
“Permisi!” salam ajik penjaga villa pada William yang sedang duduk di teras dan sibuk di depan laptopnya.
“Ya,” jawab datar William.
"Ini tuan menu sarapan pagi ini.”
"Ah, iya! terima kasih.”
Ajik kemudian pergi setelah meletakkan nampan di meja. William melihat menu sarapannya yang dulu pernah di sajikan Luna. William mengambil kopi lalu menyeruputnya. Seulas senyum di bibir William ketika merasakan rasa kopinya.
“Terima kasih, rasa kopi ini tidak berubah, sayang. Aku tahu kamu masih mencintaiku, begitu pun aku,” batin William.
William lalu memakan sarapannya tanpa mengajak sang istri yang masih tertidur pulas di kamar. Sementara itu Luna mengintip William di balik kaca jendela kamarnya. Ia meneteskan air mata haru melihat William meminum kopinya.
"Mas aku rindu sama kamu,” batin Luna lalu memeluk kemeja William yang ia bawa dari apartemen.
Setiap kali ia merindukan William ia pasti memeluk kemeja tersebut, Bahkan kemeja itu ia bawa tidur selama ini. Sampai-sampai Bara menertawai setiap mempergoki dirinya menciumi kemeja tersebut.
Seperti saat ini, Bara yang terpaksa menginap di villanya agar sandiwaranya tetap berjalan sebagai suami istri di depan William. Bara tidur di sebelah kamarnya.
Bara melihat Luna berdiri di depan jendela kamarnya lalu ia menghampiri Luna dan berdiri di belakangnya.
"Ngapai?”
Luna tersentak. "Dasar keong racun! Kaget tahu!” Luna mengimbaskan kemeja ke arah Bara. Bara tertawa dan menghindar dari sabetan Luna.
"Sudah, Lun! Sakit.”
“Lagian rese’!” Luna kemudian membuka tirai jendela kamarnya.
William yang sedikit samar mendengar keributan di kamar Luna hanya sesekali melihat ke arah kamar Luna.
"Kamu ngapain buka baju di kamarku!” geram Luna pada Bara yang tiba-tiba membuka kaosnya lalu menuju jendela kamar sehingga William melihatnya.
"Biar meyakinkan mantan kamu.”
"Pakai, Gak! Bikin malu aja.“ Luna menutup tirai jendelanya kembali. Sebab ia William melihatnya.
"Keluar dari kamarku!” pekik Luna mendorong Bara keluar dari kamarnya.
“Iya istriku!” Bara tertawa lalu ia keluar. Sementara Luna begitu kesal dengan Bara. Akan tetapi kekesalan itu hanya sementara karena hanya Bara teman dan sahabat yang bisa menerimanya seperti saat ini.
__ADS_1
William masuk kedalam kamar dan masih mendapati istrinya tidur. Ia pun begitu kesal melihat istrinya yang selalu bangun siang.
"Sonya! Apa kamu tidak k bisa bangun lebih pagi?” ucap William sedikit bernada tinggi sambil menarik selimutnya.
"Apa sih, berisik! Kamu tau aku pulang jam 3 pagi dari club. Lebih baik urusi saja urusanmu. Kamu itu suami tapi tidak pernah memperlakukan aku sebagai istri. Kamu sibuk memikirkan kerjaan dan wanita itu. Selama menikah kamu tidak pernah menyentuhku? Tidak, Kan? Lebih baik aku mecari kesenangan sendiri.”
"Aku menikahimu juga terpaksa. Terus apa maumu?"
"Anggap aku sebagai istrimu. perlakuan aku layaknya istri!”
"Istri? Apa sikapmu selama ini mencerminkan sebagai istri? Kamu keluar jalan dengan rekan kerjaku, Kamu pikir aku tidak tau! Menjijikkan. Lebih baik kita pisah!” ujar William lalu keluar dari kamar.
"Silahkan kalau berani. Aku tinggal bilang sama Mama kamu!”
Sonya begitu kesal lalu menarik selimutnya kembali. Sedangkan William pergi dari villa. Saat hendak keluar gerbang ia tidak sengaja melihat Luna sedang menyirami bunga. William pun memberanikan diri untuk menghampiri Luna.
"Luna!” panggil William. Luna terdiam sejenak lalu mematikan selangnya kemudian membalikkan badannya.
"Maaf, apa tuan memanggil saya.”
William tanpa kata ia langsung memeluknya. “Aku merindukanmu, sayang! Aku hampir gila mencarimu.”
"Mas! Hubungan kita sudah berakhir. Kontrak kita sudah selesai dan lupakan kita pernah saling mencintai. Mas sudah menikah. Tolong jaga rumah tangga kamu, Mas!” Luna kemudian berjalan masuk kedalam. Namun di tahan Bara.
"Aku beritahu satu hal, Bung! Luna masih sangat mencintaimu,” ucap Bara yang tidak tahan dengan penderita Luna selama ini.
“Mas, Bara!” pekik Luna.
"Diam Lun. Hari ini aku akan memberitahu semuanya pada orang di hadapanku ini.”
“Kami berdua bukan suami istri. Kami hanya sahabatan. Orang yang paling Luna cintai adalah dirimu. Dan anak yang ada dalam kandungannya adalah anakmu. Luna sudah menceritakan semuanya saat kamu meninggalkannya begitu saja, ia tengah mengandung anakmu! Dan villa ini milik keluarga Luna!” Beber Bara yang sudah tidak tahan melihat Luna menangis setiap teringat William.
William menatap Luna, tatapan itu tidak pernah berubah. Tetapi Luna memilih berlari kecil masuk ke dalam. Ia tidak sanggup melihat tatapan mata William.
William mengejar Luna masuk kedalam.“ Sayang tunggu!” William meraih lengan Luna.
"Benar kamu hamil anak kita?”
Luna hanya diam dan terus menangis. William pun langsung memeluknya.“ Kenapa dari awal kamu tidak mengatakan yang sebenarnya.”
"Aku menghargai keputusan Ibumu.”
__ADS_1
Keduanya menangis dan saling berpelukan. Namin tiba-tiba mata William tidak sengaja melihat foto keluarga Luna.
“Itu ... foto keluargamu?” tanya William sambil melepaskan pelukannya kemudian menghampiri foto yang terpajang di dinding.
"Iya!”
"Jadi kamu putri dari Daniel Gerrik.”
"Iya, Aku putri bungsunya Aluna Sherra Gerrik. Tapi aku tidak pernah di pedulikan.”
William mengusap kasar wajahnya lalu melihat Luna penuh arti. Kenapa wanita cantik dan ia cintai menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.
"Aku akan menikahimu.” William kembali memeluk William.
"Tidak , Mas. Mas masih mempunyai istri. Aku tidak mau menjadi orang ketiga di hubungan kalian.”
"Kami akan bercerai, Luna! Pernikahanku hanya keinginan Mama dan hanya di atas kertas dengan Sonya. Aku tidak mencintainya begitu sebaliknya.”
"Itu urusan Mas dan Sonya. Intinya aku tidak mau terlibat di dalamnya. Tolong jangan pernah menemuiku jika Mas Willi masih beristri.” Luna kemudian meninggalkan William masuk kedalam kamarnya.
William terduduk di sofa memikirkan kandungan Luna dan juga calon bayi dalam kandungannya.
"Kamu selesaikan urusanmu dengan istrimu. Setidaknya tunggu sampai Luna melahirkan. Aku yang akan menjaganya. Aku juga dokter kandungan pribadinya. Kebetulan aku seorang dokter. Ini kartu namaku. Rumahku tidak jauh dari sini.” Bara memberikan kartu namanya pada William dan berusaha untuk meyakinkan William jika Luna baik-baik saja.
"Terima kasih. Tolong jaga Luna. Setelah urusanku selesai dengan istriku. Aku pasti akan menjemput Luna dan membawanya pulang.”
"Luna tidak ingin pulang ke Jakarta. ia ingin menetap di sini.”
“Itu tidak mungkin. Luna pasti akan ikut denganku.”
Bara mengangkat kedua bahunya. Lalu William keluar dari villa menuju villanya.
William masuk ke dalam kamarnya dan melihat Sonya sedang berdandan di depan cermin. William tidak peduli ia membereskan barangnya sendiri.
"Kamu mau kemana?” tanya Sonya melihat William mengemasi barang-barangnya.
"Kembali ke jakarta.”
"What! Kamu gila ya Mas. Kita baru tiga hari disini. Nanti Mama tanda tanya?”
“Aku tidak peduli. Cepat kau kemasi barangmu atau aku tinggal.
__ADS_1