IMAM UNTUK TSABINNA

IMAM UNTUK TSABINNA
part 13


__ADS_3

Setelah menempuh waktu selama dua puluh menit, akhirnya Abizar sudah sampai di rumah sakit yang ia tuju.


Ia melangkah ke arah ruang inap Tsabinna, dengan tersenyum lebar. Ia benar benar tidak sabar untuk bertemu dengan gadisnya itu.


Cklek


Abizar terkejut melihat brankar itu kosong, lalu kemana pergi nya Tsabinna? Apa dia pergi keluar negeri agar bisa sembuh?


"Nggak mungkinnnnn!" teriak Abizar lalu melemparkan kedua piala itu di sofa panjang.


"Tsa, kamu dimana?" teriak Abizar.


Setelah itu suster datang untuk memberi tau tentang Tsabinna yang berada di ruang UGD.


"Permisi mas, pasien sekarang sedang berada di ruang UGD." ucap suster tersebut lalu pergi dari kamar inap.


Abizar segera mengambil kedua piala itu, lalu berlari dengan cepat. Ia benar benar dilanda ke khawatiran.


Saat sudah sampai di depan ruang UGD, Abizar melihat mertua nya menangis tersedu-sedu sambil duduk di lantai.


"Ma, kenapa?" tanya Abizar sambil mengulurkan tangan kanannya.


Arafah mendongak lalu menerima uluran tangan menantunya lalu berkata. "Tsabinna, tadi---" ucap Arafah terpotong karena Abizar langsung menyela perkataan dirinya.


"Tsabinna, sadar ya ma?" tanya Abizar antusias.


Arafah menggeleng lalu berkata. "Tsabinna, tadi manggil nama kamu sambil terbata bata, tapi belum sadar." jawab Arafah sambil terisak.


"Ma, serius?" tanya Abizar.


Arafah hanya mengangguk menanggapinya, lalu ia pamit untuk ke toilet sebentar.


Cklek


Abizar langsung berjalan menuju brankar itu, lalu ia dengan cepat langsung mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di sebelah brankar.


Mata Abizar memanas, ia sangat berharap bahwa gadis di depannya ini akan sadar ketika ia membawakan piala juara umum.


"Tsa, ini piala kamu." lirih nya sambil menaruh piala tersebut di atas nakas.


"Happy graduation sayang, selamat kamu juara umum lagi, nih liat bagus kan pialanya, aku bangga banget sama kamu." ucap Abizar sendu.


Cup


"Cepet bangun dari tidur kamu sayang." ujar Abizar lalu mendaratkan kepalanya di samping lengan Tsabinna.


                                 🐝🐝🐝🐝


Abizar masih tertidur pulas, berbeda dengan orang tua Tsabinna dan orang tua Abizar, yang sedang berbicara serius.


"Gue udah putusin buat bawa putri gue ke luar negeri." final Leonardo.


"Pa, gak boleh egois dong!" timpal Arafah.


"Iya bener kata istri lo, inget Leo anak lo udah punya suami." sahut Rorenzo.


"Gue tau, tapi gimana kalau Tsabinna masih ajaa belum siuman?" tanya Leonardo.


"Kita bicara'in lagi kalau Abizar udah bangun." putus Mawar lalu di angguki oleh ketiganya.


Sore ini Abizar terbangun, lalu mulai mengucek mata nya. Ia menatap sekeliling ruang UGD, ia mengerutkan keningnya bingung. Mengapa sekarang ada orang tua nya dan juga mertua nya.


"Ma." panggil Abizar dengan suara khas bangun tidur.


"Eh anak mama, udah bangun." jawab Mawar.


"Sini nak, kita mau ngomong serius." titah Rorenzo yang langsung mendaratkan bokongnya di sebelah Rorenzo.


"Mau ngomong apa sih, serius amat kayak nya." tebak Abizar.


"Jadi gini nak." sahut Mawar.


"Papa, udah sepakat bakal bawa Tsabinna ke rumah sakit yang berada di Amerika." jawab Leonardo to the point.


Deg


"Apa bawa Tsabinna ke Amerika? Nggak bisa gitu dong! Gue kan suami nya." batin Abizar.


"Gak bisa gitu dong, Pa." balas Abizar.


"Kenapa gak bisa, saya kan Papa dari Tsabinna." pekik Leonardo.


"Ma, aku gak mau papa bawa Tsabinna." lirih Abizar sambil menggeleng keras.


"Leo, plis gue mohon jangan gini ya." pinta Mawar.


"Iya bener tuh, bagaimana pun Tsabinna sekarang udah punya Abizar, Pa." timpal Arafah.


"Saya cuma takut Tsabinna gak bangun lagi." lirih Leonardo.


"Gak boleh pesimis dulu bro." sahut Rorenzo.


"Pa, gak jadikan bawa Tsabinna nya?" tanya Abizar.


Leonardo menghela nafas panjang lalu berkata. "Papa, bakal pertimbangkan kembali." jawab Leonardo.


"Makasih banyak, pa." sahut Abizar antusias.


"Iya sama sama, Abi kamu bisa kan jagain dia dulu?" tanya Leonardo.


"Bisa kok, Pa." sahut Abizar.


"Papa titip ya, soalnya malem ini papa cape banget pengen pulang." pekik Leonardo.


Abizar hanya mengangguk menanggapi nya tak lupa tersenyum manis kepada mertua nya itu.


"Ayo kita pulang." ajak Leonardo sambil menggandeng tangan Arafah.


Arafah hanya mengangguk lalu berkata. "Gue duluan ya." pamit Arafah.


Setelah kepergian mertua Abizar itu, sekarang di ruang UGD hanya ada Mawar dan juga Rorenzo.


"Mama sama papa, kalau cape pulang aja." ucap Abizar.


"Kamu gapapa sendiri hm?" tanya Mawar.


"Nah iya bener tuh kata Mama kamu." timpal Rorenzo.


"Aku gapapa kok, Pa." sahut Abizar menyakinkan kedua orang tua nya.


"Yaudah kita pamit pulang dulu ya nak." pekik Mawar.


"Iya ma, hati hati ya." jawab Abizar langsung menyalami kedua orang tua nya itu.


                                 🐝🐝🐝🐝


Tepat pada pukul dua belas malam, Abizar mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.

__ADS_1


Ia meneguk salivanya susah payah, ia ngeri sendiri kalau di ruang UGD hanya berdua dengan gadis yang sedang koma.


"Abi...zar." panggil Tsabinna terbata bata.


Abizar langsung menggeleng kepala, lalu menatap istrinya yang sedang bergumam tak jelas.


"Sayang kenapa hm?" tanya Abizar sambil mengelus rambut panjang Tsabinna.


"Abi.." panggil nya lagi.


"Udah ya, aku ada di samping kamu kok. Bobo lagi ya." suruh Abizar.


Tsabinna langsung menutup mulutnya dengan rapat lalu masuk ke alam gaib eh?


"Cepet sadar makanya." ucap Abizar mengelus muka pucat milik istrinya.


"Aku udah nyesel, bangun ya."


"Aku bobo dulu."


"Good sleep and happy sweet dreams cantiknya aku." ucap Abizar lalu mencium kening Tsabinna.


Sesudah itu Abizar langsung tertidur untuk masuk ke alam mimpinya.


Aku mencintaimu sekarang, Nanti, dan selama nya. It's my first love girls:)".


              


            - Abizar Al Ghifari


                                            


                                         


24 September 2020


Sekarang sudah bulan september, yang artinya besok ulang tahun Tsabinna gadis yang masih nyenyak dalam tidurnya.


"Ca, bangun yuk besok ultah kamu lho." ucap Abizar sambil mengelus punggung tangan Tsabinna.


Cup


Cup


"Biar kamu bangun, makanya aku ciumin terus." ucap Abizar sambil terkekeh kecil.


Cklek


Abizar menatap Mama nya, penuh tanya. Kenapa mama nya malam malam begini bisa ke rumah sakit?


"Mama, kenapa?" tanya Abizar.


Mawar menatap Abizar sambil tersenyum manis lalu berkata. "Kamu gak ada niatan buat beliin kue ulang tahun buat istri kamu?" tanya Mawar.


"Iya juga ya, aku lupa Ma." cengir Abizar.


Mawar hanya menggeleng sambil terkekeh. "Mau pesen yang kayak gimana hm?" tanya Mawar lagi.


"Hm kayak gimana ya." jawab Abizar sambil mengetuk dagu nya.


"Tsabinna suka nya apa!" tanya Mawar.


"Tsabinna sih suka nya baku hantam, Ma." sahut Abizar.


"Ah bukan itu maksud nya, Abi." jawab Mawar.


"Maksud mama itu, istri kamu suka nya sama apa?" tanya Mawar lembut.


"Ih mama kok oon sih?!" ketus Abizar


Mawar hanya melongo menatap sang putra. "Kok kamu jadi ngehina mama sih?" sinis Mawar.


"Ya mama nya aja, dari tadi nanya Tsabinna suka nya apa, padahal tadi udah aku jawab juga!" gertak Abizar.


"Waktu kapan sayang?" bingung Mawar.


"Kan aku udah jawab ma, Tsabinna itu suka nya baku hantam!" celetuk Abizar.


"Mama tau baku hantam gak sih, baku hantam itu berantem." sambung Abizar.


Pletak


"Mama kok, pukul tangan aku sih?" tanya Abizar.


"YANG MAMA MAKSUD ITU BUKAN YANG ITU ABIZAR, MAMA TANYA DIA SUKA NYA APA?!" murka Mawar.


"YA IYA, SUKA NYA TSABINNA ITU BERANTEM, MA!" teriak Abizar.


"Terserahlah mama cape!" sinis Mawar lalu berjalan keluar kamar inap.


Info ya, kalau Tsabinna udah di pindahin ke ruang inap.


"Tsa, kamu tau gak mama kok kayak gitu ya?" tanya Abizar memandang wajah pucat Tsabinna.


Abizar menghela nafas panjang lalu mengangkat bahu nya acuh. Ia benar benar pusing dengan pertanyaan sang Mama.


Abizar, kan gak salah kalau ia jujur. Orang bener kok Tsabinna suka nya berantem tapi Mama malah kekeuh nanya itu mulu.


Abizar menghentak kan kaki nya sebal, lalu pergi mencari sang Mama.


"Mama!" teriak Abizar yang sudah sampai di depan ruang inap Tsabinna.


Semua orang yang berada di sana menutup telinganya rapat rapat.


"Apa sih!" sinis Mawar.


"Mama, tadi nanya gimana sih?" tanya Abizar.


"Lupain aja!" suruh Mawar.


Rorenzo dan besannya itu hanya menatap perdebatan antara mereka berdua. Mereka bingung kenapa mereka berdua berdebat terus menerus, sebenarnya ada masalah apa?


"Ayah!" panggil Abizar menatap Rorenzo.


"Apa?" jawab Rorenzo.


"Istri papa, kenapa sih aneh banget!" gerutu Abizar.


"Heh kamu, gak boleh gitu?!" peringat Rorenzo.


"Ya lagian aku dari tadi nanya, kan Tsabinna suka nya berantem eh mama malah kayak gitu ke aku!" adu Abizar.


Rorenzo memejamkan mata nya, membutuhkan ekstra kesabaran yang benar benar untuk menghadapi tingkah polos atau bego sang anak!


"Papa, gak tau masalah kalian itu apa?" tanya Rorenzo.


Abizar memutar mata nya jengah lalu berkata. "Papa sama mama, sama aja nyebelin!" ketus Abizar lalu berjalan menuju mertua nya.

__ADS_1


Rorenzo hanya menggeleng kepala menatap sang putra yang terlalu bodoh.


Arafah tersenyum melihat tingkah badmood sang menantu nya itu.


"Kenapa hm?" tanya Arafah sambil mengelus rambut Abizar.


Abizar mendongak menatap nya dengan lekat lalu berkata. "Tsabinna, ini kamu?" tanya Abizar.


Sontak semua yang berada di depan ruang inap Tsabinna menatapnya dengan tatapan bingung. Ada apa dengan Abizar?


Grep


Abizar memeluk tubuh Arafah dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Ia benar benar merindukan istri kecilnya sampai sampai ia tidak menyadari jika yang di peluknya bukan Tsabinna melainkan mertua nya yaitu Arafah.


"A-ku kangen..." tangis Abizar.


Arafah menghapus butir air mata Abizar dengan menggunakan ibu jarinya.


"Sutt, udah ya nak." ucap Arafah.


Abizar langsung tersadar, jika ia bukan memeluk Tsabinna melainkan orang tua kedua Abizar. Ia benar benar merindukan istri kecilnya itu yang sedang berjuang melewati masa koma-nya.


"Ma-afin aku Ma.." ucap Abizar sambil terus terisak.


"Udah gapapa kok, mama tau kamu lagi kangen sama Tsabinna iya, 'kan?" tanya Arafah.


Abizar mengangguk pelan lalu kembali menunduk, ia terus terisak kecil menatap lantai rumah sakit.


"Permisi, boleh saya periksa pasien?" tanya dokter Ranti yang baru saja datang.


Arafah hanya mengangguk saja, lalu dokter Ranti segera memasuki ruang inap Tsabinna.


Setelah lima menit berlalu akhirnya dokter Ranti keluar dari kamar inap Tsabinna, dokter Ranti tersenyum lebar.


Mereka semua menatap dokter Ranti dengan bingung.


"Alhamdulilah, Tsabinna udah sadar." ucap dokter Ranti sambil tersenyum.


"Apa dok?" tanya Abizar.


"Beneran dok, gak boong kan?" tanya Arafah.


"Iya benar, silahkan masuk ke ruang inap nya, tapi untuk kedua orang tua nya nanti setelah menjenguk keadaan pasien, di harapkan untuk keruangan saya sebentar." ucap dokter Ranti panjang lebar.


Kedua orang tua Tsabinna mengangguk sambil tersenyum simpul.


"Baik saya pergi dulu." pamit dokter Ranti.


Cklek


Abizar menatap istri kecilnya yang sedang menatap langit langit kamar inap nya itu.


"Tsa." panggil Abizar.


Tsabinna mendongak menatap Abizar sambil tersenyum manis.


Abizar benar benar terhipnotis dengan senyuman manis yang ia rindukan selama satu bulan lebih.


"Sini naik." suruh Tsabinna.


Abizar langsung berlari kecil lalu mendaratkan bokong nya di samping Tsabinna.


Mata Abizar memanas lalu ia mulai menangis tersedu-sedu.


"Kenapa nangis hm?" tanya Tsabinna lembut sambil mengelus pipi Abizar.


Abizar hanya menggeleng lalu berkata. "Aku hiks bersyukur kamu bisa sadar dari koma kamu." ucap Abizar sambil terus terisak.


"Aku kan kuat, yakali gak bangun lagi." jawab Tsabinna.


"Tsa, mama kangennn." ucap Arafah sambil mengelus rambut sang putri.


Tsabinna hanya tersenyum manis, ia menatap kedua orang tua nya dan menatap sang mertua. Ia melihat jika semua orang yang berada di ruang inap nya benar benar bahagia karena ia tersadar dari tidur panjangnya.


"Oh iya kita gak bisa lama lama disini." ucap Mawar.


"Iya nih, mama sama papa juga mau keluar sebentar gapapa kan?" timpal Arafah.


"Emang kalian mau kemana sih?" tanya Tsabinna.


"Sebentar aja kok, kalian lepas rindu dulu aja." celetuk Leonardo.


"Ayo ah nanti keburu malem." lerai Rorenzo.


"Kita pamit dulu ya nak." pamit Mawar.


Tsabinna hanya mengangguk lalu menatap punggung mereka berempat.


"Abi, udah jangan nangis aja." pinta Tsabinna.


"Aku bener bener trauma kalau kamu tidur panjang lagi." cicit Abizar masih terisak kecil.


Tsabinna hanya terkekeh geli menatap Abizar yang benar benar manja saat ini. "Gak bakal kok sayang." jawab Tsabinna sambil mengelus lengan Abizar.


Abizar menatap manik berwarna kebiruan itu, ia benar benar merindukan gadisnya. Yang telah tidur panjang.


Abizar mengambil piala di atas nakas lalu menunjukan ke Tsabinna.


"Tadaaaaaa." pekik Abizar sambil memperhatikan piala ke arah Tsabinna.


Mata Tsabinna berbinar menatap piala yang benar benar cantik itu.


"Itu punya kamu ya?" tanya Tsabinna.


"Nih baca tulisannya." ucap Abizar sambil menunjukan nama yang berada di piala tersebut.


Selamat kepada Tsabinna Arabella Q.M


Sebagai juara umum berturut turut.


Tsabinna menangis setelah membaca tulisan yang terdapat dari piala nya.


Ia benar benar terharu membacanya, ia tidak menyangka kalau ia bisa berturut turut menjadi juara umum.


"I-ni bener, 'kan punya aku?" tanya Tsabinna.


Abizar mengangguk lalu berkata. "Iya sayang bagus kan?" sahut Abizar.


"Bagus banget." jawab Tsabinna lalu memeluk tubuh Abizar dengan erat.


Abizar langsung membalas pelukan istri kecilnya itu. "Happy graduation sayang, aku bangga sama kamu dan juga prestasi mu itu." sahut Abizar sambil mengelus rambut Tsabinna.


Tsabinna terus menangis di pelukan suami nya itu lalu berkata. "Makasih banyak." jawab Tsabinna.


Abizar mengangguk sambil tersenyum, mereka berbahagia saat malam ini. Abizar tersenyum manis mengingat nanti malam pukul dua belas, dimana hari itu adalah hari ulang tahun istri kecilnya.


Ia berharap bisa berbahagia selama nya, ia meminta kepada Allah untuk terus memberi waktu untuk mereka bahagia.

__ADS_1


Abizar hanya bisa berharap ia bahagia di dunia mau pun di akhirat nanti bersama istri kecilnya.


__ADS_2