IMAM UNTUK TSABINNA

IMAM UNTUK TSABINNA
part 9


__ADS_3

Setelah selesai melaksanakan mandinya kini Tsabinna, sedang duduk di lesehan karpet berbulu, dia menengok ke kanan dan ke kiri.


”Abizar kemana sih.” batin Tsabinna


Cklek


"Eh udah mandi nya hm?" tanya Abizar yang baru saja masuk kedalam kamar hotel.


"Dari mana lo!" sinis Tsabinna.


"Abis dari luar lah." ucap nya santai.


"Gue mau pulang gak betah di sini!." desis Tsabinna lalu bangkit dari duduknya.


"Lo kenapa sih?" tanya Abizar bingung.


"Gapapa." cuuek Tsabinna.


"Lo pms ya?" tebak Abizar.


"So tau lo!" gertak Tsabinna lalu mengambil koper dan mulai memasuki baju nya.


"Lo mau kemana sih, Tsa?" tanya Abizar berusaha sesabar mungkin.


"GUE KAN UDAH BILANG, GUE MAU PULANG!" teriak Tsabinna yang sudah kelewat kesal.


"Gak usah teriak teriak bisa gak sih!" ketus Abizar


"Lagian lo nya juga!" sarkas Tsabinna tak mau kalah.


Abizar tersulut emosi lalu tangan nya menghempaskan tangan Tsabinna dengan kasar. "LO JANGAN KAYAK ANAK KECIL DONG, TSA!" murka Abizar.


Tsabinna langsung ngeri mendengar perkataan Abizar, emang ia seperti anak kecil? Tsabinna kan gak salah kalau dia pengen pulang.


"Apaan sih, Zar." sahut Tsabinna lalu mendorong tubuh Abizar.


"Lo berani sama gue?" tanya Abizar lalu mendorong tubuh Tsabinna dan membuat sang empu merintih kesakitan.


Pasalnya Abizar mendorong nya sampe terkena meja, dan posisinya pas banget di bagian ginjal yang rusak.


"Sstt awsh." rintih Tsabinna memegangi bagian ginjalnya.


"Itu buat lo kalau udah berani ngelawan gue". ketus Abizar.


"LO JAHAT ZAR, PADAHAL GUE CUMA MAU PULANG AJA APA SALAH!". teriak Tsabinna.


"SELAMA TUJUH BELAS TAHUN GUE HIDUP DI DUNIA, GUE GAK PERNAH DI PERLAKUIN KAYAK TADI SAMA ORANG TUA GUE!". sambung Tsabinna sambil menahan air mata nya.


Abizar mematung di tempat, ia merasa sangat bersalah karena dorongan nya membuat Tsabinna menjadi kesakitan.


Abizar berjongkok di hadapan Tsabinna lalu ia berkata. "Maafin gue, ayo gue bantu." ucap Abizar mengulurkan tangannya.


"Sst awsh, diem lo!" ketus Tsabinna sambil berlari keluar kamar hotel.


"TSABINNA, LO MAU KEMANA?" teriak Abizar


Sesampainya di parkiran Tsabinna tidak sengaja menabrak bahu seseorang.


"Sorry gak sengaja." ucap Tsabinna.


"Tsabinna, lo kenapa?" tanya Syahdan.


Yap orang itu adalah Syahdan.


"Lo nangis, Tsa?" tanya Syahdan.


"Hiks, gue sakit." tangis Tsabinna.


Syahdan tidak tega melihat perempuan yang pernah ia sukai, lalu Syahdan menarik tubuh mungil Tsabinna untuk masuk ke dekapannya.

__ADS_1


"Nangis aja, Tsa." suruh Syahdan sambil mengelus rambut panjang gadis itu.


Tsabinna hanya mengangguk sambil terus menangis, ia menyenderkan kepalanya di dada bidang Syahdan.


Abizar sampai di parkiran tersebut, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Syahdan yang sedang memeluk istri kecilnya. Lebih parahnya Tsabinna tidak berontak sama sekali, ia tersulut emosi.


Bugh


Bugh


Bugh


Bugh


Abizar memukul wajah tampan milik sahabat nya itu dengan membabi buta ia sangat emosi saat ini.


"Lo apa apaan sih!" murka Syahdan.


"Lo yang apa apaan, kenapa lo meluk istri gue hah?!" sinis Abizar.


Lalu, Abizar menunjuk ke arah Tsabinna lalu berkata. "LO MURAHAN!" sengit Abizar.


Air mata Tsabinna lagi lagi turun dengan deras, perkataan Abizar sungguh membuat hati nya benar benar sakit. Pasalnya baru satu hari nikah Abizar sudah memperlakukannya seperti ini.


"Gue bukan murahan." cicit Tsabinna


"LO MURAHAN, LO UDAH PUNYA SUAMI DAN LO MASIH BISA BISA NYA MELUK COWOK LAIN, LO GAK BEDA SAMA ******!" murka Abizar


Bugh


Bugh


"JAGA UCAPAN LO, GAK PERNAH DI AJARIN LO GIMANA MEMPERLAKUKAN CEWEK HAH?!" bentak Syahdan.


"Dan, udah please." lerai Tsabinna.


Syahdan diam sambil mengepalkan tangan nya, ia benar benar tidak terima jika gadis di samping nya ini di perlakukan seperti ini.


Bugh


Abizar salah sasaran, pasalnya Tsabinna yang terkena pukulan dari Abizar. Lalu Tsabinna ambruk di tempat.


Bruk


"TSABINNA." teriak kedua laki laki tersebut.


"Ini semua salah lo!" tunjuk Syahdan.


Abizar tidak menjawab perkataan pedas dari sahabatnya itu, lalu ia memandang wajah Tsabinna yang mengeluarkan darah yang sangat banyak dari sisi bibir mungilnya.


Abizar segera mengambil mobilnya dan mengangkat tubuh mungil istrinya itu, ia benar benar menyesal karena nya Tsabinna menjadi korban kecemburuannya itu.


"Argh.." teriak Abizar sambil memukul stir mobil dengan kencang.


"Maafin gue, Tsa." lirih Abizar.


Sesampainya di rumah sakit, Tsabinna segera di larikan ke UGD. dan Abizar tak henti hentinya berdoa untuk gadisnya itu.


Satu jam berlalu Abizar menunggu di ruang tunggu, tapi belum ada tanda tanda pintu UGD terbuka. Ia benar benar menyesal karena perbuatannya itu.


Cklek


"Keluarga pasien?" tanya dokter perempuan.


"Saya suami nya, Dok." jawab Abizar.


"Saya dokter Ranti, pasien yang berada di UGD adalah pasien saya. ia mengidap penyakit gagal ginjal dan juga". ucap dokter Ranti


”Gagal ginjal?” batin Abizar.

__ADS_1


"Sejak kapan istri saya mengidap penyakit gagal ginjal, Dok?" tanya Abizar panik.


"Sudah satu tahun lebih." balas dokter Ranti.


"Kita akan melakukan operasi pada ginjal pasien." sambung dokter Ranti.


"Harus sekarang juga ya, Dok?" tanya Abizar.


"Iya, jika bukan sekarang lalu kapan lagi?" jawab dokter Ranti.


"Apakah anda setuju, jika bukan sekarang maka nyawa pasien tidak akan terselamatkan." sambung dokter Ranti.


"Lakukan yang terbaik, Dok." pasrah Abizar.


"Baik kami akan melakukan operasi sekarang juga." ucap dokter Ranti lalu memasuki ruangan UGD.


Beberapa menit kemudian suster dan dokter Ranti mendorong brankar yang di naiki Tsabinna.


Abizar melihat wajah Tsabinna yang benar benar pucat pasi, ia menggenggam tangan mungil istrinya itu.


Sesampainya di depan ruangan operasi suster menahan tubuh Abizar agar tidak ikut ke dalam ruangan tersebut.


"Maaf pak, anda tidak boleh masuk." peringat Suster.


"Tapi, Sus." jawab Abizar.


"Lebih baik bapak, urus administrasi nya saja." sahut Suster tersebut lalu memasuki ruang operasi.


Abizar hanya pasrah, lalu ia membayar administrasi itu.


"Semua nya jadi berapa Sus." tanya Abizar.


"Sebelumnya bapak ingin membayar apa ya?"


"Istri saya lagi di operasi, jadi berapa semua biaya yang harus saya keluarkan?" tanya Abizar dengan nada ketus.


"Baik semua nya jadi dua puluh juta pak." sahut Suster.


"Nih itung aja takut kurang. jawab Abizar yang memberikan amplop berwarna coklat.


"Baik pak, terimakasih." ucap Suster tersebut.


Abizar sudah berada di depan ruang operasi, ia benar benar merasa khawatir bukan main.


"Apa gue telpon Mama sama Papa, ya?" monolog Abizar.


Saat Abizar sudah menggenggam ponselnya itu tiba tiba dokter Ranti keluar dari ruangan operasi tersebut.


"Maaf pak, ini pesan yang di sampaikan oleh pasien, anda tidak boleh memberi tahu kepada siapapun tentang penyakitnya ini." ucap dokter Ranti.


"Baik kalau begitu, Dok." jawab Abizar lalu memasuki kembali ponselnya itu.


"Dan kabar baik nya adalah, operasi nya berjalan lancar, saya pergi dulu." pamit dokter Ranti lalu pergi meninggalkan ruang operasi bersama suster.


Cklek


Abizar memandang istri kecilnya yang sedang menutup mata nya di atas brankar. Lalu ia mendudukan bokongnya di kursi sebelah brankar.


"Hai cantik." sapa Abizar.


"Maafin aku ya."


"Aku salah, coba aja kalau aku gak bikin ulah duluan mungkin kamu gak bakal kayak gini." ucap Abizar sambil menangis.


Abizar terus mengajak Tsabinna berbicara, ia benar benar berharap gadisnya menjawab semua perkataan yang ia lontarkan.


Tapi nihil, di ruangan ini hanya ada suara Icu Monitor.


Abizar terus memandang wajah pucat pasi milik gadisnya. Tidak ada lagi Tsabinna yang ketus, yang suka marah marah, sekarang hanya ada Tsabinna yang tidak berdaya dan masih betah memejamkan mata nya.

__ADS_1


__ADS_2