IMAM UNTUK TSABINNA

IMAM UNTUK TSABINNA
part 11


__ADS_3

Pagi ini, Abizar sudah rapih dengan seragam putih abu dan juga atribut lengkap, ia terpaksa harus sekolah karena ada rapat Osis di sekolah.


Tsabinna, gadis itu masih setia memejamkan mata nya. Abizar, semakin hari semakin merasa bersalah karena ia Tsabinna harus mengalami koma seperti sekarang.


Abizar mendongak menatap istri kecilnya yang tidak berdaya lalu berkata. "Aku sekolah dulu ya, kalau kamu udah bangun dari tidur kamu, kabarin aku ya sayang." lirih Abizar sambil mencium punggung tangan Tsabinna.


Cup


"Cepet bangun sayang." sambung Abizar lalu mengambil ponselnya.


"Hallo, Ma."


"Iya kenapa sayang?"


"Mama, bisa gak jagain Tsabinna dulu."


"Emang nya mama Arafah, kenapa sayang?"


"mama Arafah, lagi sibuk paling siang dia kesini nya."


"Oke nanti Mama, kerumah sakit."


"Makasih ya, Ma."


"Iya sayang."


Tutt


"Aku berangkat ya sayang." ucap Abizar sambil menatap muka pucat Tsabinna.


Abizar keluar dari rumah inap itu, lalu ia menemui suster, lalu berkata. "Sus, saya titip pasien yang bernama Tsabinna." ujar Abizar.


"Iya baik." balas Suster lalu pergi menuju kamar inap Tsabinna.


                               🐝🐝🐝🐝


Setelah menghabiskan waktu selama dua puluh menit akhirnya Abizar sudah sampai di parkiran sekolah.


"Zar, tumben tuh muka kusut amat." tanya Joe.


Abizar menghela nafas panjang. "Tsabinna, koma." ucap nya sendu.


"APA?!" teriak Joe dan Syahdan.


"Kok bisa sih?" tanya Syahdan.


"Cerita nya panjang." lirih Abizar.


"Lo gak boleh sedih ya, kita bakal jenguk Tsabinna, nanti pulang sekolah." sahut Joe yang di angguki oleh Syahdan.


"Makasih ya." jawab Abizar.


"Sans aja." ucap Syahdan.


Lalu ketiga cowok tersebut langsung berjalan menuju sekolahan.


Sampai di koridor sekolah Aurel memanggil Abizar, lalu Abizar pun menghampiri Aurel.


"Kenapa, Rel?" tanya Abizar.


"Gue mau nanya, Zar." sahut Aurel.


"Nanya apa?" tanya Abizar.


"Tsabinna kemana?" tanya Aurel.


"Iya bener, udah dua hari dia gak masuk." timpal Balqis.


"Iya bener tuh." cicit Stevia.


"Tsabinna lagi koma." ucap Abizar sendu.


"Lo boong kan?" tanya Balqis.


"Gue beneran kok." balas Abizar.


Bugh 


Bugh


Bugh


"PASTI SEMUA NYA GARA GARA LO KAN?!" murka Aurel yang sudah membabi buta wajah Abizar.


Abizar hanya mengangguk sambil menunduk, ia benar benar takut menatap Aurel.


"BERENGSEK YA LO, KALAU GAK BISA JAGAIN CANTIKNYA KITA SINI BALIKIN!" timpal Stevia.


"Gue minta maaf." cicit Abizar sambil masih menunduk.


"MAAF LO GAK GUNA, MAAF LO GAK BISA BIKIN TSABINNA KITA, SADAR?!" gertak Balqis.


"Lo apain bestie gue hah?" sinis Aurel.


"Waktu itu gue ke rumah Keyla, buat ngerjain tugas osis". sahut Abizar.


"Terus pas gue balik ke hotel, Tsabinna udah gak ada, siang nya gue dapet telpon dari mama Arafah, dia bilang Tsabinna koma." sambung Abizar dengan air mata mengalir deras.


"GUE SEBENERNYA PENGEN BANGET TSABINNA, JANGAN DULU NIKAH?!" tangis Aurel.


"GUE GAK BISA GINI TERUS?!" teriak Balqis.


"Yuk ke sekelas dulu, kita kasih tau temen temen sekelas, siapa tau mereka mau jenguk Queen." ajak Stevia.


Sesampainya di kelas XII - IPA 2


"Guys ada berita baru." teriak Stevia.


"Ada apa?" tanya Mona.


"Tsabinna koma.." tangis Stevia.

__ADS_1


Sontak semua yang ada di kelas langsung bungkam, yang main game langsung diem, yang nulis langsung diem, bahkan yang ghibah pun langsung diem, seketika kelas itu menjadi hening.


Tsabinna gadis cantik, yang mempunyai banyak teman:) kini ia benar benar tertidur pulas.


"Gak mungkinnnnn!" teriak Keyra.


"Hiks, lo boong kan?" ucap Naya sambil terisak.


"Gue gak boong.” jawab Stevia.


"Gue gak percaya, Tsabinna koma!" timpal Rean.


"Gue juga!" sahut Dion.


"OKE KALAU KALIAN GAK PERCAYA, BALIK SEKOLAH KITA JENGUK DIA, GIMANA SETUJU GAK?!" teriak Aurel.


"SETUJU!" Jawab mereka serempak.


                              🐝🐝🐝🐝


Sekarang mereka semua sedang berada di ruang inap Tsabinna, tidak semua teman temannya ikut. Ada yang tidak ikut karna ada urusan keluarga.


Hanya ada dua puluh lima orang.


"Tante, kenapa Tsabinna bisa gini?" tanya Balqis sendu.


"Sutt udah ya sayang, kita doain yang terbaik buat Tsabinna." ucap Arafah.


"Oh iya, Abizar mana?" tanya Arafah.


"Abizar, masih ada urusan tante." sahut Mona.


"Sekarang Tsabinna, gimana keadaan nya tante?" tanya Aurel.


"Tsabinna, makin kritis sayang." ucap Arafah menahan air matanya.


"Tante yang sabar ya." ucap Aero sambil terus menatap wajah pucat pasi Tsabinna.


"Jadi, kapan dia bangun tante?" sahut Keyra.


Arafah hanya menggeleng lalu berkata. "Dokter juga gak bisa memprediksi kapan Tsabinna sadar." jawab Arafah sendu.


"Tante, harus tetep semangat ya jagain Tsabinna nya." timpal Stevia.


"Iya, makasih ya kalian udah jenguk Tsabinna." ucap Arafah.


Mereka semua hanya mengangguk saja, mereka masih tidak menyangka gadis bar bar ini sedang berjuang sendirian.


"Kita mau pulang aja deh, Tante." ucap Rean.


"Iya udah sore juga nih." celetuk Naya.


"Yaudah kalian hati hati di jalan ya." sahut Arafah.


"Iya tante, nih kita bawain buah buahan, kalau Tsabinna sadar telpon kita ya." pekik Dean.


"Iya terimakasih banyak ya." ucap Arafah


Lalu mereka berpamitan, sekarang hanya ada Arafah dan juga Tsabinna yang masih setia memejamkan mata nya.


Arafah tersadar dari lamunannya, ia menatap Tsabinna kembali, lalu ia mulai panik karna nafas Tsabinna tidak beraturan.


Arafah langsung berteriak memanggil dokter Ranti.


"Dok, Tsabinna kenapa." panik Arafah.


"Ibu tenang dulu ya." sahut dokter Ranti.


Dokter Ranti langsung memeriksa keadaan Tsabinna, setelah di periksa terdengar alat Icu Monitor.


Niiiiiiiiiiiiiiiiiittt


Arafah melihat Icu Monitor tersebut, seketika tangis nya makin pecah, sekarang ia sudah tidak sendiri lagi, sekarang sudah ada Abizar, Rorenzo, Mawar, Leonardo dan kedua teman Abizar.


"Nggak mungkin!" teriak Abizar.


Abizar menangis tersendu sendu lalu Syahdan mengelus bahu laki laki tersebut.


"Sabar, Zar." sahut Syahdan.


Abizar hanya menatap gadisnya yang kini nafas nya mulai menghilang.


"Sus, ambilkan Defribrilator."  titah dokter Ranti.


"Nih dok." jawab suster.


Lalu dokter Ranti mulai mempacu detak jantung Tsabinna, ia berharap bahwa gadis itu bisa di selamatkan.


"Dok, nafas pasien kembali." sahut suster.


Dokter Ranti menghela nafas panjang,lalu berkata. "Alhamdulilah." ucap dokter Ranti.


Semua yang berada di ruang inap itu menghela nafas lega, ia berterima kasih kepada Tuhan yang masih baik kepada gadis baik seperti Tsabinna.


Lekas sadar Tsabinna, gadis baik tapi sifat baik nya terhalangi oleh sifat nakal nya:)


Ayo cepet bangun, jangan tidur lagi Tsabinna, semua nya nunggu kamu. Bangun yuk:)


Semua keluarga kamu tadi udah pasrah pas kamu udah gak bernafas lagi:) tapi Allah masih baik pada gadis baik seperti kamu Tsabinna:)


...🐝🐝🐝...


Satu bulan kemudian...


Tsabinna masih setia memejamkan mata nya, ia benar benar nyenyak dalam tidurnya itu.


Sementara Abizar yang semakin hari semakin frustasi, ia benar benar merasa bersalah kepada istri kecilnya.


"Abi, makan dulu sayang." titah Mawar.


Abizar menggeleng keras lalu berkata. "Aku gak nafsu makan, Ma." jawab Abizar sambil terus menatap Tsabinna.

__ADS_1


"Kalau kamu gak makan nanti sakit." timpal Arafah yang baru saja pulang dari kantin rumah sakit.


"Ma, dia kapan bangunnya?" tanya Abizar sendu.


Mawar dan juga Arafah hanya bisa menghela nafas panjang lalu menggeleng keras.


"Abi, bener bener ngerasa makin bersalah sama dia, Allah adil ya dulu Tsabinna yang selalu sakit hati, tapi sekarang Allah malah siksa aku dengan bikin Tsabinna koma sampe sebulan penuh." ucap Abizar panjang lebar.


"Udah gak usah sedih sayang." balas Mawar sambil mengelus tangan Abizar.


"Abi, mama titip Tsabinna, ya." pinta Arafah.


"Emang mama mau kemana?" tanya Abizar.


"Mama mau ke kantor." sahut Arafah.


"Mama juga mau ke kantor, kamu gapapa kan?" tanya Mawar.


"Iya gapapa kok, kalian berdua hati hati ya." ucap Abizar.


Kedua nya hanya mengangguk lalu keluar dari ruang inap Tsabinna.


"Tsa, ini udah bulan agustus lho, bentar lagi bulan september kan, bulan kelahiran kamu kan sayang?" tanya Abizar sambil terisak kecil.


"Aku cuma bisa berharap kamu sadar pas hari ulang tahun kamu hiks." lanjut Abizar.


Abizar menunduk sambil terus terisak kecil, ia benar benar berharap jika gadis di depannya ini bisa sadar dari koma nya.


Abizar menatap istrinya kembali lalu berkata. "Aku cengeng banget ya sampe nangis terus". pekik Abizar


"Tsa, aku udah gak jadi osis lagi."


"Aku udah gak bakal sibuk lagi sama urusan osis, nanti kita jalan jalan ya."


"Oh iya besok hari perpisahan angkatan kita lho, yakin kamu gak mau bangun dari tidur kamu hem?" tanya Abizar sambil mengelus pipi Tsabinna yang makin hari makin tirus.


"Bangun yuk, badan kamu udah kurus banget, kita makan yuk biar pipi kamu bisa gembul kembali." ajak Abizar sambil terkekeh disertai air mata.


"Sakit aku tuh Tsa." ucap Abizar sambil membawa tangan mungil Tsabinna lalu mengarahkan ke detak jantungnya.


"Aku bener bener udah nyesel Tsa, bangun please aku mohon." tangis Abizar.


"Aku kangen kamu sayang." tangis Abizar semakin menggema.


"Kamu gak bosen tidur terus hm?"


"Mimpi apa sih sampe belum bangun juga?"


"Aku janji kalau kamu udah bangun dari koma, aku bakal jadi imam yang baik buat kamu kok."


"Yuk bangun cantiknya Abizar, strong girls!"


"Kamu jelek kalau bobo terus hehe."


"Kamu mau tau kan jawaban aku, aku udah sayang sama kamu."


"Aku kayak orang gila ya ngomong sendiri, tapi gapapa kok siapa tau kamu denger kan kata kata aku ini."


"Yang, yuk bangunnn."


"Hai cantik, gak bosen bobo selama satu bulan?"


"Yuk bangun, besok kan kita perpisahan."


"Kamu pasti masuk juara umum lagi, aku yakin itu."


"Kamu gak mau pake dress buat besok acara perpisahan angkatan kita?"


"Temen temen kamu pada kangen sama kamu."


"Yuk ah bangun, kasian banget sama mereka yang nungguin kamu apa lagi aku sama keluarga kamu dan juga keluarga aku."


"Aku sayang kamu Tsabinna Arabella Queenza Mahardika, atau my little wife."


"Kamu udah gak gemes lagi kalau pipinya tirus gini."


"Gak laper hm?"


"Gak aus, bobo terus?"


"Hebat ya kamu bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum selama satu bulan."


Cup


Abizar memejamkan mata nya di sebelah tangan Tsabinna.


Orang tua Tsabinna sudah berada di ruang inap anaknya itu. Arafah tidur di sisi bawah brankar, hanya dengan lesehan karpet berbulu.


Lalu Leonardo tertidur di sofa panjang, mereka semua tertidur dengan sangat pulas.


Leonardo bangun terlebih dahulu ia melihat jam dinding, sekarang masih pukul 05 : 00. Ia mulai membangunkan Arafah dan juga Abizar untuk sholat subuh berjamaah.


Mereka menuju masjid dekat dengan rumah sakit tersebut, mereka menunaikan ibadah sholat subuh dengan Leonardo sebagai imam nya.


Mereka berdoa untuk kesembuhan Tsabinna, setelah menghabiskan waktu selama lima belas menit, akhirnya Abizar memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Lalu untuk kedua orang tua nya memilih untuk membeli bubur untuk mereka berdua dan satu yang di bungkus untuk menantunya.


Cklek


"Assalamualaikum." ucap Abizar.


Tidak ada yang menjawab salam tersebut, Abizar menghela nafas panjang lalu mulai menduduki kursi yang berada di samping Tsabinna.


"Assalamualaikum cantik, selamat pagi, bangun yuk kita olahraga bareng, sarapan bareng."


"Cantiknya aku jangan lupa bangun ya."


Cup


Abizar hanya bisa memandang sendu wajah pucat pasi milik istrinya itu.


Muka cantik gadis itu sekarang terlihat sangat pucat pasi, pipi yang tadinya gembul sekarang hanya ada pipi yang benar benar tirus.

__ADS_1


Bibir yang biasanya mengeluarkan kata kata yang pedas, kini hanya ada bibir yang tertutup rapat.


Tangan mungil yang sebelumnya selalu memukuli nya, sekarang hanya ada tangan mungil dingin dan tak berdaya.


__ADS_2