Ikatan Cinta William

Ikatan Cinta William
Bab 6 Menjijikkan


__ADS_3

Adrian masuk ke dalam melempar jaketnya di sofa. Kemudian tidak sengaja pandangannya terhenti di dapur dan melihat gadis yang sangat ia kenal sedang mencuci peralatan memasak. Adrian melihatnya tak percaya, terlebih William menghampiri gadis tersebut lalu memeluknya dari belakang.


“Luna!” panggil Adrian ragu.


Luna terperanjat dan tangannya berhenti mencuci piring. William juga menjadi heran kenapa wanita di pelukannya itu tiba-tiba mematung.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya william heran.


“Adrian!” pekik Luna lalu membalikan badannya melihat Adrian yang juga berdiri terpaku melihatnya.


“Jadi! Kalian.” Adrian menunjuk Luna dan menghampirinya.


“Jangan bilang kamu jadi pasangan kontrak Kakakku!” Luna tidak percaya jika Adrian adik William. Luna melihat Adrian dan William bergantian.


“Adrian! Aku bisa jelaskan!” Adrian melihat Luna dari atas sampai bawah. Sudah pasti Luna sudah tidur dengan Kakaknya.


“Semua sudah jelas, Luna!”


“Stop!! Kalian saling kenal?” tanya William melihat mereka satu persatu.


“Aku pacarnya! Tapi melihat dia ada bersamamu. Mulai detik ini, dia bukan kekasihku lagi!”


“Ok! Baiklah. Kita akhiri semuanya, Adrian. Aku juga sudah muak denganmu yang selalu manja padaku. Sikapmu yang manja itu membuat aku menerima tawaran Kakakmu. Karena aku juga ingin bermanja. Tapi dirimu tidak pernah menyadari itu!"


“Kau tak ubahnya seperti wanita malam! Aku benci kalian berdua! Wanita murahan.” Adrian langsung pergi begitu saja dari apartemen sang kakak.


Luna terduduk di kursi dan menangis. Mengingat masa-masa pertama bertemu dengan Adrian. Bagaimanapun Adrian banyak membantunya.


“Sudah! Masih ada aku, em?" William Memeluk Luna.


“Maaf tuan. Aku tidak tahu jika Adrian adik Anda.”


“Tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang status hubungan kamu dengannya sudah berakhir. Dan kamu akan lebih fokus padaku.”


“Maksud tuan?” Luna tidak mengerti apa yang dimaksud kata 'fokus' dengan diri William sesudah hubungannya berakhir dengan sang adik.


‘Ya … kamu tidak lagi membagi waktu untuk ku dan Adrian. ” Luna tersenyum tipis. Dirinya memang sudah seperti wanita malam yang berganti-ganti pasangan.

__ADS_1


“Ya, tuan benar.”


Luna berdiri lalu melanjutkan mencuci perkakas sisa ia memasak, sedangkan William melanjutkan meminum kopinya. Setelah selesai Luna menyiapkan sarapan untuk William.


“Silahkan tuan!” Luna meletakkan sepiring nasi goreng di depan William.


“Terima kasih!" William melihat wajah sendu Luna.


“Kamu menyesal memutuskan menjadi pasangan kontrakku.”


“Semua sudah terjadi untuk apa disesali tuan, dan ini adalah pilihan saya. Lagi pula saya lebih nyaman bersama tuan dari pada bersama adik tuan yang begitu manja.” William tertawa melihat Luna yang mengatakan kata manja seperti anak kecil. Wajahnya yang lembut itu begitu lucu.


Ini pertama kali William tertawa lepas bersama seorang perempuan.Memang Luna sepertinya sudah membuat hari-hari William begitu berwarna.


“Kenapa tuan tertawa?” Luna mencibikan bibirnya sembari menepuk lengan William.


“Wajah kamu kalau seperti itu lucu!” Luna tersenyum lalu melanjutkan sarapannya. Ia juga bahagia bersama William.


“Tuan, senin depan saya wisuda, kalau tidak keberatan apa tuan bersedia mendampingi saya, soalnya … Papa saya pasti tidak akan datang.”


“Nanti aku akan meminta Mark menyusun jadwalku kembali.”


“Akan aku usahakan.”


William tersenyum melihat wajah Luna yang penuh harap darinya. Wanita di depannya itu bukan hanya kekurangan uang melainkan juga kasih sayang. Andai saja William tahu identitas asli Luna, dirinya pasti tercengang.


Mereka berdua menghabiskan sarapannya masing-masing. Setelahnya William bersiap ke kantor. Luna menyiapkan segala keperluan William, mulai dari setelan kemeja dasi dan jas.


William baru saya selesai mandi dan tersenyum melihat Luna membereskan tempat tidur. William berjalan dan duduk di tepi tempat tidur.


“Hari ini kau ada kegiatan?” tanya William sambil mengenakan kemejanya. Luna menoleh ke arah William.


“Em … tidak tuan.”


“Baiklah. nanti datang ke kantor, temani aku makan siang dan bertemu klien!”


“Baik tuan.”

__ADS_1


“Dandan secantik mungkin.” Luna tersenyum kemudian melihat William menghampirinya dan langsung memeluknya.


“Terus kapan tuan membelikan saya panci serba guna seperti ini.” Luna menunjukkan gambar panci yang diinginkannya dari ponselnya.


William tertawa kecil lalu menggigit pipinya. Ia begitu gemas melihat tingkah Luna yang sukses membuat dirinya tersenyum saat mengingatnya.


“Aduh! sakit tuan!” Luna menepuk punggung William. Lagi-lagi William tertawa lalu memeluk Luna kembali.


“Teruslah membuatku tertawa, nanti apapun yang kamu mau aku penuhi.” Luna melihat William apakah semua yang diinginkan akan dikabulkan?


“Jika saya meminta tuan menjadi suami saya, apakah tuan akan mengabulkannya?” batin Luna yang tidak berani mengungkapkan isi hatinya yang berharap William menjadikan dirinya seorang istri.


“Baiklah, nanti saya datang ke kantor tuan.”


“Nanti sopir yang akan menjemputmu!” Luna mengangguk kemudian melepaskan pelukannya, lalu memasangkan dasi William.


“Oh ya, usia kamu sudah 24 tahun kenapa baru mau lulus kuliah,” tanya William memegang pinggang Luna.


“Saya sempat berhenti kuliah saat ibu saya meninggal tuan.”


“Oh!” William kemudian merapikan sendiri dasinya. Ia paham, sudah pasti Luna sangat kehilangan orang yang seharus menjadi sandarannya.


“Baiklah, aku berangkat!” pamit William lalu mencium kening Luna.


“Hati-hati, tuan!” William tersenyum kemudian berangkat ke kantor.


Luna kembali merapikan apartemen William setelah William berangkat ke kantor. Setelahnya ia juga pergi ke salon untuk mempercantik dirinya. Sebab William memintanya untuk berdandan lebih cantik, Walau kenyataan Luna memang sudah cantik.


Setelah dari salon Luna memilih untuk ke supermarket dan membeli beberapa bahan makanan untuk William. Dirinya sudah seperti istrinya. Setiap mengingat perlakuan manis William ia begitu bahagia. Luna sudah tidak peduli dengan anggapan Adrian.


Luna membeli beberapa bahan makanan seperti sayur hijau, buah-buahan dan makanan ringan kesukaannya dan juga kesukaan William.


Saat Luna berjalan menyusuri rak bahan makanan, tidak sengaja Luna bertemu dengan Paula. Paula juga sedang belanja bersama Adrian. Sepertinya Paula sudah mengetahui semuanya, sebab tampak jelas raut wajahnya sudah tidak bersahabat.


Bukan tanpa alasan Paula bersikap seperti itu. Saat mendengar cerita dari Adrian, Paula tidak menyangka Luna mau menjadi pasangan kontrak William, Kakak dari Adrian.


Paula dan Adrian juga tidak mengetahui identitas Luna yang sebenarnya. Mereka hanya tahu Luna orang biasa dan bekerja di kafe sepulang kuliah. Karena memang Luna menutupi jati dirinya dari siapapun.

__ADS_1


“Aku gak sangka sama kamu, Lun. Rupanya kamu berani menjadi simpanan om-om. Terlebih Kakaknya Adrian sendiri. Kamu kekurangan uang ya? Oh Iya, kamu memang miskin. Sampai-sampai mengambil jalan pintas yang menjijikkan itu. Mau ditiduri tanpa ikatan.” Luna hanya tersenyum tipis.


“Lebih menjijikkan mana, tidur dengan pacar teman kamu yang juga tanpa ikatan, dan semuanya gratis!" balas Luna yang sebenarnya mengetahui jika Paula dan Adrian pernah tidur bersama. Walau saat itu Adrian dalam keadaan mabuk.


__ADS_2