IMAM UNTUK TSABINNA

IMAM UNTUK TSABINNA
part 23


__ADS_3

Hari ini Abizar tidak pulang ke rumah, ntah lah kemana pergi nya laki laki egois itu. Tsabinna sedang sibuk memasak sarapan untuk diri nya dan juga Aldeon.


"Huh akhirnya beres juga." ucap Tsabinna


Tsabinna berjalan menuju kamar dirinya, untuk membangunkan putra kecilnya yang masih tertidur pulas.


Cklek


Tsabinna tersenyum melihat wajah damai Aldeon saat tertidur pulas. Tsabinna mengelus rambut Aldeon dengan lembut, Tsabinna berjanji akan menjadi dua peran sekaligus. Yaitu peran sebagai ibu dan juga ayah.


Tsabinna melamun memikirkan Abizar, ia bertanya tanya dimana suaminya itu? Apakah suaminya tidur bersama dengan Keyla? Ah ia tidak boleh berpikiran yang tidak tidak.


"Bundaaaaaaaa!" teriak Aldeon membuyarkan lamunan Tsabinna.


Tsabinna menatap putra nya malas. "Apa?" jawab Tsabinna.


"Bunda, kenapa sih sedih telus?" tanya Aldeon.


"Bunda gak sedih kok sayang." elak Tsabinna.


"Bunda, gak boleh mikilin ayah." tutur Aldeon.


"Emang kenapa sayang?" tanya Tsabinna.


"Ayah udah jahat sama bunda, ngapain mikilin cowok kayak ayah." sahut Aldeon.


Tsabinna menganga menatap putra nya.


"Serius ini Aldeon umurnya baru tiga tahun, kok pikirannya udah kayak dewasa ya?" batin Tsabinna.


"Bunda ihhh." rengek Aldeon.


"Eh iya, kenapa hm?" tanya Tsabinna.


"Al lapel." rengek Aldeon.


Tsabinna terkekeh gemas. "Ayo makan." ajak Tsabinna.


"Gak boleh makan, kalau beyum mandi." jawab Aldeon.


Tsabinna menepuk jidatnya. "Iya bunda lupa." balas nya sambil cengengesan.


"Dasal bunda pikun, gendong Al cepetan!" titah Aldeon.


Tsabinna menggeleng. "Gak mau ah males." jawab Tsabinna.


Aldeon sudah mengerucutkan bibir nya lucu. "Bunda gak sayang sama Al." cicit Aldeon yang bersiap untuk menangis.


Tsabinna terkekeh. "Yaudah sini gendong." ucap nya sambil menenteng kan tangannya.


Aldeon langsung berhamburan memeluk bunda nya. Tsabinna langsung membawa Aldeon ke kamar mandi.

__ADS_1


"Ke rumah nenek mau?" tanya Tsabinna yang sedang memakaikan bedak untuk Aldeon.


"Mau apa ke lumah nenek?" sahut Aldeon.


"Gak tau nenek, mau apa" balas Tsabinna.


Aldeon hanya mengangguk, setelah itu Tsabinna langsung mandi dan mereka pun mulai sarapan berdua. Rumah besar nya menjadi saksi bisu jika Abizar tidak pulang semalaman.


🌻🌻🌻


Setelah menghabiskan waktu selama tiga puluh menit, akhirnya Tsabinna dan juga Aldeon sudah sampai di rumah Mawar.


"Yuk turun sayang." ajak Tsabinna.


Aldeon mengangguk. "Lumah nenek besal banget" ucap Aldeon antusias.


Tsabinna hanya tersenyum lalu ia mulai berjalan sambil menggandeng tangan mungil sang anak. Aldeon menatap sekeliling halaman rumah Mawar.


"Eh cucu ku." sapa Mawar lalu memeluk Aldeon


"Nenek, apa kabal?" tanya Aldeon.


"Baik sayang, kamu gimana?" tanya Mawar.


"Aldeon baik kok." jawab Aldeon.


"Yaudah yuk duduk dulu." ajak Mawar lalu di angguki oleh Tsabinna.


Tsabinna langsung mencium punggung tangan mertua nya itu, ia mulai mendaratkan bokongnya di sofa panjang. Tsabinna menatap Abizar kaget, karna Abizar ada di rumah nya, Tsabinna pikir Abizar tidur dengan Keyla.


"Bentar ya, bibi bawa Aldeon maen ke taman belakang rumah." suruh Mawar.


Pembantu tersebut mengangguk lalu mulai membawa Aldeon ke taman belakang rumah nya. Tsabinna menatap mertua nya dengan tatapan sulit di artikan.


"Jadi gini, sebelum nya Papa minta maaf yang sebesar besar nya sama kamu." ucap Rorenzo.


Tsabinna mengerutkan keningnya bingung. "Kenapa minta maaf, Pa?" tanya Tsabinna.


"Abi, melakukan kesalahan yang benar benar fatal sayang." timpal Mawar menatap Abizar tajam.


"Melakukan kesalahan yang fatal?" tanya Tsabinna semakin bingung.


"Iya, maafin kita ya belum bisa ajarin Abizar menjadi sosok laki laki yang baik." balas Mawar dengan penuh penyesalan.


Tsabinna memandang mertua nya bingung, ada apa sebenar nya, mengapa mertua nya dari tadi meminta maaf kepada nya?


"To the point aja, Ma." titah Tsabinna


Mawar menangis tersedu sedu, Rorenzo langsung memeluk tubuh istrinya itu. "Keyla hamil anak Abizar." timpal Rorenzo.


Deg

__ADS_1


"Pa, lagi becanda kan?" tanya Tsabinna gemeteran.


"Maafin anak kita, Tsa." ucap Mawar dengan isakan kecil.


Tsabinna mengalihkan pandangnya kepada Abizar yang dari tadi menunduk. "Ini gak bener kan, Bi?" lirih Tsabinna


Abizar masih menunduk. "Ini be..bener" balas Abizar gelagapan.


"Gak mungkin, terus Aldeon gimana?!" tanya Tsabinna ngegas.


"Abizar, lo cowok BRENGSEK!" teriak Tsabinna sambil menekan kata 'brengsek'.


"Maafin aku Tsa, aku belum bisa jadi imam yang baik buat kamu." lirih Abizar.


"Waktu aku di Bandung, aku khilaf gitu ke Keyla." sambung Abizar.


Tsabinna memejamkan mata nya menahan air mata nya yang hendak turun. "Terus, lo pilih gue atau Keyla sekarang?" tanya Tsabinna.


"Aku pilih Lala." final Abizar yang masih setia menunduk.


"TERUS GIMANA SAMA ALDEON?" teriak Tsabinna.


"LO PIKIR, ALDEON GAK BUTUH SOSOK AYAH?" sambung Tsabinna.


"GUE DULU UDAH KASIH TAU SAMA LO, KALAU LO MASIH SAYANG SAMA MASA LALU LO ITU KEJAR DAN DAPATKAN DIA KEMBALI. KENAPA LO LAKUIN INI PAS KAYAK GINI, GAK SEHARUSNYA LO LAKUIN INI KE GUE, GUE SALAH APA SAMA LO?!" bentak Tsabinna lalu berlari menuju taman belakang rumah.


"Bunda, kenapa angis?" tanya Aldeon.


Tsabinna menggeleng lalu mulai mengendong Aldeon, ia menatap kedua mertua nya yang sedang menangis. "Aku pamit Pa, Ma." pamit Tsabinna tanpa melirik Abizar sedikitpun.


Sesampainya di mobil, Tsabinna menangis tersedu sedu. Ia memukul stir mobilnya dengan kencang, Aldeon menatap Tsabinna dengan bingung.


"Bunda di apain sama Ayah?" tanya Aldeon sambil menghapus air mata Tsabinna.


Tsabinna menggeleng ia mulai mendudukan Aldeon di pangkuannya. Dan ia mulai menjalankan mobil BMW nya keluar dari halaman rumah mertua nya.


****


"Mama, kecewa sama kamu!" bentak Mawar lalu menaiki tangga menuju lantai dua.


Rorenzo menatap Abizar. "Gimana kalau orang tua Tsabinna tau hah?!" murka Rorenzo.


Plak


"Dasar anak tidak tahu di untung!" desis Rorenzo lalu pergi begitu saja.


Abizar mengelus pipinya yang benar benar sakit karna tamparan yang di berikan oleh ayah nya. Abizar sungguh menyesal kali ini, ia bukan mengecewakan Tsabinna saja melainkan kedua orang tua nya dan juga kedua mertua nya jika tau kelakukan menantu nya seperti ini.


Sungguh, ia benar benar khilaf bukan sengaja tapi tidak sengaja. Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa, nasi sudah menjadi bubur. Biar lah ia mendapatan tamparan atau bogeman keras dari mertua nya. Ia rela menerima nya dan tidak akan melawan, karna semua ini salah dirinya sendiri.


Seharusnya Abizar tidak menyimpan perasaan nya kepada Keyla, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini, Sekarang ia kehilangan orang tua nya, kehilangan Tsabinna dan juga Aldeon, kehilangan kedua mertua nya yang benar benar baik kepadanya.

__ADS_1


"Seseorang tidak akan menyesal jika belum merasakan kehilangan".


_Tsabinna Arabella Queenza Mahardika_


__ADS_2