
"Kamu gila ya! Pernikahan kamu baru seumur jagung sudah mau bercerai. Gak! Mama tidak setuju!” tutur Ratna saat William mengutarakan niatnya menceraikan Sonya.
"Ma! Andai Mama tahu Sonya yang sebenarnya. Sonya itu tidak lebih baik dari Luna, Ma. Sonya lebih parah Ma. Dan asal Mana tahu. Saat sudah menikah pun Sonya masih kencan dengan pak Handoko. Ma, Luna juga mengandung anakku, Ma. Cucu Mama!”
"Mama tidak percaya. Bisa saja anak itu bukan anak kamu! Dia kan perempuan murahan.”
"Apa bedanya dengan wanita pilihan Mama! Setidaknya Luna hanya tidur denganku.” William kemudian keluar dari rumah menuju apartemennya. Ia belum siap jika harus memberi tahu jika Luna adalah anak sahabat papanya.
Ia lebih baik pergi jika sedang emosi atau silang pendapat dengan Mamanya. Karena ia juga tidak ingin terus berdebat dengan Mamanya yang keras kepala.
Sesampainya di apartemen, William duduk di sofa sambil melihat sudut dimana saat bersama Luna. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan awal bertemu. William mengambil ponselnya lalu menghubungi Luna.
"Halo sayang!”
"Mas, Ada apa, kok telpon malam-malam?”
"Bagaimana kabarmu. Anak kita bagaimana kabarnya.”
"Baik. Anak kita juga baik. Ini aku lagi makan.”
"Sama siapa?”
"Ada biang Ida! Mas, jangan menghubungiku dulu ya, sebelum urusan Mas selesai. Aku gak mau dianggap merusak rumah tangga orang. Aku gak apa-apa sendiri.”
"Maaf, Mas tau. Tapi aku cuma ingin tahu kabarmu.”
"Aku baik-baik saja, Mas.”
"Ya sudah, kamu jaga kesehatan ya. Jangan lupa minum vitaminnya. Tunggu aku. secepatnya aku akan menyelesaikan urusan ini.
"Iya, Mas juga hati-hati ya.” keduanya mematikan sambungan ponselnya lalu Luna melanjutkan makannya.
Tidak terasa William tertidur di sofa hingga pagi tiba. Saat membuka Mata rupanya Sonya sudah berada di apartemennya dan tidur di sofa satunya. Entah jam berapa Sonya masuk kedalam apartemennya.
Namun, William membiarkan Sonya, ia tidak peduli dengan apa yang di lakukan istri yang tidak ia cintai itu. William memilih untuk mandi dan bersiap ke kantor.
William menyiapkan sarapannya sendiri dan kopinya sendiri sambil mengenang masa indah bersama Luna.
"Aku pasti membawamu pulang, Nona Gerrix,” batin William lalu tersenyum.
"Mas, Minta uang!” seru Sonya tiba-tiba. mendekati William.
"Kau ini, Bukannya kemarin sudah aku transfer.”
“Habis buat belanja tas.”
William mengambil ponselnya lalu mentransfer uang ke rekening Sonya.
"Sudah! Itu untuk satu bulan kedepan.”
"Mas, 50 juta mana cukup. Seminggu juga udah habis,”
"Itu urusanmu!” William bangkit dan tidak mau lagi berdebat dengan istrinya yang boros serta hanya foya-foya. William pergi ke kantor dengan hati begitu kesal melihat tingkah Sonya.
__ADS_1
Sementara itu Luna sedang jalan santai di sekitar villanya di temani Bara. Banyak mengira mereka pasangan suami istri. Karena mereka sangat dekat dan akrab, terkadang mereka juga sering adu mulut saat di tempat umum.
"Bara, Aku mau itu dong!” Luna menujuk pedagang bubur.
"Ya udah ayo!”
"Tapi aku gak bawa duit!”
"Emangnya kamu kalau keluar bawa duit, gak!”
Luna tertawa lalu menepak pundak Bara." ya udah yuk!” Luna menggandeng lengan Bara menuju stand bubur.
"Pak, bubur ayam dua ya!” pesan Bara.
"Baik, tuan.”
Luna duduk lebih dulu tak lama di ikuti Bara. "Mau minum apa?” tanya Bara.
"Air mineral aja.”
"Ok!“ Bara kemudian mengambil air mineral yang sudah ada di depannya lalu membuka tutup botolnya untuk Luna.
Bara melihat Luna sedang memakan telur puyuh yang di tusuk seperti sate.
"Lahap makannya?” tanya Bara.
"Lapar! Ni orok gue jua laper."
"Maaf, ini pesanannya.” Pedang itu meletakkan dua mangkuk bubur di hadapan Bara.
"Terima kasih, Pak.”
"Sama-sama, tuan.”
Luna pun dengan tidak sabar dan langsung makan buburnya. Bara tersenyum kemudian membenarkan rambut Luna yang menutupi wajahnya. Bara membantu Luna menjepit dan merapikan rambutnya.
"Pelan-pelan." ujar Bara lalu ia makan bubur miliknya.
"Luna!” panggil Bara.
"Hem!”
"Rencana kedepan kamu apa?”
"Belum tahu. Yang jelas aku mau besarin anak ini terlepas keluarga anak ini mengakuinya atau tidak. Dia tetap anakku."
"Kamu yakin, pacar kamu itu nantinya kembali sama kamu?”
Luna terdiam sejenak melihat Bara lalu tersenyum tipis.“ Aku tidak berharap banyak. Karena aku tahu, Mamanya begitu membenciku. Ah sudah, tidak perlu dibahas. Aku itu mau konsentrasi sama anak ini saja dulu.”
"Luna?“ seru seseorang membuat bara dan Luna mendongak melihat orang yang memanggilnya.
"Kakak?”
__ADS_1
"Kamu kemana saja, hah? Kakak itu cariin kamu kemana-mana? Taunya malah di bali.”
"Sejenak kapan kakak dan papa peduli padaku, gak pernah, kan!”
"Sudah, jangan ganggu moodku!” Luna kemudian memakan buburnya sambil melihat wanita yang di ajak Martin, sang kakak.
"Hai, saya Bara!” Bara memperkenalkan pada Martin. Martin dengan ragu menyambut uluran tangan Bara.
"Martın. Mau pacarnya!”
"Bukan! Dia temanku.” tegas Luna.
Martin menghela nafas panjang lalu melihat kekasihnya yang terus memperhatikan Luna.
"Kamu hamil?” tanya kekasih Martin tiba-tiba, sebab di matanya fisik Luna seperti hamil dan memang benar adanya.
Luna melihat kekasih kakaknya dengan santai lalu melahap buburnya kembali."Kenapa? Masalah buat kamu. Lagian kamu siapa?”
"Beneran kamu hamil?” tanya Martin memastikan lalu melihat Bara, ia mengira Baralah Ayah dari anak yang dikandung Luna.
"Bukan saya. Pacar dia yang hamilin!” tegas Bara melihat sekelilingnya karena hampir semua orang mendengar percakapan mereka, tetapi sudah tidak heran pergaulan Jaman sekarang.
Luna yang mendapat tatapan tajam dari sang kakak hanya terlihat santai lalu bangkit dan menarik tangan Bara.
"Ayo pulang!” ajak Luna.
"Belum habis, Lun!”
Luna tidak peduli dan terus menarik tangan Bara. “Pak, kakak saya yang bayar!” ucap Luna Pada pedagang bubur, Pedang bubur lantas melihat Martin dan kekasihnya.
"Kamu tinggal dimana Lun?” teriak Martin.
"Villa!”
“Anak itu benar-benar sudah hilang arah semenjak Mama tidak ada.” geram Martin melihat Luna.
"Baiknya kamu bicara dengan Luna, Martin. Sepertinya dia ada masalah besar dan terjerumus pergaulan bebas,” ucap Kekasih Martin
"Mungkin nanti, selesai sarapan. Kita ke villa!”
Sementara itu Luna mengoceh-ngoceh pada Bara, sedangkan Bara hanya mendengarkan saja.
"Gila si Martın, dulu waktu aku butuh teman dia sibuk sendiri. sekarang sok-sokan perhatian. Maunya apa sih.”
"Kamu itu, dari tadi ngoceh terus emang gak capek apa, Lun! Anak kamu kasihan itu dalam perut dengar Mamanya ngoceh.”
"Diam, ah.Brisik!"
"Dari tadi kamu yang berisik!” Bara kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan Luna.
"Ngeselin!” teriak Luna lalu ia berhenti duduk di trotoar jalan. Bara menoleh mengira Luna berjalan rupanya duduk di trotoar.
"Arq ...Ibu hamil satu ini kadang ngeselin.” Bara menyusul Luna lalu membopongnya sedangkan Luna hanya tertawa melihat ekspresi kesal Bara.
__ADS_1