon 20%. Dan mohon maaf jika pelayanan kami kurang memuaskan.” Luna mengambil bukunya dan meletakkannya di meja. Ia duduk dan berusaha menutupi perutnya.
William mengisi daftar tamu sambil melihat Luna sesekali. Sonya yang melihat Luna pun tersunggut kesal.
"Kenapa harus di sini sih, Mas. ”
"Kamu ini kenapa sih! Katanya mau yang agak sepi biar tenang!” balas William kesal.
“Maaf, pintu masuknya ada di sampaing. Ajik tolong antarkan tamu kita ya.” ucap Luna pada penjaga villa. Luna bangkit dari duduknya.
"Baik, Non. Mari tuan, Nyonya saya antarkan.”
__ADS_1
Sonya begitu kesal lalu mengikuti langkah penjaga villa dan meninggalkan William yang masih berdiri menatap Luna.
"Aku mencarimu kemana-mana, Sayang!” Ucap William pada Luna.
"Maaf tuan, kita sudah tidak lagi mempunyai hubungan. Sekarang silahkan tuan ikuti penjaga villa ke belakang. Maaf jika pelayanan disini kurang!” Luna menakup keduanya tangannya.
"Kamu kerja disini?”
Luna hanya tersenyum sambil menahan rasa sesak dan rindu pada William. “Iya tuan, saya bekerja disini. Mari silahkan!” Luna menunjukkan jalan ke pintu samping dengan sopan.
William terus melihat Luna yang saat ini tampak kurus lalu memperhatikan perutnya dan dadanya yang tampak berubah dan berisi.
"Permisi!” salam seseorang. seseorang tersebut adalah Bara yang juga dokter sekaligus tetangga Luna. Selama ini Luna dan Bara bertetangga, Bara juga setiap bulannya mengecek kesehatan kandungan Luna karena memang ia seorang dokter kandungan.
“Eh sudah pulang! Aku lama nunggu kamu sayang!” balas Luna sambil mengedipkan matanya. Bara yang tau maksud Luna pun langsung mengerti apa yang harus ia lakukan.
"Iya, sayang. tadi macet di jalan. Oh iya, bagaimana kabar Adek bayi dalam perut!” Bara merangkul Luna lalu mengusap perutnya.
"Baik, ini tadi habis makan rujak!” Luna tertawa kecil, sebenarnya ia kesal dengan sikap bara yang berlebihan. Ia berusaha menutupi kenapa Justru Bara bersikap seolah menjadi Ayah sang bayi.
"Maaf, tuan. ini Suami saya dan kami tinggal di sini, ini villa milik keluarganya, saya dan suami bekerja di sini.” Luna sedikit mencubit pinggang Bara.
"Ah, Iya. Mari saya antarkan.”
William masuk kedalam mengikuti Bara. setelah itu Bara kembali menemui Luna
"Halo istriku!” goda Bara melihat Luna sedang melanjutkan makan rujaknya.
"Apaan sih!”
Bara tertawa lalu ikut mencicipi rujaknya. Keduanya memang begitu akrab layaknya sahabat.
"Itu tadi siapa?” tanya Bara duduk di samping Luna.
"Mantan.”
“Ayah dari anak kamu!”
"Hem. Udah jangan banyak tanya. Ganggu mood aku aja lagi makan rujak.”
Bara hanya tersenyum melihat Luna kemudian ia menuju dapur. “ Biang minta buahnya lagi. Si Luna makan rujaknya enak banget kayaknya.”
__ADS_1
"Buahnya di kulkas tuan.”
Bara mengambil potongan buahnya di kulkas dan membawanya untuk ia makan bersama Luna.
"Mau lagi gak?” tawar Bara sambil duduk di samping Luna.
"Sudah, buat kamu saja. Aku udah habis banyak. Oh iya. ada apa datang kemari?” tanya Luna.
"Main aja, kangen istriku tercinta.”
"Gak usah bercanda, aku selera sama kamu.”
"Awas jatuh cinta, ya!”
"Gak!” Luna tertawa lalu mendorong wajah Bara. Beruntung mereka hanya beda dua tahun.
"Aku datang kesini mau ajak kamu priksa ke rumah sakit lagi. kan, sudah jadwalnya kamu periksa.”
"Besok aja ah, aku lagi keluar. Nanti Mama kamu nyariin kamu.” Luna keluar menuju samping rumah yang terhubung dengan villa yang ia sewakan. Bara mengikuti Luna.
"Justru Ibu yang suruh aku kesini. Buat ingatin kamu buat priksa.”
"Ya udah nanti, jam praktek kamu malam, Kan?”
“Hm.”
Luna sekilas melihat William yang duduk di teras kamarnya. Begitu juga William ia tidak sengaja melihat Luna yang sedang berdiri seolah tak melihatnya. Luna berusaha menutupi rasa di hatinya dengan cara bercanda dengan Bara yang sedari tadi mengekorinya.
"Di lihatin itu sama mantan kamu!” lirih Bara.
"Udah tak usah di lihat. Pura-pura gak tau aja. Dia lagi sama istrinya.”
"Ok. Aku juga mau pura-pura jadi suami kamu.” Bara menyuapi Luna dengan mangga masam.
"Gila ya! Ini asem tahu!” Luna bergelidik dengan rasa asamnya lalu menepuk-nepuk punggung Bara. Bara hanya tertawa melihat Luna begitu kesal.
"Iya, iya! ini yang manisnya.” Bara menyuapi Luna dengan buah mangga yang manis dan masih tertawa.
William mengeratkan giginya, ia begitu tidak menyukai apa yang di lihatnya. Hatinya penuh dengan Api cemburu. William memilih masuk kedalam kamar dan sedikit membanting pintunya dan membuat Sonya terkejut.
"Mas, apa-apaan sih! Bikin orang kaget aja. Kenapa? Cemburu lihat mantam udah punya suami?”
__ADS_1
"Kamu bisa diam gak! Kamu minta liburan udah aku turuti, jadi gak banyak komentar!” ucap William kesal.
"Luna aku merindukanmu,” Batin William sambil duduk di atas tempat tidur dan mengusap kasar wajahnya.